Lewati ke konten
20 September 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Esai

Mak Comblang dan Rumah Koclak

Oleh: Arip Senjaya

Saya tidak pernah sampai di Rumah Koclak, dan kalimat tersebut perlu dibereskan sejak awal agar tidak menimbulkan fitnah geografis. Karena ke Ciamis saya pernah. Bahkan cukup lama.

Waktu mahasiswa saya pernah KKN di sana. Pernah pula naik kereta dari Jogja ke Ciamis untuk menemui Godi Suwarna dan istri. Bertemu Toni dan Wida juga. Perjalanan yang kalau dipikir sekarang agak sulit dijelaskan dengan bahasa ekonomi. Ongkos kereta, waktu, tenaga, semuanya dikeluarkan untuk menemui penyair.

Anak muda memang kadang tidak memerlukan perhitungan laba-rugi.

Saya juga mengenal Toni Lesmana sejak lama. Kami satu angkatan semasa SMA, walaupun pertemuan langsung baru terjadi selepas Reformasi. Jauh sebelum itu kami sama-sama pernah mengirim carpon kecil ke Galura, koran Sunda yang menyediakan rubrik bagi pelajar bernama “Mupu Kembang”. Jadi, pada suatu masa, Toni dan saya pernah sama-sama menjadi pengarang remaja yang menunggu nama sendiri muncul di koran.

Dan Wida juga bukan nama baru. Tahu sejak sebelum menikah dengan Toni. Tahu karya-karyanya. Lalu Gusjur Mahesa malah senior saya di UPI. Kami pernah berada dalam lingkungan yang sama, Lakon Teater UPI.

Dengan riwayat semacam itu agak memalukan juga mengaku belum pernah sampai ke Rumah Koclak.

Ciamisnya tahu. Orang-orangnya tahu. Rumahnya justru belum. Lalu datang esai Deri Hudaya.

Aneh juga. Orang yang usianya lebih muda (sepuluh tahun di bawah saya) dan datang belakangan dalam pergaulan sastra saya ini malah membawa saya ke rumah milik kawan lama yang belum pernah saya datangi.

Deri saya kenal sekitar 2016. Ia dosen di Garut, menulis, membaca sastra, mengkritik, dan rupanya sekarang juga punya pekerjaan tambahan: mengantar orang secara imajiner ke Ciamis.

Saya berangkat. Tanpa kereta. Tanpa ongkos. Tanpa mencari parkir. Selesai membaca esainya, saya seperti pernah duduk di Rumah Koclak.

Saya bisa membayangkan ruang percakapannya pada siang hari, panggung malamnya, anak-anak yang ikut tampil, yang sudah terlatih, yang masih mencari bentuk, yang rapi, yang berantakan. Deri membuat semua itu terasa hadir. Ketika Gusjur berjoget, misuh-misuh, meratap, lalu Deri menutup pengalaman menontonnya dengan rasa pahit dan kata “anjing”, saya bahkan bisa mendengar suara senior saya itu dari kejauhan.

Dalam perkara ini Deri berhasil.

Ia membuat saya menjadi saksi sebuah hajatan yang tidak saya hadiri. Saksi palsu, memang. Tapi lumayan meyakinkan. Persoalan saya muncul sesudah itu. Deri membawa saya keluar dari Rumah Koclak, lalu mengajak masuk ke bangunan lain yang namanya jauh lebih mahal:

metamodernisme.

Di situ saya ingin parkir sebentar. Saya melihat bagian paling menarik dalam esai Deri justru terdapat sebelum metamodernisme datang.

Ia melihat Rumah Koclak sebagai ekosistem. Saya suka penglihatan ini. Dan dunia sastra kadang mempunyai penyakit yang lucu. Kita ingin regenerasi, lalu orang yang baru belajar diminta jangan muncul sebelum tulisannya bagus.

Ya bagaimana?

Namanya juga baru belajar.

Meminta penulis muda matang sebelum memperoleh ruang sama dengan memarahi mangga muda karena belum manis.

“Matang dulu, baru boleh tumbuh.”

Asu.

Rumah Koclak, menurut laporan Deri, memberi kemungkinan lain. Yang sudah terlatih berdiri dekat dengan yang masih belajar. Yang rapi bersisian dengan yang berantakan. Percakapan akademik hidup bersama obrolan yang lebih cair. Deri menyebutnya ekosistem karena di dalamnya yang sudah tumbuh kuat berbagi ruang dengan yang baru tumbuh.

Nah, sampai sini saya sudah percaya. Saya sudah suka kepada Rumah Koclak. Teori belum diperlukan.

Rumah itu bahkan terasa menarik justru karena tidak terlalu sibuk memeriksa kartu anggota orang yang masuk.

Lalu selang beberapa hari Deri bercakap dengan Rika Johara dan memperoleh istilah baru: metamodern. Ia sendiri mengaku datang ke Rumah Koclak tanpa membawa istilah itu. Metamodernisme muncul setelah perjalanan selesai, lalu menjadi semacam lensa untuk membaca ulang apa yang ia alami.

Saya sangat mengerti kejadian semacam ini. Kita membaca teori baru, lalu dunia mendadak berubah. Orang yang baru belajar Freud melihat benda-benda dengan kewaspadaan tertentu. Orang yang baru belajar semiotika sanggup memandangi bungkus mi instan selama empat puluh menit. Orang yang baru membaca Foucault dapat menatap tulisan DILARANG PARKIR dan menemukan operasi kekuasaan. Tukang parkir berubah menjadi aparatus disipliner.

Teori memang asu.

Ia membuat kita melihat sesuatu yang sebelumnya terlewat. Bersamaan dengan itu ia juga membuat kita tergoda melihat teorinya di mana-mana.

Saya khawatir metamodernisme Deri berada dekat bahaya itu.

Tukang tambal ban metamodern

Menurut Deri, metamodern bergerak setelah manusia melewati keraguan postmodern. Ia mengetahui sebuah bangunan bisa roboh, lalu tetap meletakkan batu pertama. Ia membedakan optimisme yang merasa semuanya akan baik-baik saja dengan harapan yang sudah mengetahui kegagalan mungkin datang namun masih memilih bertindak.

Bagus. Saya suka. Lalu saya teringat tukang tambal ban. Setiap pagi ia membuka kios. Ia tahu belum tentu hari itu ada ban bocor. Ia tahu orang memakai tubeless. Ia tahu teknologi ban terus berkembang. Mengenai kemungkinan semua jalan di Indonesia menjadi mulus, bagian itu mungkin belum perlu terlalu ia cemaskan. Ia tetap membuka kios.

Apakah tukang tambal ban itu metamodern?

Penjual gorengan juga mengetahui bakwannya mungkin tersisa. Harga minyak naik. Hujan bisa turun. Orang sekampung bisa mendadak diet.

Jam empat sore ia tetap menggoreng.

Metamodern?

Dosen datang pukul tujuh pagi. Ia mengetahui sebagian mahasiswa hadir hanya secara biologis. Tubuhnya di kelas. Jiwanya masih di kasur atau sedang menggulir TikTok. Dosen itu tetap menerangkan Kant.

Metamodern?

Orang menikah malah lebih ekstrem. Ia tahu pernikahan dapat gagal. Tetap menikah.

Kalau ukuran metamodernisme berhenti pada keberanian melakukan sesuatu setelah mengetahui kemungkinan kegagalan, Kantor Urusan Agama mungkin salah satu pusat metamodernisme terbesar di Indonesia.

Di sinilah saya ingin mengganggu Deri.

Vermeulen dan van den Akker menawarkan perkara yang lebih khusus. Yang mereka tekankan ialah osilasi: gerak terus-menerus antara komitmen modern dan jarak postmodern, antara ketulusan dan ironi, harapan dan melankolia, keinginan mencari makna dan keraguan terhadap makna itu sendiri. Metamodernisme tidak menetap dengan nyaman di salah satu kutub.

Maka pertanyaan saya cukup sederhana: di mana persisnya Rumah Koclak berosilasi?

Saya melihat keberanian. Saya melihat keterbukaan. Saya melihat orang membuat ruang ketika banyak ruang sastra lama menyusut. Saya melihat anak-anak diberi panggung. Saya melihat orang yang belum matang tidak segera diusir. Semua itu keren. Namun manusia sudah melakukan semua itu jauh sebelum tahun 2010.

Nenek kita juga tahu hidup bisa gagal dan tetap menanak nasi besok pagi.

Jangan-jangan nenek kita metamodern.

Galuh dan petugas kebersihan

Saya tertawa kecil ketika Deri tiba di Ciamis dan terpesona oleh kebersihannya. Saya paham. Ciamis memang punya kemampuan membuat orang yang datang memperhatikan keteraturannya.

Deri kemudian berjalan cukup jauh. Dari kebersihan kota, pikirannya sampai kepada Galuh dan kemungkinan bahwa sejarah panjang suatu wilayah meninggalkan kebiasaan merawat ruang. Ia memasang rem juga: masa lalu tidak perlu diromantisasi.

Untung remnya masih berfungsi. Kalau tidak, sedikit lagi petugas kebersihan Kabupaten Ciamis mempunyai hubungan struktural dengan Kerajaan Galuh.

Trotoar bersih?

Galuh.

Taman terawat?

Galuh.

Sampah diangkut tepat waktu?

Warisan tata kehidupan Sunda kuno.

Kalau besok ada selokan mampet, saya tidak tahu kerajaan mana yang mesti bertanggung jawab.

Tentu saya sedang kurang ajar.

Esai memang berhak membuat hubungan-hubungan seperti itu. Bahkan di sanalah kenikmatannya. Esai boleh menyusuri jalan yang belum diberi marka.

Saya justru melihat watak Deri di sini. Ia suka menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang jauh. Ciamis dengan Galuh. Rumah Koclak dengan perubahan ekosistem sastra. Lalu Rumah Koclak dengan metamodernisme. Deri rupanya mak comblang konseptual.

Kadang pasangan yang dikenalkannya terlihat serasi. Kadang saya ingin bertanya: mereka sungguh saling suka atau cuma duduk semeja karena Deri menyuruh?

Sastra mengaku sebagai ibu

Ada satu bagian lagi yang membuat saya parkir lagi. Deri mengatakan bahwa storytelling sekarang berada di mana-mana: lagu, film, teater, podcast, gim, iklan, video pendek, media sosial. Sampai situ saya ikut. Lalu sastra disebut sebagai ibu yang telah melahirkan banyak anak.

Saya agak heran dengan administrasi keluarganya model satu ini.

Manusia sudah bercerita ketika belum mengenal buku, penerbit, ISBN, festival sastra, resensi, halaman kebudayaan, moderator, dan peserta diskusi yang mengawali pertanyaan dengan riwayat hidup selama sebelas menit.

Cerita lisan jauh lebih tua daripada institusi sastra yang kita kenal sekarang. Jadi boleh jadi silsilah keluarga itu terbalik. Storytelling ibunya. Sastra salah satu anaknya.

Anak ini kemudian sekolah tinggi, membaca teori, memperoleh penghargaan, pulang ke rumah, melihat saudara-saudaranya bekerja di film, musik, gim, teater, podcast dan media sosial, lalu duduk di kursi paling besar.

“Mulai sekarang panggil saya Ibu.”

Asu juga.

Meski begitu kegelisahan Deri saya pahami.

Rumah lama sastra memang menyusut. Halaman kebudayaan koran kehilangan banyak ruang. Media berubah. Perhatian manusia berpindah ke layar. Cerita tetap hidup dan justru berkembang biak dalam bermacam medium.

Mungkin pertanyaannya perlu sedikit digeser. Mengapa sastra merasa harus menjadi pusat keluarga?

Bisa jadi sastra tidak kehilangan anak-anaknya.

Saudara-saudaranya saja sudah punya rumah sendiri.

Posisi saya

Posisi saya akhirnya agak aneh. Saya ingin membela Rumah Koclak dari metamodernisme. Rumah Koclak yang sampai kepada saya melalui tulisan Deri sudah cukup menarik tanpa ditempeli istilah itu.

Ada orang matang dan mentah dalam ruang yang sama. Ada buku pada siang hari. Ada pertunjukan malam hari. Ada keseriusan. Ada kegilaan. Ada anak-anak. Ada orang dewasa yang kelakuannya mungkin lebih sulit diatur daripada anak-anak.

Ada Gusjur.

Kalau Gusjur saja belum cukup membuat sebuah rumah menarik, saya tidak tahu teori apa lagi yang dapat menolong. Kehidupan di dalam rumah itu sudah bergerak. Kemudian teori datang.

Situasinya seperti orang-orang sedang makan nasi liwet. Nasinya hangat. Ikan asin ada. Sambal cukup. Semua orang makan dengan bahagia. Lalu seseorang datang terlambat, belum ikut memasak, membuka laptop dan berkata:

“Kalau kita telaah struktur molekuler karbohidrat—”

Kang Deri.

Makan dulu.

Teorinya nanti.

Saya mengajar teori juga. Saya bahkan termasuk manusia yang bisa membawa percakapan tentang pisang goreng ke Kant kalau dibiarkan terlalu lama. Jadi saya tidak sedang mengusir teori. Saya cuma ingin teori bekerja.

Teori yang berguna membuat sesuatu yang semula samar menjadi terlihat. Maka saya kembali bertanya: apa yang baru terlihat dari Rumah Koclak setelah kita menyebutnya metamodern?

Kalau jawabannya hanya bahwa Toni dan Wida tetap membangun ruang meskipun tidak mempunyai jaminan ruang itu berhasil, saya masih keberatan. Sebab itu juga dilakukan banyak orang yang tidak pernah membaca Vermeulen dan van den Akker.

Toni sendiri sudah menulis sejak zaman “Mupu Kembang”. Saya tahu sedikit bagaimana orang seperti dia bertahan dengan sastra. Dulu kami mengirim carpon ke koran Sunda ketika dunia belum mengenal media sosial. Bertahun-tahun kemudian ia dan Wida membuka rumah bagi sastra di Ciamis.

Saya malah merasa ada cerita yang jauh lebih menarik di sana. Cerita tentang orang yang tumbuh bersama sastra, berubah bersama zaman, lalu suatu hari menyediakan rumah bagi orang lain.

Metamodernisme boleh masuk. Tamu juga boleh. Saya hanya tidak yakin tamu itu perlu segera diminta mengganti papan nama di depan rumah.

Juga ada kemungkinan lain yang lebih mengasyikkan. Selama ini kita bertanya apakah Rumah Koclak metamodern. Bagaimana kalau urusannya dibalik? Jangan-jangan metamodernisme yang membutuhkan Rumah Koclak.

Teori yang lahir jauh dari Ciamis itu mendadak memperoleh tubuh ketika dibawa Deri ke sana.

Ia mendapatkan Toni. Mendapat Wida. Mendapat anak-anak yang naik panggung. Mendapat buku. Mendapat kota yang bersih. Mendapat sejarah Galuh. Mendapat Gusjur yang misuh-misuh. Mendapat tawa yang pahit.

Mendapat “anjing”.

Teori itu mendadak punya bau, suara, keringat, kopi, kursi, dan orang. Metamodernisme yang tadinya terdengar seperti nama paket internet akhirnya mempunyai alamat.

Kalau begitu, jasa Deri justru menarik. Rumah Koclak tidak memperoleh nilainya dari metamodernisme. Metamodernisme memperoleh sedikit kehidupan karena Deri menyeretnya ke Rumah Koclak.

Nah, yang seperti ini saya terima.

Saya tetap belum sampai

Selesai membaca esai Deri, keadaan saya tetap ganjil. Saya pernah KKN di Ciamis. Pernah datang jauh-jauh dari Jogja untuk menemui Godi Suwarna. Kenal Toni sejak kami sama-sama menulis carpon pelajar. Kenal Wida. Kenal Gusjur. Bahkan mengenal Deri untuk mengganggu teorinya lewat tulisan sepanjang ini.

Tapi Rumah Koclak belum pernah saya datangi.

Asu.

Semua orang dalam cerita itu seperti berada dalam jarak yang dekat dengan kehidupan saya, sementara rumahnya sendiri masih saya kenal dari tulisan orang lain. Dan justru di sana saya harus memberi Deri satu pujian yang sulit saya tarik kembali.

Esainya berhasil membawa saya ke tempat yang tidak saya datangi. Saya melihat rumahnya melalui mata Deri. Saya mendengar kegaduhannya melalui telinga Deri. Saya bertemu lagi dengan orang-orang yang sebenarnya sudah saya kenal. Itu prestasi sebuah esai.

Lalu, menjelang akhir perjalanan, Deri membawa sebuah papan besar. Tulisan di papan itu:

METAMODERNISME.

Tampaknya hendak dipasang di depan Rumah Koclak.

Di situ saya pegang tangannya. “Sebentar, Yay Der.” Rumahnya sudah bagus. Toni dan Wida sudah ada. Anak-anak sudah masuk. Yang matang tidak kabur. Yang mentah sedang tumbuh. Gusjur bahkan sudah misuh-misuh. Orang masih membaca. Masih bercakap. Masih membuat sesuatu meskipun belum tahu siapa yang kelak peduli.

Jangan buru-buru pasang plang.

Nanti tukang tambal ban lewat. Dia merasa terpanggil. Penjual gorengan ikut masuk. Dosen yang tetap mengajar kelas pukul tujuh datang. Orang yang menikah ikut mendaftar.

Akhirnya seluruh Indonesia metamodern.

Lagipula tugas mak comblang cukup mempertemukan dua pihak. Setelah Rumah Koclak dan metamodernisme duduk semeja, biarkan mereka mengurus hubungan itu sendiri.

Jangan ikut menentukan tanggal nikah. Jangan pesan gedung. Jangan cetak undangan. Apalagi langsung mengubah nama Rumah Koclak menjadi Rumah Tangga Metamodern.

Cukup, Yay. Kamu sudah sukses jadi mak comblang. Kalau mereka cocok, syukur. Kalau tidak, Toni dan Wida masih punya rumah.

Dan rumah itu tetap agak koclak.

Serang, 20 September 2026

Arip Senjaya, dosen sastra dan filsafat Untirta, Komite Buku Nonteks Pusbuk Kemendikdasmen.

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *