Amerika Serikat Menarik Diri dari 66 Organisasi Internasional pada Awal 2026

Amerika Serikat Menarik Diri dari 66 Organisasi Internasional pada Awal 2026

Pada 7 Januari 2026, Presiden Donald J. Trump menandatangani Memorandum Presiden yang memerintahkan penarikan Amerika Serikat (AS) dari 66 organisasi internasional yang dianggap “tidak lagi melayani kepentingan AS”. Ini termasuk 31 entitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan 35 organisasi lainnya, dengan fokus pada badan-badan yang mempromosikan “kebijakan iklim radikal, agenda globalis, atau program gender dan DEI (Diversity, Equity, and Inclusion)”. Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan “America First” yang lebih luas, yang bertujuan mengakhiri pendanaan wajib pajak AS untuk entitas-entitas tersebut. Gedung Putih menyatakan bahwa penarikan ini akan menghemat miliaran dolar dan mengembalikan kedaulatan AS, dengan proses penarikan dimulai secepat mungkin, meskipun beberapa memerlukan pemberitahuan satu tahun. Sekretaris Negara Marco Rubio menekankan bahwa ini adalah penolakan terhadap “model multilateralisme usang” yang memperlakukan AS sebagai “penjamin dunia” untuk birokrasi global. PBB menyayangkan langkah ini, mengingatkan AS atas kewajiban keuangan yang tersisa.

Ini bukan pertama kalinya AS menarik diri dari organisasi global. Di masa lalu, di bawah pemerintahan Trump pertama (2017-2021), AS keluar dari Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim (2017), UNESCO (2017), Dewan HAM PBB (2018), WHO (2020), dan TPP (Trans-Pacific Partnership, 2017). Beberapa dibalikkan oleh Presiden Biden, seperti bergabung kembali ke Perjanjian Paris dan WHO pada 2021, serta UNESCO pada 2023. Namun, pada 2025-2026, AS kembali menarik diri dari UNESCO (Juli 2025) dan kini memperluas ke 66 entitas lainnya. Di media sosial X, berita ini memicu perdebatan sengit, dengan dukungan dari kalangan konservatif yang melihatnya sebagai penghematan anggaran, sementara kritik menyebutnya sebagai “isolasi” yang memperkuat pengaruh China.

Berikut adalah ringkasan kategori organisasi yang ditinggalkan berdasarkan laporan terkini:

KategoriJumlahContoh OrganisasiAlasan Penarikan (Menurut Gedung Putih)
Entitas PBB31UNFCCC (Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim), IPCC (Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim), UNESCO, UN Women, UNFPA (Dana Populasi PBB), WHOMemromosikan kebijakan iklim radikal, agenda gender, dan birokrasi global yang tidak akuntabel.
Organisasi Iklim & Lingkungan15+International Solar Alliance (ISA), berbagai treaty iklimTidak sejalan dengan prioritas energi AS, termasuk dukungan fosil.
Organisasi Kesehatan & Kemanusiaan10+Science and Technology Center in Ukraine (STCU), berbagai badan kesehatan PBBKurangnya hasil nyata dan konflik kepentingan.
Lainnya (Perdagangan, Pendidikan, Keamanan)10+Berbagai treaty perdagangan dan lembaga DEIMenguras dana AS tanpa manfaat langsung.

Implikasi, Tantangan, dan Debat atas Penarikan AS dari Organisasi Dunia

Penarikan AS dari 66 organisasi internasional pada 2026 ini merupakan eskalasi dramatis dari kebijakan isolasionis “America First” era Trump, yang pertama kali diterapkan pada 2017-2021. Langkah ini dilihat sebagai upaya mengembalikan kedaulatan nasional, menghemat anggaran (diperkirakan miliaran dolar per tahun), dan menolak “globalisme” yang dianggap merugikan AS. Namun, kritikus dari berbagai spektrum—dari kelompok lingkungan seperti Union of Concerned Scientists (UCS) hingga analis geopolitik—menyebutnya sebagai “mundur besar” yang berisiko mengisolasi AS, memperkuat rival seperti China, dan melemahkan stabilitas global. Di X, perdebatan mencerminkan polarisasi: pendukung seperti @Garri2024 dan @Kymavbc memuji penghematan dana untuk “organisasi tidak efektif”, sementara kritikus seperti @Frogan dan @heartofscotland menyebutnya sebagai ancaman terhadap keamanan kesehatan global dan pengaruh AS.

Implikasi Geopolitik dan Ekonomi: Penarikan ini menciptakan “kekosongan kepemimpinan” yang kemungkinan diisi oleh China, yang semakin aktif di PBB dan organisasi iklim. Misalnya, keluar dari UNFCCC dan IPCC bisa menghambat target global membatasi pemanasan 1,5°C, dengan negara berkembang kehilangan dana iklim AS. Bagi India, penarikan dari ISA (berbasis di India) berisiko mengurangi investasi energi bersih AS, meskipun mengurangi tekanan emisi. Secara ekonomi, ini bisa memicu ketidakstabilan pasar global, seperti volatilitas harga komoditas, dan mempercepat pergeseran ke “Fortress America” dengan tarif tinggi terhadap sekutu seperti Eropa dan Meksiko. Di sisi lain, pendukung berargumen bahwa ini menghemat dana untuk prioritas domestik, seperti pertahanan dan infrastruktur, dan mengurangi ketergantungan pada birokrasi internasional yang “tidak akuntabel”.

Dampak Lingkungan dan Kesehatan: Keluar dari badan iklim seperti UNFCCC dianggap sebagai “kemunduran 30 tahun” bagi aksi iklim global, meningkatkan risiko bencana alam dan migrasi iklim. Di bidang kesehatan, penarikan dari WHO (efektif 2026) dan UNFPA bisa melemahkan respons pandemi global, program kesehatan maternal, dan pencegahan kekerasan berbasis gender di 150+ negara. Kritikus seperti Children’s Health Defense mendukung keluar dari WHO karena dianggap “terlalu birokratis”, tapi yang lain khawatir ini mengancam keamanan kesehatan AS sendiri. Di X, pengguna seperti @PeterDClack menyoroti bagaimana ini mematahkan “aliansi Barat yang rapuh”, sementara @alpha_defense memperingatkan era nuklir ketiga tanpa batasan senjata.

Kritik dan Dukungan dari Berbagai Pihak: Dari perspektif pro-AS, ini memperkuat independensi dan mengurangi “cek kosong” untuk agenda “sosialis global”. Namun, dari sudut pandang kritikus seperti NPR dan Al Jazeera, ini berisiko membuat AS “tidak relevan” dalam diplomasi global, merusak aliansi seperti NATO, dan memperburuk krisis kemanusiaan. Di Eropa, ada kekhawatiran migrasi dan terorisme meningkat tanpa dukungan AS. Analis independen menekankan bahwa “America First” tidak harus berarti “America Alone”; keseimbangan antara partisipasi dan kedaulatan bisa lebih efektif. Secara keseluruhan, langkah ini bisa menjadi ujian bagi multipolarisme baru, di mana AS fokus pada hemisfer Barat, tapi berisiko kehilangan pengaruh jangka panjang di tengah naiknya China dan Rusia.

AI: Grok

Post Comment