Lewati ke konten
19 September 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Buku

Sastrawan dan Penerjemah Anton Kurnia Berpulang, Tinggalkan Jejak Panjang di Dunia Perbukuan Indonesia

Dunia sastra Indonesia kehilangan salah satu penulis, penerjemah, dan editor pentingnya. Anton Kurnia meninggal dunia pada Jumat, 18 September 2026 di Bandung, dalam usia 52 tahun. Kabar duka tersebut disampaikan oleh Penerbit BACA, yang menyebut Anton sebagai salah satu pendiri penerbit tersebut.

Kabar berpulangnya Anton segera menyebar di kalangan penulis, penerjemah, editor, penerbit, dan pembaca. Penerbit BACA mengenang Anton bukan hanya sebagai salah satu pendirinya, tetapi juga sebagai penulis, editor, penerjemah, dan sastrawan yang memiliki peran besar dalam membawa karya sastra dunia kepada pembaca Indonesia.

Jenazah Anton dimakamkan di Pemakaman Maleer, Bandung, pada Sabtu, 19 September 2026 pukul 08.00 WIB, berdasarkan informasi yang disampaikan dalam kabar duka yang beredar.

Menulis sekaligus menerjemahkan dunia

Anton Kurnia lahir di Bandung pada 9 Agustus 1974. Ia dikenal sebagai cerpenis, esais, penerjemah sastra, editor, dan penggiat dunia penerbitan. Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai media dan jurnal sastra, sementara sejumlah cerpennya juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Salah satu kekuatan Anton berada pada kemampuannya bergerak di antara dua dunia yang sering dianggap berbeda: menulis dan menerjemahkan. Ia tidak hanya memperkenalkan sastra dunia kepada pembaca Indonesia melalui terjemahan, tetapi juga menghasilkan karya-karya fiksi dan esai dengan perhatian yang kuat terhadap sejarah, kebudayaan, perjalanan, dan sastra dunia.

Pada 2006, misalnya, Anton menerbitkan Ensiklopedia Sastra Dunia, sebuah buku yang memperkenalkan profil ratusan sastrawan dari berbagai zaman dan wilayah. Buku tersebut mencakup tokoh-tokoh seperti Homer, Boris Pasternak, Simone de Beauvoir, Pramoedya Ananta Toer, hingga Orhan Pamuk.

Dalam perjalanan sebagai penerjemah, ia mengerjakan karya sejumlah pengarang dunia, antara lain James Joyce, Vladimir Nabokov, dan Salman Rushdie.

Dari penerjemah hingga membangun Penerbit BACA

Peran Anton tidak berhenti pada halaman buku. Ia juga terlibat langsung dalam ekosistem penerbitan Indonesia dan menjadi salah satu pendiri Penerbit BACA.

Dalam pernyataan dukanya, Penerbit BACA menyebut ketajaman insting editorial Anton ikut membawa sejumlah karya penting ke tangan pembaca Indonesia, antara lain The Vegetarian dan Human Acts karya Han Kang, What We Talk About When We Talk About Love karya Raymond Carver, Si Tukang Onar karya Maxim Gorky, serta The Metamorphosis karya Franz Kafka.

Penerbit itu secara khusus mengenang keputusan Anton memilih The Vegetarian ketika BACA masih berada pada tahap awal perkembangannya. Buku tersebut kemudian menjadi salah satu karya yang ikut mengangkat nama BACA di dunia perbukuan Indonesia.

Di sinilah jejak Anton menjadi menarik: ia bukan hanya orang yang menulis buku, melainkan juga orang yang ikut menentukan buku-buku seperti apa yang sampai kepada pembaca Indonesia.

Nostalgia dan fase kepengarangan terakhir

Sebagai penulis, Anton menghasilkan cerpen, novel, esai, dan narasi nonfiksi. Salah satu karya penting pada periode akhir kepengarangannya adalah Nostalgia: Kisah-Kisah Ganjil tentang Maut dan Cinta, yang diterbitkan DIVA Press pada 2023.

Buku setebal 132 halaman itu menghimpun cerita-cerita yang bergerak melintasi berbagai tempat dan zaman, dengan maut dan cinta sebagai salah satu benang merahnya. DIVA Press menggambarkan buku tersebut sebagai kumpulan cerita yang saling berkelindan, dengan latar yang membentang dari Bandung hingga Moskow dan dari zaman Sunda kuno hingga era pandemi global.

Jawa Pos pada 2023 menyoroti kekhasan Nostalgia, terutama cara Anton membawa pembaca melintasi berbagai negeri, sejarah, filsafat, dan kebudayaan melalui cerita-cerita yang tetap terasa dekat dengan pengalaman manusia. Media tersebut juga mencatat bahwa karya-karya Anton memiliki jejak kuat dari pengalamannya sebagai penerjemah sastra.

Karya itu kemudian tercatat sebagai salah satu buku fiksi yang dipilih dalam daftar terbaik Majalah Tempo untuk 2023.

Aktif dalam kehidupan sastra

Anton juga mempunyai peran kelembagaan yang cukup penting. Ia pernah menjadi anggota Komite Buku Nasional periode 2016–2019, kemudian menjabat sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Direktur Jakarta International Literary Festival (JILF).

Pada 2024, ia juga mendapat kesempatan menjadi penulis residensi di Dilsberg melalui program UNESCO City of Literature Heidelberg.

Karena itu, kepergian Anton meninggalkan ruang yang cukup luas. Kehilangannya bukan hanya dirasakan dalam lingkaran cerpenis, tetapi juga oleh penerjemah, editor, penerbit, pengelola festival sastra, dan pembaca yang selama bertahun-tahun bersentuhan dengan buku-buku yang ia tulis maupun terjemahkan.

Buku sebagai warisan

Ada sesuatu yang khas dari perjalanan Anton Kurnia: sebagian besar pekerjaannya berlangsung di antara nama-nama orang lain.

Sebagai penerjemah, ia membantu pembaca Indonesia mendengar suara pengarang dari bahasa dan kebudayaan lain. Sebagai editor, ia ikut menentukan bagaimana sebuah buku hadir dan dibaca. Sebagai penerbit, ia membantu karya-karya tertentu menemukan pembacanya. Dan sebagai pengarang, ia meninggalkan cerita-ceritanya sendiri.

Karena itu, warisan seorang pekerja buku seperti Anton tidak selalu dapat dihitung hanya dari jumlah buku yang menggunakan namanya di sampul. Sebagian jejaknya justru tersembunyi di balik buku-buku yang sampai kepada pembaca melalui kerja editorial dan penerjemahan.

Penerbit BACA menutup kabar dukanya dengan kalimat yang sederhana: “Karya-karyamu akan terus hidup.”

AI: ChatGPT

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *