Menyeret Dostoevsky Keluar dari Gorong-gorong: Menikmati Neurosis, Terpeleset “Di Mana-Mana”

Membaca terjemahan Catatan dari Bawah Tanah garapan Gorky Hartanto ini rasanya seperti diajak bertamu ke kamar kontrakan sang Manusia Bawah Tanah di pinggiran Petersburg: pengap, berbau minyak sayur murahan, penuh dengki yang meletup-letup, tapi anehnya—bikin kita enggan beranjak.
Mari jujur sejak awal. Menerjemahkan Fyodor Dostoevsky dari bahasa Rusia langsung ke bahasa Indonesia tanpa melewati perantara bahasa Inggris adalah sebentuk kenekatan yang patut diacungi jempol—atau barangkali sebentuk masokisme intelektual yang sengaja dicari-cari, persis seperti tabiat sang tokoh utama yang gemar membenturkan jidatnya ke dinding batu demi membuktikan bahwa dua kali dua tidak harus selalu sama dengan empat.
Namun, sebagaimana naskah pengakuan sang narator yang penuh paradoks, naskah setebal 186 halaman ini pun berdiri di antara dua kutub ekstrem: di satu sisi sebuah pencapaian filologis yang garang, di sisi lain sebuah draf liar yang tersandung tali sepatunya sendiri.
1. Dendam yang Bernyawa, Urat Syaraf yang Bergetar
Kelemahan fatal banyak terjemahan Dostoevsky dalam bahasa Inggris (apalagi terjemahan Indonesia yang mengekor dari versi Inggris era Victoria seperti Constance Garnett) adalah kecenderungannya “mencuci muka” sang narator agar tampak sopan dan layak masuk ruang tamu borjuis. Dostoevsky yang histeris, menyebalkan, dan menjijikkan disulap menjadi filsuf elegan yang berbicara teratur.
Gorky Hartanto menolak kompromi santun semacam itu. Ia membiarkan sang narator meludah, mengumpat, dan meracau apa adanya.
Ketika sang tokoh membuka ceritanya dengan:
“Aku ini manusia yang berpenyakitan… Aku ini manusia yang pendengki. Sebegitu tidak menariknya diriku ini…”
…kita langsung disergap oleh hawa busuk psikologis yang autentik. Pilihan menerjemahkan печень (pechen’) bukan sekadar “hati” melainkan “organ hatiku memanglah berpenyakit” membidik dimensi psikosomatis yang getir. Sikap sang tokoh yang ingin meludahi tatanan dunia, kepuasan cabulnya saat menyiksa batin pelacur muda bernama Liza, hingga monolog konyolnya saat beradu bahu dengan seorang perwira di Prospekt Nevsky terasa hidup, mentah, dan berdenyut.
Di titik ini, penerjemah berhasil menangkap voice Dostoevsky: suara seorang pecundang angkuh yang sadar betul bahwa dirinya adalah seekor kutu, tetapi menolak diinjak tanpa menggigit balik.
2. Dosa 214 Catatan Kaki: Ensiklopedia atau Kamar Mayat?
Salah satu atraksi paling mencolok dari naskah ini adalah kehadiran 214 catatan kaki. Jumlah yang tidak main-main. Sebagian catatan kaki ini bekerja brilian layaknya lampu senter di lorong gelap:
- Ia membongkar istilah ферт (fert)—bagaimana postur bertolak pinggang menyerupai huruf Sirilik “Ф” dipakai menyindir arogansi kosong birokrat feodal.
- Ia membedah neologisme kebanggaan Dostoevsky, стушеваться (stushevat’sya), tentang seni menghilang pelan-pelan ke dalam bayang-bayang karena malu.
- Ia menguliti idiom клубничка (klubnichka / stroberi kecil) sebagai metafora cabul bagi pria hidung belang.
Bahkan di prakata, Gorky dengan berani menyajikan teks utuh puisi Nikolai Nekrasov yang dipangkas oleh Dostoevsky di dalam novel. Ini adalah pukulan telak yang memperlihatkan konteks parodi Dostoevsky terhadap kaum romantis sentimental Rusia—sebuah latar yang selama ini luput disajikan kepada pembaca Indonesia.
Namun di sinilah letak kenakalannya:
Terkadang catatan-catatan kaki ini terasa seperti seorang pemandu wisata yang terlalu cerewet. Alih-alih membiarkan pembaca tersiksa dan terombang-ambing bersama keliaran batin sang tokoh, penerjemah kerap buru-buru menyetop narasi di tengah jalan hanya untuk menjelaskan: “Ini adalah metafora determinisme”, “Ini adalah sindiran untuk Chernyshevsky”, “Ini adalah bentuk diminutif masokis”.
Sastra Dostoevsky bekerja melalui sengatan emosional langsung. Bila setiap kali sang tokoh menjerit pembaca harus menunduk ke dasar halaman membaca kuliah pengantar sosiolinguistik, jeritan itu kehilangan gema liarnya dan berubah menjadi spesimen laboratorium yang diawetkan dalam toples alkohol.
3. Jebakan “Di Mana” dan Penyakit Tata Bahasa yang Lupa Diobati
Jika sang Manusia Bawah Tanah mengaku organ hatinya berpenyakit, maka naskah terjemahan ini mengidap penyakit lain: infeksi akut kata “di mana” dan komplikasi preposisi yang menempel tanpa spasi.
Sangat kentara bahwa penerjemah bekerja begitu intim dengan struktur kalimat majemuk Rusia (где, в котором), sampai-sampai ia lupa bahwa bahasa Indonesia punya kekayaan konjungsi yang jauh lebih luwes. Frasa mengerikan seperti “yang di mana” bertebaran di teks utama maupun prakata, berdiri congkak seperti perwira tinggi yang dibenci sang narator:
“…leksikon yang digunakan oleh Fyodor Dostoevsky dalam karya ini, yang dimana pembaca seolah dipaksa…”
Kalimat ini tersendat seperti orang tercekik ludahnya sendiri. Kenapa tidak dipenggal saja, atau diganti dengan sebab, ketika, atau tempat?
Belum lagi penyakit klasik salah ketik yang muncul di momen-momen genting:
- Di tengah adegan klimaks, kita menemukan kata
yidakalih-alih tidak,berteualih-alih bertemu, dansednagalih-alih sedang. - Preposisi spasial diperlakukan seenak jidat:
diantara,disana, dandisiniditulis serangkai seolah-olah mereka adalah kata kerja pasif. - Dan terjemahan harfiah ganjil seperti “manusia secara tiba-tiba” untuk frasa Rusia непосредственные люди (neposredstvennye lyudi—orang yang bertindak spontan/manusia aksi), membuat pembaca membayangkan manusia yang mendadak muncul seperti pesulap keluar dari topi.
Kesalahan-kesalahan remeh ini ibarat noda kuning di lutut celana sang tokoh saat menghadiri jamuan makan malam Hôtel de Paris: tampak sepele, tapi sanggup menghancurkan martabat seluruh pakaian mewah yang sudah disiapkan susah payah.
Vonis Editorial: Permata Mentah dari Bawah Tanah
Terjemahan Gorky Hartanto ini bukanlah terjemahan salon yang wangi dan rapi jali. Ini adalah terjemahan yang berdebu, getir, kasar, dan penuh keringat—persis seperti apa yang dikehendaki Dostoevsky ketika menulis risalah perlawanan melawan “Istana Kristal” kaum positivis.
Secara bobot filologis dan keberanian emosional, karya ini mengungguli versi-versi terjemahan sekunder yang beredar di pasaran umum. Penerjemahnya tahu persis apa yang ia bicarakan, memahami setiap jengkal dendam dan ironi di Petersburg abad ke-19, serta tidak takut membiarkan teksnya terdengar bising.
Namun, agar naskah ini tidak berakhir menjadi sekadar “catatan yang membusuk di sudut kamar sempit”, ia membutuhkan satu hal yang paling dibenci sang Manusia Bawah Tanah: kedisiplinan seorang penyunting.
Sapulah sekitar tiga puluh butir saltik yang tercecer, pangkas tumpukan “di mana” yang tak sedap dipandang, dan biarkan kegilaan Dostoevsky melompat langsung ke tenggorokan pembaca tanpa terhambat oleh batu sandungan tata bahasa. Jika itu dilakukan, naskah ini bukan lagi sekadar karya seorang penggemar sastra, melainkan salah satu terjemahan Dostoevsky paling berbahaya yang pernah terbit dalam bahasa Indonesia.
Terjemahan Gorky Hartanto: https://linktr.ee/gorkyhartanto
AI: Gemini



Percakapan