Kematian – Puisi-puisi Riwanto Tirtosudarmo
Kacamata
Tak seperti biasanya aku kehilangan kacamataku
Sekali ini aku sungguh tak tahu dimana kacamataku
Aku mencarinya ditempat biasa aku meletakkannya
Tetapi masih juga belum kutemukan kacamataku
Apakah kacamataku sudah enggan hidup bersamaku?
Apakah kacamataku diam-diam mulai membenciku?
Sesungguhnya kacamata itu belum lama bersamaku
Kacamata itu kacamata baru pengganti yang lama
Aku duduk merenung memikirkan kacamataku
Mungkinkah kacamataku sengaja menghindari diriku?
Mungkinkah kacamataku diam-diam memata-mataiku?
Aku tersenyum kacamataku tahu aku menyayanginya
Tonjong Bogor 1 April 2026
Bulan Merah
Untuk Ratna Sulastin
Bulan merah kekuningan itu mulai meredup di keremangan pagi
Ranting dan daun-daun pohon bodi itu seperti ingin membingkainya
Gumpalan awan putih seperti kanvas pelukis yang ingin mengabadikannya
Di tangan sang pelukis kuas itu bergerak cepat mencoba menangkapnya
Tapi mungkinkah menghentikan gerak kehidupan?
Alam semesta yang tak mengenal detak jarum jam dinding di kamar kita
Seperti pelukis kita selalu ingin menghentikan langkah meski hanya sejenak
Duduk diam memandang samar bulan merah kekuningan itu dari kejauhan
Bulan merah itu semakin memutih menyatu dalam gerak perlahan awan-awan
Di keremangan pagi yang mulai terkuak bersama datangnya sinar mentari
Kita bersama alam semesta yang tak mungkin dikendalikan geraknya
Seperti angin pagi yang menggerakkan ranting dan daun-daun pohon bodi
Bulan itu tak lagi nampak hanya awan putih yang memantulkan warna cerah
Bulan merah itu kini sedang tersenyum dalam pelukan kanvas sang pelukis
Diam dalam bingkai kayu terpajang bersama jam dinding yang terus berdetak
Tonjong Bogor 5 April 2026
Ingatan Yang Hilang
Aku kembali ke masa lalu mencari ingatan yang hilang
Ingatan itu telah menyelinap di tumpukan buku-buku-ku
Mungkinkah ingatan itu ingin membaca lagi catatan harianku?
Apakah ingatan itu tak lagi percaya dengan masa lalu-ku?
Kembali kususuri jalan-jalan yang pernah kulalui dahulu
Kembali kutemui orang-orang yang pernah dekat denganku
Kembali kubaca catatan-catatan harianku di tumpukan buku
Menanyakan apakah aku pernah membohongi diriku sendiri
Aku sungguh ingin menemukan ingatanku yang hilang itu
Ingin aku tunjukkan kalau tak ada yang salah dari masa laluku
Namun ingatan itu seperti raib di tikungan gelap masa laluku
Aku kembali ke masa kini tak lagi mengingat apa yang terjadi
Taksaka 11 April 2026
Kematian
Untuk Subagio Sastrowardoyo
Aku tahu suatu saat nanti dia akan datang menjemputku
Aku tidak menunggunya karena dia bisa datang kapan saja semaunya
Akupun tidak menyiapkan apa-apa untuk menyambut kedatangannya
Meskipun aku tetap akan terkejut ketika dia datang nanti menemuiku
Saat itu tiba dia datang langsung ke kamarku tanpa mengetuk pintu
Aku terbaring di tempat tidurku tersenyum kecil sambil menyapanya
Dia tersenyum mendekat kemudian membisikkan sesuatu di telingaku
Dia hanya menanyakan apakah aku telah siap untuk pergi bersamanya
Aku dipapahnya bangun berdiri dan perlahan berjalan keluar rumah
Aku tidak ingin bertanya-tanya kemana dia akan membawaku pergi
Aku memang sudah lama menganggapnya sebagai teman paling dekatku
Aku setengah dipeluknya tertatih-tatih berjalan entah menuju kemana
Bogor 7 April 2026
___________________________________________________________________________________________________________
Biodata
Riwanto Tirtosudarmo, penyair kelahiran Tegal. Beberapa buku puisinya yang telah terbit antara lain Secangkir Kopi di Pagi Hari (2023), Di Galeri Sumbing (Media Nusa Creative, 2024), Mencari Revolusi (Tonggak Budaya, 2024), dan Lorong Waktu (2025).


Post Comment