Rocky Gerung: Dari Oposan Menuju Wantimpres

Peta politik nasional dikejutkan oleh pergeseran tak terduga di panggung kekuasaan. Rocky Gerung, filsuf dan akademisi yang selama bertahun-tahun menempati barisan paling depan sebagai pengkritik keras pemerintah, resmi memasuki lingkaran inti Istana Kepresidenan. Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Rocky sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 107/P Tahun 2026.
Langkah ini sontak memicu perdebatan luas di ruang publik. Sosok yang kerap memopulerkan diktum “akal sehat” dan tak segan menjuluki pejabat dengan sebutan “dungu” itu kini justru duduk di kursi penasihat formal kepala negara. Di tengah riuh kontroversi pergantian posisi tersebut, sorotan tajam masyarakat dengan cepat bergeser ke aspek hak keuangan dan fasilitas negara yang melekat pada jabatan barunya.
Hak Keuangan Rp76,5 Juta per Bulan dari Kas Negara
Penetapan kompensasi finansial jajaran penasihat presiden tersebut telah diatur secara resmi melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 15 Tahun 2026 tentang Hak Keuangan dan Fasilitas Lainnya bagi Ketua dan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Berdasarkan ketentuan Pasal 3 Perpres tersebut, setiap anggota Wantimpres menerima hak keuangan tetap sebesar Rp76.500.000 per bulan yang dibebankan langsung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui alokasi belanja lembaga kepresidenan di Kementerian Keuangan.
Besaran hak keuangan ini mencerminkan kenaikan signifikan bila dibandingkan regulasi sebelumnya (Perpres Nomor 15 Tahun 2007), di mana total penerimaan anggota Wantimpres saat itu berkisar di angka Rp17,5 juta per bulan.
Selain kompensasi bulanan sebesar Rp76,5 juta, para anggota Wantimpres memperoleh status keprotokolan dan fasilitas kerja yang disetarakan dengan jabatan Menteri Negara. Fasilitas ini mencakup:
- Biaya operasional penunjang tugas nasihat dan telaah kebijakan;
- Kendaraan dinas dan pengawalan keprotokolan;
- Jaminan asuransi kesehatan;
- Dukungan tim ahli dan staf sekretariat kelembagaan.
Dengan formasi Wantimpres era Presiden Prabowo yang kini diisi oleh 26 tokoh lintas latar belakang—setelah revisi undang-undang menghapus batas maksimal 9 orang—anggaran hak keuangan rutin untuk seluruh dewan penasihat ini diperkirakan menyentuh angka hampir Rp2 miliar per bulan, di luar biaya operasional sekretariat.
Dalih Rocky Gerung: “Bukan Menjadi Good Boy“
Menanggapi sorotan publik dan kecurigaan bahwa dirinya telah terkooptasi oleh kekuasaan dan kenyamanan fasilitas negara, Rocky Gerung menegaskan bahwa integritas kritisnya tidak akan luntur.
Seusai prosesi pelantikan di Istana, Rocky menyatakan bahwa keputusannya menerima pinangan presiden bukan berarti ia beralih peran menjadi pemandu sorak kebijakan pemerintah. Ia mengibaratkan langkahnya sekadar “pindah ruang” untuk menyodorkan argumen langsung ke meja pengambil keputusan tertinggi.
“Fungsi Wantimpres adalah memberikan pertimbangan, bukan menjadi pelaksana kebijakan teknis ataupun juru bicara kekuasaan. Sikap intelektual saya tetap berada pada posisi radical break—memutus kelaziman yang keliru dengan ketajaman argumen. Jangan bayangkan saya masuk ke dalam untuk menjadi good boy,” ujar Rocky di kompleks Istana Kepresidenan.
Menurutnya, Presiden Prabowo secara personal meminta masukan-masukan kritis tanpa sensor, terutama mengenai etika politik, demokrasi deliberatif, dan tata kelola hukum nasional.
Ujian Akal Sehat di Atas Karpet Merah
Kendati Rocky berkilah bahwa pisau analisisnya akan tetap tajam dari balik dinding Istana, publik dan pengamat politik memandang posisinya saat ini sebagai ujian etika terbesar dalam karier publik sang akademisi.
Bagi sebagian kalangan, kehadiran sosok seperti Rocky di jajaran Wantimpres dapat menjadi saluran penyeimbang agar presiden tidak hanya mendengar laporan manis dari para pembantu kabinet. Namun, bagi sebagian lainnya, penerimaan jabatan formal berfasilitas menteri dan gaji puluhan juta rupiah dari kas negara menandai runtuhnya benteng oposisi moral yang selama ini ia bangun.
Kini, publik menunggu pembuktian: apakah “akal sehat” yang didengungkan Rocky Gerung mampu mewarnai kebijakan negara dari dalam, ataukah ia perlahan larut dalam hembusan angin kenyamanan birokrasi Istana.
AI: Gemini



Percakapan