Lewati ke konten
20 September 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Buku

Pekan Sastra Bogor Mengutuk Keras Pencekalan Diskusi

Panitia Pekan Sastra Bogor resmi membatalkan sesi diskusi bertajuk “Memburu Muhammad: Bagaimana Cerita Mengganggu Kita Memahami Agama” menyusul adanya penolakan dan ancaman penggerudukan dari organisasi kemasyarakatan Front Persaudaraan Islam (FPI). Pihak penyelenggara menyayangkan pembatalan tersebut dan mengutuk keras tindakan pencekalan yang dinilai mencederai kebebasan berekspresi di Kota Bogor.

Melalui siaran pers resminya tertanggal 19 September 2026, panitia membeberkan kronologi peristiwa yang bermula pada Kamis, 17 September 2026. Saat itu, panitia dihubungi oleh pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bogor untuk menghadiri pertemuan pada keesokan harinya.

Pertemuan tersebut berlangsung pada Jumat, 18 September 2026, pukul 10.00 WIB, dengan dihadiri perwakilan Dinas Perpustakaan, Badan Kesbangpol Kota Bogor, serta tiga orang yang mewakili FPI. Dalam forum itu, pihak ormas mempersoalkan judul sesi diskusi yang dianggap masuk ke ranah agama tanpa menghadirkan pemuka agama sebagai pembicara.

Panitia menjelaskan bahwa sesi tersebut murni forum sastra yang membedah karya fiksi dan narasi dalam membentuk cara berpikir, bukan kajian teologis. Penyelenggara bahkan berupaya membuka ruang dialog dan menyerahkan buku karya Feby Indirani tersebut agar dapat dipelajari bersama. Namun, itikad itu ditolak oleh perwakilan FPI yang tetap bersikukuh bahwa isu agama tidak boleh dibahas di bawah payung sastra, disertai ancaman akan mendatangi dan membubarkan paksa acara jika tetap digelar.

Merespons intimidasi dan potensi kericuhan, panitia menggelar pertemuan daring bersama Feby Indirani dan Dinas Arsip dan Perpustakaan pada Jumat sore pukul 17.00 WIB. Demi menjamin keselamatan fisik para peserta, pengisi acara, rekanan komunitas, serta kelangsungan agenda Pekan Sastra Bogor secara keseluruhan, panitia akhirnya mengambil langkah berat untuk meniadakan sesi diskusi tersebut.

Selain ancaman fisik, panitia mengungkapkan adanya stigmatisasi sepihak dari ormas yang melabeli penyelenggara sebagai kelompok “anarko”, serta adanya penargetan terhadap beberapa anggota tim.

“Kami mengutuk dan menolak praktik pencekalan yang memaksa kami mengambil keputusan ini di bawah tekanan,” tulis panitia dalam keterangannya. “Ketika sebuah ormas dapat membatalkan diskusi sastra hanya dengan ancaman, kebebasan berekspresi semua orang ikut terancam, bukan hanya kami.”

Pihak penyelenggara turut menyampaikan permohonan maaf kepada publik dan jejaring komunitas atas pembatalan sesi tersebut serta keterlambatan penerbitan kronologi lengkap ke ruang publik.

Sumber: Instagram Pekan Sastra Bogor

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *