Pengangguran di Jerman Melonjak di Atas 3 Juta Orang: Krisis Ekonomi Terburuk Sejak 2015

Pengangguran di Jerman Melonjak di Atas 3 Juta Orang: Krisis Ekonomi Terburuk Sejak 2015

Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, angka pengangguran di Jerman telah melebihi 3 juta orang, mencapai 3,025 juta pada Agustus lalu, menurut data Federal Employment Agency (BA). Lonjakan ini, yang naik 46.000 orang dari bulan sebelumnya, mendorong tingkat pengangguran nasional ke 6,4% – kenaikan 0,1 poin persentase – dan menjadi sinyal alarm bagi ekonomi terbesar Eropa yang terpuruk. Ini merupakan puncak dari tren naik sepanjang 2025, di mana pengangguran musiman telah melonjak hingga 34.000 orang per bulan di sektor manufaktur, memicu kekhawatiran akan resesi ketiga berturut-turut sejak perang dunia kedua.

Kondisi ini dipicu oleh kombinasi faktor struktural: resesi berkepanjangan selama hampir tiga tahun, penurunan ekspor akibat tarif impor AS yang diberlakukan Presiden Donald Trump, serta kelemahan industri otomotif dan manufaktur. Volkswagen dan BMW telah memangkas ribuan pekerjaan sejak Maret, sementara permintaan global untuk mobil listrik Jerman merosot 20% tahun ini. “Pasar tenaga kerja masih dibentuk oleh kemerosotan ekonomi bertahun-tahun,” ujar Andrea Nahles, kepala BA, dalam konferensi pers Jumat (23/10). Data terbaru menunjukkan pengangguran musiman stabil di 6,3% pada September, tetapi angka non-musiman kembali mendekati 3 juta, tertinggi sejak Februari 2015.

Dampak Sosial dan Ekonomi: “Malu Besar” bagi Ekonomi Ekspor Jerman

Lonjakan ini bukan hanya angka; ia mencerminkan krisis yang lebih dalam. Sektor manufaktur, tulang punggung ekonomi Jerman yang menyumbang 20% PDB, kehilangan 150.000 pekerjaan sejak awal 2025, terutama di wilayah timur seperti Saxony dan Thuringia di mana tingkat pengangguran mencapai 8%. Rumah tangga Jerman kini lebih banyak menabung daripada belanja, dengan kepercayaan konsumen turun 1,6% pada Desember lalu, memperburuk siklus penurunan penjualan ritel. Ahli ekonomi Ifo Institute, Clemens Fuest, memperingatkan: “Berita buruk dari pasar tenaga kerja akan mempercepat penurunan pengeluaran swasta, meski kenaikan ini tidak terlalu besar.”Konfederasi Asosiasi Pengusaha Jerman (BDA) menyebut angka 3 juta pengangguran sebagai “malu besar” dan menyalahkan “ketidakaktifan politik” pemerintahan sebelumnya. Rainer Dulger, ketua BDA, mendesak “musim gugur reformasi sejati” untuk mendorong pertumbuhan. OECD memproyeksikan tingkat pengangguran akan naik ke 3,6% pada akhir 2025 sebelum turun sedikit ke 3,5% di 2026, tetapi ini bergantung pada keberhasilan kebijakan fiskal baru.

Respons Pemerintah: Janji Investasi Besar dan Reformasi Tenaga Kerja

Kanselir Friedrich Merz, yang memimpin koalisi tengah sejak Februari, menyebut lonjakan ini “tidak mengejutkan” tapi “menggarisbawahi kebutuhan reformasi untuk pertumbuhan dan lapangan kerja.” Pemerintah telah menyetujui paket pengeluaran terbesar sejak pasca-perang: amandemen konstitusional “debt brake” yang membebaskan belanja pertahanan di atas 1% PDB dari batas pinjaman, ditambah stimulus infrastruktur senilai €100 miliar. Merz berjanji: “Ini akan menjadi fokus pemerintah federal. Kami akan dorong insentif bagi pensiunan untuk tetap bekerja, imigrasi terarah, dan dorongan aktif bagi pengangguran mencari pekerjaan baru.”Langkah-langkah ini diharapkan berdampak pada 2026, terutama di manufaktur, di mana pengeluaran pertahanan dan infrastruktur bisa memperlambat pemotongan pekerjaan. Namun, analis seperti Michael Herzum dari Union Investment memperingatkan: “Efeknya butuh waktu; sektor manufaktur akan untung pertama, tapi pemulihan cepat sulit.” Institut ekonomi Jerman memproyeksikan pertumbuhan 0,2% untuk 2025, naik dari 0,1%, tapi tetap rapuh akibat tarif Trump yang bisa tekan ekspor ke AS hingga 15%.

Prospek: Ancaman Resesi Ketiga dan Panggilan Reformasi Global

Dengan populasi usia kerja menurun akibat penuaan demografis, Jerman berisiko kehilangan 4,6 poin persentase rasio tenaga kerja terhadap populasi hingga 2060, menekan sistem pensiun pay-as-you-go. OECD menekankan perlunya integrasi migran lebih baik, yang telah dorong tingkat ketenagakerjaan ke 77,6% pada Q1 2025. Jika tidak diatasi, lonjakan pengangguran bisa picu ketidakstabilan sosial, seperti protes serikat pekerja yang direncanakan di Berlin minggu depan.Para ekonom memprediksi pemulihan lambat, dengan Pantheon Macroeconomics memperkirakan tingkat pengangguran mendekati 6,5% dalam beberapa bulan ke depan. “Jerman butuh kebijakan ekspansif yang cepat, bukan hanya janji,” kata Cyrus de la Rubia dari Hamburg Commercial Bank.

Sumber: BA, OECD, Reuters, DW

AI: Grok

Post Comment