Dari La Mandragola ke Men’s Rea

Dari La Mandragola ke Men’s Rea

Sekilas, Men’s Rea—pertunjukan stand-up politik dari Pandji Pragiwaksono—dan La Mandragola (The Mandrake) karya Niccolò Machiavelli tampak berasal dari dua dunia yang sama sekali berbeda. Yang satu tampil di panggung modern dengan mikrofon dan sorotan lampu; yang lain lahir di Italia Renaisans, dimainkan di hadapan penonton yang berdiri di alun-alun kota. Namun jika diperhatikan lebih dekat, keduanya bertemu pada satu titik penting: komedi sebagai cara paling efektif untuk membicarakan kekuasaan tanpa mengkhotbahi.

Baik Machiavelli maupun Pandji memahami satu hal yang sama: kritik yang disampaikan secara langsung sering kali ditolak, disensor, atau diabaikan. Maka keduanya memilih jalur yang lebih licin—tawa. Dalam La Mandragola, Machiavelli menyusun cerita tentang tipu daya, nafsu, dan moral yang lentur. Penonton tertawa melihat tokoh-tokohnya berbohong dan berkompromi, sebelum sadar bahwa yang ditertawakan adalah elite terdidik dan otoritas moral itu sendiri. Dalam Men’s Rea, Pandji melakukan hal serupa: ia mengajak penonton tertawa pada absurditas politik, sebelum perlahan menyadari bahwa absurditas itu adalah realitas yang mereka hidupi.

Judul Men’s Rea—yang berarti “niat di balik perbuatan”—sebenarnya sudah sangat Machiavellian. Ia menggeser perhatian dari apa yang terlihat ke motif yang tersembunyi. Inilah juga inti La Mandragola: semua tokoh mengaku bermoral, beragama, dan rasional, tetapi tindakan mereka digerakkan oleh kepentingan pribadi. Komedi di sini bekerja sebagai alat bongkar-pasang: ia membuka jurang antara bahasa moral dan praktik sehari-hari.

Ada pula kesamaan dalam cara kedua karya ini membangun jarak aman. Machiavelli memakai lakon komedi dan karakter karikatural agar kritiknya tidak terasa sebagai serangan langsung terhadap Gereja dan kelas berkuasa. Pandji, di sisi lain, membangun persona komedik—kadang sebagai warga biasa, kadang sebagai pengamat yang “cuma bercanda”. Jarak ini penting. Ia membuat kritik bisa diucapkan tanpa harus berubah menjadi manifesto politik.

Yang menarik, baik La Mandragola maupun Men’s Rea menuntut penonton yang aktif. Leluconnya tidak bekerja jika audiens tidak paham konteks sosial dan politiknya. Tawa yang muncul bukan tawa polos, melainkan tawa pengakuan: “kita tahu ini sedang membicarakan siapa dan apa.” Dalam momen itu, komedi menciptakan ruang publik kecil—sementara, tapi bermakna—tempat kritik bisa beredar.

Kontroversi yang mengiringi Men’s Rea juga mengingatkan kita bahwa komedi semacam ini memang tidak pernah sepenuhnya aman. Demikian pula La Mandragola pada masanya: ia sering dipentaskan ulang karena relevan, tapi juga mengganggu. Keduanya membuktikan bahwa komedi yang paling bertahan lama adalah komedi yang membuat orang tidak sepenuhnya nyaman.

Men’s Rea dan La Mandragola mengakui satu tradisi panjang: dari Renaisans hingga Indonesia kontemporer, komedi selalu menjadi bahasa alternatif untuk membaca kekuasaan. Ia menghindari pidato panjang, menolak keseriusan yang sok suci, dan memilih tawa sebagai kendaraan. Karena dalam banyak situasi, tertawa bukan berarti tidak peduli—melainkan cara paling cerdas untuk tetap berbicara.

*

La Mandragola (±1518–1526) — Niccolò Machiavelli

La Mandragola adalah sebuah komedi satir yang tampak ringan di permukaan, tetapi sesungguhnya menyimpan kritik politik dan moral yang sangat tajam terhadap masyarakat Italia awal abad ke-16. Melalui cerita tentang tipu daya, seksualitas, dan manipulasi, Machiavelli menguliti kemunafikan sosial dengan cara yang menghibur sekaligus mengganggu.

Secara tematik, lakon ini berkisar pada penipuan yang dilegalkan oleh akal sehat palsu. Seorang suami tua yang terobsesi memiliki keturunan, seorang pemuda licik yang ingin memuaskan hasratnya, seorang penasihat hukum yang korup, serta tokoh rohani yang dengan mudah dibujuk—semuanya terlibat dalam jaringan kebohongan yang justru dianggap “rasional” dan “bermoral” oleh para pelakunya. Seks, dalam drama ini, bukan sekadar unsur komedi vulgar, melainkan alat untuk membongkar bagaimana moral publik dapat dinegosiasikan demi kepentingan pribadi.

Yang membuat La Mandragola sangat penting adalah posisinya sebagai komedi politik Renaisans. Machiavelli tidak menertawakan rakyat jelata, melainkan elit itu sendiri—kelas menengah terdidik, institusi hukum, dan terutama otoritas keagamaan. Gereja tidak diserang secara frontal, tetapi digambarkan sebagai institusi yang mudah berkompromi dengan dosa selama diberi justifikasi yang “masuk akal”. Di sinilah komedi bekerja sebagai senjata: tawa menjadi medium kritik yang lebih aman namun lebih menusuk daripada kecaman terbuka.

Dalam konteks dekade 1520-an, La Mandragola memiliki resonansi yang kuat. Italia saat itu berada di tengah krisis politik, fragmentasi kekuasaan, dan kegelisahan moral, sementara wacana Reformasi mulai mengguncang legitimasi Gereja. Tidak mengherankan jika lakon ini sering dipentaskan ulang sekitar 1525–1526, karena penonton menemukan cermin yang akrab: dunia di mana kecerdikan oportunistik lebih dihargai daripada kebajikan, dan keberhasilan ditentukan oleh kemampuan memanipulasi norma.

Dengan demikian, La Mandragola bukan sekadar komedi untuk tertawa. Ia adalah laboratorium sosial Machiavelli, tempat ia menguji gagasannya tentang manusia, kekuasaan, dan moralitas—bukan dalam bentuk traktat politik seperti Il Principe, tetapi lewat panggung, dialog, dan tawa. Justru melalui komedi inilah Machiavelli menunjukkan bahwa politik paling efektif sering kali bekerja dalam wilayah yang tampak remeh, cabul, dan lucu.

*

Mens Rea: Ketika Stand-Up Comedy Menjadi Cermin Politik Indonesia

Mens Rea, pertunjukan stand-up comedy spesial dari Pandji Pragiwaksono — bukan hanya hiburan, tetapi refleksi sosial yang tajam dan berani. Nama Mens Rea sendiri diambil dari istilah hukum yang berarti niat jahat (guilty mind). Secara literal terdengar berat untuk panggung komedi, namun itulah justru daya tariknya: Pandji menggunakan istilah itu sebagai kunci untuk menelisik niat-niat di balik tindakan politik, kebijakan, dan wacana publik — semuanya dibingkai dengan selera humor yang khas.

Panggung Mens Rea tidak sama dengan pertunjukan stand-up ringan yang hanya bergantung pada punchline dan lelucon sehari-hari. Di sini, politik adalah bahan bakar utama. Pandji membedah keadaan demokrasi Indonesia pasca-pemilu, perilaku para elite politik, bahkan kondisi oposisi dan dinamika kekuasaan yang sering terasa absurd bagi banyak orang.

Dia tidak sekadar mengejek — ia mengurai fenomena dengan observasi tajam, menyambungkan titik-titik antara pengalaman nyata dan ironi politik yang sering kita lihat di media. Pendekatan ini membuat Mens Rea terasa seperti kuliah politik yang dibungkus lelucon — lucu, tetapi tetap menyentak kesadaran.

Yang membuat karya ini menarik adalah bagaimana Pandji menggunakan humor sebagai alat edukasi dan kritik. Alih-alih hanya menertawakan tokoh atau kejadian tertentu, ia melempar pertanyaan: bagaimana kita sebagai warga negara membaca dan memahami peristiwa politik? Bagaimana kita mengambil peran sebagai pelaku demokrasi, bukan sekadar penonton?

Leluconnya sering kali mulai dari observasi sederhana—sesuatu yang penonton bisa kenali sehari-hari—dan kemudian menjalar ke kritik yang lebih dalam. Tawa datang bukan hanya karena kejutan, tetapi karena kita merasa “terbaca” dan terkait secara langsung.

Tidak semua orang menyukai pendekatan ini. Setelah versi pertunjukan Mens Rea dirilis di Netflix tanpa sensor, materi Pandji menjadi bahan perdebatan luas. Beberapa kalangan menilai beberapa bagian menunjukkan unsur penghinaan atau kegaduhan sosial, sehingga menimbulkan laporan ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik dan potensi memecah belah masyarakat.

Respon netizen sangat beragam: ada yang memuji kecerdasan penyampaian dan cara Pandji membuat isu serius jadi lebih mudah dipahami, bahkan mengajak diskusi. Namun ada juga yang merasa humornya terlalu tajam atau kurang “stand-up” karena lebih mirip komentar politik daripada sekadar lelucon ringan.

Apa yang membuat Mens Rea lebih dari sekadar pertunjukan komedi adalah keberaniannya membuka ruang diskusi. Pandji tidak takut memasukkan isu politik ke dalam ranah hiburan, dan ia melakukan itu dengan cara yang membuat kita sadar bahwa tertawa pun bisa jadi bentuk refleksi sosial.

Di era di mana banyak orang menghindari pembicaraan serius karena takut memecah belah, Mens Rea justru mengatakan: “Kita bisa membicarakan politik. Bahkan lewat tawa.” Dan itu yang membuat pertunjukan ini bukan hanya lucu, tetapi penting.

AI: ChatGPT

Post Comment