Kualitas Udara Memburuk, Sejumlah Wilayah Kalimantan Masuk Kategori Berbahaya

Kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia kembali menjadi perhatian setelah pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Rabu 23 September 2026 pagi menunjukkan kondisi yang sangat buruk di beberapa daerah Kalimantan. Situasi tersebut berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di Kalimantan Tengah.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) yang dipantau pada Rabu pagi menunjukkan Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, menjadi salah satu wilayah dengan tingkat pencemaran udara paling tinggi. Pada sekitar pukul 08.10 WIB, nilai ISPU di wilayah tersebut tercatat mencapai 2.445, dengan PM10 sebagai parameter pencemar utama. Angka tersebut jauh melampaui ambang kategori berbahaya, yang dimulai dari nilai ISPU di atas 300.
Kondisi serupa juga terlihat di sejumlah kabupaten lain di Kalimantan Tengah. Kabupaten Murung Raya tercatat memiliki ISPU sekitar 1.700, sedangkan Barito Selatan berada pada angka sekitar 1.000. Keduanya juga didominasi pencemar PM10. Dengan angka tersebut, persoalan kualitas udara tidak lagi sekadar berupa kabut asap yang mengganggu jarak pandang, tetapi telah menjadi persoalan lingkungan yang membutuhkan perhatian serius.
Pemantauan pada pagi yang sama juga menunjukkan Kabupaten Kotawaringin Timur berada pada level ISPU yang sangat tinggi. Data yang dikutip Katadata dari KLH mencatat nilai sekitar 656 untuk wilayah tersebut. Sementara itu, Kabupaten Kapuas tercatat sekitar 708. Kedua wilayah tersebut juga berada dalam kondisi yang perlu diwaspadai karena konsentrasi pencemar udara telah berada jauh di atas tingkat normal.
Memburuknya kualitas udara tersebut berkaitan erat dengan situasi karhutla yang sedang terjadi di berbagai wilayah Sumatra dan Kalimantan. Kementerian Kehutanan pada Rabu melaporkan bahwa hingga Selasa malam, 22 September, secara nasional terdeteksi 932 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 688 titik pada hari sebelumnya.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan peningkatan paling mencolok. Dari enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla, Kalimantan Tengah mencatat 643 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, meningkat tajam dari 228 titik sehari sebelumnya.
Gambaran tersebut sejalan dengan pemantauan BMKG yang sebelumnya menunjukkan bahwa kondisi atmosfer di sebagian Sumatra dan Kalimantan masih relatif kering. Dalam prakiraan periode 22–28 September, BMKG menyebut sebaran asap dan karhutla masih menjadi perhatian. Hingga 21 September, konsentrasi titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah mencapai 5.283 titik, disusul Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Dampaknya terhadap kualitas udara dapat terlihat dari konsentrasi partikulat yang meningkat. Di Paduran Sebangau, Kalimantan Tengah, misalnya, BMKG sebelumnya mencatat konsentrasi PM2,5 mencapai 1.142,9 mikrogram per meter kubik pada 20 September pukul 14.00 WIB. Konsentrasi tersebut berada dalam kategori berbahaya menurut klasifikasi kualitas udara yang digunakan BMKG.
Fenomena tersebut bahkan sempat membuat langit di kawasan Paduran Sebangau terlihat merah hingga oranye. BMKG menjelaskan bahwa warna tersebut berkaitan dengan tingginya konsentrasi aerosol asap di atmosfer yang memengaruhi proses hamburan dan penyerapan cahaya Matahari. Namun, BMKG menegaskan bahwa warna langit tidak dapat dijadikan alat untuk menentukan tingkat pencemaran udara. Penentuan kualitas udara tetap harus berdasarkan pengukuran menggunakan instrumen pemantauan.
Persoalan ini juga mulai terlihat pada sisi kesehatan masyarakat. Di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Dinas Kesehatan melaporkan adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada Agustus 2026 ketika kondisi udara memburuk akibat kabut asap karhutla.
Karena itu, KLH meminta masyarakat di wilayah dengan kualitas udara berstatus berbahaya untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan lebih banyak berada di dalam ruangan. Kelompok yang lebih sensitif terhadap pencemaran udara juga mendapat perhatian khusus. KLH menyatakan bahwa ketika ISPU telah masuk kategori berbahaya, aktivitas luar ruangan sebaiknya dihindari.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa karhutla tidak berhenti sebagai persoalan kebakaran vegetasi. Ketika asap menyebar dan konsentrasi partikulat meningkat, kebakaran di satu wilayah dapat berubah menjadi persoalan kualitas udara yang dirasakan masyarakat di kawasan yang lebih luas.
Pemerintah kini memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan Tengah melalui pemantauan titik panas, operasi modifikasi cuaca, serta pengerahan satuan tugas darat. Kementerian Kehutanan dan BNPB pada Rabu juga melakukan pemantauan langsung terhadap berbagai upaya pengendalian karhutla di wilayah tersebut.
Dengan kondisi atmosfer yang masih relatif kering dan jumlah titik panas yang tinggi, perkembangan kualitas udara di Kalimantan masih menjadi sesuatu yang perlu dipantau dari hari ke hari. Data ISPU menjadi penting karena memberikan gambaran berbasis pengukuran mengenai kondisi udara, sementara perkembangan titik panas dan cuaca membantu menjelaskan bagaimana kabut asap dapat terbentuk dan menyebar.
Untuk masyarakat yang berada di wilayah terdampak, informasi mengenai kualitas udara karena itu bukan sekadar angka statistik. Di tengah musim karhutla, angka ISPU menjadi salah satu indikator penting untuk memahami kondisi lingkungan yang sedang dihadapi sehari-hari.
Sumber: Detik, Antara, MetroTV, KataData
AI: ChatGPT



Percakapan