Lewati ke konten
23 September 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Esai

Ketika Gaya Centil Naykilla Menjadi Bahasa Perempuan Generasi Digital

Gambar: Instagram Naykila

Ada sesuatu yang menarik dari fenomena Naykilla. Ia bukan hanya muncul sebagai penyanyi yang ikut meramaikan gelombang hipdut—percampuran hip-hop dan dangdut—tetapi juga hadir bersama sebuah estetika perempuan yang terasa sangat berbeda dari citra penyanyi perempuan Indonesia pada generasi sebelumnya.

Naykilla tampil dengan gaya yang playful, ekspresif, percaya diri, dan sengaja menonjolkan persona centil. Di panggung, media sosial, video musik, maupun berbagai penampilannya, “centil” tidak sekadar berarti manja atau genit. Ia menjadi bagian dari bahasa visual yang membentuk identitas seorang perempuan muda di ruang budaya populer.

Fenomena tersebut menarik jika dibaca melalui perspektif chronofeminism.

Secara sederhana, chronofeminism dapat digunakan untuk melihat bagaimana pengalaman dan ekspresi perempuan berubah mengikuti waktu, generasi, teknologi, dan perubahan struktur sosial. Femininitas tidak dianggap sebagai sesuatu yang tetap. Apa yang disebut “perempuan ideal”, “sopan”, “centil”, “berani”, atau bahkan “terlalu berlebihan” selalu memiliki sejarah.

Dengan perspektif ini, Naykilla bukan sekadar persoalan seorang penyanyi yang berpakaian atau bergaya tertentu. Ia menjadi sebuah gejala budaya: bagaimana generasi perempuan digital menciptakan kembali bahasa femininitas mereka sendiri.

Dari “perempuan ideal” menuju perempuan yang memainkan citranya sendiri

Dalam kebudayaan populer Indonesia, perempuan selama bertahun-tahun sering ditempatkan dalam dua kutub yang kontradiktif.

Di satu sisi, perempuan diharapkan menarik, feminin, lembut, dan menyenangkan untuk dilihat. Namun di sisi lain, ketika seorang perempuan terlalu sadar terhadap daya tarik dan ekspresinya sendiri, ia dapat segera diberi label negatif.

Di sinilah istilah seperti “centil” menjadi menarik.

“Centil” dapat digunakan sebagai pujian, tetapi juga sebagai mekanisme penghakiman. Seorang perempuan dapat dianggap menarik ketika ekspresi tersebut berada dalam batas yang diterima publik, tetapi dapat dianggap berlebihan ketika ia sendiri menentukan batas tersebut.

Naykilla memperlihatkan perubahan penting dalam persoalan itu.

Media bahkan menggambarkan perdebatan publik mengenai siapa yang pantas disebut sebagai penyanyi “centil” era sekarang. Sebagian netizen melihat gaya centil sebagai sesuatu yang lembut dan imut, sementara sebagian lain melihat Naykilla sebagai representasi gaya centil yang lebih berani, eksentrik, dan percaya diri.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa definisi femininitas tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh generasi sebelumnya.

Ia sedang dinegosiasikan ulang.

Dan negosiasi itu berlangsung di TikTok, Instagram, YouTube, panggung konser, komentar netizen, video pendek, meme, dan algoritma.

Chronofeminism: femininitas selalu memiliki “waktu”

Inilah titik penting dari chronofeminism.

Femininitas tidak berada di luar sejarah. Cara seorang perempuan bergerak, berpakaian, berbicara, menyanyi, menggoda, bercanda, atau menunjukkan kepercayaan dirinya selalu berhubungan dengan kondisi zamannya.

Perempuan generasi sebelumnya mungkin harus berhadapan dengan televisi, majalah, sensor industri hiburan, dan norma keluarga.

Perempuan generasi digital menghadapi sesuatu yang berbeda.

Mereka menghadapi algoritma.

Satu gerakan panggung dapat menjadi video pendek. Satu ekspresi wajah dapat menjadi meme. Satu potongan lagu dapat berubah menjadi tren. Sebuah gaya berpakaian dapat ditiru ribuan orang dalam hitungan hari.

Dengan demikian, femininitas pada era digital memiliki karakter yang lebih cepat berubah.

Apa yang kemarin dianggap berani dapat menjadi biasa hari ini.

Apa yang dahulu dianggap “tidak pantas” dapat menjadi estetika populer.

Dan apa yang hari ini dianggap sebagai simbol kebebasan berekspresi mungkin beberapa tahun kemudian kembali dipertanyakan oleh generasi berikutnya.

Naykilla berada tepat di tengah percepatan tersebut.

Hipdut dan kelahiran kembali estetika lokal

Fenomena Naykilla juga tidak dapat dilepaskan dari kebangkitan hipdut.

Pada akhir 2024, Naykilla bersama Tenxi dan Jemsii merilis “Garam dan Madu (Sakit Dadaku)”, yang kemudian menjadi fenomena besar di kalangan pendengar muda. Tercatat bahwa lagu tersebut mencapai puluhan juta penayangan dalam waktu relatif singkat dan menjadi sangat populer di kalangan Gen Z.

Yang menarik, hipdut bukanlah fenomena yang muncul dari ruang kosong.

Perpaduan hip-hop dengan dangdut telah memiliki sejarah panjang dalam musik Indonesia. Sebelum generasi Naykilla dan Tenxi, terdapat berbagai bentuk hip-hop dangdut dan eksperimen dangdut yang menggabungkan unsur musik populer kontemporer.

Karena itu, fenomena Naykilla lebih tepat dipahami sebagai generasi baru yang melakukan remiks terhadap warisan musik lama.

Di sinilah chronofeminism bertemu dengan kajian budaya.

Perubahan femininitas berjalan bersamaan dengan perubahan musik.

Perempuan muda tidak hanya mewarisi budaya; mereka mengambil bahan dari masa lalu lalu menggunakannya kembali dengan bahasa zaman mereka sendiri.

“Centil” sebagai performativitas

Dari perspektif kajian budaya feminis, kita juga dapat membaca “centil” sebagai sebuah performativity.

Artinya, identitas feminin tidak hanya sesuatu yang dimiliki seseorang, tetapi juga sesuatu yang terus-menerus diproduksi melalui tindakan, gaya, bahasa, pakaian, gestur, suara, dan interaksi sosial.

Dalam konteks Naykilla, persona centil menjadi semacam pertunjukan identitas. Ia dapat diperbesar di atas panggung. Ia dapat dikurangi dalam situasi lain. Ia dapat digunakan dalam video. Ia dapat dikembangkan menjadi bagian dari branding.

Dengan demikian, “centil” tidak harus dibaca secara sederhana sebagai sifat personal.

Ia juga merupakan bahasa budaya.

Ketika penggemar muda menirukan gaya tertentu, menggunakan ekspresi tertentu, atau menjadikan gaya seorang penyanyi sebagai referensi penampilan mereka, yang terjadi sebenarnya adalah proses reproduksi sekaligus transformasi identitas.

Mereka tidak hanya meniru Naykilla.

Mereka sedang menggunakan Naykilla sebagai bahan untuk menciptakan versi diri mereka sendiri.

Tetapi di sinilah persoalan kuasa muncul

Namun kajian feminis tidak berhenti pada perayaan kebebasan.

Ada pertanyaan yang lebih sulit:

Seberapa bebas seorang perempuan ketika ia harus terus-menerus mempertahankan citra yang disukai algoritma?

Ini adalah paradoks femininitas digital.

Seorang perempuan dapat memperoleh ruang lebih besar untuk menentukan citranya sendiri. Tetapi pada saat yang sama, citra tersebut dapat berubah menjadi komoditas.

Senyum menjadi konten.

Gestur menjadi konten.

Pakaian menjadi konten.

Kepribadian menjadi konten.

Bahkan kontroversi dapat menjadi konten.

Dengan kata lain, perempuan digital memperoleh ruang untuk berbicara tentang dirinya sendiri, tetapi ruang tersebut berada di dalam ekonomi perhatian.

Inilah salah satu perbedaan besar antara feminisme budaya era sebelumnya dengan feminisme dalam ekosistem platform.

Dulu pertanyaan utamanya mungkin:

“Siapa yang menentukan bagaimana perempuan harus tampil?”

Sekarang pertanyaannya bertambah:

“Siapa yang mendapatkan keuntungan ketika perempuan terus-menerus mempertunjukkan dirinya?”

Kontroversi sebagai bagian dari ekonomi perhatian

Naykilla juga berada dalam ekosistem yang tidak pernah benar-benar memisahkan popularitas dan kontroversi.

Fenomena hipdut sendiri pernah mengalami perdebatan mengenai siapa yang berhak disebut sebagai pencetus genre tersebut. Pada 2025, pernyataan Tenxi mengenai dirinya sebagai pencetus hipdut memicu respons publik karena sejarah hip-hop dangdut Indonesia jauh lebih panjang. Tenxi kemudian menjelaskan bahwa pernyataan tersebut dimaksudkan untuk memancing perhatian dan engagement.

Peristiwa semacam ini memperlihatkan karakter penting budaya pop digital: kontroversi tidak selalu berada di luar popularitas; kadang kontroversi justru menjadi bagian dari mekanisme yang menghasilkan popularitas.

Bagi kajian budaya feminis, hal ini menarik karena perempuan sering mengalami standar ganda.

Ketika perempuan terlalu diam, ia dianggap tidak menarik. Ketika terlalu aktif, ia dianggap mencari perhatian. Ketika tampil feminin, ia dapat dituduh menjual penampilan. Ketika menolak standar femininitas, ia dapat dianggap tidak menarik. Dengan demikian, perempuan berada dalam medan evaluasi yang hampir tidak pernah selesai.

Naykilla menunjukkan bagaimana generasi baru berusaha memainkan medan tersebut dengan cara mereka sendiri.

Dari “objek yang dilihat” menjadi “subjek yang memainkan tatapan”

Di sinilah pembacaan feminis menjadi lebih menarik.

Dalam teori male gaze, perempuan dalam budaya visual sering diposisikan sebagai objek yang dilihat. Kamera, industri hiburan, dan penonton menentukan bagaimana tubuh perempuan harus ditampilkan.

Namun dalam budaya digital, hubungan tersebut menjadi lebih rumit.

Perempuan dapat sekaligus menjadi objek dan produsen citranya sendiri.

Ia dapat memilih kamera.

Ia dapat membuat konten.

Ia dapat mengatur persona.

Ia dapat berkomunikasi langsung dengan penggemar.

Ia bahkan dapat memanfaatkan komentar publik untuk memperkuat identitasnya.

Karena itu, Naykilla dapat dibaca bukan hanya sebagai “perempuan yang dilihat”, tetapi juga sebagai perempuan yang secara aktif memainkan proses dilihat.

Tetapi sekali lagi, agensi tersebut tidak otomatis berarti pembebasan total.

Sebab kamera yang dikendalikan sendiri tetap beroperasi dalam sistem ekonomi perhatian.

Mengapa anak muda mengikutinya?

Popularitas gaya Naykilla juga memperlihatkan bahwa generasi muda tidak selalu mencari sesuatu yang sepenuhnya baru.

Mereka mencari sesuatu yang cukup familiar untuk dikenali tetapi cukup berbeda untuk terasa baru.

Hipdut memenuhi formula tersebut.

Dangdut membawa memori budaya Indonesia.

Hip-hop membawa estetika global.

Produksi elektronik membawa karakter digital.

Sementara persona Naykilla memberikan wajah perempuan muda yang sesuai dengan budaya media sosial.

Keberhasilan “Garam dan Madu” berkaitan dengan kemampuan hipdut menghadirkan sesuatu yang terdengar akrab sekaligus baru bagi generasi muda.

Naykilla kemudian menjadi bagian dari proses tersebut.

Ia bukan hanya menyanyikan genre baru.

Ia ikut memvisualisasikan seperti apa menjadi perempuan muda dalam budaya pop Indonesia setelah TikTok, Instagram, dan ekonomi kreator menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Chronofeminism dan masa depan “centil”

Jika dilihat dari perspektif chronofeminism, mungkin hal paling menarik dari Naykilla bukanlah apakah gaya centilnya benar atau salah.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Mengapa definisi “centil” berubah sekarang?

Jawabannya berkaitan dengan perubahan generasi.

Perempuan muda saat ini hidup dalam lingkungan budaya yang memungkinkan mereka melihat ribuan model femininitas sekaligus: K-pop, hip-hop, anime, dangdut, streetwear, influencer culture, global pop, dan budaya lokal.

Tidak ada lagi satu model feminin yang benar-benar dominan.

Femininitas menjadi semacam playlist.

Bisa dicampur.

Bisa di-remix.

Bisa diubah.

Bisa ditampilkan hari ini dan dibuang besok.

Dalam pengertian tersebut, Naykilla adalah bagian dari sebuah perubahan temporal yang lebih luas.

Ia memperlihatkan bahwa perempuan Indonesia generasi digital tidak hanya menerima definisi femininitas dari masa lalu. Mereka mengambil definisi tersebut, memelintirnya, membawanya ke panggung, memasukkannya ke dalam musik, kemudian mendistribusikannya melalui algoritma.

Bukan tentang Naykilla semata

Pada akhirnya, membaca Naykilla melalui chronofeminism bukan berarti menempatkannya sebagai simbol feminisme atau menyatakan bahwa gaya tertentu otomatis merupakan bentuk pembebasan perempuan.

Kesimpulan semacam itu justru terlalu sederhana.

Yang lebih menarik adalah melihat Naykilla sebagai artefak budaya dari sebuah perubahan zaman.

“Centil” yang dulu dapat menjadi label untuk mendisiplinkan perempuan kini dapat dipakai secara sadar sebagai identitas performatif.

Namun identitas tersebut sekaligus masuk ke dalam industri hiburan, ekonomi perhatian, algoritma, dan konsumsi budaya.

Di situlah paradoksnya.

Perempuan memperoleh lebih banyak kemampuan untuk menentukan bagaimana dirinya ingin dilihat, tetapi semakin banyak pula bagian dari dirinya yang masuk ke dalam sistem yang mengubah perhatian menjadi nilai ekonomi.

Naykilla dengan demikian bukan hanya cerita tentang seorang penyanyi hipdut.

Ia adalah cerita tentang perubahan waktu dalam cara perempuan Indonesia menampilkan dirinya.

Dari perempuan yang harus memenuhi standar femininitas menjadi perempuan yang ikut menciptakan standar tersebut.

Dari “centil” sebagai label yang diberikan dari luar menjadi “centil” sebagai persona yang dapat dimainkan.

Dan dari panggung musik menuju algoritma, femininitas kini bergerak dalam ruang yang jauh lebih cepat daripada sebelumnya.

Mungkin itulah makna paling menarik dari chronofeminism dalam membaca fenomena Naykilla:

setiap generasi perempuan tidak hanya mewarisi masa lalu; mereka juga menciptakan cara baru untuk menjadi perempuan pada zamannya sendiri.

AI: ChatGPT

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *