Banjir Melanda Jakarta Akibat Hujan Deras 

Banjir Melanda Jakarta Akibat Hujan Deras 

Hujan deras yang mengguyur wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya sejak dini hari Senin, 12 Januari 2026, menyebabkan genangan air dan banjir di berbagai titik. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat hingga pukul 14:00 WIB, terdapat 28 RT (Rukun Tetangga) dan 46 ruas jalan yang terdampak banjir, dengan ketinggian air bervariasi antara 10-50 cm, bahkan mencapai 50-100 cm di beberapa lokasi. Wilayah terdampak meluas ke Jakarta Barat (termasuk Cengkareng, Daan Mogot), Jakarta Selatan (seperti Cilandak Barat), Jakarta Timur (Jalan Anggrek, Rawa Badak Utara), dan Jakarta Utara (Pelumpang Semper, Rorotan). Banjir ini memicu kemacetan parah, kendaraan mogok, dan gangguan aktivitas warga. BPBD telah mengerahkan tim untuk pemompaan air, pemantauan, dan evakuasi warga, termasuk bantuan dari TNI AL yang membantu mendorong kendaraan mogok dan menggendong warga terjebak. Hingga siang hari, banjir dilaporkan mulai surut di beberapa titik berkat operasi tersebut, meskipun hujan masih berpotensi berlanjut. Di media sosial X, warga melaporkan kondisi real-time, seperti banjir sepaha di beberapa jalan dan keluhan macet panjang, dengan beberapa posting menyoroti dampak pada transportasi sehari-hari.

Berikut adalah ringkasan wilayah terdampak berdasarkan laporan terkini:

WilayahJumlah RT TergenangRuas Jalan TerdampakKetinggian Air (cm)Catatan
Jakarta Barat1015 (termasuk Daan Mogot)20-50Kendaraan mogok banyak, lalu lintas dialihkan
Jakarta Selatan812 (termasuk Cilandak Barat)30-60Genangan di kawasan pemukiman, evakuasi anak-anak dan lansia
Jakarta Timur610 (termasuk Jalan Anggrek, Rawa Badak Utara)10-40Banjir surut lebih cepat di sini
Jakarta Utara49 (termasuk Pelumpang Semper, Rorotan)40-100Akses jalan lumpuh, motor diperbolehkan masuk tol sementara

Data ini diambil dari update BPBD hingga pukul 14:00 WIB dan dapat berubah.

Penyebab, Dampak, Respons, dan Tantangan Banjir Jakarta

Banjir pada 12 Januari 2026 ini bukan kejadian isolasi, melainkan bagian dari pola banjir musiman yang sering melanda Jakarta akibat kombinasi faktor alam dan antropogenik. Penyebab utama adalah curah hujan tinggi yang mencapai intensitas sangat lebat (di atas 150 mm/hari) di wilayah hulu seperti Bogor dan Depok, dipicu oleh fenomena La Nina lemah yang meningkatkan curah hujan di Indonesia sejak akhir 2025. Hujan deras sejak dini hari hingga siang menyebabkan sungai-sungai seperti Ciliwung dan Cisadane meluap, ditambah drainase kota yang tersumbat sampah dan sedimentasi. Selain itu, urbanisasi cepat dan hilangnya lahan resapan air akibat pembangunan membuat Jakarta semakin rentan; sekitar 40% wilayah kota berada di bawah permukaan laut, memperburuk masalah subsidensi tanah hingga 15 cm/tahun di utara.

Dampak banjir ini luas: secara ekonomi, kemacetan parah mengganggu mobilitas jutaan warga, menyebabkan kerugian hingga miliaran rupiah per hari dari produktivitas hilang dan kerusakan kendaraan. Di sektor sosial, ribuan warga terdampak, dengan evakuasi diperlukan di kawasan padat seperti Cengkareng, di mana air mencapai pinggang dewasa. Kendaraan mogok menjadi masalah umum, memaksa polisi menerapkan diskresi seperti memperbolehkan motor masuk tol dalam kota untuk mengurai kemacetan. Di media sosial, warga menyuarakan frustrasi, dengan beberapa posting menyoroti banjir sebagai “banjir pertama” bagi pendatang baru atau membandingkan dengan banjir sebelumnya, sementara yang lain mengkritik kesiapan infrastruktur. Banjir juga berpotensi meningkatkan risiko kesehatan seperti penyakit air (leptospirosis) dan kerusakan lingkungan dari sampah yang tersebar.

Respons pemerintah terbilang cepat: BPBD DKI mengaktifkan pompa air di 33 titik rawan, mengerahkan personel gabungan termasuk TNI AL untuk evakuasi dan bantuan logistik. Gubernur Pramono Anung memerintahkan pemantauan intensif, dengan rekayasa lalu lintas dan pemberian bantuan dasar seperti makanan dan obat-obatan.

Tantangan ke depan meliputi adaptasi perubahan iklim, di mana BMKG memprediksi hujan ekstrem berlanjut hingga akhir Januari, memerlukan solusi holistik seperti peningkatan ruang hijau dan relokasi pemukiman rawan. Secara keseluruhan, banjir ini mengingatkan urgensi reformasi infrastruktur untuk membuat Jakarta lebih resilien terhadap bencana alam yang semakin sering akibat pemanasan global.

Post Comment