Die Linke Menang Bersejarah dalam Pemilihan Parlemen Berlin

Berlin memasuki babak politik baru setelah Die Linke, partai berhaluan kiri di Jerman, muncul sebagai kekuatan dengan perolehan suara terbesar dalam pemilihan Abgeordnetenhaus Berlin yang digelar pada 20 September 2026. Berdasarkan hasil sementara resmi, Die Linke memperoleh 25,7 persen suara, menempatkannya di posisi pertama dan untuk pertama kalinya menjadikan partai tersebut sebagai kekuatan politik terbesar di parlemen negara-kota Berlin.
Hasil tersebut sekaligus menjadi lonjakan besar dibandingkan pemilihan sebelumnya. Pada pemilu Berlin 2023, Die Linke memperoleh sekitar 12,2 persen suara. Dalam pemilihan kali ini, perolehan suaranya meningkat lebih dari dua kali lipat. Kenaikan tersebut menjadikan Die Linke sebagai partai dengan pertumbuhan suara terbesar di antara kekuatan politik utama Berlin.
Di posisi kedua terdapat CDU, partai konservatif yang sebelumnya memimpin pemerintahan Berlin, dengan 18,8 persen suara. AfD memperoleh 16,3 persen, disusul Bündnis 90/Die Grünen dengan 14,3 persen dan SPD dengan 12,1 persen. Tingkat partisipasi pemilih mencapai 74,2 persen, meningkat cukup tajam dibandingkan 62,9 persen pada pemilihan 2023.
Hasil tersebut bukan sekadar perubahan urutan partai. Ia juga mengubah konfigurasi politik di ibu kota Jerman, karena CDU kehilangan posisi sebagai kekuatan terbesar sementara SPD, yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu aktor utama politik Berlin, mengalami penurunan suara yang cukup besar.
Dari sekitar 12 persen menjadi 25,7 persen
Kemenangan Die Linke menjadi semakin mencolok jika dibandingkan dengan posisi partai tersebut tiga tahun sebelumnya. Pada 2023, Die Linke hanya memperoleh 12,2 persen suara. Pada 2026, angka tersebut meningkat menjadi 25,7 persen, atau bertambah sekitar 13,4 poin persentase.
Sebaliknya, CDU mengalami penurunan dari hasil sebelumnya hingga mencapai 18,8 persen. SPD memperoleh 12,1 persen, sementara Partai Hijau berada pada 14,3 persen. AfD juga mengalami kenaikan dan mencapai 16,3 persen. Dengan demikian, pemilihan Berlin menghasilkan perubahan yang cukup besar pada hampir seluruh peta kekuatan politik utama kota tersebut.
Perubahan itu terjadi ketika isu-isu domestik, terutama biaya hidup dan perumahan, menjadi bagian penting dalam perdebatan politik Berlin.
Berlin merupakan salah satu kota besar Eropa yang menghadapi tekanan serius pada sektor perumahan. Harga sewa, keterbatasan hunian terjangkau, dan hubungan antara pemerintah kota dengan perusahaan pemilik properti menjadi persoalan yang telah lama berada dalam agenda politik setempat.
Dalam kampanyenya, kandidat utama Die Linke, Elif Eralp, menempatkan persoalan perumahan sebagai salah satu isu utama. Reuters melaporkan bahwa Eralp juga kembali mengangkat gagasan pengambilalihan perusahaan-perusahaan perumahan swasta tertentu ke dalam kepemilikan publik. Gagasan tersebut berkaitan dengan referendum Berlin 2021 mengenai pengambilalihan perusahaan perumahan besar.
Namun, kemenangan elektoral tidak otomatis berarti seluruh agenda tersebut akan segera diterapkan. Kebijakan pengambilalihan perusahaan perumahan, misalnya, masih menghadapi persoalan hukum, pembiayaan, dan dukungan politik di parlemen.
Elif Eralp dan perubahan wajah Die Linke
Di balik kemenangan Die Linke terdapat sosok Elif Eralp, kandidat utama partai tersebut dalam pemilihan Berlin 2026.
Eralp merupakan politisi keturunan Turki dan berlatar belakang aktivisme hak asasi manusia. Kemenangan Die Linke membuka kemungkinan dirinya menjadi Wali Kota Eksekutif / Kepala Pemerintahan Senat Berlin dari partai tersebut. Reuters mencatat bahwa apabila proses pembentukan pemerintahan berujung pada pencalonannya, Eralp berpotensi menjadi wali kota Berlin pertama dari Die Linke setelah reunifikasi Jerman.
Konteks sejarah ini cukup penting. Die Linke merupakan salah satu partai yang memiliki akar sejarah dalam politik kiri Jerman Timur, termasuk melalui perkembangan partai penerus Partai Sosialis Jerman Timur. Setelah reunifikasi Jerman pada 1990, partai tersebut tetap bertahan dalam politik nasional maupun daerah, tetapi belum pernah menjadi kekuatan terbesar dalam pemilihan parlemen Berlin.
Karena itu, kemenangan 2026 mempunyai arti simbolis tersendiri dalam sejarah politik ibu kota Jerman.
Berlin tidak hanya bergerak ke kiri
Meski Die Linke menjadi pemenang dengan suara terbanyak, hasil pemilu juga memperlihatkan fenomena lain yang tidak kalah penting. AfD memperoleh 16,3 persen, naik dari 9,1 persen pada pemilihan sebelumnya. Sementara itu, CDU, SPD, dan Partai Hijau mengalami penurunan dibandingkan hasil 2023.
Dengan demikian, hasil pemilu Berlin tidak dapat dibaca semata-mata sebagai pergeseran suara menuju kiri. Pada saat yang sama terjadi peningkatan dukungan terhadap AfD, partai politik Jerman yang berada di sisi kanan spektrum politik.
Konfigurasi tersebut membuat parlemen Berlin menjadi lebih terfragmentasi. Die Linke memang berada di posisi pertama, tetapi memperoleh 25,7 persen suara—jauh dari mayoritas mutlak. Artinya, pembentukan pemerintahan tetap membutuhkan kerja sama dengan partai lain.
Di sinilah fase politik berikutnya dimulai.
Persoalan berikutnya: membentuk pemerintahan
Menjadi partai dengan suara terbesar tidak sama dengan otomatis dapat membentuk pemerintahan sendiri. Sistem politik Berlin membutuhkan dukungan mayoritas di Abgeordnetenhaus untuk menjalankan pemerintahan.
Karena itu, setelah pemilu, perhatian beralih dari pertanyaan siapa yang memperoleh suara terbanyak menjadi konfigurasi politik seperti apa yang dapat membentuk pemerintahan.
Hasil resmi sementara menunjukkan lima partai utama berhasil memperoleh kursi di parlemen: CDU, SPD, Grünen, Die Linke, dan AfD. Partai-partai lain (termasuk FDP dan BSW) gagal menembus ambang batas perwakilan 5 persen (Fünf-Prozent-Hürde), sehingga parlemen hanya diisi oleh lima kekuatan politik.
Situasi tersebut membuat negosiasi antarpartai menjadi bagian penting dari perkembangan politik Berlin setelah pemilu.
Die Linke harus berhadapan dengan kebutuhan untuk membangun dukungan politik terhadap program-programnya, sementara partai-partai lain harus menentukan posisi mereka terhadap kemungkinan pemerintahan yang dipimpin oleh partai kiri tersebut.
Berlin dan perubahan politik Jerman
Pemilu Berlin juga berlangsung dalam konteks perubahan politik yang lebih luas di Jerman. Pada pemilihan regional yang berlangsung pada periode yang sama, kekuatan politik tradisional menghadapi tekanan dari partai-partai yang berada di sisi kiri maupun kanan spektrum politik.
Karena Berlin merupakan ibu kota sekaligus salah satu pusat politik, ekonomi, kebudayaan, dan media Jerman, perubahan konfigurasi politik di kota tersebut memiliki perhatian nasional.
Namun, hasil Berlin tetap perlu dibaca dalam konteks lokal. Persoalan perumahan, transportasi, layanan publik, biaya hidup, pembangunan kota, serta hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat merupakan isu yang secara langsung memengaruhi pemilih Berlin.
Dengan demikian, kemenangan Die Linke dapat dilihat sebagai hasil dari dinamika politik Berlin sendiri, sekaligus bagian dari perubahan yang lebih luas dalam politik Jerman.
Sebuah babak baru
Pemilihan 20 September 2026 menghasilkan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam politik parlemen Berlin: Die Linke menjadi partai dengan suara terbesar.
Dengan 25,7 persen suara, partai tersebut berada di depan CDU yang memperoleh 18,8 persen. Tetapi kemenangan elektoral itu baru merupakan awal dari proses politik berikutnya. Die Linke masih harus menghadapi persoalan pembentukan pemerintahan, negosiasi dengan partai lain, dan penerjemahan program kampanye menjadi kebijakan konkret.
Pada akhirnya, pemilu Berlin 2026 memperlihatkan bahwa politik ibu kota Jerman sedang mengalami perubahan. Partai kiri memperoleh peningkatan dukungan yang besar, AfD juga memperluas perolehan suaranya, sementara beberapa partai tradisional mengalami penurunan.
Karena seluruh partai utama menerapkan kebijakan penolakan kerja sama (cordon sanitaire) terhadap AfD, dan perbedaan ideologis tajam antara Die Linke dengan CDU, jalur realistis Die Linke untuk membentuk pemerintahan mayoritas adalah membangkitkan kembali koalisi kiri-tengah (Rot-Rot-Grün / koalisi Die Linke, Partai Hijau, dan SPD).
Berlin kini memasuki fase politik baru. Pertanyaan berikutnya bukan lagi siapa yang memenangkan pemilu, melainkan bagaimana kekuatan politik yang baru terbentuk itu akan diterjemahkan menjadi pemerintahan dan kebijakan kota.
Sumber: Wahlen Berlin, Tagesschau
AI: ChatGPT, Gemini



Percakapan