Kultivasi dalam Drama China: Imajinasi Menjadi Manusia Unggul
Bayangkan sebuah dunia di mana manusia biasa bisa melampaui batas fana, mengolah energi dalam tubuh untuk menjadi makhluk abadi yang kuat, bijak, dan harmonis dengan alam semesta. Ini bukan sekadar mimpi liar, tapi inti dari genre xianxia dalam drama China modern—sebuah fenomena yang memadukan fantasi epik dengan akar budaya kuno.
Kita bisa melihat bagaimana drama-drama ini, seperti Eternal Love (2017), The Untamed (2019), atau Ashes of Love (2018), tidak hanya menghibur jutaan penonton global, tapi juga merefleksikan aspirasi masyarakat China kontemporer untuk menjadi “manusia unggul” (superior humans) dan abadi. Kultivasi, atau xiuzhen, menjadi metafor yang hidup, di mana perjalanan spiritual berubah jadi petualangan dramatis yang menggabungkan Taoisme, alkimia kuno, dan isu-isu modern seperti kapitalisme dan identitas nasional. Mari kita telusuri lebih dalam, mulai dari akar budayanya hingga implikasi yang lebih luas, sambil melihat bagaimana imaginasi ini membentuk persepsi kita tentang kesempurnaan manusia.
Akar dari konsep kultivasi ini tak lepas dari warisan budaya China yang kaya, khususnya ajaran Taoisme dan alkimia dalam (neidan). Dalam sejarah, xiuzhen adalah praktik meditasi dan pengolahan qi (energi vital) untuk mencapai keabadian atau transcendence, seperti yang digambarkan dalam teks-teks kuno Daois. Prosesnya bertahap: dari menyempurnakan esensi tubuh (lianjing huaqi) hingga menyatukan roh dengan kekosongan alam semesta (lianshen huanxu), mirip dengan permainan video di mana karakter “level up” melalui latihan dan tantangan.
Dalam drama xianxia, ini diimajinasikan ulang sebagai perjalanan heroik: protagonis mulai dari pemuda biasa, menghadapi tribulasi (cobaan), dan akhirnya menjadi xianren (makhluk abadi) yang bisa terbang, mengendalikan elemen, atau bahkan bereinkarnasi. Ini bukan sekadar fantasi; ini rekonstruksi memori budaya kuno China, di mana elemen-elemen seperti gunung suci, sungai mistis, atau makhluk mitologis seperti naga dan phoenix dihidupkan kembali melalui narasi visual yang memukau.
Ambil contoh The Untamed, di mana kultivasi bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi juga moralitas—karakter seperti Wei Wuxian menggunakan energi gelap untuk melawan kejahatan, merefleksikan konflik antara harmoni alam (Tao) dan ambisi manusia.Dari perspektif kajian budaya, drama-drama ini berfungsi sebagai ritual komunikasi yang menghubungkan masa lalu dengan sekarang. Menurut teori memori budaya Jan Assmann, elemen kuno seperti “cinta tribulation” (qingjie) dari Taoisme atau konsep karma dari Buddhisme dipilah-pilah dan direkonstruksi: yang esensial dipertahankan, yang rumit dilupakan, agar sesuai dengan selera penonton modern.
Hasilnya? Imajinasi manusia unggul yang romantis dan gamified—abadi bukan berarti tak mati, tapi terus berevolusi melalui reinkarnasi dan cinta abadi, seperti di Eternal Love di mana pasangan protagonis melewati tiga dunia untuk bersatu kembali. Ini mencerminkan masyarakat China pasca-sosialis, di mana kehilangan mitos lama digantikan oleh fantasi digital: kultivasi jadi metafor untuk usaha pribadi di era neoliberal, di mana “akumulasi qi” mirip dengan akumulasi kekayaan atau status sosial.
Tak heran jika drama ini jadi alat soft power China, menarik audiens global melalui platform seperti Netflix atau Bilibili, di mana fantasi abadi ini menawarkan pelarian dari ketidakpastian dunia nyata.Lebih dalam lagi, kajian ini mengungkap bagaimana kultivasi mengaburkan batas antara sains, agama, dan takhayul. Di China modern, di mana kampanye anti-takhayul pernah menekan elemen magis, xianxia merevitalisasi ini sebagai “postsekuler”—kultivasi digambarkan sebagai teknologi canggih, seperti batu spiritual (lingshi) yang jadi mata uang dalam ekonomi kapitalis fantasi, atau jaringan saraf untuk mengalirkan qi yang mirip bio-engineering.
Ini bukan kebetulan; genre ini lahir dari kebangkitan agama pasca-1980-an, di mana qigong (latihan pernapasan) jadi populer sebagai campuran sains dan spiritualitas. Dalam drama, manusia unggul adalah yang bisa mengintegrasikan ini: bukan sekadar kuat, tapi autentik (zhen), bebas dari eksploitasi, seperti di novel-novel dasar yang menginspirasi drama, di mana kultivator melawan kerajaan neoliberal untuk utopia relasional.
Namun, ada kritik: industri budaya, seperti yang dianalisis Adorno dan Horkheimer, mengubah mitos kuno jadi komoditas—naratif romansa mendominasi, menyederhanakan moralitas jadi hitam-putih, dan menjadikan abadi sebagai simbol superioritas elit, bukan akses universal.Partisipasi penggemar menambah lapisan menarik. Di platform seperti Bilibili, fans merekonstruksi memori budaya melalui video fan-made: tarian klasik dengan kostum hanfu modern, atau remix lagu tema dengan instrumen tradisional seperti guqin.
Ini bukan pasif; ini bottom-up, di mana imaginasi abadi jadi bagian dari identitas nasional—sebuah “Guo Feng” (gaya nasional) yang membangkitkan kebanggaan budaya di tengah globalisasi. Bagi penonton internasional, ini membuka pintu ke pemahaman China: kultivasi bukan hanya aksi, tapi filosofi tentang harmoni, ketahanan, dan evolusi diri. Tapi, di balik pesonanya, ada risiko: apakah ini memperkuat stereotip Orientalis, atau justru membuka dialog lintas budaya?
Pada akhirnya, drama China melalui kultivasi mengajak kita bermimpi tentang manusia unggul—abadi bukan dalam arti tak tergantikan, tapi dalam kemampuan beradaptasi dan tumbuh. Dalam kajian budaya, ini adalah cermin masyarakat yang haus akan transcendence di era digital: dari alkimia kuno ke fantasi modern, perjalanan ini mengingatkan bahwa kesempurnaan bukan tujuan, tapi proses yang abadi. Jika Anda penggemar genre ini, coba renungkan: apakah kultivasi dalam drama favorit Anda merefleksikan impian pribadi Anda sendiri?
AI: Grok

Post Comment