Rumah Koclak dan Sastra Metamodern

Ciamis bagi saya selama ini lebih sering menjadi kota yang dilewati. Jika pergi Kawali, saya biasanya berbelok ke pinggiran, ke Astana Gede, tempat prasasti-prasasti menyimpan jejak Kerajaan Galuh. Kali ini saya datang untuk sesuatu yang berbeda: Hajatan Sastra Rumah Koclak 2026. Baru ketika berhenti dan berkeliling di kotanya, saya menyadari apa yang selama ini terlewat: Ciamis demikian tertata, bersih, dan terpelihara. Beberapa penulis dari luar Ciamis yang sempat saya ajak berbicara menyimpan kekaguman yang sama.
Dari kota yang tertata itu saya masuk ke sebuah rumah yang dibangun justru untuk menampung hal yang tidak pernah benar-benar rapi: sastra. Rumah Koclak didirikan oleh Toni Lesmana dan Wida Waridah, pasangan yang tampaknya tidak membutuhkan alasan rumit untuk mencintai seni, sastra, dan pertunjukan. Mereka membuat rumah yang terbuka bagi siapa saja yang tertarik pada sastra dan pertunjukan yang lahir darinya. Saya tidak terlalu memikirkan arti nama Rumah Koclak ketika pertama kali mendengarnya, kecuali sebagai sebentuk “kegilaan”.
Rumah Koclak
Hajatan Sastra Rumah Koclak 2026 memperlihatkan dua ruang yang jelas. Siang hari adalah ruang percakapan: diskusi, buku, pembacaan, dan pembahasan karya. Malam hari berubah menjadi panggung: puisi, cerpen, musik, monolog, tari, dan pertunjukan alihwahana dalam berbagai bentuk.
Saya datang sebagai salah satu pembahas buku. Para pembahas diberi ruang untuk membawa perspektif masing-masing, sehingga diskusi tidak menghasilkan satu suara yang utuh dan bulat. Ada pembahasan yang serius, kritis, dan akademis; ada yang lebih populer dan terasa kompromi; ada juga yang bolak-balik di antara keduanya.
Sebagian besar penonton adalah kaum muda, dan beberapa di antara mereka tampak harus berkerut kening ketika mengikuti pembicaraan yang konseptual. Saya tidak melihat perbedaan percakapan itu sebagai soal siapa yang benar. Di sana tampak persoalan: sastra berhadapan dengan publik yang berubah, dan karena itu dipaksa mencari cara baru untuk memberbicarakannya.
Malam harinya persoalan itu muncul dalam bentuk yang berbeda. Panggung Rumah Koclak tidak menghadirkan pertunjukan dengan tingkat kematangan yang seragam. Ada penampil yang sudah sangat terampil, ada yang masih belajar, ada anak-anak yang ikut tampil, ada pertunjukan yang rapi, dan ada pula yang terasa berantakan.
Di malam terakhir, Gusjur Mahesa sebagai “Presiden Republik Gelo”, seperti berhasil menyimpulkan dengan membawakan absurditas dan kegilaan puisi secara serius. Ia membacakan sepilihan puisi dari antologi puisi Mending Gelo daripada Korupsi. Ia berjoget lenggak lenggok, misuh-misuh, memaki ke semua orang, meratap. Pertunjukkan puisi dan puisi-puisinya seperti meminjam ketulusan bocah kecil yang sedang bermain untuk memaki kenyataan hidup yang serius. Saya tertawa, yang lain tertawa, tapi rasanya pahit—anjing.
Jika ukuran sebuah festival adalah keutuhan kualitas atau kesatuan estetika, Rumah Koclak akan tampak ganjil. Tetapi bukan itu yang sedang dibangun di sana. Saya melihatnya lebih sebagai ekosistem daripada etalase. Di dalam ekosistem, yang sudah tumbuh kuat hidup berdampingan dengan yang baru tumbuh. Yang serius bertemu yang jenaka, yang terlatih bersisian dengan yang masih mencari bentuk. Keutuhan mungkin membuat sebuah pertunjukan tampak sempurna, tetapi keacakan membuat sebuah rumah terasa lebih ramah. Jika segala sesuatu harus rapi sebelum boleh masuk, kita sedang membuat pameran, bukan ekosistem yang terbuka bagi kemungkinan.
Hal itu membawa saya pada pikiran lain: rumah seperti apa yang kini tersedia bagi sastra? Banyak rumah lama telah susut. Halaman budaya surat kabar tidak lagi sebanyak dulu. Sebagian media cetak bertahan dalam kondisi yang jauh lebih sulit, sebagian lain berhenti terbit. Pandemi mempercepat perubahan yang sebenarnya sudah berlangsung. Digitalisasi menggeser perhatian pembaca ke layar, gambar, video, dan cerita-cerita yang lebih singkat. Ruang untuk kritik, resensi, dan percakapan sastra ikut berubah. Persoalannya bukan semata orang berhenti membaca, melainkan ekosistem yang membuat sebuah karya bisa diperkenalkan, dibicarakan, diperdebatkan, dan menemukan pembacanya juga berubah.
Dalam situasi seperti itu, buku dengan sasaran pembaca yang jelas dan mudah diterjemahkan menjadi potongan konten punya jalan yang lebih terbuka. Buku pengembangan diri, psikologi populer, atau tema yang gampang diringkas menjadi nasihat beredar jauh lebih lancar dalam format semacam itu. Sastra lebih keras kepala. Ia sering meminta pembaca tinggal lebih lama di dalam pertanyaan dan ketidakjelasan. Dalam ekonomi perhatian yang menghendaki kecepatan, sastra malah meminta waktu.
Tetapi keliru jika perubahan ini dibaca sebagai kematian cerita. Storytelling ada di mana-mana. Cerita berpindah dari halaman ke lagu, film, teater, podcast, gim, iklan, video pendek, konten media sosial, bahkan ke cara sebuah merek atau seseorang membangun identitas. Manusia tidak berhenti bercerita hanya karena cara membacanya berubah. Sastra bukan satu-satunya cara manusia bercerita, tetapi ialah ibu yang telah melahirkan banyak anak. Karena itu, ketika rumah lamanya tidak lagi relevan, pertanyaannya bukan bagaimana mengembalikannya seperti semula, melainkan ke mana ia akan bergerak.
Metamodernisme
Beberapa hari setelah Hajatan Sastra, saya berbincang dengan Rika Johara, penulis yang juga aktor teater. Entah bagaimana percakapan kami sampai pada sebuah istilah yang belum pernah saya tahu sebelumnya: metamodern. Saya tidak datang ke Rumah Koclak dengan istilah itu di kepala. Ia datang belakangan, seperti lensa yang baru saya temukan setelah perjalanan selesai. Ia seperti nama bagi sesuatu yang sudah saya lihat tanpa bisa saya sebut.
Metamodern, dalam pengertian paling sederhana, adalah gerak bolak-balik. Belakangan saya mengetahui bahwa istilah ini dipopulerkan oleh Timotheus Vermeulen dan Robin van den Akker sekitar tahun 2010. Ia menggambarkan ayunan antara warisan modernisme dan kesadaran postmodernisme: antara keinginan untuk percaya dan pengalaman bahwa kepercayaan dapat menipu; antara hasrat membangun dan pengetahuan bahwa banyak bangunan runtuh.
Modernisme membawa keyakinan kuat pada kemajuan dan kemungkinan masa depan yang lebih baik—keyakinan yang kemudian sering berubah menjadi terlalu percaya diri dan lupa pada akibat yang ditimbulkannya. Postmodernisme datang dengan kecurigaan: narasi besar tidak netral, kebenaran berkelindan dengan kekuasaan, dan janji kemajuan tidak membawa semua orang ke tempat yang sama. Kecurigaan itu penting karena membuat kita tidak mudah dibodohi. Tetapi jika berhenti di sana, keraguan dapat berubah menjadi sinisme, dan kita kehilangan keberanian membangun apa pun.
Metamodern bergerak kembali setelah melewati keraguan itu. Ia tidak pulang kepada kepolosan modernisme, tetapi juga menolak menetap dalam skeptisisme postmodernisme. Ia tahu sebuah rumah mungkin roboh, tetapi tetap mau meletakkan batu pertama. Optimisme percaya semuanya akan baik-baik saja; harapan tahu bahwa semua itu belum tentu, dan tetap bertindak.
Pemahaman ini membantu saya menafsirkan nama rumah tersebut—bukan sekadar kegilaan. Koclak adalah bunyi air di dalam wadah yang tidak penuh. Ada ruang kosong di dalamnya, ada gerak, ada ketidakstabilan. Ia tidak padat seperti prasasti yang dipahat untuk menetapkan sesuatu selama mungkin. Ia bergerak setiap kali disentuh.
Toni Lesmana dan Wida Waridah tentu tidak berpretensi membangkitkan kembali masa keemasan sastra masa lampau. Mereka mustahil memulihkan lembar budaya koran, memindahkan begitu saja wibawa media cetak ke ranah digital, atau mengulang romantisisme pembaca beberapa dekade silam hanya dengan mendirikan sebuah rumah komunal. Mereka juga tidak memegang jaminan bahwa setiap buku yang dibedah akan menemukan pembacanya, bahwa tiap pertunjukan akan memukau, atau bahwa anak-anak muda yang hadir seketika jatuh hati pada sastra.
Namun mereka tetap membuat ruang. Mereka mengundang orang: yang dekat dan yang jauh dari berbagai tempat. Mereka menghadirkan buku pada siang hari dan pertunjukan pada malam hari. Mereka memberi tempat kepada yang sudah mahir sekaligus kepada yang masih amatir. Di dalam ketidakpastian itu, harapan seperti bekerja dalam bentuknya yang paling masuk akal. Toni Lesmana dan Wida Waridah tetap membangun rumah, membuka pintunya, membuka jendelanya, menata meja dan kursi untuk bercakap-cakap, dan menyalakan lampu.
Sesudah Keraguan
Bertahun-tahun kota Ciamis hanya jalan yang saya lewati menuju tempat lain, sampai suatu hari saya berhenti dan menemukan apa yang sebelumnya tidak saya lihat. Mungkin sastra sedang mengalami hal serupa. Kita terlalu sibuk mencari rumahnya yang lama sehingga lupa memperhatikan rumah-rumah baru yang tumbuh di tempat lain, dengan bentuk yang berbeda dan ukuran yang lebih egaliter.
Saya tidak tahu ke mana sastra akan bergerak. Tidak ada alasan untuk terlalu yakin bahwa masa depannya seperti apa. Tetapi saya juga tidak melihat alasan untuk menyerahkannya kepada pesimisme. Storytelling selalu hidup; bentuk-bentuknya terus berubah. Jika prasasti-prasasti Galuh mengingatkan saya pada cara sebuah zaman mengabadikan bentuk pada dirinya, maka rumah-rumah seperti Rumah Koclak mengingatkan saya bahwa setiap zaman tetap mempertemukan cerita dengan manusia.
Sastra mungkin tidak kembali ke rumah yang dulu, tetapi itu tidak berarti ia kehilangan kemungkinan memiliki rumah baru. Rumah Koclak, bagi saya, memberi tahu banyak tentang kemungkinan itu.
Singajaya, 19 September 2026
Baca juga:
Hajatan Sastra Rumah Koclak



Percakapan