Toples Kolang-Kaling – Cerita Pendek Ninuk Kleden-Probonegoro

Toples Kolang-Kaling – Cerita Pendek Ninuk Kleden-Probonegoro

Dua hari menjelang Natal, dapur kecil dalam kompleks di pinggiran Jakarta Selatan itu, penuh bau bawang. Empat puluh tahun lalu pintu tak pernah benar-benar tertutup. Orang keluar-masuk, saling menyapa tanpa mengetuk.  Jarak terasa lebih dekat dari sekarang.

“Jangan dekat-dekat, nanti pedih matanya,” kata mbak sambil terus mengupas.

Bocah itu tetap merapat. Tangannya sibuk memindahkan buncis ke dalam baskom berisi air. Satu-dua jatuh ke lantai, ia pungut lagi, cepat-cepat, seolah takut kehilangan tugasnya.

“Ini buat besok?” tanyanya

“Iya. Besok direbus.”

Ia mengangguk, lalu kembali bekerja—lebih pelan, lebih hati-hati.

Bapak si bocah, melongok ke dapur;

“Nggak bikin atau beli kue aja, Ma. Lebih praktis.”

“Praktis nggak ada hati dan rasanya.”

“Nggak praktis rasa apa? Rasanya cape, Ma.” Ia berbalik dan kembali ngobrol dengan temannya, buku-buku yang berserak di atas meja kerjanya..

***

Sejak pagi bocah itu sudah bersemangat.

“Masa pake kaos, mbak.  Ini kan Natal.”

“Belum Natal, Natalnya besok. Besok gereja baru pakai baju bagus.”

“Nggak, nggak mau. Ini Natal juga. Mama masak Natal”

Suaranya meninggi, kaki menghentak-hentak. Kalau kaos itu tidak diganti … Mbak diam melihat bos kecilnya.  

Menjelang tengah hari Mama membagikan masakannya ke dalam mangkuk dan piring besar untuk kentang, buncis, wortel dan dua kerat daging. Bocah laki-laki itu mengawasi kerja Mamanya.

“Ma yang ini kentangnya banyak, dagingnya kurang dong. Tambah satu lagi Ma.”

“Semua sudah Mama atur, itu cukup.”

Mbak mengangkat nampan itu keluar. Pagar berderit pelan. Bocah itu mengikutinya dengan kemeja barunya lari-lari kecil mengikuti mbak yang membawa nampan penganan. Di muka pagar, teriakan si Bocah bisa membangunkan seluruh isi rumah.

“ Tante … Tante Ima. Tante Ima aku bawa sup.”

“Sini masuk dulu.”

“Nggak ah tante, masih banyak yang harus diantar.”

Tante Ima kembali dengan nampan kosong dan segenggam permen yang segera pindah ke kantong kemeja dan celananya. Perjalanan ke dua, kantong kemeja dan celana sudah dikosongkan. Sekarang;

“Boy … Boy …sini Boy …” 

“Mama , ada  yang teriak di pagar“,  kata Boy.

Tak lama kemudian Mama Ati mengosongkan nampan dan memberi Boy lembaran rupiah untuk diteruskan ke kantong bocah itu. Ia hanya kuat berjalan lima rumah saja.

Ia duduk di lantai, punggungnya menempel  di kursi. Segelas susu coklat dingin di tangannya mulai berkeringat. Permen, uang, kartu, dan kue kering dari mamanya Gendis, semua disusun di depan  lututnya. Ia diam lama. Kemudian tersenyum sendiri.

“Gimana tadi jalan-jalannya?”

“Asyik Ma. Tante Ima kasih permen banyak. Ada permen loli yang aku suka, masih ada permen-permen lain. Banyak.”

“Mama mau?”

“Kamu saja.”

“Boy aku panggil, dia treak-treak panggil Mamanya.”

“Jadi yang ke luar tante Ati sama Boy. Aku dikasih uang sama tante Ati.”

“Eh …Ma. Masa tadi ada anjing kejar kucing kecil. Kasian, kucing itu kan masih kecil.”

 “Anjingnya aku lempar batu.”

“Kena ? Kasian kan kalau dilempar batu. Batu kan keras. Pasti sakit.”

“Dia lari Ma. Ke tempat anak kucing. Kucingnya duduk saja. Takut ya? Anjingnya gonggong gonggong, tapi cuman putar-putar, kelilingi kucing yang duduk. Nggak digigit kok Ma.”

“Dia nggak mau gigit. Dia ajak main. Tapi kucingnya takut.”

Tiba-tiba bocah itu ingat lagi pada anjing  yang dilempar batu itu.

“Ma, itu kan anjingnya Tante Ati. Kenapa tante Ati punya anjing? Aku juga mau, Ma.”

“Tante Ati rumahnya besar. Ada kebun, anjingnya bisa main di situ.”

“Tapi dia juga suka main di jalan, sama kucing kecil. Nanti aku juga  mau punya rumah yang ada kebun besar ya Ma.”

***

Pada saat Hari Raya Idul Fitri,  dapur sunyi.  Mbak sudah pulang kampung.  Seperti tahun-tahun sebelumnya, Mama tidak masak. Di saat seperti ini, seluruh kampung atau bahkan seluruh kota meniup  bau yang sama; ketupat  dan teman-temannya.

“Assalamualaikum …”

“Walaikumssalam. Tante Ati masuk dulu, saya panggil Mama.”

Malam itu Tante Ati kirim sepiring ketupat dan opor ayam, sambal goreng papaya muda. Bude sebelah juga kirim sepiring ketupat dengan opor ayam dan rendang.

“Mama aku mau ketupat dan opor ayam ya.”

“Tunggu, Papa ke luar sebentar. Sudah cuci tangan?” 

Kehadiran ketupat dan teman-temannya berlanjut setelah sholat Id keesokan harinya.

“Mama kita makan pagi ketupat lagi?  Horeee aku mau ketupatnya sama rendang. Tapi nggak pedas kan Ma?”

“Boleh, Mama coba dulu ya rendangnya. Kalau pedas ketupatnya pakai opor saja.”

Makanan berlimpah. Mulai pukul 11 biasanya mereka bertiga keliling mengunjungi rumah tetangga, sampai sore, untuk mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri. Kunjungan silaturahmi dan bermaaf-maafan bisa berlangung beberapa hari.

Lima tahun kemudian …..

“Ikut mbak nggak? Ayo cepat ganti baju.”

“Nggak ah Ma. Malas. Panas.”  Matanya ke tablet yang digenggam.

“Ceritanya sambung nanti!”

“Nggak ah.” Mata tetap ke tablet.

***

“Ma kenapa kita pindah sini? Nggak enak Ma. Nggak ada Boy, nggak ada Gendis yang mukanya makin jelek kalau aku bilang jelek. Tapi nggak jelek sih. Kata Boy cantik.”

“Kamu harus cari teman baru.”

“Malas. Nggak ada yang main ke luar.“

“Tapi kita harus pindah. Kasian Papa, kalau dari rumah dulu, kan jam 5 sudah harus berangkat. Pulangnya malam, nggak bisa main sama Papa kan?”

Dia diam dan masih menggenggam cangkul kecil  itu. Bantu Mama tanam bunga.

“Sore Bu”. Ibu sepuh depan rumah membuka pagarnya dan ke luar sambil menyapa. Baru kelihatan Bu. Semoga senang tinggal di sini.”

“Iya. Terimakasih. Ini baru dapat bunga. Biar tidak kosomg dan gersang.”

***

“Ma mau ke mana?” Tanyanya pada Mama yang kelihatan siap akan pergi.

“Sebentar, cari buah.”

“Untuk ibu depan ya?” “Kalau di sini lebaran kasih  buah ya Ma? Cuma satu. Kalau di rumah dulu, lebaran kita makan ketupat pakai  opor ayam, aku suka rendang Bude, nggak pedas. Banyak makanannya ya Ma. Asyik.”

“Di sini sepi. Malah Mama yang kasih buah. Yang lebaran dia ya. Nggak seru.”

“Hust  … ”

“Ayo cepat kalau mau ikut. Tapi panas lho.”

Tak lama si bocah ke luar dengan sepatu sandal dan bertopi.

Toko buah segar sudah penuh pelanggan. Beberapa anak lari kian kemari, teriak memangil teman atau saudaranya. Sembunyi dibalik meja dengan tumpukan apel. Ibu yang sedang memilih apel, takut anak-anak merobohkan gunung apel itu.

“Dea, Dita, Dama ….  Cukup lari-larinya. Baju kalian basah keringat. Sudah sini.”

“Nggak basah kok Ma”,  jawab Dama, nih lihat sambil mengangkat kaos  yang  dikenakannya 

“Iya,“  kata Dita membela kakaknya. “Nggak basah.”

Mama berhenti, diam  di tepi jejeran dos kurma. Diambilnya satu, dan masuk keranjang belanja. Masih diambilnya apel merah,  apel hijau, dan buah delima.

“Cukup. Untuk hantaran ucapan Selamat hari Raya Idulfitri. Buah delimanya menjadi pemanis. Ayo kita pulang.”

Sore hari Mbak siap menyeberangkan keranjang buah itu ke keluarga ibu Sepuh, di muka rumah. Buah tersusun dalam keranjang dengan sisipan kartu mungil mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri.

“Ikut nggak?” tanya Mbak pada bocah 9 tahun yang duduk di karpet menghadap layar TV, tangannya  memegang tablet.

“Nggak ah. Malas. Aku mau main Nintendo.” Tangan kecil itu segera memindahkan gambar ke TV.

“Assalamualaikum,” kata mbak, sambil membuat  derit  pagar yang dibuka.

“Walaikumssalam. Wah bawa apa itu? Keranjang buahnya bagus amat. Tunggu sebentar Mbak.” 

Mama duduk di kursi teras mengawasi perjalanan keranjang buahnya. Toples berisi kolang-kaling sudah menari di muka matanya, merah hijau , kenyal dan manis, rapi tersusun di dalamnya. Ibu sepuh yang baik hati itu, setiap tahun kalau keranjang buah mendarat di rumahnya, segera ia kirim toples itu. Tiap tahun.

Toples itu sempat disimpan di lemari dapur, di antara gelas-gelas yang jarang dipakai.

“Mbak bawa apa?” Ketika didengarnya ada langkah dari luar.

“Kolang-kaling,” kata Mama.

“Mau dong, mau …”

Anak itu tidak bergeming dari TV.

“Kalau mau kolang-kaling, jangan main dulu. Nanti main lagi.”  Sudut matanya cepat berpindah ke toples  kolang-kaling, secepat dua ibu jarinya yang menari lincah memberi nyawa Nintendonya.  

“Ya Ma, aku mau kolang kaling.” 

Mama berdiri, dibukanya toples itu, dikeluarkannya kolang-kaling, dua hijau dan dua merah yang segera berpindah ke piring kecil bergarpu. Mama tidak segera menutup toples itu, seolah ada yang masih ingin tinggal lebih lama.  Di antara bunyi TV dan sendok kecil, ada yang diam-diam lewat tanpa suara.

Di hari raya, rumah ibu sepuh itu ramai. Tamu-tamu berdatangan, mobil berderet hingga ke depan rumah kami. Para perempuan berpakaian hitam dan bercaar. Kadang kami harus meminta mereka sedikit menggeser parkir agar kami bisa lewat. Tidak apa-apa.

Di antara keramaian itu, selalu ada satu hal yang pasti: kiriman tidak pernah hilang, dan balasannya selalu tiba.

***

Hari ini Idul Fitri

Maria bukan lagi anak kecil yang menunggu Mamanya di muka pagar. Ia menatap layar ponselnya lebih lama dari yang ia sadari. Dua centang itu tidak berubah. Ia miringkan ponselnya, seolah dengan begitu warna biru bisa muncul. Tidak.

Ia letakkan ponsel itu di meja, tepat di samping novel yang sejak tadi terbuka pada halaman yang sama. Ujung kertasnya sedikit melengkung, seperti pernah dilipat, tapi tidak jadi.

Ponsel di samping novel itu tiba-tiba memanggil waktu  yang telah tertiup angin. 

Nama-nama itu masih dikenal lidahnya. Qale; rambut panjang, duduk rapi seperti selalu sedang mendengarkan sesuatu yang tidak terdengar orang lain. Re; dipanggil begitu, padahal namanya lebih Panjang. Semua datang bersama suara, bersama tawa yang sulit diam.

Mereka pernah berdiri di ambang pintu yang sama, menunggu giliran menyuap manisan dari mangkuk yang berpindah tangan. Ponsel tetap belum berbunyi.

Ponsel di samping novel itu tiba-tiba memanggil waktu yang telah tertiup angin. 

Boneka beruang itu pernah duduk di pangkuannya.
Mobil-mobilan biru berderet di lantai. Sejak mereka duduk di bangku  SD, kalau Natal, Re selalu  membawakannya hadiah Natal, tidak cukup hanya dengan ucapan saja.  Begitu sebaliknya.

“Hai Re masa kamu mau kasih aku mobil-mobilan? Kan yang Natalan aku.”

“O …iya.” Dikembalikannya mobil itu di raknya.

“Itu banyak boneka lucu, Re. Nah, kamu yang pilih untuk aku.”

“Iya, boneka beruang itu aku suka sekali. Kasih Mama dulu Re.”

“Re mau sesuatu?” tanya Mama.

“Nggak tante, yang Natalan kan Maria.”

“Iya Ma, Re mau mobil-mobilan itu.” Maria lari ke mobil kecil biru yang tadi Re pegang-pegang.

“Jadi, Re dapat hadiah dari Maria ya.”

“Besok kita buat pohon Natal ya. Re bantu Maria?” tanya Mama.

“Iya Tante, mau …”

***

Re mana ya, tanya hati Maria. Dilihatnya ponsel yang tergeletak di meja. Tapi ia diam.

Semoga dia baik-baik saja, kata hati Maria sambil tangannya membuat tanda salib.

Matanya tetap menatap ponsel yang masih diam. Tangan berpindah ke buku Han Kang itu lagi, tapi halamannya masih tetap yang sama.

“Qale di mana ya?”

Angin tidak menjawab. Hanya bertiup sepoi.

“Semoga kamu baik-baik ya Qale.” Kata Maria yang kembali membuat tanda salib.

***

Maria pindah duduk ke teras, tetap bersama buku dan ponselnya. Di depan matanya jelas tampak dapur Mama dan Mama-Mama lain, selalu ramai, bau bawang memenuhi dapur dan ke luar menjalar ke seluruh rumah. Kiriman penganan buatan rumah dibagikan pada tetangga. Dan nanti pada saat Idul Fitri, ketupat dan teman-temannya lah yang antre datang ke rumah.

Pada masanya barisan ketupat tidak hadir lagi. Muncul toples berisi kolang-kaling cantik; Merah dan hijau, gemuk, manis, dan kenyal, yang tersusun rapi. Ia datang sebagai balasan, ucapan Selamat hari Raya Idul Fitri.

Angin  lembut di teras menyapu rambut Maria  tang menatap kembali layar ponselnya. Ada dua centang. Tetap tidak berubah warna. Ia meletakkannya pelan di meja. Buku Han Kang tetap terbuka pada halaman yang sama.

Dari rumah sebelah, samar tercium bau gula dan daun pandan.

Maria diam sejenak. Ia bangkit, berjalan ke dapur.

Lemari bagian atas sedikit seret ketika dibuka. Di antara gelas-gelas yang jarang dipakai, sebuah toples bening terselip berdiri di sudut.

Maria mengangkatnya. Tutup  dibuka sebentar, lalu ditutup kembali.

Kosong.

Ia kembalikan ke tempat semula, mendorongnya sedikit ke belakang.

Ponsel di meja tetap diam.

Bintaro 24 April 2026

Post Comment