Polifoni Enam Suara dari Garut Kidul
Polifoni Enam Suara dari Garut Kidul
oleh Sarip Hidayat
Judul Buku : Telah Tengah Malam (Antologi Puisi Garut Kidul)
Penulis : Apip Kurniadin, Deri Hudaya, Nero Taopik Abdillah, Noer Listanto
Alfarizi, Ujianto Sadewa, dan Widia Astuti
Penerbit : Malire bekerja sama dengan Komunitas Ngejah
Cetakan : Pertama, Januari 2026
Jumlah Halaman: 119 hlm.
Telah Tengah Malam (2026) memperkenalkan enam penyair dari Garut Kidul dalam sebuah antologi yang kuat dan beragam. Diterbitkan oleh Malire bersama Komunitas Ngejah, buku ini memuat karya Apip Kurniadin, Deri Hudaya, Noer Listanto, Nero Taopik Abdillah, Ujianto Sadewa, dan Widia Astuti. Judulnya tak sekadar menunjukkan waktu: ia menjadi ruang refleksi ketika keramaian mereda dan kebenaran muncul ke permukaan.
Secara metaforis, “tengah malam” dalam antologi ini adalah momen untuk menelaah kondisi sosial, politik, dan spiritual yang suram. Para penyair bertindak sebagai saksi perubahan—ketika mesin industri mengikis keindahan alam dan sunyi pegunungan—menghadirkan berbagai suara dari elegi sedih hingga sarkasme yang menyoal keadilan sosial. Dalam 119 halaman, pembaca diajak menyimak ragam nada itu.
Apip Kurniadin membuka antologi dengan melankolia kuat yang bertumpu pada lanskap pesisir dan pelabuhan. Puisi-puisinya, seperti “Elegi Tentang Kota yang Mati”, menghadirkan duka mendalam dan citra kelam; kota tak lagi simbol peradaban, melainkan makhluk sekarat dalam kabut. Pembukaan Apip mencipta suasana puitis yang menyiapkan pembaca menapaki kesunyian lebih jauh.
Berbeda dari kelembutan Apip, Deri Hudaya hadir sebagai jangkar realitas—menginjakkan pembaca pada kenyataan lewat ironi dan sarkasme. Ia tak ragu memasukkan benda sehari-hari seperti sandal jepit atau fenomena modern seperti vlogger. Lewat puisi seperti “Tuhan, Mengapakah Cinta Terlihat Begitu Tolol”, Deri membongkar romantisme klise dan menempatkan puisi pada persoalan keseharian yang jujur, sekaligus mengekspos kemunafikan.
Nero Taopik Abdillah dan Noer Listanto Alfarizi berfungsi sebagai pilar yang menjaga ketegasan dan spiritualitas diksi. Nero mengusung semangat perlawanan sosial dengan gambaran teatrikal dan tegas, menautkan manusia pada tanah sebagai sumber luka. Sementara Noer Listanto menyuguhkan ketenangan batin lewat renungan tradisional tentang surau dan jejak waktu, memberi keteduhan di tengah hiruk-pikuk perubahan.
Bagian menonjol lain adalah bagian “Belum Tengah Malam” karya Ujianto Sadewa. Ujianto luwes meruntuhkan batas antara lokalitas Garut dan ranah internasional: dari uap panas geotermal Kamojang ke dapur pembuatan keju Bavaria 1876, lalu singgah di Danau Zug, Swiss. Bahasa sinematiknya menunjukkan bahwa identitas “orang selatan” bisa berbicara secara global tanpa kehilangan nuansa “tanah kelahiran”. Referensi budaya pop—Grunge, Kurt Cobain, film Kuldesak—menambah nuansa relevan bagi pembaca generasi kini, memvisualkan tempat sebagai bait yang terus disusun sebelum terlelap.
Widia Astuti, satu-satunya penyair perempuan dalam kumpulan ini, menutup dengan suara tajam dan menantang. Lewat “Satan yang Lahir di Sepertiga”, ia mempertanyakan norma moral dan kemunafikan praktik beragama. Dengan sorotan pada ranah rumah tangga dan emosi yang sering luput dari perhatian penyair pria, suaranya menjadi ledakan yang menggugah di bagian akhir buku.

Desain sampul buku ini juga memperkuat isi yang mendalam dengan pendekatan kolase dalam bentuk kotak-kotak. Ilustrasi bulan, mesin ketik, mata, dan telinga melambangkan indra serta alat yang digunakan untuk berkarya saat malam menjelang. Desain Dicki Lukmana ini sejalan dengan puisi yang merupakan gambaran pemikiran yang muncul pada saat-saat rawan manusia, yang menegaskan bahwa buku ini adalah cermin di kegelapan.
Secara keseluruhan, Telah Tengah Malam adalah orkestra tenang yang membuktikan bahwa kreativitas tidak lagi terpusat di kota besar. Buku ini memberi ruang renungan bagi siapa pun yang mencari ketenangan di tengah kebisingan dunia. Ia tak menjanjikan bahagia semu, melainkan kejujuran tentang kondisi manusia yang lelah atau patah harapan. Keragaman karakter di dalamnya menyatukan potongan tempat dan waktu menjadi identitas yang utuh.
Sebagai penutup, antologi ini mengingatkan bahwa dalam gelap yang paling pekat sekalipun, puisi tetap menjadi cahaya yang tak padam. Telah Tengah Malam berfungsi sebagai semacam otopsi kehidupan—mengajak pembaca berani menatap kenyataan yang seringkali pahit.
Sarip Hidayat adalah peneliti di BRIN dan pecinta buku, tinggal di Bandung Barat.
Sumber: Pikiran Rakyat/ Pabukon/ Sabtu, 21 Februari 2026



Post Comment