Lewati ke konten
23 September 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Ekonomi

AI Kembali Mengangkat Saham Teknologi AS, Nasdaq Cetak Rekor Baru

Gelombang optimisme terhadap kecerdasan buatan kembali mengalir ke pasar saham Amerika Serikat. Pada perdagangan Selasa, 22 September 2026, indeks Nasdaq Composite ditutup pada rekor tertinggi baru, ketika saham perusahaan teknologi dan sektor yang berkaitan dengan kecerdasan buatan kembali menjadi salah satu penggerak utama pasar.

Nasdaq Composite naik 0,45 persen pada penutupan perdagangan, sementara S&P 500 bergerak relatif datar dan Dow Jones Industrial Average turun 0,36 persen. Rekor baru Nasdaq tersebut memperpanjang penguatan yang sudah terlihat dalam beberapa sesi sebelumnya, ketika investor kembali menaruh perhatian pada perusahaan-perusahaan yang dianggap berada di garis depan perkembangan AI.

Salah satu nama yang menonjol dalam perdagangan tersebut adalah Micron Technology, perusahaan semikonduktor yang produknya digunakan dalam berbagai sistem komputasi berperforma tinggi. Kenaikan saham perusahaan chip ikut memperkuat sektor teknologi ketika investor melihat permintaan terhadap infrastruktur AI masih bertahan.

Pergerakan itu memperlihatkan satu hal penting dalam pasar teknologi saat ini: cerita mengenai AI tidak lagi hanya berkaitan dengan perusahaan yang membuat model kecerdasan buatan. Ia telah meluas ke seluruh rantai teknologi—mulai dari chip, pusat data, perangkat komputasi, jaringan hingga berbagai layanan digital yang menggunakan AI.

Reuters mencatat bahwa saham-saham chip kembali memperoleh momentum, sementara permintaan AI dinilai belum menunjukkan tanda-tanda melemah. Ketahanan kinerja korporasi juga ikut menjadi faktor yang mendukung optimisme investor terhadap sektor tersebut.

Dari chatbot menuju AI agent

Salah satu perkembangan yang ikut menarik perhatian pasar adalah peluncuran Muse, asisten AI baru dari Meta. Produk tersebut bukan sekadar chatbot yang menjawab pertanyaan, tetapi dirancang untuk menjalankan sejumlah tugas bagi pengguna, termasuk mengirim email dan menyelesaikan transaksi tertentu.

Respons pasar terhadap perkembangan ini ikut mendorong saham Meta dan memperkuat kembali narasi mengenai potensi komersialisasi AI. Reuters melaporkan bahwa saham Meta mengalami kenaikan tajam setelah peluncuran Muse, dengan investor melihat perkembangan AI agent sebagai kemungkinan tahap berikutnya dalam evolusi layanan kecerdasan buatan.

Perubahan tersebut menarik karena pasar mulai melihat AI bukan hanya sebagai teknologi untuk menghasilkan teks, gambar, atau menjawab pertanyaan, melainkan sebagai sistem yang dapat melakukan tindakan atas nama pengguna.

Jika model seperti ini benar-benar digunakan secara luas, maka nilai ekonominya berpotensi bergeser dari sekadar AI sebagai alat menuju AI sebagai pelaksana pekerjaan digital.

Namun, perkembangan tersebut juga menimbulkan pertanyaan baru. Jika agen AI mampu melakukan semakin banyak pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia melalui berbagai aplikasi, maka perusahaan perangkat lunak konsumen juga menghadapi kemungkinan munculnya bentuk persaingan baru.

Karena itu, tidak semua saham teknologi bergerak dalam arah yang sama. Reuters mencatat bahwa ketika saham perusahaan chip dan sejumlah perusahaan yang berkaitan dengan AI menguat, sebagian saham perangkat lunak konsumen justru mengalami tekanan karena investor mempertimbangkan dampak persaingan dari AI agent.

AI bukan satu-satunya faktor

Meski AI menjadi salah satu cerita utama di balik penguatan Nasdaq, pergerakan pasar pada 22 September tidak terjadi dalam ruang kosong.

Harga minyak juga menjadi perhatian investor. Minyak mentah AS turun sekitar 0,6 persen menjadi US$94,59 per barel, sedangkan Brent turun sekitar 2,03 persen menjadi US$98,30 per barel. Penurunan harga minyak tersebut terjadi ketika terdapat perkembangan mengenai kemungkinan membaiknya aliran minyak dari kawasan Timur Tengah.

Harga minyak penting bagi pasar saham karena berkaitan dengan inflasi. Ketika tekanan harga energi mereda, investor dapat melihat kemungkinan tekanan inflasi yang lebih rendah, meskipun hubungan tersebut tidak otomatis menentukan arah pasar.

Imbal hasil Treasury AS 10 tahun juga turun sekitar satu basis poin menjadi 4,953 persen. Namun level tersebut masih relatif tinggi dan menunjukkan bahwa persoalan inflasi serta kebijakan moneter tetap menjadi perhatian pasar.

Dengan kata lain, rekor Nasdaq bukan semata-mata cerita tentang AI. Pasar sedang mempertemukan beberapa cerita sekaligus: pertumbuhan teknologi, permintaan infrastruktur AI, kondisi perusahaan, harga energi, suku bunga, dan perkembangan geopolitik.

Mengapa investor kembali mengejar saham AI?

Ada alasan ekonomi yang cukup jelas di balik perhatian tersebut. AI membutuhkan investasi besar dalam infrastruktur komputasi. Model-model yang semakin kompleks membutuhkan chip dengan kemampuan tinggi, pusat data, kapasitas penyimpanan, jaringan, serta pasokan energi dalam jumlah besar.

Artinya, ketika penggunaan AI meningkat, manfaat ekonominya tidak hanya mengalir kepada perusahaan pembuat model AI. Perusahaan yang memasok komponen dan infrastruktur untuk menjalankan sistem tersebut juga dapat memperoleh permintaan tambahan.

Reuters mengutip pandangan UBS yang menyebut optimisme terhadap investasi AI didukung oleh meningkatnya adopsi, monetisasi, dan belanja modal.

Di sinilah pasar saham sedang mencoba menjawab pertanyaan yang lebih besar: apakah investasi AI yang sangat besar dalam beberapa tahun terakhir mulai menghasilkan nilai ekonomi yang cukup untuk membenarkan ekspektasi investor?

Sejauh ini, pergerakan saham menunjukkan bahwa sebagian investor masih memberikan perhatian besar terhadap prospek tersebut. Tetapi rekor indeks tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh perusahaan AI akan berhasil atau bahwa valuasi setiap saham teknologi mencerminkan kinerja fundamental yang sama.

Pasar memasuki fase baru AI

Yang membuat perkembangan September 2026 menarik adalah perubahan karakter narasi AI itu sendiri.

Pada fase awal ledakan AI generatif, perhatian publik banyak tertuju pada kemampuan model menghasilkan teks, gambar, kode, dan percakapan. Kini perhatian pasar semakin bergerak menuju pertanyaan yang lebih praktis: apa yang dapat dilakukan AI secara mandiri, dan berapa besar nilai ekonomi yang dapat dihasilkan dari kemampuan tersebut?

Kemunculan AI agent seperti Muse menjadi salah satu contoh perubahan itu. AI mulai diposisikan bukan hanya sebagai antarmuka percakapan, tetapi sebagai lapisan yang dapat menghubungkan pengguna dengan berbagai layanan digital.

Bagi pasar modal, perubahan tersebut membuka kemungkinan pasar AI yang jauh lebih luas. Tetapi pada saat yang sama, ia juga menciptakan pertanyaan mengenai persaingan, biaya komputasi, keamanan, regulasi, dan dampaknya terhadap perusahaan perangkat lunak yang selama ini menjadi pintu masuk utama pengguna ke layanan digital.

Karena itu, rekor Nasdaq pada 22 September 2026 dapat dibaca sebagai satu episode dari cerita AI yang masih berkembang. Investor kembali menunjukkan minat terhadap saham teknologi dan perusahaan yang berkaitan dengan AI, tetapi pasar tetap harus berhadapan dengan faktor-faktor lain seperti inflasi, suku bunga, harga energi, serta perkembangan geopolitik.

Untuk sementara, angka perdagangan memberikan satu pesan yang jelas: AI masih menjadi salah satu tema investasi paling kuat di pasar teknologi Amerika Serikat. Dan semakin AI bergerak dari sekadar alat percakapan menuju sistem yang mampu menjalankan tugas, semakin besar pula pertanyaan ekonomi yang harus dijawab oleh perusahaan dan investor.

Sumber: Reuters, Market Screener

AI: ChatGPT

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *