Lewati ke konten
29 September 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Ekonomi

Ketika Mesin Mulai Punya Ekonomi Sendiri

Selama ini kita membayangkan AI sebagai perangkat yang membantu manusia: kita memberi perintah, AI menghasilkan jawaban, lalu manusia melakukan tindakan. BlackRock melihat kemungkinan yang berbeda.

Bayangkan seorang agen AI diberi tugas:

“Carikan penerbangan terbaik, pesan hotel, bandingkan harga, dan selesaikan semuanya sesuai anggaran.”

Dalam skenario semacam itu, AI bukan lagi sekadar mesin pencari atau chatbot. Ia harus mencari informasi, berkomunikasi dengan agen lain, menggunakan API, memilih layanan, melakukan pembayaran, dan menyelesaikan transaksi.

Dengan kata lain, AI mulai bergerak dari information economy menuju action economy. Dan ketika mesin mulai bertindak, muncul pertanyaan yang sangat mendasar:

Bagaimana mesin membayar mesin lain?

Di sinilah gagasan Machine-Native Economy menjadi menarik.

BlackRock merumuskan hubungan itu dengan cukup elegan: AI adalah “machine-native intelligence”, sementara aset digital dapat menjadi “machine-native money.” Keduanya selama ini berkembang secara terpisah, tetapi agentic AI mulai menciptakan titik pertemuan antara kecerdasan dan transaksi ekonomi.

Dari chatbot menuju economic agent

Perubahan terbesar sebenarnya bukan pada blockchain. Perubahan terbesarnya adalah AI mulai mendapatkan agency ekonomi.

LLM generasi awal terutama menghasilkan teks. Tetapi agentic AI dirancang untuk menjalankan serangkaian tindakan: memanggil tool, membaca data eksternal, mengoordinasikan agen lain, membeli layanan, dan menjalankan pekerjaan sampai tujuan tercapai.

BlackRock menggunakan konsep agentic AI untuk menggambarkan sistem yang dapat merencanakan dan mengeksekusi tugas multilangkah dengan intervensi manusia yang terbatas.

Maka struktur ekonomi perlahan dapat berubah:

Ekonomi sekarang

Manusia → aplikasi → bank → merchant

menjadi sesuatu seperti:

Ekonomi agentik

Manusia → AI agent → API → AI agent → layanan → pembayaran → settlement

Dalam sistem seperti ini, transaksi kecil tetapi sangat banyak menjadi penting.

Satu agen mungkin membeli akses API hanya beberapa sen. Agen lain menyewa GPU selama beberapa detik. Agen berikutnya membeli dataset tertentu. Agen lainnya membayar model AI berdasarkan jumlah token yang digunakan.

Bagi manusia, transaksi semacam itu terlalu kecil untuk dilakukan satu per satu. Bagi mesin, justru itulah bentuk ekonomi yang alami.

Mengapa BlackRock membawa blockchain ke dalam cerita AI?

Ini bagian yang paling menarik.

BlackRock tidak mengatakan bahwa semua ekonomi AI harus menggunakan blockchain. Bahkan laporan tersebut secara eksplisit mengakui bahwa sistem pembayaran tradisional tetap penting untuk transaksi antara agen dan bisnis atau konsumen manusia.

Namun, blockchain mempunyai karakteristik yang menarik untuk ekonomi mesin:

24/7, programmable, machine-readable, dan dapat melakukan settlement secara otomatis.

Misalnya, sebuah AI agent membutuhkan data tertentu.

Ia menemukan API yang menyediakan data tersebut.

API mengatakan:

$0,002 per request.

Agent membayar.

API memberikan data.

Tidak perlu manusia membuat akun secara manual, memasukkan kartu kredit, menunggu invoice, atau melakukan rekonsiliasi pembayaran.

Inilah jenis transaksi yang menurut BlackRock dapat menjadi wilayah penting bagi machine-native payments.

Laporan tersebut secara khusus membahas protokol seperti x402, yang menggunakan HTTP 402 “Payment Required” untuk memungkinkan pembayaran yang dipicu mesin. BlackRock juga membahas MCP dan A2A sebagai lapisan yang memungkinkan agen menggunakan tools dan berkomunikasi satu sama lain.

Dengan demikian, kita mulai melihat sebuah stack baru:

MCP → akses data/tools

A2A → komunikasi antarmesin

x402/MPP/ACP → pembayaran

Blockchain → settlement

Stablecoin → uang transaksi

Ini mulai menyerupai sistem ekonomi untuk mesin.

Stablecoin menjadi sangat menarik dalam skenario ini

Di sinilah laporan BlackRock bersinggungan langsung dengan perkembangan industri crypto. BlackRock memperkirakan stablecoin akan menjadi salah satu instrumen utama untuk transaksi agentic karena nilainya relatif stabil dan dapat diprogram.

Menurut laporan tersebut, kapitalisasi pasar stablecoin telah melampaui US$300 miliar pada September 2026, sementara volume transaksi yang disesuaikan (adjusted volume) mencapai lebih dari US$11 triliun pada 2025. Meski volume jaringan perbankan tradisional seperti ACH di AS masih jauh lebih masif (mencapai US$93 triliun pada 2025), BlackRock menyoroti laju pertumbuhannya: volume stablecoin melesat dengan CAGR ~80% sepanjang 2020–2025, berbanding ~8,5% pada ACH. 

Tetapi ada nuansa penting.

Stablecoin bukan berarti blockchain otomatis menang.

Sistem seperti kartu, bank, ACH, dan sistem pembayaran tradisional masih mempunyai keunggulan besar ketika transaksi melibatkan manusia.

Karena itu, gambaran yang lebih realistis bukan:

blockchain menggantikan perbankan.

Melainkan:

sistem pembayaran tradisional dan programmable payments hidup berdampingan, tetapi mesin membutuhkan semakin banyak jalur pembayaran yang dapat mereka operasikan sendiri.

Dan kemudian muncul sesuatu yang jauh lebih besar: compute sebagai komoditas

Bagian paling konseptual dari laporan ini justru bukan stablecoin, melainkan compute. BlackRock melihat kapasitas komputasi sebagai sumber daya ekonomi yang perlahan memperoleh karakter seperti komoditas.

AI membutuhkan GPU. GPU membutuhkan data center. Data center membutuhkan listrik. Dan agentic AI membutuhkan akses compute secara dinamis. Bayangkan sebuah AI agent mengerjakan proyek analisis selama beberapa jam. Daripada sebuah perusahaan membeli kapasitas server secara tetap, agent dapat mencari:

  • GPU apa yang tersedia?
  • berapa harganya?
  • di wilayah mana?
  • berapa latency-nya?
  • chip generasi apa?
  • berapa lama kapasitas tersebut tersedia?
  • bagaimana reliability-nya?

Kemudian agent memilih kapasitas paling efisien dan membayarnya. BlackRock memperkirakan pendapatan gabungan AWS, Microsoft Intelligent Cloud dan Google Cloud dapat mencapai sekitar US$1,1 triliun pada 2030, dengan CAGR sekitar 29% dari level 2025.

Di sinilah Machine-Native Economy menjadi jauh lebih menarik daripada sekadar narasi “AI + crypto”.

Compute bisa diperlakukan seperti aset

Bayangkan listrik.

Kita sudah mempunyai pasar listrik.

Bayangkan minyak.

Kita mempunyai futures minyak.

Bayangkan bandwidth.

Kita mempunyai pasar dan kontrak untuk kapasitas jaringan.

BlackRock bertanya secara implisit:

Bagaimana kalau compute juga menjadi aset yang dapat diperdagangkan, dibiayai, dijadikan collateral dan di-hedge?

Sebuah kontrak tidak lagi sekadar mengatakan:

“Saya menyewa GPU.”

Tetapi bisa berkembang menjadi:

“Saya mempunyai hak atas X jumlah compute, dengan spesifikasi tertentu, di lokasi tertentu, selama periode tertentu.”

Hak tersebut kemudian dapat direpresentasikan secara digital. Di sinilah tokenisasi masuk. BlackRock bahkan membahas kemungkinan munculnya compute futures dan instrumen standar untuk klaim atas kapasitas komputasi. Ini menarik karena mengubah cara kita memahami GPU. GPU bukan hanya perangkat keras. Dalam ekonomi AI, GPU bisa menjadi:

kapital → kapasitas produksi → arus kas → kontrak → aset yang dapat dibiayai.

AI akhirnya bertemu dengan pasar modal

Di titik ini, kita dapat melihat mengapa laporan tersebut keluar dari wilayah teknologi dan masuk ke wilayah asset management.

BlackRock bukan hanya bertanya:

“Apa yang bisa dilakukan AI?”

Pertanyaan yang lebih penting bagi BlackRock adalah:

“Aset apa yang muncul ketika AI menjadi infrastruktur ekonomi?”

Jawabannya dalam laporan tersebut setidaknya ada tiga lapisan.

1. Uang mesin

Stablecoin dan aset digital untuk pembayaran.

2. Kepemilikan mesin

Tokenized assets dan RWA yang dapat dibaca serta dipindahkan oleh sistem otomatis.

3. Sumber daya mesin

Compute sebagai kapasitas ekonomi yang dapat dihargai, dikontrak, dibiayai dan mungkin ditokenisasi.

Ketiganya bertemu dalam agentic economy.

Hal yang paling radikal: mesin tidak lagi hanya mengonsumsi uang

Selama ini kita berbicara tentang digital economy. Tetapi manusia tetap menjadi pusatnya. Manusia membeli software. Manusia membayar cloud. Manusia memilih dataset. Manusia memesan server. Manusia mengirim uang. Dalam machine-native economy, sebagian keputusan tersebut dapat didelegasikan kepada mesin.

Sehingga muncul kemungkinan:

machine → machine

bukan hanya

human → machine.

Sebuah agent bisa memperoleh data dari agent lain. Agent kedua membeli compute dari provider. Provider membayar energi. Sistem lain melakukan verifikasi. Dan semuanya berlangsung otomatis.

Manusia mungkin hanya menetapkan:

tujuan, batasan, dan anggaran.

Setelah itu ekonomi berjalan sendiri.

Tetapi di sinilah laporan BlackRock perlu dibaca secara kritis

Ada satu kalimat penting dalam riset tersebut yang justru mencegah kita terlalu terbawa hype: aktivitas pembayaran agentik saat ini masih berada pada tahap awal dan likuiditas pasar compute masih terbatas.

Ini sangat penting.

Sebab ada perbedaan antara:

infrastruktur yang mungkin diperlukan

dan

infrastruktur yang benar-benar sudah digunakan dalam skala besar.

Agentic payment memang berkembang. Namun ekonomi yang sepenuhnya dijalankan oleh jutaan AI agent belum menjadi kenyataan. Bahkan BlackRock sendiri menggunakan bahasa seperti potential, could, may dan nascent ketika membicarakan masa depan tersebut.

Jadi laporan ini sebaiknya dibaca sebagai thesis struktural, bukan ramalan bahwa ekonomi mesin akan muncul besok pagi.

Persoalan yang lebih dalam: siapa yang mengontrol agent?

Ini justru pertanyaan sosial dan politik yang tidak terlalu banyak dibahas oleh laporan finansial semacam ini. Bayangkan sebuah AI agent mempunyai dompet. Ia dapat:

  • membeli data,
  • menyewa compute,
  • membayar API,
  • melakukan transaksi,
  • memesan layanan.

Lalu siapa yang sebenarnya memiliki dompet tersebut?

Siapa yang menentukan batas pengeluaran?

Siapa yang bertanggung jawab ketika agent salah melakukan transaksi?

Bagaimana jika dua agent melakukan kontrak yang tidak dipahami manusia?

Bagaimana jika sebuah agent tertipu oleh data palsu?

Bagaimana jika sebuah agent melakukan ribuan transaksi dalam beberapa detik?

Dengan kata lain, machine-native economy menciptakan persoalan machine-native governance. Dan ini mungkin menjadi bidang penelitian yang jauh lebih besar daripada sekadar crypto.

Ada pula persoalan epistemologi

Di sini saya melihat celah yang sangat menarik.

BlackRock cukup kuat membahas:

intelligence → transaction → settlement → compute.

Tetapi ada satu lapisan yang sangat menentukan:

knowledge.

Mesin dapat melakukan pembayaran dengan sempurna terhadap informasi yang salah.

Blockchain dapat memastikan:

transaksi A benar-benar membayar transaksi B.

Tetapi blockchain tidak otomatis memastikan:

informasi yang menyebabkan transaksi tersebut benar.

Ini persoalan besar. Sebuah agent bisa membeli dataset yang salah. Ia bisa memperoleh harga yang keliru. Ia bisa menerima rekomendasi dari agent lain yang halusinatif. Kemudian melakukan transaksi berdasarkan informasi tersebut. Settlement dapat benar, sementara keputusan tetap salah.

Maka machine-native economy membutuhkan sesuatu yang bisa kita sebut sebagai:

machine-verifiable knowledge.

Dan di sinilah persoalan AI, knowledge graph, provenance, data governance, cryptographic verification dan epistemologi mesin mulai bertemu.

Dari ekonomi digital menuju masyarakat mesin

Ada konsekuensi konseptual yang bahkan lebih besar. Jika mesin hanya menjadi alat produksi, kita masih berada dalam ekonomi manusia dengan teknologi baru.

Tetapi jika mesin:

berkomunikasi → memperoleh informasi → memiliki akses terhadap uang → membeli compute → memilih pemasok → melakukan kontrak → membayar agen lain → menghasilkan nilai ekonomi,

maka kita menghadapi sesuatu yang berbeda. Kita mulai memasuki machine society. Ini bukan berarti mesin menjadi manusia. Justru sebaliknya. Kita sedang membangun sebuah masyarakat di mana sebagian aktivitas sosial-ekonomi berlangsung di antara entitas yang bukan manusia.

Dalam masyarakat seperti itu, konsep klasik seperti:

kerja, uang, pasar, kepemilikan, transaksi, organisasi, kepercayaan, kontrak, kekuasaan

harus dipikirkan kembali.

Dan menariknya, laporan BlackRock memberikan semacam peta infrastruktur material untuk kemungkinan tersebut.

Yang sebenarnya sedang berubah

Kalau kita tarik garis besarnya, tesis BlackRock dapat diringkas seperti ini:

AI memberikan mesin kemampuan untuk memahami dan bertindak.

Blockchain memberikan mesin kemampuan untuk memiliki dan mentransaksikan aset secara programmable.

Stablecoin memberikan mesin medium pertukaran yang dapat digunakan secara otomatis.

Compute memberikan mesin sumber daya produksi.

Dan agentic AI menjadi mekanisme yang menghubungkan semuanya. Maka terbentuklah sebuah siklus:

Intelligence → Action → Payment → Compute → More Intelligence → More Action

Inilah inti dari Machine-Native Economy.

Tetapi mungkin ada satu tahap berikutnya

Pertanyaan terbesar yang muncul setelah membaca riset ini bukan:

“Crypto akan naik karena AI?”

Itu terlalu sederhana. Pertanyaan yang lebih menarik adalah:

Apa yang terjadi ketika aktivitas ekonomi tidak lagi terutama dilakukan oleh manusia yang menggunakan mesin, tetapi oleh mesin yang menggunakan mesin lain?

Pada tahap itu, uang tidak lagi hanya menjadi alat manusia. Pasar tidak lagi hanya tempat manusia bertemu. Kontrak tidak lagi selalu dibaca manusia. Compute tidak lagi sekadar infrastruktur IT. Dan perusahaan mungkin tidak lagi menjadi satu-satunya bentuk organisasi ekonomi yang relevan.

Kita mungkin mulai melihat sesuatu seperti ekonomi antarmesin—ekonomi yang berlangsung pada kecepatan API, dihitung dalam token, dibayar dalam pecahan stablecoin, dijalankan oleh agent, dan ditopang oleh compute.

BlackRock menyebutnya Machine-Native Economy.

Dan mungkin inilah bagian paling menarik dari riset tersebut: ia menunjukkan bahwa revolusi AI berikutnya bukan semata-mata tentang mesin yang semakin pintar, melainkan tentang mesin yang mulai mempunyai hubungan ekonomi dengan mesin lain.

Baca laporan riset asli: BlackRock Digital Assets Research — The Machine-Native Economy: How digital assets connect intelligence, commerce, and compute (September 2026). 

AI: ChatGPT, Gemini

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *