Lewati ke konten
25 October 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Cerita Pendek

Gerakan Pemburuan Vampir di Buitenzorg

Di Buitenzorg, orang-orang mulai menutup jendela sebelum matahari tenggelam.

Mula-mula hanya orang-orang yang tinggal di dekat pasar. Kemudian mereka yang tinggal di sekitar jalan menuju istana. Setelah itu orang-orang yang rumahnya berdekatan dengan kebun raya. Mereka menutup jendela, memasang palang pada pintu, menggantung bawang putih di dekat lubang angin, dan meletakkan cermin kecil menghadap jalan. Ada yang percaya vampir tidak tahan melihat bayangannya sendiri. Ada yang percaya vampir justru senang melihat bayangannya, sebab dengan begitu ia bisa memastikan bahwa tubuhnya masih ada.

Tidak ada yang tahu mana yang benar.

Di Buitenzorg, banyak hal tidak membutuhkan kebenaran untuk menjadi ketakutan.

Seorang kusir mengaku melihat perempuan berjalan di atas atap rumah seorang pejabat kolonial. Perempuan itu mengenakan gaun putih dan membawa payung hitam, meskipun malam itu tidak hujan. Seorang penjaga kebun mengatakan ada kelelawar sebesar ayam yang bertengger di pohon kenari. Penjual bunga kehilangan seluruh mawar merahnya dalam semalam. Bunga-bunga itu tidak dicuri, tidak layu, tidak dimakan ulat. Bunga-bunga itu hanya kehilangan warna merahnya. Paginya, mawar-mawar tersebut berwarna putih seperti tulang.

Orang-orang mulai berbisik tentang vampir.

Kata itu terdengar asing di lidah sebagian besar penduduk, tetapi tidak di telinga mereka. Mereka pernah mendengar cerita tentang makhluk yang meminum darah dari negeri jauh, dari buku-buku tua yang dibawa kapal, dari kisah para serdadu yang pulang dengan kepala penuh demam. Namun, vampir di Buitenzorg berbeda. Vampir di Buitenzorg tidak selalu menggigit leher. Kadang-kadang ia hanya duduk di teras rumah, meminta segelas air, kemudian pergi setelah menghabiskan seluruh ingatan tentang orang yang memberinya minum.

Seorang perempuan tua lupa wajah suaminya setelah menerima tamu pada malam Jumat.

Seorang anak lupa cara memanggil ibunya.

Seorang pejabat lupa mengapa ia membenci bawahannya, lalu mulai memeluknya di tengah kantor.

Dan seorang lelaki yang sudah mati selama dua hari ditemukan sedang membeli tembakau di pasar.

Ia membayar dengan uang yang belum pernah dicetak.

Kota itu menjadi gempar.

Pemerintah kolonial menganggap semua itu penyakit. Dokter mengatakan wabah saraf. Pendeta mengatakan godaan setan. Seorang tabib mengatakan tanah Buitenzorg sedang membuka mulutnya. Para pedagang menganggap semua ini kabar buruk bagi perdagangan malam. Para serdadu menganggapnya kesempatan untuk mendapat pekerjaan tambahan.

Kemudian seseorang menempelkan selembar pengumuman di dinding pasar.

GERAKAN PEMBURUAN VAMPIR BUITENZORG

Di bawahnya tertulis bahwa setiap warga yang mengetahui keberadaan makhluk malam wajib melapor kepada petugas. Siapa pun yang menyembunyikan vampir akan dianggap membantu musuh kota.

Tidak ada tanda tangan di bagian bawah.

Hanya gambar sekop.

Orang-orang membacanya berulang kali.

Besoknya, gambar sekop itu ditemukan di semua pintu rumah.

Bahkan di pintu rumah yang tidak memiliki pintu.

***

Elizabeth tinggal di sebuah rumah tua di dekat kebun raya. Rumah itu memiliki dua lantai, jendela tinggi, dan halaman yang ditumbuhi tanaman merambat. Dindingnya berwarna kuning pucat. Catnya mengelupas seperti kulit seseorang yang terlalu lama berjemur di bawah matahari.

Ia tinggal sendirian.

Setidaknya, itulah yang diketahui tetangganya.

Setiap sore Elizabeth membeli bunga dari pasar. Kadang-kadang mawar, kadang-kadang melati, kadang-kadang bunga yang tidak dikenal oleh penjualnya sendiri. Ia selalu membayar dengan uang lama. Uang itu diterima para pedagang karena mereka tidak pernah berani menolaknya.

Elizabeth juga selalu membeli dua potong roti.

Satu untuk dirinya.

Satu lagi untuk seseorang yang tidak pernah terlihat.

Suatu hari seorang anak mengikutinya sampai ke rumah. Anak itu ingin tahu siapa yang memakan roti kedua. Ia mengintip melalui jendela, melihat Elizabeth duduk di ruang makan, kemudian melihat sebuah kursi kosong bergeser mendekati meja. Piring di atas meja terangkat sendiri. Roti kedua menghilang sedikit demi sedikit.

Anak itu berlari pulang.

Ia bercerita kepada ibunya.

Ibunya menamparnya karena menganggap ia berbohong.

Malamnya, ibu itu bermimpi duduk di meja makan bersama Elizabeth. Mereka bercakap-cakap dengan akrab. Mereka tertawa. Mereka saling memanggil nama. Ketika terbangun, ibu itu lupa nama anaknya sendiri.

Sejak itu, tidak ada yang berani mendekati rumah Elizabeth.

Padahal Elizabeth tidak pernah merasa dirinya jahat.

Ia masih menyiram tanaman. Ia masih merapikan tempat tidur. Ia masih menyimpan buku-buku di rak dan membersihkan debu dari bingkai foto. Ia bahkan masih menulis surat kepada seseorang yang namanya telah dihapus dari semua catatan keluarga.

Hanya saja, ia tidak lagi makan seperti manusia.

Pada malam tertentu, ia berdiri di depan cermin dan menunggu wajahnya muncul. Kadang-kadang wajah itu terlambat beberapa detik. Kadang-kadang cermin menunjukkan kamar yang berbeda. Kadang-kadang seorang perempuan berambut panjang berdiri di belakangnya, mengenakan gaun yang sama dengan gaun Elizabeth, tetapi wajahnya jauh lebih tua.

Elizabeth tidak pernah menjerit.

Ia hanya berkata, “Kau datang lagi.”

Perempuan di dalam cermin tidak menjawab.

Suatu malam, Elizabeth menemukan seekor kelelawar di dalam lemari pakaiannya. Kelelawar itu mengenakan cincin kecil di kaki kirinya. Cincin dengan lambang keluarga Elizabeth.

Ia mengambilnya.

Kelelawar itu berubah menjadi seorang lelaki tua yang duduk di atas ranjang.

“Sudah waktunya,” kata lelaki itu.

“Waktunya apa?”

“Waktunya kau mengingat.”

Elizabeth memandangnya. Lelaki itu memiliki mata yang sama dengannya. Mata yang pernah ia lihat pada foto-foto keluarga, pada lukisan-lukisan yang disimpan di ruang belakang, pada wajah-wajah yang selama bertahun-tahun menghilang dari ingatannya.

“Aku tidak ingin mengingat,” katanya.

Lelaki itu tersenyum.

“Tidak ada yang pernah benar-benar ingin mengingat.”

Kemudian ia menghilang.

Pagi harinya, Elizabeth menemukan sebuah lubang di lantai kamarnya. Lubang itu cukup besar untuk dimasuki seseorang. Dari dalamnya tercium bau tanah basah dan bunga yang sudah lama membusuk.

Ia mengambil sekop.

Ia menggali.

Di bawah lantai rumahnya terdapat tanah pemakaman.

Di bawah tanah pemakaman itu terdapat sebuah jalan.

Dan di ujung jalan itu, seseorang sedang menggali kuburan.

***

Rafles datang ke Buitenzorg dengan sebuah koper, dua buku catatan, dan sebuah senjata yang tidak pernah digunakannya.

Ia mengaku sebagai pemburu vampir. Tidak ada yang tahu siapa yang mengangkatnya menjadi pemburu. Ia sendiri tidak pernah menjelaskan. Ketika ditanya apakah ia pernah membunuh vampir, ia menjawab pernah. Ketika ditanya di mana, ia menjawab di tempat yang sudah tidak ada.

Orang-orang menganggapnya ahli.

Rafles sebenarnya hanya seorang pencatat, atau hanya pura-pura mencatat? Tak ada yang tahu.

Tapi, Ia mencatat nama orang-orang yang menghilang, rumah-rumah yang kehilangan penghuninya, jalan-jalan yang berubah arah, dan kuburan-kuburan yang terbuka tanpa bekas penggalian. Ia mencatat jam ketika anjing berhenti menggonggong, ketika lonceng gereja tidak berbunyi, ketika bayangan seseorang bergerak mendahului tubuhnya.

Ia mencatat semuanya.

Kemudian ia mencari pola.

Di kota lain, vampir memiliki tanda yang mudah dikenali. Di Buitenzorg, tandanya justru berupa ketidakhadiran. Seseorang yang tidak lagi muncul di cermin. Seseorang yang tidak memiliki nama di daftar penduduk. Seseorang yang setiap kali difoto selalu berdiri di tempat berbeda. Seseorang yang masih bisa berbicara dengan orang mati, tetapi tidak bisa menjawab pertanyaan tentang masa depannya sendiri.

Rafles menganggap Elizabeth sebagai tersangka utama.

Ia telah melihat perempuan itu dalam tiga laporan yang berbeda, meskipun laporan pertama ditulis dua puluh tahun sebelum laporan kedua. Dalam laporan ketiga, Elizabeth disebut sebagai seorang anak kecil.

Rafles pergi ke rumahnya.

Pintu terbuka sebelum ia mengetuk.

Elizabeth berdiri di ambang pintu.

“Rafles,” katanya.

Rafles terdiam.

“Bagaimana kau tahu namaku?”

Elizabeth memandang koper yang dibawanya.

“Kau selalu membawa koper itu.”

“Selalu?”

“Ya.”

Rafles membuka buku catatannya. Ia mencari nama Elizabeth, tetapi halaman yang seharusnya berisi namanya kosong.

“Apakah kau vampir?”

Elizabeth tersenyum.

“Apakah kau pemburu?”

“Aku bertanya lebih dahulu.”

“Dan aku tinggal lebih dahulu.”

Rafles tidak menjawab.

Ia memperhatikan rumah itu. Di dinding tergantung foto keluarga. Semua wajah di foto tersebut telah dicoret, kecuali satu wajah perempuan. Elizabeth. Di bawah foto terdapat jam tua yang jarumnya bergerak mundur.

“Berapa lama kau tinggal di sini?” tanya Rafles.

Elizabeth memandang jam.

“Sejak rumah ini dibangun.”

“Rumah ini dibangun empat puluh tahun lalu.”

“Begitu?”

“Berarti kau sudah berumur—”

“Jangan menghitung umur perempuan,” kata Elizabeth. “Terutama perempuan yang tidak pernah selesai dilahirkan.”

Rafles menutup buku catatannya.

Di luar, seorang pengantar surat melintas. Ia berhenti di depan rumah, memandang mereka, kemudian meletakkan amplop di tanah. Setelah itu ia berjalan mundur sampai menghilang di tikungan.

Elizabeth mengambil amplop itu.

Di bagian depan tertulis nama Rafles.

Di bagian belakang tertulis tanggal kematiannya.

Tanggal itu adalah besok.

***

Gerakan Pemburuan Vampir berkembang cepat.

Para pemuda mendaftarkan diri. Para serdadu membagikan senjata. Para pedagang menjual jimat. Seorang lelaki membuka usaha pembuatan peti mati dan memberikan potongan harga untuk pembelian tiga peti atau lebih. Di pasar, seorang perempuan menjual botol kecil berisi air yang katanya berasal dari air mata vampir.

Tidak seorang pun bertanya bagaimana ia memperoleh air mata itu.

Setiap malam, kelompok pemburu berkeliling membawa obor. Mereka mengetuk pintu, memeriksa jendela, membuka lemari, dan mengangkat karpet. Mereka menemukan tikus, buku, sepatu, foto keluarga, dan beberapa orang yang sedang tidur. Mereka tidak menemukan vampir.

Namun, pemburuan tidak berhenti.

Seseorang harus ditangkap agar semua orang merasa aman.

Seseorang harus dihukum agar kota bisa kembali bekerja.

Seseorang harus dikubur agar orang-orang tidak perlu lagi memikirkan kematian.

Elizabeth menjadi sasaran.

Rafles mengetahui rencana itu sebelum pengumuman ditempelkan di pasar. Ia pergi ke rumah Elizabeth dan memintanya meninggalkan Buitenzorg.

“Kalau aku pergi, mereka akan mencari orang lain,” kata Elizabeth.

“Kalau kau tinggal, mereka akan membunuhmu.”

Elizabeth tertawa kecil.

“Rafles, bagaimana seseorang membunuh sesuatu yang sudah berkali-kali dikubur?”

Rafles memandangnya.

“Apa maksudmu?”

Elizabeth membuka pintu menuju ruang belakang.

Di sana terdapat puluhan peti mati.

Sebagian terbuat dari kayu jati. Sebagian dari kayu yang tidak dikenal. Ada yang kecil seperti peti untuk anak-anak. Ada yang panjangnya melebihi ukuran tubuh manusia. Semua peti itu kosong, kecuali satu.

Peti terakhir berisi Rafles.

Ia terbaring dengan pakaian yang sama, koper di sampingnya, dan buku catatan di atas dada. Wajahnya pucat. Kedua matanya tertutup.

Rafles mundur.

“Ini bukan aku.”

Elizabeth mengangguk.

“Belum.”

“Siapa yang membuat semua ini?”

“Orang yang menggali.”

“Siapa dia?”

Elizabeth menatap lantai.

“Orang yang sama yang membuatmu datang ke sini.”

Rafles mengeluarkan senjatanya. Untuk pertama kalinya ia mengangkatnya ke arah Elizabeth.

“Kalau kau vampir, katakan sekarang.”

Elizabeth memandang senjata itu, lalu memandang Rafles.

“Aku pernah menjadi manusia.”

“Itu bukan jawaban.”

“Bukankah semua vampir pernah menjadi manusia?”

Rafles menurunkan senjatanya sedikit.

Elizabeth melanjutkan, “Aku tidak tahu siapa yang mengubahku. Aku tidak tahu berapa lama aku hidup. Aku hanya tahu setiap kali seseorang menggali kuburan di kota ini, seseorang yang telah mati akan kembali.”

“Dan kau ingin mereka kembali?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kau membiarkannya?”

Elizabeth memandang peti mati yang berisi Rafles.

“Karena aku tidak tahu bagaimana menghentikannya.”

Di luar rumah, lonceng berbunyi.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Padahal belum tengah malam.

Kemudian terdengar suara orang-orang berlari. Gerakan Pemburuan Vampir telah tiba.

Elizabeth menutup pintu ruang belakang.

“Kalau mereka bertanya,” katanya, “katakan aku sudah mati.”

Rafles memandangnya.

“Dan kalau mereka bertanya tentangmu?”

Elizabeth tersenyum.

“Katakan kau belum pernah bertemu denganku.”

Kemudian ia menghilang ke dalam dinding.

Rafles berdiri sendirian di antara peti-peti mati. Ia mendengar ketukan di pintu depan. Ia mendengar orang-orang meneriakkan nama Elizabeth. Ia mendengar seseorang mengasah sekop.

Ia membuka buku catatannya.

Pada halaman terakhir, sebuah kalimat muncul perlahan, seolah ditulis oleh tangan yang tidak terlihat.

PEMBURU BERIKUTNYA ADALAH ORANG YANG MEMBACA INI.

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *