Kai Juhri Mendengar Tunggak Pohon Karet – Cerita Pendek Ninuk Kleden-Probonegoro

Kai Juhri Mendengar Tunggak Pohon Karet – Cerita Pendek Ninuk Kleden-Probonegoro

Kisahnya terjadi di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, tepatnya di Kecamatan Batu Banawa, Desa Batu Banawa.

Halaman kantor kecamatan di pinggir hutan karet, dipenuhi kerumunan orang yang bukan sedang menoreh. Mereka berkerumun; Persis seperti laron di muka lubang bekas guyuran hujan. Ada serobong, atap tempat pertunjukan digelar, ada kursi teratur rapi berbaris dua deret menghadap tempat gelaran yang akan meramaikan pesta pernikahan.

Satu Bentet Loreng muda duduk di ujung ranting pohon jengkol mati. Anak yang bertengger itu masih mengintai seekor jangkrik dan katak. Sepertinya sedang mempertimbangkan mana yang enak dari keduanya. Tapi sang induk tidak setuju. Dikepakkannya sayap keras-keras menuju bocah yang mungkin air liurnya sudah tiris melihat jangkrik dan katak. Mama seolah berteriak, cepat pulang sebelum sisa cahaya matahari terakhir lenyap, yang hanya akan menyisakan hutan karet yang gelap dan senyap. Mendengar mama berteriak, segera anak itu melompat terbang. Di mana-mana sama saja, bocah ya bocah.

Malam itu pemandaan, pemain Mamanda, mondar-mandir mengambil obeng, mencari tang yang sesuai, lebih kecil dari yang ditemukan. Pengeras suara terbaring di lantai. Dikitari laki-laki yang jongkok. Mereka bercakap saling komentar. Mungkin pula sedang berunding. Ada yang mencoba memasukkan obengnya ke benda yang tak hendak bersuara itu, meskipun obeng telah diputar kesana- kemari. Beberapa memerhatikan saja sambil jongkok merokok. 

Sementara perlahan tapi pasti, Isya merambat menjauhi senja. Biasanya di luar kerancuan itu, di keremangan bayangan sarobong, atap terbuat dari terpal tempat Mamanda digelar, Kai (kakek) Juhri tampak duduk di atas kursi kayu yang memang berdiri di sana.  Ia meredakan engah nafasnya dengan segelas kopi dan rokok yang asapnya menuju langit, sambil sesekali menggoyangkan kemeja yang bagian atas kancingnya telah dibuka. Memberi jalan masuk udara malam yahg segar, menerpa badan yang mulai menyusut itu.

Asap rokok membawanya ke ruang lima puluh tahun lalu, saat menyambangi Mamanda. Ia selalu diantar seorang cucu, yang diminta Dai (nenek) untuk mengawalnya. Bai duduk diboncengan sepeda sambil memegang senter yang sesekali sinarnya ditembuskan menyibak kegelapan, menghalau kunang-kunang sepanjang jalan yang juga ingin memandu Kai. Bai menjaga sepeda Kai untuk tidak menghantam perdu, atau batu, atau masuk lubang, atau masuk selokan di pinggir jalan yang tentu saja tidak mulus.

Sekali lagi Kai menyeruput kopi digelas. Rokok tinggal puntung yang tidak mungkin bisa dihisap lagi. Gelaran Mamanda memang selalu menyihir dirinya, omelan Dai tidak mungkin menghentikan langkahnya yang sudah terseok sekalipun. 

Kai menarik nafas lega. Kepala direbahkan ke sandaran kursi itu. Mata baru dipejamkan sekedipan, ketika tiba-tiba telinganya menangkap keributan di sarobong.

“Kada apa?” (ada apa) katanya pada diri, dalam bahasa Banjar sambil sigap berdiri menuju kerancuan. Disibaknya kerumunan itu, “Kada apa?”, tanyanya lagi. Tak perlu jawaban. Diawasinya pengeras suara yang terbaring besebelahan dengan berbagai ukuran obeng, tang, dan mur. Kai Juhri diam saja, tapi ia melangkah menuju tepi lapangan yang gelap. Pijar lampu tak sampai ke sana. Ia mendengar sesuatu dari sana. 

***

Badan kerempeng yang sudah keriput itu setengah berlari masuk lebih ke dalam hutan. Hutan begitu sunyi. Bentet (jenis burung)yang setiap senja selalu ribut, malam ini diam. Kai juga tidak mendengar nyanyian indah gariang (jangkrik hutan) yang bersahutan; saling menyapa, memanggil teman, atau kekasihnya. Kai tidak peduli juga pada katak pohon yang terbang dari satu pohon ke pohon lain, dan bahkan hampir saja menyambar telinganya. Sekali-kali burung hantu mengepakkan sayap sambil mata tajamnya mengincar mangsa. Tapi kodok itu segera menghilang, lari ke bawah rumpun perdu.

Kai Juhri berjalan sedikit lagi, untuk kemudian berdiri diam di tengah tunggak-tunggak karet yang ditanamnya 40 tahun lalu. Ia kenal betul pohon-pohon karet yang selalu dielusnya lembut sebelum ditoreh.

 Kai menggerakkan kakinya ke salah satu tunggak yang cukup besar. Tampaknya baru saja ditebang. Lingkar dalam kayunya masih tampak putih basah. Kai Juhri menuju tunggak yang satu itu. Di sisi kulitnya jelas terlihat jejak gigi-gigi gergaji. Kai menepuk-nepuknya. Persis seperti yang dilakukannya saat menepuk bahu Bai, seorang cucu yang menangis kesakitan, karena jatuh tersandung kayu melintang. Kai menenangkan dan mendengar tangisannya.  Malam itu kepala Kai tertunduk, pelukan pada tunggak dipererat, sekali-kali dibelainya lembut, ditepuk-tepuknya seolah ia Bai kecil. Ia mendengar sesuatu.

***

Kai Juhri lahir dan besar, hingga tua di Batu Banawa. Ia tahu betul tiap sudut hutan karet itu. Ia kenal betul tiap pohon yang ditanam, dan ia kenal mereka yang tiap dua atau tiga hari dibelai sebelum kulitnya ditoreh.

Biasanya sebelum matahari menyingkap kabut, Anang Juhri (yang diusia tuanya dipanggil Kai Juhri) dengan pisaunya sudah meninggalkan rumah, ke hutan untuk menoreh karet. Ia kembali ke pohon-pohon yang sudah dua atau tiga hari ditinggalkan. Digesernya sedikit penadah getahnya, dipastikan getah karet tidak akan salah tetes dan terbuang. Lalu secara spontan dibelai halus tempat yang akan ditoreh.

“Maaf ya aku toreh sedikit di sini. Tidak sakit. Kalau pun sakit, tahan sebentar ya,” kata Anang Juhri. 

Kemudian ditekannya lembut pisaunya itu ke kulit pohon karet. Dibuka sedikit kulit itu, dan darah putih mulai mengalir. Dua – tiga hari Anang tidak menoreh, ia kumpulkan darah putih untuk dibekukan. Dan dua minggu sekali, pagi-pagi terdegar raung motor Anang Juhri meninggalkan rumah, membawa bongkahan karet beku ke pegepul yang akan meneruskannya ke pabrik.

Sore itu langit pekat, menyimpan hujan.

“Rasa-rasanya malam nanti hujan.” Kata Anang Juhri sambil memainkan setengah batang rokoknya di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.

Hujan. Musim hujan tiba.  Hujan, rintiknya mulai membesar.  Anang Juhri diam, matanya terpejam. Kidung rintik hujan datang berulang tiap tahun. Tembangnya menyiram hati Anang Juhri. Ia senang mencium baunya. Bau tanah segar. Juhri senang melihat pohon-pohon karetnya berdiri tegak mendapat nutrisi yang menghilangkan dahaga. Ia bersyukur dengan rintik dan guyuran yang diamati dari balik jendela kaca. Lantas tangannya menjulur ke luar, dirasakan sejuknya air itu.  

Tapi tidak demikian dengan Anang Daud yang tinggal dekat pohon Randu di hutan karet itu, tidak. Wajahnya mengkerut dan wajah itu tampak menjadi lebih hitam, seperti langit.

“Air hujan merusak getah karet. Besok pasti harganya turun lagi,” gerutunya sambil masuk kar dan . . .  bam …  pintu dibanting.

Menjelang tengah hari, sinar matahari yang panas ditahan berkasnya oleh batang pohon karet. Burung-burung mulai bermain, terbang menari dan adu kemahiran, salto di antara pohon -pohon karet. Juhri kecil dan kawan-kawan pulang sekolah juga menggunakan hutan karet sebagai jalan pintas.

Suatu siang. Seperti biasa, Juhri pulang sekolah bersama teman-temannya. Diseling lari berkelit di antara pohon karet. Persis seperti burung-burung yang salto di udara. Tiba-tiba Juhri mengangkat tangan, menyuruh teman-temannya diam, dan hentikan langkah. Ia melihat ada yang bergerak-gerak di tanah.

“Anak burung,” katanya.

Juhri mendongak. Di antara dahan pohon jengkol, beratap daun karet dilihatnya sarang burung. Induk burung menciap-ciap, memanggil nanda yang menggelepar di bawah. Juhri mengangkat lembut dan perlahan bayi yang mencoba meronta. Mungkin takut. Di letakannya benda mungil yang menggelepar itu di telapak tangannya. Juhri kecil bingung. Tidak mungkin ia panjat pohon jengkol untuk memulangkan bayi itu ke induknya.

“Kita pulang ya De” katanya. Diangkatnya sekali lagi tangan kecilnya, untuk memperlihatkan Ade pada induknya. Perpisahan. Sang induk menciap lebih keras, mengepak sayapnya lebih kuat,tetapi tetap berdiri di tempat.

“Kita pulang De.”

Bayi itu dipelihara dan menjadi temannya. Ade dapat bermain dalam sangkar mungilnya yang digantung di pohon mangga. Sesekali sangkar itu dibuka, dan Ade terbang bebas di udara. Menyambar-nyambar, menukik dan naik lagi, tapi tidak salto. Seperti biasanya tidak lama, segera ia masuk sangkar itu lagi, atau kalau ada Juhri, ia senang hinggap di rambut ikalnya, yang bisa dicotok-cotok.

“Kapan-kapan kita tengok mama di hutan, ya De?”

“Kamu rindu mama?” Dibelainya kepala kecil Ade dan dikembalikan ke sangkar.

“Bobo dulu ya De. Sudah sore.”

“Besok kita main lagi. Kalau kada hujan, kita ke hutan ya?”

Malam itu tak seorang pun tahu, di balik gelap hutan karet, seorang tua masih membelai tunggak pohon karet. Pohon yang tak lagi dapat mengeluarkan setetes pun darah putihnya. Perlahan, pelukannya mengendur, dilepaskannya tonggak itu, belaian lembut terhenti.  Dengan langkah perlahan, ditinggalkannya pohon karet dan tunggak-tuggaknya. Tanpa menoleh ia berjalan menuju cahaya. Langkahnya tak pernah berhenti, meski ia tahu tunggak itu tetap tinggal di belakangnya.

Tak lama, pengeras suara segera menguarkan Konon, dipimpin Kepala Konon, membuka gelaran dengan lagu “Selamat Datang” :  

Selamat datang/ Selamat lah datang/ Kami lah ucapkan/ Kepada penonton/ penonton yang budiman/ Di sini lah kami adakan permainan Mamanda

Kalau ada yang salah, kami minta maap …..

Iramanya melambai, memanggil warga, mengingatkan bahwa Mamanda segera digelar.

Post Comment