Lewati ke konten
6 October 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Jelajahi Niskala

Deri Hudaya

Kunjungi juga https://humanininora.wordpress.com/
Buku

Lima Esai tentang Rumah Koclak

Lima esai berikut lahir bukan sebagai lima tulisan yang berdiri sendiri. Ditulis oleh saya, Arip Senjaya, dan Wahyu Heriyadi.

Deri Hudaya
Buku

TAPI

Kalau kita sudah menemukan care, jangan buru-buru merasa selesai. Sebab care sendiri dapat menjadi istilah yang terlalu nyaman.

Deri Hudaya
Buku

DAN

Saya membaca Mak Comblang dan Rumah Koclak dengan serius. Tetapi karena yang dibicarakan adalah sastra, Rumah Koclak, metamodernisme, tukang tambal ban, tukang…

Deri Hudaya
Buku

Rumah Koclak dan Sastra Metamodern

Ciamis bagi saya selama ini lebih sering menjadi kota yang dilewati. Jika pergi ke Kawali, saya biasanya berbelok ke pinggiran, ke Astana…

Deri Hudaya
Deri Hudaya

Nyiar Lumar dan Surga yang Pernah Diimpikan

Ada yang berubah begitu melewati gerbang Astana Gede Kawali. Cahaya perlahan ditinggalkan. Mata yang terbiasa dimanjakan lampu, layar gawai, dan jalan yang…

Deri Hudaya
Buku

Menulis Ulang Masa Silam, Menampar Wajah Sendiri

Melalui strategi intertekstual yang menulis ulang kisah Saijah menjadi kisah Satria, Evi Sri Rezeki memperlihatkan bagaimana seorang korban dapat gagal memahami sumber…

Deri Hudaya
Uncategorized

Pertarungan Kelas dalam Babad Kopi Parahyangan

Pada masa yang menjadi latar Babad Kopi Parahyangan, kopi bukan sekadar tanaman perkebunan. Ia merupakan salah satu komoditas paling berharga dalam perdagangan…

Deri Hudaya
Buku

Seberapa Kecut Senyum Tuhan?

Membaca Babad Kopi Parahyangan “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum.” Kalimat M.A.W. Brouwer itu begitu terkenal. Kartu pos, puisi-puisi Priangan Si…

Deri Hudaya
Buku

Ngala Cai Ulah Gampang

Beberapa hari setelah pulang dari Ciamis, sebuah rumpaka terus terngiang. Bukan karena saya melupakan malam perayaan 70 tahun Godi Suwarna atau antologi Ringkang…

Deri Hudaya