Tumpukan di Rak Belakang – Cerita Pendek Dwi Scativana Isnaeni

Tumpukan di Rak Belakang – Cerita Pendek Dwi Scativana Isnaeni

Sumi menjatuhkan tiga bundel majalah mode tahun sembilan puluhan ke atas timbangan besi. Jarum penunjuk bergetar, berhenti di angka empat kilogram. Lelaki paruh baya di seberang meja kayu—seorang pengepul loakan berkaus bolong—meraih rokok kreteknya, mengembuskan asap pekat ke arah tumpukan novel tanpa sampul yang menggunung di sudut kios.

“Dua belas ribu, Sum. Kertas koran harganya jatuh sejak pabrik bubur kertas di hulu mengurangi kuota terima,” kata lelaki itu, suaranya parau tergerus batuk. Ia melemparkan beberapa keping koin dan selembar uang kertas kumal ke atas meja semen.

Sumi tidak membantah. Ia memungut uang itu dengan ujung jemari yang kesat, lalu melemparkannya ke dalam kaleng bekas biskuit di bawah meja. Kios papan ini adalah warisan tunggal dari mendiang suaminya yang mati dua tahun lalu akibat paru-paru basah. Sepanjang hidupnya, Sumi selalu mengutuk pekerjaan ini. Bagi Sarni, tumpukan kertas kusam ini hanyalah tumpukan sampah tak berharga yang tidak pernah sanggup membayar biaya pengobatan rumah sakit suaminya, apalagi menambal utang kontrakannya yang kian menumpuk. Namun, karena tidak ada pilihan lain untuk menyambung isi perut, ia terpaksa duduk di sini setiap hari, mengurusi peninggalan lelaki bebal yang mati sembari memeluk hobi membaca yang tak menghasilkan apa-apa.

Di luar kiosnya yang berdiri darurat di bawah kolong jembatan layang dekat stasiun komuter, gerimis mulai turun membasahi trotoar yang hitam penuh noda oli. Orang-orang yang baru turun dari kereta komuter berjalan cepat dengan pandangan mata yang melekat pada layar gawai masing-masing, melangkah tergesa mengejar jam absen kantor tanpa sekali pun menengok ke arah kios bukunya. Bagi kota ini, cetakan di atas kertas sudah lama kehilangan gunanya.

Sesekali, hanya ada satu-dua anak muda yang berhenti di depan lapaknya. Mereka tidak datang untuk membaca atau membeli, melainkan berdiri membelakangi barisan novel kusam, mengangkat gawai tinggi-tinggi, lalu memotret diri mereka sendiri dengan latar belakang tumpukan kertas pudar. Setelah mendapatkan gambar yang dirasa cukup estetik untuk diunggah ke jaringan luar, mereka pergi begitu saja tanpa pernah menyentuh lembaran halaman. Sumi menatap mereka dengan tatapan dingin dan muak.

“Buku-buku rusak ini cuma bikin penuh rumah, tapi suamimu dulu selalu bilang ini harta karun,” gumam Sumi lirih sembari menarik sebuah kotak kayu dari kolong meja.

Di dalam kotak itu tersimpan sebuah agenda bersampul kulit imitasi milik mendiang suaminya. Lelaki itu dulu punya kebiasaan aneh: mengumpulkan kertas-kertas ganjil yang tersisip di sela-sela novel bekas yang dibeli kiloan dari rumah-rumah orang mati atau pekerja kontrak yang diusir dari kontrakan. Suaminya menganggap kertas-kertas itu sebagai “rahasia berharga” dari para pembeli yang harus dijaga. Bagi Sumi, itu adalah kebodohan terbesar. Di dalam buku itu ada secarik kertas berisi rincian utang sembako, surat pengunduran diri yang belum sempat dikirim, hingga coretan pensil berisi ketakutan seorang buruh administrasi menghadapi hari Senin. Semua itu bagi Sumi hanyalah sampah dari manusia-manusia kalah yang sama sekali tidak memiliki nilai jual.

“Bulan depan, pangkalan kita ini harus kosong, Sum. Satpol PP sudah pasang papan maklumat di ujung gang,” Dikun, pedagang asongan yang mangkal di tiang listrik sebelah, bersuara sambil membetulkan letak terpal plastiknya yang bocor. “Kawasan stasiun ini mau dibikin taman terbuka hijau dan gerai kopi modern. Buku-buku loakan peninggalan suamimu itu dianggap bikin kumuh pandangan mata orang kota.”

Sumi hanya mendengus pendek. Tangan kanannya meraih selembar kertas yang terjatuh dari selipan buku hukum yang baru saja ia timbang untuk dijual kiloan. Kertas itu tipis, bergaris, dan dipenuhi tulisan tangan perempuan yang tergesa-gesa. Tulisan itu berbunyi: Uang kos belum bayar dua bulan. Bos di kantor bilang posisiku mau diganti mesin bulan depan. Kalau malam ini gerimis tidak berhenti, aku mau jalan ke jembatan hulu.

Sumi menatap guratan tinta kelabu yang mulai luntur oleh kelembapan udara. Surat itu tertanggal beberapa minggu lalu. Pemilik buku hukum ini adalah seorang mahasiswi tingkat akhir yang kamarnya dikosongkan paksa oleh pemilik kos. Sumi mengingat wajah perempuan muda itu—wajah kuyu dengan lingkaran hitam tebal di bawah mata yang sempat datang ke kiosnya hanya untuk menjual seluruh diktat kuliahnya seharga dua puluh ribu rupiah demi membeli sebungkus mi instan.

Langkah kaki terdengar mendekat, bergesek dengan pasir trotoar yang basah. Seorang perempuan muda berpakaian rapi dengan ID-card kantor yang menggantung di leher masuk ke bawah emperan seng Sumi untuk menghindari gerimis yang kian rapat. Perempuan itu tidak melihat ke arah buku-buku. Jemarinya sibuk mengetik di atas layar gawai yang bergetar konstan menampilkan pesan masuk dari grup kerja. Wajahnya tegang, napasnya pendek-pendek, memperlihatkan kelelahan yang khas dari orang-orang yang hidupnya didikte oleh target harian korporasi.

Perempuan itu melirik kertas di tangan Sumi tanpa minat, lalu kembali menatap layar gawainya yang menyala putih dingin.

Sumi meremas kertas tipis bergaris itu menjadi gumpalan kecil, lalu melemparkannya begitu saja ke dalam tong sampah plastik di samping gerobak. Ia tidak berniat menyimpan rahasia itu seperti yang biasa dilakukan suaminya yang sentimental. Baginya, duka orang asing tidak akan pernah bisa ditukar dengan beras.

“Kereta terakhir sudah masuk, Sum. Lapakmu tidak mau ditutup?” Dikun berteriak dari seberang jalan sembari mengemas sisa rokok dagangannya ke dalam kantong plastik.

Sumi melihat ke arah jam dinding kuno di atas kasir yang detaknya makin lambat karena kehabisan baterai. Gerimis telah menjelma menjadi hujan lebat yang dingin. Air parit di depan kiosnya mulai meluap, membawa limbah deterjen dan sampah plastik bekas makanan instan yang hanyut menuju hilir sungai.

Ia mulai menyusun papan-papan penutup kiosnya satu demi satu, memasang gembok besi yang sudah berkarat, lalu mengikat bagian sudutnya menggunakan tali rami tebal agar tidak roboh dihantam angin barat. Tidak ada mukjizat dari langit yang akan membatalkan surat perintah penggusuran lapaknya akhir bulan nanti. Besok pagi, Senin yang kaku akan kembali memanggilnya untuk menghadapi tagihan sewa bedeng dan bentakan petugas penertiban lalu lintas.

Sumi menarik selendang masamnya untuk menutupi kepala dari siraman air, lalu melangkah keluar meninggalkan kolong jembatan layang. Langkah kakinya berat, sandalnya berderit tipis di atas aspal yang basah oleh sisa karbon knalpot bus kota. Di dalam saku jubah kerjanya, kaleng biskuit berisi uang dua belas ribu rupiah hasil menjual buku kiloan tadi bergetar kaku membentur kunci gembok. Ia terus berjalan menembus pekatnya malam kota Megapolitan yang gersang, membiarkan tubuhnya yang lelah basah kuyup, mengutuk sisa-sisa kertas loakan di dalam kiosnya yang tak pernah sanggup menyelamatkan hidup siapa pun.

Banjarnegara, Juli 2026

Biodata Penulis

Dwi Scativana Isnaeni adalah asal Banjarnegara, tulisannya telah dimuat di berbagai media digital, zine, buku antologi. Menjuarai beberapa lomba esai dan opini, serta menulis beberapa buku. Salah satu buku yang telah terbit berjudul “Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik”. Buku Novel terbarunya “Oyot Toya Wingit” memenangkan Bilfest Award 2026 serta Novel “Suamiku Seorang Marbot” meraih Juara 1 LPM Buya Hamka, dan dalam proses penerbitan.

Post Comment