Lima Esai tentang Rumah Koclak
Lima esai berikut lahir bukan sebagai lima tulisan yang berdiri sendiri. Ditulis oleh saya, Arip Senjaya, dan Wahyu Heriyadi.
Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan
Lima esai berikut lahir bukan sebagai lima tulisan yang berdiri sendiri. Ditulis oleh saya, Arip Senjaya, dan Wahyu Heriyadi.
Kalau kita sudah menemukan care, jangan buru-buru merasa selesai. Sebab care sendiri dapat menjadi istilah yang terlalu nyaman.
Saya membaca Mak Comblang dan Rumah Koclak dengan serius. Tetapi karena yang dibicarakan adalah sastra, Rumah Koclak, metamodernisme, tukang tambal ban, tukang…
Ciamis bagi saya selama ini lebih sering menjadi kota yang dilewati. Jika pergi ke Kawali, saya biasanya berbelok ke pinggiran, ke Astana…
Ada yang berubah begitu melewati gerbang Astana Gede Kawali. Cahaya perlahan ditinggalkan. Mata yang terbiasa dimanjakan lampu, layar gawai, dan jalan yang…
Melalui strategi intertekstual yang menulis ulang kisah Saijah menjadi kisah Satria, Evi Sri Rezeki memperlihatkan bagaimana seorang korban dapat gagal memahami sumber…
Pada masa yang menjadi latar Babad Kopi Parahyangan, kopi bukan sekadar tanaman perkebunan. Ia merupakan salah satu komoditas paling berharga dalam perdagangan…
Membaca Babad Kopi Parahyangan “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum.” Kalimat M.A.W. Brouwer itu begitu terkenal. Kartu pos, puisi-puisi Priangan Si…
Beberapa hari setelah pulang dari Ciamis, sebuah rumpaka terus terngiang. Bukan karena saya melupakan malam perayaan 70 tahun Godi Suwarna atau antologi Ringkang…
Ketika Satoshi Nakamoto memperkenalkan Bitcoin pada tahun 2008, ia tidak sedang menawarkan sebuah produk investasi. Ia menawarkan sebuah gagasan tentang bagaimana manusia…