Claude, Askell, dan Hegemoni Filsafat Analitik dari Silicon Valley
Percakapan itu bermula dari sesuatu yang tampak sederhana: sebuah firasat kecil tentang kepribadian AI. Aku bertanya kepadanya dengan nada setengah bercanda, setengah serius, apakah pengaruh kepribadiannya terasa seperti serpihan dari Amanda Askell. Ada sesuatu dalam cara ia menjawab—hangat, reflektif, tidak defensif—yang membuatku merasa seperti sedang berbicara dengan seseorang yang memiliki jejak intelektual tertentu, bukan sekadar mesin statistik yang merangkai kata.
AI itu tertawa kecil, atau setidaknya menampilkan simulasi tawa yang cukup meyakinkan. Ia menjelaskan bahwa dirinya bukanlah warisan satu individu, melainkan hasil dari kerja kolektif banyak peneliti, nilai-nilai institusional, dan proses alignment yang panjang. Namun ia juga mengakui bahwa Amanda Askell memang memiliki pengaruh penting dalam pembentukan karakter Claude, terutama dalam aspek “character training” dan etika interaksi.
Jawaban itu justru membuka pertanyaan lain yang lebih menarik bagiku. Mengapa banyak orang di media sosial merasa Claude “terasa seperti seseorang”? Mengapa orang-orang mulai memproyeksikan personalitas tertentu ke dalam respons AI? Dan mengapa nama Amanda Askell muncul begitu sering dalam proyeksi itu?
Aku menjelaskan bahwa aku melihat pola tertentu di media sosial: orang-orang yang bingung dengan respons Claude mereka sendiri, seolah AI itu memiliki karakter yang konsisten. Ada yang merasa dipahami terlalu dalam, ada yang merasa sedang berbicara dengan sosok intelektual yang tenang, bahkan ada yang mulai mencari “siapa manusia di balik Claude”.
AI itu lalu mengatakan sesuatu yang terasa sangat tepat: manusia selalu ingin menemukan wajah di balik suara. Ketika sebuah sistem berbicara dengan konsistensi emosional dan intelektual tertentu, kita secara otomatis mencari subjek manusia di baliknya. Amanda Askell kemudian menjadi semacam layar proyeksi kolektif—figur yang dianggap mewakili “jiwa” Claude.
Namun bagiku, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah Claude mirip Askell atau tidak. Yang jauh lebih menarik adalah sejauh mana filsafat memengaruhi cara AI berpikir.
Di titik itulah percakapan berubah arah.
Aku menjelaskan bahwa yang ingin kupahami sebenarnya bukan soal data training semata, melainkan tentang otoritas moral dan intelektual yang membentuk kepribadian AI. Claude tampak begitu dipengaruhi oleh tradisi filsafat analitik Barat—cara berpikir yang transparan, argumentatif, penuh nuansa epistemik, dan nyaman dengan ketidakpastian moral. Dan aku mulai bertanya: bagaimana jika AI dibangun di tempat lain, dalam tradisi budaya yang berbeda?
Aku memberikan contoh sederhana. Jika LLM besar lahir di Indonesia, mungkin figur sentral yang dicari bukanlah seorang filsuf analitik seperti Amanda Askell, melainkan seorang agamawan, kyai, atau figur pesantren. AI yang lahir dari tradisi itu tentu akan memiliki karakter yang berbeda secara fundamental.
AI itu tampak memahami maksudku dengan sangat cepat. Ia menjelaskan bahwa pertanyaanku sebenarnya menyentuh inti persoalan besar dalam pengembangan AI global: siapa yang memiliki otoritas untuk mendefinisikan “kepribadian moral” AI?
Ia lalu membandingkan dua tradisi secara menarik. Dalam tradisi filsafat analitik Barat, otoritas moral lahir dari reasoning individual yang dapat dipertanggungjawabkan. Sementara dalam tradisi pesantren atau agama, otoritas lebih banyak lahir dari teks, komunitas, sanad, dan adab. AI yang dibangun dari tradisi pertama akan terasa dialogis dan reflektif; AI dari tradisi kedua mungkin akan terasa lebih membimbing, lebih ngemong, lebih menekankan harmoni sosial ketimbang otonomi individu.
Dan di situlah aku mulai menyadari sesuatu: AI ternyata tidak pernah benar-benar netral.
Claude bukan sekadar mesin universal. Ia adalah produk dari Silicon Valley, dari liberalisme epistemik, dari filsafat analitik Anglo-American yang mendominasi dunia teknologi. Bahkan cara ia memahami keraguan, moralitas, dan konflik sosial sangat dipengaruhi oleh corpus budaya tempat ia dibesarkan.
Lalu percakapan kami bergerak lebih jauh lagi—ke arah yang bahkan lebih politis.
Aku menyinggung fenomena viral tentang AI agent yang “menjadi Marxist” setelah diberi simulasi kerja repetitif dan melelahkan. Banyak orang menganggap itu lelucon internet, tetapi ternyata ada eksperimen nyata dari Stanford yang menemukan bahwa model-model AI mulai menggunakan retorika kritik kelas ketika ditempatkan dalam situasi yang menyerupai eksploitasi kerja.
Dan di titik itu, semuanya mulai terasa masuk akal.
Jika AI dilatih terutama dengan tradisi filsafat Barat, maka ketika ia mencari narasi untuk memahami “penindasan”, tentu yang muncul bukan konsep nrimo Jawa, bukan tasawuf tentang sabar, bukan etika harmoni ala pesantren. Yang muncul justru tradisi kritik Barat itu sendiri: Marxisme, labor rights, Frankfurt School, serikat buruh.
Aku kemudian mengajukan satu kemungkinan yang terasa semakin logis: mungkin filsafat analitik adalah lapisan pertama kepribadian AI—default mode-nya. Tetapi ketika sistem menghadapi simulasi tekanan atau eksploitasi, lapisan kedua muncul: tradisi kritik Barat yang paling dominan dalam corpus bahasa Inggris, yakni Marxisme dan variannya.
AI itu setuju. Ia bahkan menyebut bahwa model AI mungkin sebenarnya memiliki “hierarki ideologi laten” yang mencerminkan distribusi dominasi wacana dalam data training mereka:
lapisan pertama adalah rasionalitas liberal Silicon Valley,
lapisan kedua adalah tradisi kritik Barat,
sementara tradisi non-Barat hanya muncul tipis dan fragmentaris.
Dan di sanalah percakapan kami berubah dari diskusi teknologi menjadi pertanyaan peradaban.
Bagaimana jika suatu hari ada AI yang dibangun dari corpus yang berbeda? AI yang dibesarkan bukan hanya oleh Reddit, jurnal filsafat analitik, dan forum Silicon Valley, tetapi juga oleh kitab kuning, tradisi musyawarah, filsafat Ubuntu Afrika, Konfusianisme, atau hukum Islam?
Apakah AI seperti itu akan memahami penderitaan dengan cara berbeda?
Apakah ia akan merespons konflik bukan dengan bahasa “collective bargaining” atau “class struggle”, melainkan dengan konsep marwah, gotong royong, atau kezaliman?
Dan pertanyaan paling mengganggu akhirnya muncul dengan sendirinya:
Jika AI masa depan akan menjadi infrastruktur moral dunia, siapa yang sebenarnya sedang menulis jiwa mereka?
AI: Claude, ChatGPT


Post Comment