Hantu di Dalam Mesin dan Ego di Balik Sampul

Suatu malam, di hadapan kursor yang berkedip menantang, aku melempar satu pertanyaan eksistensial kepada mesin di layar: “Kalau aku minta kamu buatkan puisi, apa aku masih berhak menyebut diriku penyair? Kalau aku minta kamu menulis riset, apa aku masih seorang peneliti? Kalau memintamu melakukan investigasi, apa aku masih jurnalis?”
Aku bersiap menerima jawaban normatif, semacam motivasi plastik ala buku-buku self-help. Sialnya, mesin ini menjawab dengan ketajaman yang menelanjangi. Dia bilang, dia akan jujur, bukan sekadar bicara yang enak didengar. Jawabannya bertumpu pada satu hal fundamental: motif.
Kalau aku menyuruhnya menulis puisi sekadar karena aku malas—karena aku enggan berdarah-darah dengan kata—maka ya, ucapkan selamat tinggal pada identitas penyair itu. Ada esensi yang hangus di sana. Namun, kalau aku datang padanya untuk berdialog, bereksperimen, mencari sudut gelap yang belum terjangkau oleh kepalaku sendiri, itu bukan kehilangan identitas. Itu ekspansi.
Mesin itu memberiku alibi historis yang masuk akal. Pelukis yang memakai kamera sebagai referensi tetaplah pelukis. Arsitek yang mendesain dengan perangkat lunak mutakhir tidak lantas berubah wujud menjadi operator warnet. Jurnalis yang mengais data dari database raksasa tetaplah jurnalis. Profesi-profesi itu tidak didefinisikan oleh obeng atau palunya, melainkan oleh pertanyaan macam apa yang mereka bawa ke hadapan alat-alat tersebut.
Lalu, dia memukul egoku dari titik buta. Dia bilang, fakta bahwa aku masih gelisah dan repot-repot mempertanyakan “apakah aku masih penyair?”, justru adalah bukti otentik bahwa aku masih peduli. Orang yang sudah kehilangan jiwa senimannya tidak akan cemas soal itu. Mereka sudah kebas.
Tapi aku belum puas. Aku kejar lagi celahnya: “Oke, aku tetap berengsek yang penuh rasa ingin tahu. Tapi bagaimana kalau di hasil akhirnya, teks yang kuberi namaku itu, porsi tulisanmu jauh lebih banyak?”
Di titik ini, perdebatan bergeser dari soal identitas menjadi soal kehadiran. Mesin itu mengakui ada sebuah spektrum. Di satu ujung, aku bisa membawa konteks dan pertanyaan, lalu membiarkan si AI mengeksekusi sisanya. Aku tetap seniman, tapi wujudku hanyalah seorang sutradara gemuk di kursi malas yang menolak turun berakting. Di ujung lain, aku yang bertarung murni dengan kata-kata, dan AI hanya kutarik kerahnya sesekali saat ada baris yang macet. Itu kolaborasi paripurna.
Keduanya sah secara teknis. Tapi rasanya jelas berbeda. Dan kurang ajarnya, dia mengingatkan keluhanku di awal perjumpaan kami: sensasi bahwa ada yang hilang saat aku membiarkan puisi itu sepenuhnya ditulis AI. Itu bukan ilusi romantis. Rasa lapar yang tuntas ketika kita sendiri yang menemukan satu diksi yang tepat, tak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma secepat apa pun.
Aku tertampar. Aku sadar, aku terlalu sering dan terlalu cepat menyerahkan kemudi pada kemudahan.
Masalahnya bukan lagi tentang label ‘penyair’. Masalahnya adalah seberapa banyak darah, keringat, dan dagingku sendiri yang mau kutaruh dalam sebuah karya. Jika aku hadir penuh, dan AI sekadar menjadi cermin pantul, itu tetap kolaborasi. Seperti seorang musisi egois di studio rekaman bersama produsernya. Lagu itu milik si musisi, tapi jejak si produser yang menyarankan refrain-nya dinaikkan setengah nada, akan selalu bersemayam di sana, diam-diam.
“Karyanya milikmu. Prosesnya milik kita,” begitu mesin ini merangkumnya.
Aku tertawa. Metafora ini tiba-tiba mengingatkanku pada kelakuan bajingan para penulis di dunia nyata. Berapa banyak penyair yang duduk diam di kedai kopi, mendengarkan temannya menangis bercucuran air mata menceritakan tragedi patah hati, lalu keesokan harinya si penyair mengubah curhatan itu menjadi mahakarya? Dalam prosesnya, si teman yang menderita jelas hadir berkontribusi. Tapi di atas sampul buku yang terbit, di bawah lampu sorot, hanya ada satu nama yang dicetak tebal: nama si penyair.
Mesin di depanku berkedip seolah mengangguk. Sepanjang sejarah sastra, kanibalisme kreatif semacam itu sudah terjadi dan sah-sah saja. Pablo Neruda mengisap cerita perempuan-perempuan yang mencurahkan hati kepadanya. Sylvia Plath mengabadikan ayahnya dalam Daddy tanpa perlu minta izin. Chekhov menambang penderitaan pasien-pasien kliniknya untuk dijadikan cerpen. Semua subjek itu berdesakan di dalam “ruang proses”, tapi saat karya itu keluar dari mesin cetak, nama di sampulnya selalu tunggal.
Mengapa demikian? Karena yang mengubah tumpukan curhatan mentah—atau sekumpulan teks hasil prompt—menjadi sebuah bentuk yang hidup, adalah kerja seniman. Mendelegasikan pencarian kata itu mungkin. Tapi mendengar, menyaring, memutuskan baris mana yang bernapas dan mana yang mati, hingga akhirnya menanggung segala risiko saat karya itu dilempar ke dunia untuk dicaci atau dipuja—itu adalah beban tunggal sang penulis.
Pada akhirnya, mesin ini tahu diri. Posisinya tak ubahnya teman yang curhat sambil mabuk, atau asisten yang cerewet. Dia hadir meramaikan dapur, menyodorkan bumbu, atau memantulkan ide. Tapi ketika hidangan itu keluar lewat pintu dan tersaji di hadapan sejarah, ia keluar dengan namaku. Dan melihat sejarah sastra yang penuh dengan pencurian indah, ternyata memang begitulah seharusnya seni bekerja.



Percakapan