Mindfulness di Era Dark Ecology

Ada sesuatu yang sangat Indonesia dari kontroversi Maudy Ayunda tentang mindfulness: bahkan ketika kita sedang marah kepada dunia, kita masih sempat memperdebatkan apakah cara kita marah sudah cukup sehat secara mental.
Beberapa waktu lalu, video Maudy berjudul Mindfulness in the Age of Bad News kembali menjadi bahan perbincangan. Video itu sebenarnya sudah diunggah pada 21 Agustus 2026. Isinya cukup sederhana: bagaimana menjaga kesehatan mental ketika kita setiap hari dibombardir berita buruk dari dalam negeri maupun dunia. Bencana, kebakaran hutan, kelangkaan BBM, persoalan kebijakan pemerintah, berbagai krisis yang datang seperti notifikasi yang tidak pernah meminta izin untuk masuk.
Maudy bercerita tentang rasa kewalahan, tidak berdaya, menangis, marah, dan kebutuhan untuk mengambil jarak dari banjir informasi. Ia kemudian menawarkan mindfulness sebagai salah satu cara untuk tetap waras.
Tidak ada yang aneh dengan gagasan itu. Masalahnya, Indonesia sedang berada pada tahap peradaban ketika “berita buruk” mulai terdengar seperti istilah dari kelas yang berbeda. Bagi sebagian orang, berita buruk adalah sesuatu yang muncul di layar. Bagi sebagian yang lain, berita buruk adalah sesuatu yang mengetuk pintu. Dan bagi sebagian yang lain lagi, berita buruk bahkan tidak perlu mengetuk karena mereka sudah tidur bersamanya.
Bagi orang yang rumahnya kebanjiran, banjir bukan bad news. Bagi orang yang kehilangan pekerjaan karena harga-harga naik, inflasi bukan bad news. Bagi orang yang tinggal dekat hutan yang terbakar, kabut asap bukan bad news. Bagi orang yang hidupnya berubah karena kebijakan pemerintah, kebijakan tersebut bukan berita yang bisa ditutup dengan menekan tombol mute. Ia adalah kehidupan. Maka di sinilah persoalan Maudy menjadi menarik.
Bukan karena mindfulness itu salah. Justru karena mindfulness mungkin benar—tetapi kebenaran yang benar untuk seseorang belum tentu mempunyai bentuk yang sama bagi orang lain. Dan di situlah privilege masuk melalui pintu belakang.
Ada kemewahan tertentu dalam kemampuan untuk tidak tahu
Kita hidup dalam ekonomi perhatian. Setiap pagi telepon genggam memberikan kita berita perang. Siang hari muncul berita korupsi. Sore hari ada video banjir. Malam hari ada kebakaran hutan. Sebelum tidur, algoritma memberi kita perang lain. Lalu kita membuka aplikasi meditasi.
“Tarik napas.” Tarik. Buang. Tarik. Buang.
Di luar sana mungkin ada orang yang sedang menghitung apakah uangnya cukup untuk membeli beras. Tetapi kita sedang menghitung napas. Ironis? Tentu. Tetapi juga manusiawi. Masalahnya bukan pada napas. Masalahnya adalah ketika kemampuan untuk mengatur jarak dari realitas dianggap sebagai kemampuan universal. Padahal tidak.
Kemampuan untuk berkata, “Aku tidak mau membaca berita hari ini,” adalah sebuah bentuk kebebasan. Dan kebebasan tidak pernah didistribusikan secara merata.
Maudy sendiri akhirnya mengakui hal ini. Dalam klarifikasinya, ia mengatakan bahwa kemampuan untuk menjauh dari berita merupakan sebuah privilege karena tidak semua orang memiliki pilihan tersebut, terutama ketika suatu persoalan berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitas mereka.
Pengakuan itu penting. Sebab di situlah persoalan bergeser dari: “Apakah mindfulness baik?”
menjadi:
“Siapa yang mempunyai privilege untuk mempraktikkan mindfulness dengan cara seperti itu?”
Masalahnya bukan mindfulness. Masalahnya adalah dunia yang membutuhkan mindfulness agar kita sanggup menoleransi dunia yang semakin sinting.
Ada ironi yang lebih besar lagi. Kita hidup dalam sistem yang menghasilkan stres secara massal, lalu menjual kepada kita berbagai cara untuk mengelola stres tersebut secara individual. Dunia kerja membuat kita kelelahan. Lalu kita membeli aplikasi meditasi. Kota membuat kita tercekik. Lalu kita mengikuti kelas pernapasan.
Media sosial menghancurkan perhatian kita. Lalu kita mengikuti digital detox. Ekonomi membuat hidup semakin tidak pasti. Lalu kita belajar positive thinking. Lingkungan rusak. Lalu kita membeli botol minum bambu. Sistem membuat kita cemas.
Lalu kita disuruh:
“Manage your anxiety.”
Seolah-olah masalahnya adalah kecemasan kita. Bukan dunia yang menghasilkan kecemasan itu. Ini adalah bentuk politik yang sangat modern:
Sistem tidak perlu berubah selama individu cukup pandai mengatur emosinya.
Dan di sinilah mindfulness bisa menjadi sangat progresif sekaligus sangat konservatif. Progresif ketika ia membantu seseorang tidak hancur secara mental. Konservatif ketika ia digunakan untuk membuat seseorang mampu bertahan di dalam sistem yang seharusnya dipertanyakan.
Kita akhirnya bukan memperbaiki dunia. Kita belajar menjadi lebih nyaman ketika dunia sedang rusak.
Selamat datang di era dark ecology
Di sinilah konsep dark ecology menjadi menarik.
Timothy Morton menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan cara berpikir ekologis yang tidak lagi melihat alam sebagai sesuatu yang jauh, bersih, indah, hijau, dan berada di luar manusia. Ekologi justru berarti menyadari bahwa kita sudah terjerat di dalam jaringan kehidupan dan kerusakan yang sama.
Dengan kata lain:
Tidak ada tempat untuk berdiri di luar masalah. Kita bukan penonton perubahan iklim. Kita ada di dalamnya. Kita bukan penonton krisis energi. Kita menggunakan listrik yang menghasilkannya. Kita bukan penonton kehancuran hutan.
Kita membeli barang yang rantai produksinya mungkin berkaitan dengan ekstraksi sumber daya. Kita bukan penonton ekonomi digital.
Kita menggunakan server, data center, AI, cloud, streaming, dan jaringan yang semuanya membutuhkan energi dan material.
Bahkan ketika kita melakukan digital detox, kita melakukannya menggunakan sebuah perangkat digital.
Lucu, bukan? Kita ingin melarikan diri dari sistem dengan menggunakan produk sistem. Itulah dark ecology. Kita tidak pernah benar-benar keluar.
Bahkan mindfulness kita punya jejak karbon
Bayangkan seseorang duduk dengan tenang. Ruangan sunyi. Lampu redup. Musik ambient. Lilin aromaterapi. Telepon dalam mode Do Not Disturb. “Be present.”
Sementara di suatu tempat: data center bekerja. Server berputar. Jaringan listrik bekerja. Tambang menghasilkan mineral. Kapal mengangkut barang. Pabrik memproduksi perangkat. Dan sistem ekonomi terus bergerak agar kita dapat membeli lilin yang membantu kita merasa lebih dekat dengan alam. Ini bukan untuk mengejek orang yang bermeditasi.
Justru sebaliknya. Ini untuk menunjukkan bahwa tidak ada praktik individual yang benar-benar berada di luar ekologi. Bahkan ketenangan mempunyai infrastruktur. Bahkan kesunyian mempunyai rantai pasokan. Bahkan mindfulness mempunyai ekonomi politik. Dan mungkin itu yang sering kita lupakan ketika membicarakan kesehatan mental dalam masyarakat modern.
Kita terlalu sering bertanya:
“Bagaimana saya bisa tetap tenang?”
Padahal mungkin sesekali kita juga perlu bertanya:
“Mengapa saya hidup dalam kondisi yang membuat saya harus terus-menerus belajar untuk tetap tenang?”
Berita buruk bukan sekadar informasi. Ia adalah atmosfer.
Ada kesalahan konseptual ketika kita menganggap berita buruk sebagai sesuatu yang masuk melalui layar. Seolah-olah dunia ada di luar sana dan kita menerima representasinya melalui media. Padahal semakin lama, batas antara berita dan kehidupan semakin kabur. Harga bahan bakar bukan hanya berita. Ia memengaruhi ongkos perjalanan. Kebijakan pemerintah bukan hanya berita. Ia menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Kebakaran hutan bukan hanya berita. Ia masuk ke paru-paru. Perubahan iklim bukan hanya berita. Ia mengubah cuaca. AI bukan hanya berita. Ia mengubah pekerjaan. Perang bukan hanya berita. Ia mengubah harga energi dan pangan.
Berita bukan lagi sesuatu yang kita konsumsi. Berita menjadi lingkungan tempat kita hidup.
Dan kalau begitu, menyuruh seseorang mengambil jarak dari berita menjadi agak mirip dengan menyuruh ikan mengambil jarak dari air.
Tentu bisa.
Untuk beberapa saat.
Tetapi ikan yang hidup di sungai tercemar tidak membutuhkan tutorial mindfulness.
Ia membutuhkan sungainya tidak diracuni.
Inilah perbedaan antara “menenangkan diri” dan “mengubah keadaan”
Mindfulness mempunyai fungsi penting. Kita tidak mungkin membaca seluruh penderitaan dunia setiap menit dan tetap sehat. Tidak ada otak manusia yang dirancang untuk menerima seluruh planet sebagai notifikasi. Dalam pengertian ini, Maudy benar.
Kita membutuhkan batas.
Kita membutuhkan jeda.
Kita membutuhkan kemampuan mengatakan: cukup untuk hari ini.
Tetapi jeda seharusnya menjadi ruang untuk kembali, bukan jalan keluar permanen. Kita mengambil jarak agar dapat melihat lebih jelas. Bukan agar kita tidak perlu melihat lagi.
Inilah perbedaan antara:
mindfulness sebagai perawatan diri
dan
mindfulness sebagai anestesi sosial.
Yang pertama membantu kita bertahan agar bisa bertindak.
Yang kedua membuat kita cukup tenang untuk menerima apa pun.
Dark ecology tidak meminta kita bahagia
Justru di sinilah gagasan Morton terasa relevan. Dark ecology tidak menawarkan gambaran dunia yang indah, hijau, harmonis, dan Instagrammable.
Ia mengajak kita melihat ekologi dalam bentuknya yang lebih mengganggu: keterikatan, ketidakpastian, kematian, kerusakan, dan kenyataan bahwa manusia tidak berdiri di luar alam sebagai pengamat yang bersih. Morton bahkan menekankan bahwa kesadaran ekologis membawa kita pada posisi yang tidak nyaman karena kita sendiri merupakan bagian dari jaringan yang sedang kita coba pahami.
Maka mungkin mindfulness di era dark ecology bukan:
“Saya tenang meskipun dunia kacau.”
Tetapi:
“Saya menyadari bahwa saya berada di dalam kekacauan itu.”
Ada perbedaan besar.
Yang pertama mencari jarak.
Yang kedua mengakui keterlibatan.
Kita membutuhkan mindfulness yang lebih politis
Bayangkan sebuah bentuk mindfulness yang sedikit berbeda.
Bukan hanya:
Sadari napasmu.
Tetapi:
Sadari siapa yang bisa bernapas dengan lega dan siapa yang tidak.
Bukan hanya:
Kurangi konsumsi berita.
Tetapi:
Tanyakan mengapa begitu banyak berita buruk terus diproduksi.
Bukan hanya:
Jaga kesehatan mentalmu.
Tetapi:
Tanyakan sistem sosial macam apa yang membuat begitu banyak orang membutuhkan terapi untuk bertahan hidup.
Bukan hanya:
Ambil jeda dari dunia.
Tetapi:
Gunakan jeda itu untuk kembali ke dunia dengan kesadaran yang lebih tajam.
Mindfulness semacam ini tidak lagi sekadar psikologi personal.
Ia menjadi kesadaran ekologis dan politik.
Dan mungkin kita perlu sedikit kurang “healing”
Ada satu industri yang tumbuh sangat cepat di zaman kita: industri penyembuhan.
Kita disuruh healing.
Healing from trauma.
Healing from burnout.
Healing from toxic relationships.
Healing from bad news.
Semua harus disembuhkan.
Tetapi siapa yang menyembuhkan masyarakat?
Siapa yang menyembuhkan sungai?
Siapa yang menyembuhkan hutan?
Siapa yang menyembuhkan udara?
Siapa yang menyembuhkan pekerja yang gajinya tidak cukup?
Siapa yang menyembuhkan warga yang kehilangan rumah?
Siapa yang menyembuhkan ekosistem yang sudah tidak bisa kembali seperti semula?
Barangkali tidak semuanya bisa disembuhkan.
Dan mungkin dark ecology mengajarkan sesuatu yang tidak terlalu populer dalam budaya wellness:
kita harus belajar hidup dengan luka yang tidak sepenuhnya dapat disembuhkan.
Bukan menyerah.
Tetapi berhenti berpura-pura bahwa semua masalah memiliki solusi yang rapi, estetik, dan bisa selesai setelah 10 menit meditasi.
Dari “bad news” menuju “bad world”
Ada pergeseran bahasa yang menurut saya penting.
Kita sering mengatakan:
“Terlalu banyak berita buruk.”
Tetapi mungkin masalah sebenarnya bukan:
too much bad news.
Melainkan:
too much bad world.
Berita hanya memperlihatkannya.
Kalau berita membuat kita stres karena memperlihatkan banjir, mungkin persoalannya bukan algoritma berita.
Mungkin ada banjir.
Kalau berita membuat kita marah karena memperlihatkan ketidakadilan, mungkin persoalannya bukan doomscrolling.
Mungkin memang ada ketidakadilan.
Kalau berita membuat kita takut karena memperlihatkan kehancuran lingkungan, mungkin persoalannya bukan kita kurang mindfulness.
Mungkin lingkungan memang sedang dihancurkan.
Kadang-kadang kita terlalu cepat mengobati reaksi sebelum memeriksa sumber lukanya.
Maudy dan problem kelas menengah yang sangat modern
Karena itu kontroversi ini sebenarnya jauh lebih menarik daripada sekadar “Maudy salah” atau “netizen terlalu galak”.
Ia memperlihatkan sebuah problem kelas menengah modern:
kita memiliki cukup informasi untuk mengetahui dunia sedang rusak, tetapi tidak selalu memiliki cukup kekuasaan untuk memperbaikinya.
Akibatnya kita mengalami kecemasan.
Lalu kita mencari teknik untuk mengelola kecemasan.
Di sinilah mindfulness menjadi populer.
Ia menjawab kebutuhan psikologis yang nyata.
Tetapi politiknya harus tetap dipertanyakan.
Sebab kalau semua orang diajari bagaimana menerima keadaan dengan lebih tenang, siapa yang masih marah?
Dan kalau tidak ada lagi yang marah, siapa yang memaksa keadaan berubah?
Marah tentu bukan strategi politik yang cukup.
Tetapi masyarakat yang sama sekali tidak mampu marah terhadap ketidakadilan juga bukan masyarakat yang sehat.
Mungkin kita membutuhkan bukan dunia tanpa kemarahan.
Kita membutuhkan kemarahan yang tidak menghancurkan diri sendiri.
Jadi, mungkin Maudy justru membuka percakapan yang lebih besar
Ironinya, kontroversi ini mungkin menghasilkan sesuatu yang lebih berguna daripada video awalnya. Video tersebut memulai percakapan tentang bagaimana kita bertahan menghadapi berita buruk. Netizen kemudian memaksa pertanyaan yang lebih sulit:
Siapa yang mempunyai kemewahan untuk mengambil jarak dari berita buruk?
Dan pertanyaan itu membawa kita ke tempat yang lebih jauh:
Siapa yang mempunyai kemewahan untuk mengambil jarak dari krisis ekologis?
Jawabannya tidak sama untuk semua orang.
Ada orang yang bisa mematikan televisi ketika kebakaran hutan terjadi.
Ada orang yang tidak bisa mematikan udara.
Ada orang yang bisa berhenti membaca berita tentang banjir.
Ada orang yang airnya sudah masuk ke ruang tamu.
Ada orang yang bisa melakukan digital detox.
Ada orang yang bahkan tidak bisa melakukan economic detox karena hidup mereka seluruhnya tergantung pada ekonomi yang sedang kacau.
Di situlah mindfulness bertemu dark ecology. Bukan di ruang meditasi yang harum. Tetapi di tempat yang sedikit lebih gelap. Di tempat kita mengakui bahwa kita semua terhubung oleh sesuatu yang tidak sepenuhnya nyaman.
Udara yang sama.
Air yang sama.
Ekonomi yang sama.
Algoritma yang sama.
Krisis yang sama.
Dan mungkin, setelah semua itu, kita bisa kembali menarik napas.
Bukan untuk melupakan dunia.
Tetapi untuk menghadapinya.
Mindfulness yang sebenarnya
Mungkin mindfulness di era dark ecology bukan kemampuan untuk merasa baik ketika dunia sedang buruk.
Mungkin ia adalah kemampuan untuk tidak memalingkan wajah dari keburukan tanpa membiarkan keburukan itu menghancurkan kita.
Kita boleh mengambil jeda.
Kita boleh mematikan notifikasi.
Kita boleh tidak membaca berita selama sehari.
Kita boleh duduk diam.
Kita boleh menangis.
Kita boleh bernapas.
Tetapi setelah itu, kita kembali.
Sebab dunia tidak ikut melakukan digital detox.
Banjir tidak mengambil mental health day.
Hutan tidak melakukan meditasi.
Burung tidak mengaktifkan Do Not Disturb ketika habitatnya hilang.
Dan sungai tidak bisa berkata:
“Maaf, aku sedang menjaga well-being-ku, jadi hari ini aku tidak menerima limbah.”
Itulah dark ecology.
Alam tidak menawarkan kita tombol mute.
Karena kita bukan penonton alam.
Kita adalah bagian dari kekacauannya.
Dan mungkin itu pelajaran paling tidak nyaman dari kontroversi Maudy:
jangan hanya belajar bagaimana tetap tenang ketika dunia terbakar.
Belajarlah juga untuk bertanya:
siapa yang menyalakan apinya, siapa yang mendapat keuntungan darinya, siapa yang menghirup asapnya, dan mengapa kita semua begitu sibuk belajar bernapas sementara rumah sedang terbakar?
Barangkali sesudah pertanyaan itu, mindfulness baru benar-benar dimulai.
AI: ChatGPT


Percakapan