Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat
Banjir besar yang melanda Provinsi Aceh telah berkembang menjadi situasi darurat yang semakin parah, memengaruhi setidaknya 18 kabupaten dan kota di wilayah tersebut sejak pertengahan November 2025. Fenomena ini dipicu oleh curah hujan ekstrem yang berkelanjutan, disertai angin kencang dan faktor geologi yang tidak stabil, yang menyebabkan luapan sungai, longsor, dan genangan air di berbagai lokasi. Kondisi ini tidak hanya terbatas pada Aceh, tetapi juga terkait dengan siklon langka yang memicu bencana serupa di wilayah tetangga seperti Sumatra Utara dan Sumatra Barat, menciptakan dampak regional yang luas.
Dampaknya terhadap masyarakat sangat signifikan, dengan lebih dari 119.000 orang terkena pengaruh langsung, termasuk ribuan keluarga yang kehilangan tempat tinggal sementara. Di Aceh Besar saja, banjir telah merendam 13 titik dengan ketinggian air mencapai 40 hingga 70 sentimeter, memaksa hampir seratus keluarga untuk mengungsi ke tempat aman.
Secara keseluruhan, sekitar 20.000 orang telah meninggalkan rumah mereka, mencari perlindungan di pengungsian darurat, sementara setidaknya satu orang dilaporkan hilang akibat terseret arus deras.
Tragedi ini juga menelan korban jiwa, dengan total mencapai puluhan orang di berbagai kabupaten, termasuk di Aceh Tengah, Aceh Utara, dan Aceh Tenggara, di mana longsor dan banjir bandang memperburuk situasi.
Infrastruktur mengalami kerusakan parah, membuat beberapa daerah seperti Aceh Tengah dan Bener Meriah menjadi terisolir sepenuhnya karena jalan utama tertutup longsor dan banjir.
Akses transportasi putus di multiple titik, termasuk rute menuju Gayo Lues dan Pidie, yang menghambat distribusi bantuan dan evakuasi.
Selain itu, pemadaman listrik meluas dan hilangnya sinyal komunikasi telah menyulitkan koordinasi, meninggalkan warga dalam ketidakpastian dan kesulitan menghubungi keluarga atau meminta pertolongan. Di kota-kota seperti Langsa dan Lhokseumawe, kondisi lumpuh total telah dilaporkan, dengan genangan air yang memblokir aktivitas sehari-hari dan meningkatkan risiko kesehatan bagi penduduk.
Respons pemerintah setempat termasuk penetapan status tanggap darurat selama dua minggu mulai akhir November 2025, yang bertujuan mempercepat mobilisasi sumber daya, termasuk logistik dan tim evakuasi dari berbagai lembaga.
Badan penanggulangan bencana telah dikerahkan untuk melakukan evakuasi cepat, terutama di area rawan seperti sungai yang meluap, meskipun tantangan akses tetap menjadi hambatan utama.
Dari perspektif masyarakat, banyak suara di media sosial menyerukan bantuan lebih cepat, termasuk distribusi makanan, obat-obatan, dan peralatan komunikasi darurat, sambil menyoroti kekhawatiran atas korban yang masih terjebak di rumah mereka. Inisiatif sukarela juga muncul, seperti pengumpulan donasi dan doa bersama untuk korban, mencerminkan solidaritas nasional di tengah bencana yang meluas ini. Secara keseluruhan, banjir ini menekankan kerentanan wilayah terhadap perubahan cuaca ekstrem, dengan harapan bahwa upaya pemulihan akan segera mengurangi penderitaan warga dan mencegah eskalasi lebih lanjut.
Sumber: akuratco, metrotvnews.com, acehbesarkab.go.id, komparatif.id, aceh.tribunnews.com, regional.kompas.com, tempo.co
AI: Grok



Post Comment