Teori Lalat dan Polisi Dunia

Teori Lalat dan Polisi Dunia

Bayangkan sebuah toko perhiasan yang tenang. Berlian berkilau. Emas tertata. Etalase bersih. Pemiliknya sedang menghitung keuntungan, ketika seorang pemburu lalat datang dengan wajah cemas. “Di dalam toko Anda ada lalat,” katanya pelan namun tegas.

Pemilik toko mengerutkan kening. “Lalat? Saya tidak melihatnya.”

Pemburu itu mendekat, berbisik seperti membawa rahasia besar.
“Lalat itu kecil. Berbahaya. Bisa merusak reputasi toko Anda. Bisa menular ke toko-toko lain. Anda mungkin belum melihatnya, tapi saya sudah.”

Ia lalu berkeliling ke toko-toko tetangga. Ia membisikkan cerita yang sama. “Hati-hati. Dari toko itu bisa menyebar lalat. Kalau tidak segera diburu, kalian semua akan ikut terkena dampaknya.”

Para tetangga mulai curiga. Kecurigaan berubah menjadi kekhawatiran. Kekhawatiran berubah menjadi persetujuan diam-diam. Akhirnya pemilik toko yang semula tenang berkata, “Baiklah. Silakan masuk. Buktikan dan tangkap lalat itu.”

Pemburu lalat pun masuk. Ia tidak membawa jaring kecil. Ia membawa palu besar. Ia memukul etalase. Ia menjatuhkan rak emas. Ia menghancurkan kaca display.

Lalatnya? Belum tentu pernah ada. Atau kalau pun ada—ia terlalu kecil dibanding kerusakan yang terjadi. Kadang bangkai lalat sudah disiapkan sebelum perburuan dilakukan.

Di panggung global, kita mengenal pemburu lalat bernama Amerika Serikat. Ia kerap menyebut dirinya polisi dunia. Dengan bahasa ancaman dan keamanan global, ia berkeliling dari satu “toko” ke “toko” lain—meyakinkan bahwa ada lalat yang harus segera dibasmi.

Di Iran ada nuklir, katanya. Program nuklir dipandang sebagai potensi bom yang bisa mengguncang stabilitas kawasan. Sanksi ekonomi dijatuhkan. Tekanan diplomatik ditingkatkan. Iran dikucilkan.

Di Meksiko ada narkoba. Kartel dianggap ancaman lintas batas. Perang terhadap narkoba dikobarkan bertahun-tahun. Lalatnya diberi nama: kartel.

Di Afganistan ada teroris. Pasca Serangan 11 September, negeri itu menjadi medan perang panjang atas nama memburu kelompok seperti Al-Qaeda dan Taliban.

Di sejumlah negara ada pemimpin otoriter. Daftar lalat selalu tersedia di catatan inteligen. Narasi ancaman selalu siap diputar di media-media besar. Tetangga-tetangga selalu bisa diyakinkan atau dipaksa mengangguk.

Cerita ini bukan pembelaan bagi lalat. Nuklir bisa berbahaya. Kartel bisa mematikan. Terorisme bisa brutal. Otoritarianisme bisa menindas. Tetapi mari kita letakkan semuanya di atas timbangan.

Bandingkan satu negara yang sedang mengembangkan teknologi nuklir dengan negara yang memiliki ribuan hulu ledak nuklir aktif dan anggaran militer terbesar di dunia. Bandingkan jaringan kartel regional dengan jaringan finansial global, sistem perbankan internasional, dan kontrol terhadap mata uang cadangan dunia. Bandingkan kelompok bersenjata di pegunungan dengan armada kapal induk yang bisa berlabuh di samudra mana pun, yang punya ratusan pangkalan militer di sejumlah negara. Bandingkan satu rezim otoriter dengan kekuatan yang mampu menjatuhkan sanksi ekonomi lintas benua hanya dengan satu keputusan politik.

Di situ, skala menjadi penting.

Apa yang disebut “ancaman global” kadang—dalam perbandingan kekuatan—lebih mirip gangguan kecil terhadap raksasa. Lalat memang bisa mengganggu. Tetapi ketika yang merasa terganggu adalah makhluk dengan sumber daya militer, ekonomi, dan teknologi paling dominan di planet ini, pertanyaannya berubah:

Apakah ini benar-benar soal keselamatan?

Karena jika kekuatan sebesar itu benar-benar ingin menyelesaikan masalah, ia memiliki pilihan yang jauh lebih presisi daripada palu: diplomasi jangka panjang, investasi pendidikan, rekonstruksi ekonomi, pendekatan kesehatan publik untuk narkoba, penyelesaian konflik berbasis keadilan sosial.

Namun palu sering kali lebih dramatis.
Dan drama lebih mudah dijual.

Sementara lalat-lalat itu diburu dengan sorotan kamera internasional, ada ekspor lain yang berjalan tanpa sirene: budaya konsumsi tinggi, makanan ultra-proses yang menyebar ke kota-kota kecil di seluruh dunia, film dan serial yang mendefinisikan ulang mimpi generasi muda, platform digital yang mengumpulkan data miliaran manusia dan membentuk preferensi mereka lewat fucking algoritma.

Tidak ada tank. Tidak ada pidato darurat di Dewan Keamanan. Tidak ada embargo. Namun dampaknya merayap pelan: perubahan pola makan, perubahan gaya hidup, perubahan aspirasi, bahkan perubahan cara sebuah bangsa membayangkan dirinya sendiri.

Jika nuklir adalah lalat, maka obesitas global adalah kabut. Jika kartel adalah lalat, maka ketergantungan konsumsi adalah iklim. Jika terorisme adalah lalat, maka arsitektur ekonomi yang timpang adalah fondasi yang retak.

Kita tidak perlu mengatakan bahwa lalat harus dibiarkan. Kita hanya perlu melihat proporsi, dampak serta cara penanganannya.

Karena pemburu lalat yang paling berbahaya bukanlah yang menghancurkan toko. Melainkan yang berhasil meyakinkan semua orang bahwa hanya lalat dan hanya lalat yang perlu ditakuti.

Post Comment