Sepatu Olahraga

Sepatu Olahraga

Figur Tirta Mandira Hudhi, yang lebih dikenal sebagai Dokter Tirta, menempati posisi yang cukup unik dalam ekosistem media digital Indonesia. Ia tampil bukan hanya sebagai dokter, tetapi juga sebagai pelari, penggemar olahraga, dan pengulas berbagai produk sepatu.

Melalui platform seperti Instagram, YouTube, dan X (Twitter), ia secara rutin membicarakan sepatu olahraga dari berbagai merek.

Dalam berbagai kontennya, sepatu tidak hanya dibahas sebagai benda pakai. Sepatu dijelaskan melalui bahasa teknologi: ringan, empuk, stabil, memiliki sistem penyerapan benturan, dan nyaman untuk berjalan atau berlari jauh.

Konten semacam ini perlahan membangun satu kesan yang cukup kuat: sepatu yang baik adalah sepatu yang ringan dan empuk.

Narasi itu kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Sepatu bukan lagi sekadar alat, tetapi menjadi simbol dari gaya hidup sehat. Seolah-olah ada hubungan yang sederhana dan langsung: jika ingin bergerak dengan baik, jika ingin tubuh terasa nyaman, maka pilihlah sepatu yang tepat.

Media, termasuk media sosial, tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun makna tentang dunia. Dalam kasus ini, media sosial membangun makna tertentu tentang tubuh, kesehatan, dan cara manusia bergerak.

Melalui berbagai konten yang berulang, terbentuk representasi simbolik yang sederhana namun kuat: tubuh sehat berhubungan dengan sepatu olahraga yang tepat. Sepatu ringan dan empuk menjadi tanda dari gaya hidup yang dianggap benar.

Yang menarik, narasi ini muncul dalam konteks generasi digital hari ini. Generasi yang hidup bersama ponsel pintar, layar laptop, dan berbagai platform digital seperti TikTok atau YouTube. Banyak aktivitas sehari-hari berlangsung di depan layar: belajar, bekerja, bersosialisasi, bahkan hiburan.

Akibatnya, aktivitas fisik sehari-hari sering kali justru berkurang. Banyak orang lebih lama duduk, lebih jarang berjalan, dan lebih sedikit menggunakan otot tubuhnya secara aktif. Tubuh bergerak lebih sedikit daripada generasi sebelumnya.

Dalam situasi seperti ini, kesehatan tubuh sebenarnya lebih berkaitan dengan satu hal yang sangat sederhana: penggunaan otot. Kaki perlu berjalan. Otot perlu diproduksi. Tubuh perlu bergerak.

Kesehatan tubuh pada dasarnya dihasilkan melalui proses produksi. Produksi otot, produksi kekuatan, produksi daya tahan. Semua itu lahir dari aktivitas fisik yang dilakukan secara berulang dan proporsional.

Namun dalam masyarakat konsumsi, logika ini sering bergeser. Logika produksi jadi logika konsumsi. Kesehatan tidak lagi hanya dipahami sebagai hasil dari aktivitas tubuh, tetapi juga sebagai hasil dari konsumsi barang. Jika ingin tubuh nyaman, jika ingin kaki terasa ringan, maka pilihlah produk yang tepat.

Banyak aspek kehidupan manusia yang perlahan dimediasi oleh komoditas. Bahkan kesehatan tubuh pun mulai dibayangkan melalui produk yang dibeli.

Sepatu olahraga, dalam narasi media digital, tidak lagi sekadar alat untuk berjalan. Ia menjadi simbol solusi. Seolah-olah tubuh yang sehat dapat dimulai dari keputusan membeli sepatu yang tepat.

Figur Dokter Tirta dalam konteks ini memainkan peran yang menarik. Ia memiliki otoritas sebagai dokter, tetapi juga tampil sebagai pelari dan penggemar olahraga. Kombinasi ini menciptakan kepercayaan. Apa yang ia katakan tentang sepatu terasa memiliki legitimasi kesehatan sekaligus pengalaman pribadi.

Dengan cara ini, ia menjadi semacam mediator simbolik antara tubuh manusia dan pasar. Ia tidak sekadar mengulas sepatu. Ia membantu membentuk cara orang membayangkan hubungan antara tubuh, kesehatan, dan produk olahraga.

Masalahnya bukan pada sepatu itu sendiri. Sepatu tentu memiliki fungsi yang nyata dalam aktivitas olahraga. Bagi mereka yang aktif berolahraga dan melakukan aktifitas fisik, jenis sepatu yang dibicarakan Dokter Tirta memang diperlukan. Yang menarik justru adalah bagaimana makna tentang sepatu itu diproduksi dan disebarkan.

Ketika narasi tentang sepatu yang empuk dan ringan menjadi sangat dominan, kita jarang mendengar narasi lain. Jarang muncul pertanyaan tentang bagaimana tubuh sebenarnya dilatih, bagaimana otot kaki bekerja, atau bagaimana aktivitas fisik sederhana seperti berjalan dan peregangan dapat membentuk kesehatan tubuh.

Kita sebenarnya bisa menafsirkan pesan media dengan berbagai cara. Ada yang menerima pesan secara penuh, ada yang menegosiasikannya, dan ada pula yang menolaknya.

Namun dalam praktik media sosial yang sangat cepat dan repetitif, banyak orang cenderung menerima representasi yang dominan tanpa banyak dipertanyakan. Sepatu empuk menjadi standar. Sepatu ringan menjadi ideal. Fungsi digantikan gaya hidup.

Padahal tubuh manusia mungkin membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: bergerak lebih sering. Menggunakan kaki lebih banyak. Melatih otot yang selama ini jarang dipakai. Bahkan untuk generasi yang jarang bergerak mungkin lebih berguna memakai sepatu yang keras dan berat.

Di titik ini kita bisa melihat satu paradoks kecil dari budaya digital. Generasi yang bergerak lebih sedikit justru menjadi pasar yang sangat besar bagi industri produk olahraga. Tubuh yang jarang digunakan akhirnya didekati bukan melalui aktivitas, tetapi melalui komoditas.

Post Comment