Gelombang Demo Besar-Besaran “No Kings” di Amerika Serikat Tuntut Presiden Donald Trump Mundur
Gambar: AI Generate Grok
Jutaan warga Amerika Serikat turun ke jalan dalam aksi demonstrasi terbesar sepanjang sejarah modern negara itu. Aksi bertajuk “No Kings” yang digelar pada Sabtu 28 Maret 2026 lalu masih menjadi sorotan utama hingga hari ini, dengan ribuan lokasi aksi di seluruh 50 negara bagian terus menyuarakan tuntutan yang sama: Presiden Donald Trump harus mundur dari jabatannya.
Demonstrasi ini melibatkan lebih dari 8 juta peserta di lebih dari 3.300 titik aksi, mulai dari National Mall di Washington D.C., Times Square di New York, hingga kota-kota kecil di tengah Amerika. Para demonstran membawa spanduk bertuliskan “No Kings in America”, “Stop the Iran War”, dan “Trump Resign Now”. Massa mengkritik keras kebijakan Trump yang dianggap semakin otoriter, terutama keterlibatan Amerika dalam perang melawan Iran yang kini memasuki hari ke-33.
Perang di Timur Tengah menjadi pemicu utama kemarahan publik. Korban sipil Iran yang mencapai ribuan jiwa, termasuk banyak anak-anak, ditambah lonjakan harga minyak dunia akibat gangguan di Selat Hormuz, telah memukul perekonomian Amerika. Harga bensin di AS tembus level tertinggi dalam dua tahun, sementara keluarga-keluarga biasa kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyak demonstran menyebut perang ini sebagai “perang ilegal Trump” yang tidak perlu dan hanya menguntungkan segelintir pihak.Aksi “No Kings” kali ini bukan sekadar protes biasa. Penyelenggara menyebutnya sebagai hari aksi non-kekerasan terbesar dalam sejarah AS. Ribuan acara diadakan secara serentak, termasuk di kota-kota kecil yang biasanya tenang. Meski sebagian besar berjalan damai, bentrok kecil terjadi di beberapa lokasi seperti Los Angeles dan Philadelphia antara massa dengan aparat keamanan. Lebih dari 70 orang dilaporkan ditangkap.
Reaksi dari Gedung Putih hingga kini masih minim. Presiden Trump belum memberikan komentar resmi terhadap gelombang demonstrasi ini, meski sebelumnya ia sering membalas kritik dengan sebutan “fake news” dan “radical left”. Sementara itu, partai Demokrat dan kelompok oposisi menyambut aksi ini sebagai bukti kuat bahwa dukungan publik terhadap Trump semakin menurun. Beberapa anggota Kongres bahkan mulai membicarakan kemungkinan pemakzulan jika perang terus berlanjut tanpa hasil jelas.
Di kalangan analis politik, demo “No Kings” ini dilihat sebagai titik balik. Kombinasi antara kekecewaan atas perang Iran, kenaikan biaya hidup, dan kekhawatiran atas arah kebijakan Trump yang dianggap otoriter telah menyatukan kelompok-kelompok yang selama ini terpecah. Banyak yang percaya bahwa tekanan dari jalanan ini bisa mempercepat upaya de-eskalasi perang atau bahkan memaksa Trump mempertimbangkan langkah mundur.
Sementara itu, dampak demo ini sudah terasa di kancah internasional. Negara-negara sekutu AS seperti Inggris dan Prancis turut melaporkan aksi solidaritas kecil, sementara Iran sendiri menyebut demonstrasi ini sebagai “bukti bahwa rakyat Amerika menolak agresi Trump”.
Hingga saat ini, suasana di berbagai kota AS masih tegang. Ribuan polisi dikerahkan untuk menjaga ketertiban, dan penyelenggara “No Kings” menyatakan akan melanjutkan aksi secara bergelombang hingga tuntutan utama mereka didengar.
AI: Grok

Post Comment