Lewati ke konten
4 October 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Buku

Ia Telah Nekat – Novel S. Goenawan

BAGIAN I: DI TEPI SUNGAI

“— Cintaku kepadamu memang teramat berat…”

Ucapan itu meluncur dari bibir Urip, seorang pemuda yang baru berusia sekitar dua puluh tiga tahun. Kendati ia hanyalah putra seorang tukang kayu—pekerjaan kasar yang lazimnya dipandang sebelah mata dan dianggap hina oleh kaum priyayi yang duduk bersandar di kursi-kursi gading kekuasaan—Urip bukanlah pemuda sembarangan. Selain paham adat istiadat dan menjunjung tinggi sopan santun, otaknya pun terang lagi tajam. Berkat ketajaman otaknya itu, sejak kelas pertama hingga kelas penghabisan di Europeesche Lagere School (ELS)—sekolah rendah Belanda—ia senantiasa bertengger di peringkat pertama.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah hingga menamatkannya, tiada seorang pun guru Belanda yang membencinya; sebaliknya, mereka semua menaruh simpati, kasih, dan sayang kepadanya. Demikian pula kawan-kawan sekolahnya, sangat mengasihi dan menghormatinya. Tatkala masih berstatus murid, Urip kerap memainkan peran laksana seorang guru. Di pekarangan sekolah, di bawah rindangnya pepohonan, ia sering menerangkan pelajaran ini dan itu kepada kawan-kawannya, baik kawan sekelas maupun adik-adik kelasnya yang datang bertanya perihal pelajaran.

Namun kini, Urip bukan lagi anak sekolah. Ia telah dewasa dan memiliki pekerjaan tetap sebagai juru tulis (klerk) di salah satu toko terkemuka di Kota B, dengan penghasilan seratus gulden (ƒ 100) setiap bulannya.

Kala itu kebetulan hari Minggu. Urip tidak masuk kerja karena tokonya tutup sebagaimana toko-toko lainnya. Pemuda itu tampak tengah duduk termenung di atas sebongkah batu kali besar di tepi sungai. Air sungai itu mengalir tenang membendung, memancarkan semburat kehijauan dari kejernihannya yang bening berkilau.

“— Aku memang teramat mencintaimu, tetapi…!”

Setelah mengulangi kalimat itu untuk kedua kalinya—ucapan yang dihembuskan dari rongga dada yang sesak dan hati yang luluh lunglai—Urip pun menelungkupkan wajahnya. Sorot matanya memancarkan kesedihan yang teramat perih, rasa sakit yang menyayat-nyayat sanubari seakan diiris sembilu. Namun, terdorong oleh tata krama yang membungkus sekujur kepribadiannya, ia enggan menampakkan kesedihan itu secara berlebihan. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sekadar untuk melipur lara dan menenangkan hatinya yang tengah dilanda prahara, sesekali sepasang matanya memandang lurus ke permukaan air yang jernih berkilauan hingga tampak deretan batu-batu kali di dasarnya; atau melayangkan pandang ke hamparan sawah membentang luas di hadapannya, tempat padi-padi masih hijau subur menghampar.

Kata-kata yang meluncur dari mulut pemuda yang amat dicintainya itu seketika membuat pelupuk mata Enden Mutiara berkaca-kaca. Gadis jelita berusia tujuh belas tahun itu—mantan kawan sekolah Urip sewaktu mereka belajar bersama di ELS—menatap sendu. Pendar kesedihan memancar dari kedua manik matanya, pertanda betapa hati Neng Mutiara teriris pedih, terharu sekaligus masygul menyaksikan pemuda yang sangat dihormati dan disayanginya itu tengah menanggung luka batin yang sedemikian dalam.

Enden Mutiara bukanlah gadis sembarangan. Ia bukan gadis kebanyakan, melainkan putri seorang bangsawan agung yang bersemayam di atas kursi gading kemuliaan—anak seorang priyayi terkemuka berpangkat luhur, kaum ménak pinduluan. Kendati berdarah biru dan terbiasa hidup berkecukupan di istana kabupaten, adat perangai dan budi pekertinya sungguh luhur. Ia sama sekali tidak menampakkan kecongkakan feodal; pantang baginya bersikap adigung-adiguna atau menyombongkan kebangsawanan keluarganya. Sebaliknya, putri bupati ini sangat senang bergaul dengan rakyat jelata; ia rendah hati, berbudi halus, dan gemar menolong kaum yang terlunta-lunta atau tertimpa kemalangan.

Karena itulah, sejak tadi Enden Mutiara hanya termangu membisu seraya mendekapkan kedua tangannya di dada. Sorot matanya menatap ke bawah, tampak tengah menimbang perkara yang teramat berat. Dari air mukanya yang teduh, terpancar rasa iba dan kasih sayang yang tiada taranya kepada Urip.

“— Kang Urip…” bisik Enden Mutiara. Suaranya halus bergetar, nyaris tenggelam oleh gemericik air sungai yang mengalir perlahan. “— Mengapa Kang Urip berkata demikian? Apakah Kakang menaruh benci, ataukah terselip rasa ragu di dalam hati Kakang terhadap diriku?”

Urip mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya yang semula tertunduk kini menatap lekat wajah Enden Mutiara yang elok lagi bersih berseri. Di lubuk hati Urip, bergejolak sukacita yang bersanding dengan tangis batin; sebab ia sadar sepenuhnya bahwa dunianya dan dunia gadis di hadapannya dipisahkan oleh jurang pemisah yang teramat dalam: jurang pangkat, derajat, dan kasta sosial.

“— Bukan Kakang ragu, Nyai…” sahut Urip dengan suara tercekat parau. “— Namun Nyai tentu telah mafhum, siapakah Kakang dan siapakah diri Nyai. Kakang ini hanyalah anak seorang tukang kayu, orang papa yang tiada berharta dan tiada berderajat. Sedangkan Nyai adalah putri ménak, darah bangsawan luhur yang dipuji dan dihormati oleh segenap khalayak. Manalah pantas sebatang tonggak kayu lapuk bersanding sejajar dengan gading gemerlap?”

Mendengar penuturan Urip, hati Enden Mutiara luluh seketika. Kedua pelupuk matanya kian basah oleh air mata jernih yang tak kuasa lagi dibendungnya, hingga menetes membasahi pipinya yang pualam.

“— Kang Urip, mengapa Kakang masih membeda-bedakan derajat sesama manusia?” ucap Enden Mutiara seraya menyeka air matanya dengan saputangan. “— Demi Allah, seumur hidupku aku tak pernah memandang manusia dari pangkat ataupun kekayaannya! Bagiku, Kang Urip adalah pria terbaik yang pernah kukenal—pria yang telah melimpahkan sekian banyak kebahagiaan dan bimbingan ilmu tatkala kita masih bersama di bangku sekolah. Mengapa kini, setelah kita sama-sama beranjak dewasa, Kakang justru menampakkan keraguan yang meremukkan hati seperti ini?”

Urip menghela napas panjang. Pandangannya kembali terlempar ke hamparan sawah hijau yang membentang di kejauhan, seolah hendak menimba ketabahan dari bentang alam tersebut.

“— Bukan begitu, Nyai…” tutur Urip lirih. “— Kakang tahu betapa tulus dan luhurnya hati nurani Nyai. Namun Nyai pun harus ingat, bahwa di kolong langit ini kita tidak hidup berdua belaka. Ada adat kebiasaan, ada orang tua, dan ada tatapan beribu-ribu mata masyarakat yang akan senantiasa mengawasi serta menghakimi kita. Apakah gerangan yang akan dikatakan oleh Kanjeng Rama Bupati bila mengetahui bahwa putri kesayangannya menjalin kasih dengan seorang jelata yang melarat seperti Kakang? Tak pelak lagi, hal itu akan menorehkan aib dan cela yang mencoreng kehormatan keluarga besar Nyai. Itulah yang memberatkan hati Kakang, Nyai… teramat berat, hingga rasa hati ini laksana disayat-sayat sembilu.”

Enden Mutiara membisu seribu bahasa. Ia tak sanggup menyangkal kata-kata Urip, sebab di dalam lubuk sanubarinya sendiri ia mengakui bahwa apa yang diungkapkan pemuda itu adalah kenyataan pahit yang menghadang di depan mata. Suasana di tepi sungai itu seketika hening mencekam; hanya desau angin sepoi-sepoi yang membelai dedaunan rimbun, seakan turut meratapi kepedihan dua anak manusia yang cintanya terhalang oleh tembok kasta feodal.

Namun mendadak, Enden Mutiara menegakkan kepalanya. Manik matanya menyala memancarkan tekad yang membara:

“— Apakah Kakang mengira segala yang kuucapkan tadi hanyalah pemanis bibir belaka? Dengarkan janjiku, Kang Urip! Dengarkan dan saksikanlah… Hari ini aku menjatuhkan sumpah setiaku kepadamu! Aku bersumpah akan mengikutimu dan setia kepadamu seumur hidupku…!”

BAGIAN II: DI DALAM PENDOPO KABUPATEN

Malam itu, jarum jam dinding menunjukkan pukul delapan tepat.

Raden Adipati Ariya Argakoesoemah, Bupati Afdeeling B—ayahanda Enden Mutiara—tengah duduk bersantai di teras serambi belakang kabupaten. Di sisi kanannya, terpancang sebuah meja marmer kecil berkaki ramping. Di atas meja tersebut telah terhidang wadah cerutu dari perak murni berukirkan burung yang tengah terbang disiram fajar merekah di atas pegunungan tepi laut. Seluruh ornamen itu berkilau keemasan, lengkap dengan kotak pemantik api dan asbak abunya. Tidak jauh dari tempat duduk sang Bupati, tampak Raden Ayu Bupati—istri sang bupati—tengah duduk anggun seraya memasang telinga dengan saksama, sebab suaminya tengah mengajaknya membicarakan urusan penting keluarga.

“— Bagaimana pertimbangan Ibu sekarang perihal Mutiara? Apakah sebaiknya kita pasrahkan saja anak itu kepada si Prawira untuk dijadikan jodohnya?” tanya Tuan Regent kepada istrinya seraya memanggil ‘Ibu’, sebutan penghormatan sehari-hari yang lazim digunakan sang Bupati kepada istrinya.

Raden Ayu Bupati tidak tergesa-gesa menjawab. Ia terdiam sejenak seraya menimbang-nimbang dalam hati, mengukur untung rugi dan setuju tidaknya perjodohan tersebut.

“— Bagaimana, apakah Ibu mufakat?” desak suaminya, berusaha memancing ketegasan sang istri.

“— Dijodohkan dengan si Prawira…? Duh, bagaimana ya rasanya… Bukankah hal itu akan menjatuhkan martabat keluarga kita? Masakan seorang Bupati harus berbesanan dengan orang yang jabatannya cuma sekelas Camat? Terlebih lagi, si Prawira itu anak si Surawidjaya… cucu dari aki Merta, pensiunan mantri gudang kopi kolonial! Gelar Raden bukan, Aom pun bukan, titelnya cuma mentok di Mas! Duh, sayang sekali anak gadis kita bila sampai bersuamikan orang yang bukan keturunan darah biru tulen!”

Ucapan itu membungkam suasana. Raden Ayu terdiam kembali. Harga dirinya sebagai keluarga bangsawan utama merasa terhina bila putrinya disunting oleh anak seorang camat biasa yang silsilah kebangsawatannya tipis.

“— Saya pun berpikiran demikian,” timpal sang Bupati. “— Namun ada satu hal yang menjadi pertimbangan saya: ia lulusan HBS (Hogere Burgerschool), dan lagi pula ibu-bapaknya orang berharta!”

“— Perkara itu saya pun sudah tahu,” sergah sang istri. “— Namun apa gunanya harta mereka bagi kita? Mutiara sama sekali tidak butuh menumpang hidup dari uang mertuanya. Harta kekayaan keluarga kita pun takkan habis dimakan tujuh turunan bila hanya dinikmati oleh si Nyai berdua hingga ke anak-cucu seumur hidupnya!”

Perbincangan suami-istri itu terhenti sejenak, tenggelam dalam keheningan malam. Tuan Regent kembali mengisap cerutunya dalam-dalam, menatap asap putih yang mengepul melayang perlahan ke udara. Sementara itu, Raden Ayu Bupati menunduk seraya meraih wadah sirih dari emas murni yang terletak tak jauh dari kursinya. Jemarinya yang lentik meracik daun sirih dan lima-enam butir kapulaga, lalu meletakkannya di telapak tangan sembari memilih lembaran sirih terbaik.

Tepat pada saat itu, tiba-tiba muncullah Enden Mutiara. Gadis yang sebelumnya berada di kamar belajarnya itu melangkah anggun menghampiri, lalu duduk bersimpuh takzim di samping ibundanya.

Gadis remaja itu adalah putri bungsu kesayangan Tuan Regent. Tubuhnya semampai langsing, kulitnya kuning langsat nyaris seputih kapas. Sepasang matanya bulat bercahaya tajam, rambutnya hitam legam bergelombang, alisnya tebal terlukis elok. Giginya putih bersih berjejer rapi bak mutiara, berpadu manis dengan bibirnya yang tipis merekah berona merah delima. Kendati masyhur disanjung sebagai putri bangsawan yang teramat jelita, malam itu rona manis di wajah Enden Mutiara tampak redup; cahaya di wajahnya layu laksana bunga yang kehausan, redup bagaikan bulan kesiangan. Batinnya tengah tertawan seutuhnya oleh bayangan Urip.

Ia duduk menunduk di samping ibunya, namun pikirannya mengembara jauh. Bayang-bayang wajah Urip senantiasa terlukis di pelupuk matanya, dan gaung suara pemuda itu terus berdenting di telinganya tanpa jeda.

Hampir setengah jam lamanya mereka bertiga duduk membisu.

“— Mutiara, kemarin sore engkau pergi ke mana? Berangkat pukul tiga dan baru pulang pukul lima sore?” tanya ibunya dengan nada suara yang lembut penuh selidik.

“— Ananda pergi ke Cileunci melihat situ (danau), Ibu,” jawab Mutiara lirih.

“— Bersama siapa?” tanya sang ayah menimpali.

“— Sendirian.”

“— Apa, sendirian? Bukankah engkau naik mobil kabupaten? Betul bersama Amat, si sopir?”

“— Leres, Rama. Bersama Mang Amat.”

“— Syukurlah kalau bersama dia…” gumam sang Bupati lega.

Setelah terdiam beberapa jenak, Tuan Regent memandang putrinya dengan tatapan sungguh-sungguh. Ia merasa saat inilah waktu yang paling tepat untuk mengungkit kembali perkara masa depan sang putri:

“— Mutiara, dengarkanlah! Ada hal penting yang hendak Rama bicarakan kepadamu, sebab Rama menimbang engkau kini sudah dewasa. Dalam dua bulan terakhir ini, selain lamaran dari putra Regent T, Rama telah menerima tiga pucuk surat lamaran lagi. Pertama, dari uakmu, Patih S; kedua, dari Wedana Kotakulon; dan ketiga, dari Camat Gununggedé. Maksud ketiga surat itu sama: melamar dirimu untuk putra-putra mereka. Perkara perjodohan adalah urusan yang teramat penting dan harus dipikirkan sematang-matangnya. Dan malam ini, kita telah menemukan jalan terbaik.”

Wajah Tuan Regent berseri-seri penuh kepuasan. Ia dan istrinya telah bermufakat bahwa lamaran yang paling luhur derajat dan hartanyalah yang akan diterima.

“— Begini, Mutiara. Semula Rama dan Ibu sempat mempertimbangkan si Prawira, putra Camat itu. Namun setelah ditimbang ulang, manalah pantas kita memilih orang yang kurang derajatnya? Kebetulan sekali, baru saja tiba surat dari uakmu, Patih S, yang sangat berharap agar engkau dijodohkan dengan putranya: Raden Mas Sasmita, yang kini menjabat sebagai Adjunct-Landmeter (Asisten Pengukur Tanah Pemerintah Kolonial). Pemuda itu berpendidikan tinggi, luhur budi, dan keturunan bangsawan utama!”

Mendengar penuturan ayahandanya, seketika petir serasa menyambar dada Enden Mutiara. Kendati ia tetap duduk bersimpuh menunduk, batinnya remuk redam laksana dihantam godam di tengah malam gelap gulita. Seluruh cahaya kebahagiaan yang baru saja merekah dari sumpah setianya bersama Urip di tepi sungai tadi siang seketika layu dan musnah. Ia terdiam kaku, hanya mampu menarik napas panjang seraya menahan air mata yang mendesak keluar dari pelupuk matanya.

“— Mengapa engkau diam saja, Mut?” tegur ibundanya seraya membelai lembut pundak putrinya. “— Apakah engkau tidak setuju dijodohkan dengan Raden Mas Sasmita? Bukankah itu sebuah kehormatan dan kebahagiaan yang tiada taranya bagi keluarga besar kita?”

Mutiara mengangkat kepalanya perlahan. Air mukanya basah bersimbah kesedihan yang mendalam.

“— Rama… Ibu…” bisik Enden Mutiara dengan suara parau yang bergetar hebat. “— Ampuni ananda… Bukannya ananda tidak menaruh hormat kepada kehendak orang tua, namun perihal jodoh ini… ananda telah memiliki pilihan di dalam lubuk hati sendiri…”

“— Ananda telah menambatkan hati, dan janji ananda telah terikat erat kepada pria lain!”

BAGIAN III: KEMURKAAN SANG BUPATI

Mendengar jawaban yang meluncur dari bibir putrinya, paras Tuan Regent seketika berubah kelam. Wajahnya yang semula berseri-seri mendadak merah padam menahan amarah dan rasa tersinggung yang luar biasa. Demikian pula Raden Ayu Bupati, ia sampai tersentak bangkit dari tempat duduknya, membelalakkan mata seolah tak percaya pada pendengarannya sendiri.

“— Apa katamu, Mutiara?!” bentak sang ayah. Suaranya tak lagi berwibawa lembut, melainkan menggelegar berat dan garang. “— Siapa orang lancang yang berani-berani mengikat janji dengan putri seorang Bupati?! Dan sejak kapan engkau berani bertingkah kurang ajar seperti ini, berani menentukan jodoh sendiri di belakang punggung orang tuamu?!”

Enden Mutiara kian menunduk dalam-dalam. Kedua belah tangannya gemetar menahan getaran batin, namun dari sorot matanya yang berkaca-kaca, terpancar tekad membaja—tekad yang telah nekat untuk membela cintanya sampai titik darah penghabisan.

“— Ampuni ananda, Rama… Ampuni ananda, Ibu…” isak Mutiara tersendat-sendat. “— Pemuda itu bukanlah orang asing. Ia adalah Kang Urip, mantan kawan sekolah ananda dahulu di ELS. Ia pemuda yang luhur budi pekertinya, otaknya cemerlang, dan memiliki ketulusan hati yang tiada tandingannya…”

“— Urip?!” jerit Raden Ayu Bupati memotong dengan suara melengking histeris. “— Urip anak tukang kayu kere itu?! Yang sekarang cuma jadi babu klerk toko?! Gusti Nu Agung, Mutiara! Apakah mata hatimu sudah buta total hingga kau sudi memilih anak jelata miskin untuk dijadikan pendamping hidupmu?!”

Suasana di teras pendopo kabupaten mendadak dingin membeku laksana kutub. Hawa amarah mendidih menyesakkan dada. Tuan Regent melompat berdiri dari kursi marmernya; tangannya menghentak meja perak hingga cangkir-cangkir berdenting keras.

“— Mutiara! Pasang telingamu baik-baik!” gertak sang ayah seraya mengentakkan kakinya ke lantai. “— Rama sekali-kali tidak akan pernah merestui, dan pantang bagi Rama mengabulkan kehendakmu yang gila itu! Betapa pun nekatnya hatimu, janjimu dengan si Urip itu hanyalah bangkai janji yang tak bernilai secuil pun! Pikirkan martabat keluarga kita! Pikirkan aib dan malu yang akan mencoreng kening Rama bila khalayak ramai tahu bahwa putri seorang Regent bersuamikan anak tukang kayu! Putusan Rama sudah bulat: pertunanganmu dengan Raden Mas Sasmita akan tetap dilangsungkan, peduli setan engkau setuju atau tidak!”

Enden Mutiara tidak menyahut sepatah kata pun. Dengan langkah gontai, ia bangkit berdiri, meninggalkan kedua orang tuanya, lalu bergegas masuk ke dalam kamar belajarnya seraya menangis tersedu-sedu. Di dalam bilik sunyinya, wajah Urip terus terbayang-bayang di pelupuk mata, dan ikrar setia yang mereka patri di tepi sungai kian mengkristal menjadi batu karang. Tekadnya sudah bulat: ia telah nekat! Apa pun yang akan dilakukan orang tuanya, ia akan menempuh jalannya sendiri.

Malam itu menjadi malam yang teramat panjang dan sarat duka bagi dua sejoli yang cintanya terhalang oleh tingginya tembok feodalisme kasta.

BAGIAN IV: PELARIAN TENGAH MALAM

Sekitar pukul sebelas malam, tatkala seisi pendopo kabupaten telah sunyi senyap dan seluruh penghuninya terlelap pulas laksana orang mati, Enden Mutiara perlahan-lahan membuka jendela kamarnya. Hawa malam yang dingin menusuk berhembus masuk, membawa desau angin dan derik jangkrik dari kejauhan. Di luar, pekat gulita menelan pekarangan karena sang rembulan tertutup rapat oleh mega mendung yang tebal.

Mutiara telah menyiapkan sebuah bungkusan kain kecil berisi beberapa helai pakaian dan sedikit perhiasan miliknya. Dengan langkah yang teramat hati-hati agar tidak menimbulkan derit pada lantai papan, ia melompat turun dari jendela menuju pekarangan belakang. Jantungnya berdegup kencang dilanda kecemasan, namun tekadnya tak tergoyahkan lagi. Ia menyusuri dinding tembok pekarangan dengan mengendap-endap, lalu menyelinap keluar melewati pintu gerbang belakang yang kebetulan lupa dikunci oleh para bujang kabupaten.

Tujuannya hanya satu: rumah kontrakan Urip! Ia telah berikrar di dalam hati, betapa pun tingginya jurang pemisah derajat, ia rela menyerahkan dirinya seutuhnya untuk hidup berbakti mendampingi pria yang dicintainya.

Sementara itu, di sebuah rumah bambu sederhana di pinggiran kota, Urip tengah duduk termenung di atas kursi anyaman. Pelita minyak tanah di atas meja memancarkan cahaya kekuningan yang temaram berkelip-kelip. Pemuda itu tak mampu memejamkan mata; pikirannya melayang memikirkan pertemuannya tadi siang di tepi sungai. Rasa cinta yang mendalam kepada Enden Mutiara bercampur aduk dengan kepedihan menyadari kemiskinan dirinya yang papa.

Tiba-tiba, di tengah kesunyian malam, terdengar ketukan pelan di daun pintu:

Tok… tok… tok…

Urip terperanjat dari duduknya. Jantungnya berdebar kencang. Siapakah gerangan yang mengetuk pintu di tengah malam buta seperti ini? Dengan waspada, ia melangkah mendekati pintu lalu membukanya perlahan.

Begitu pintu terkuak, Urip nyaris tak mempercayai pandangan matanya sendiri. Di hadapannya, berdiri seorang gadis semampai berwajah pucat pasi bersimbah air mata: Enden Mutiara!

“— Nyai?! Mengapa Nyai datang malam-malam begini? Bersama siapa?” seru Urip tercekat, suaranya bergetar hebat karena kaget yang luar biasa.

Enden Mutiara tak kuasa menjawab dengan kata-kata. Ia seketika menubruk ke dalam dekapan Urip seraya menangis tersedu-sedu, menumpahkan segala kepedihan, ketakutan, dan kegundahan batin yang tak sanggup lagi dipikulnya sendirian.

“— Kang Urip… ananda melarikan diri dari kabupaten…” isak Mutiara di dada Urip. “— Rama dan Ibu memaksaku harus menikah dengan Raden Mas Sasmita. Aku tidak mau, Kang… Aku takkan sanggup hidup bila harus bersuamikan orang lain! Malam ini kupasrahkan jiwa dan ragaku seutuhnya; aku ingin ikut dan mengabdi kepadamu seumur hidupku!”

Mendengar penuturan itu, hati Urip terhantam rasa cemas dan gentar yang tiada taranya. Ia tahu persis bahwa peristiwa ini akan berbuntut panjang: memicu kemurkaan dahsyat dari Tuan Regent dan ancaman hukuman penjara bagi dirinya karena dianggap menculik anak bupati. Namun menyaksikan ketulusan cinta dan ketetapan hati gadis bangsawan yang teramat dipujanya itu, Urip tak kuasa lagi menolak.

“— Nyai… mengapa Nyai berbuat senekat ini?” bisik Urip lembut seraya membelai helai rambut Mutiara dengan penuh kasih. “— Namun karena Nyai telah datang dan menyerahkan tekadmu kepadaku, Kakang bersumpah demi langit dan bumi: Kakang takkan pernah meninggalkanmu, betapa pun besarnya marabahaya yang menghadang di hadapan kita! Kesusahanmu telah menjadi kesusahanku, dan raga kita tak boleh dipisahkan lagi oleh perbedaan derajat dan celaan khalayak!”

BAGIAN V: PENGEJARAN DAN PERLINDUNGAN

Keesokan paginya, berita kaburnya Enden Mutiara dari istana kabupaten menggemparkan seantero Kota B. Tuan Regent murka bukan kepalang tatkala mendapati jendela kamar dan pintu gerbang belakang terbuka menganga, sementara putri kesayangannya telah raib tanpa jejak. Seluruh bujang, pelayan, dan sopir Amat diinterogasi habis-habisan dengan hardikan garang, namun tiada seorang pun yang tahu ke mana sang putri melarikan diri.

“— Geledah setiap jengkal sudut kota ini!” titah Raden Adipati Ariya Argakoesoemah dengan suara menggelegar yang menggetarkan seluruh keluarga kabupaten. “— Kerahkan seluruh aparat kepolisian dan para mantri pelacak untuk memburu Mutiara sampai dapat! Jika terbukti ia dilarikan oleh orang lain, tangkap bajingan itu dan seret ke hadapanku hidup-hidup!”

Sementara itu, tatkala fajar baru menyingsing, Urip dan Enden Mutiara telah duduk berdampingan di dalam gerbong kereta api pagi yang meluncur menuju arah timur. Keduanya telah bertekad bulat meninggalkan segala kemelut di Kota B demi merengkuh kemerdekaan hidup dan menjaga kesucian ikrar cinta mereka. Di dalam kereta yang melaju perlahan membelah padang ilalang dan perbukitan, Mutiara menyandarkan kepalanya di bahu Urip dengan hati yang tenang, kendati diselimuti rasa gamang memikirkan masa depan.

“— Kita hendak turun di mana, Kang?” tanya Enden Mutiara berbisik lembut.

“— Kita akan menuju ke rumah paman Kakang di sebuah desa terpencil di kaki Gunung S,” sahut Urip menenangkan hati kekasihnya. “— Di sana suasananya sangat sunyi dan tenteram, tiada polisi kabupaten yang akan mengenali kita. Di sanalah kita akan memulai lembaran hidup baru dari awal…”

Perjalanan kereta api yang membawa kedua sejoli itu memakan waktu hampir enam jam lamanya. Setibanya di stasiun kecil yang dituju, mereka turun dengan hati-hati lalu menyusuri jalan desa yang berdebu dan belum diaspal, membelah rimbunnya pepohonan belantara.

Paman Urip, yakni Ki Sastra—seorang petani tua bersahaja yang terkenal luhur budi pekertinya dan rendah hati—terperanjat bukan main menerima kedatangan keponakannya, terlebih tatkala menatap sosok gadis jelita semampai berpakaian halus dan berperangai priyayi luhur yang dibawanya.

“— Astagfirullahaladzim, Urip! Siapakah gadis bangsawan yang kaubawa ini?” seru Ki Sastra seraya mengucek matanya seolah tak percaya. “— Mengapa engkau berani membawa putri ménak agung ke gubuk pamanmu yang reot dan melarat seperti ini?”

Setelah mereka duduk bersila di atas amparan tikar pandan di teras gubuk, Urip menceritakan secara jujur dan terbuka segala prahara yang telah terjadi di Kota B: mulai dari ikrar cinta mereka di tepi sungai, penolakan perjodohan dengan Raden Mas Sasmita, hingga kenekatan Enden Mutiara kabur dari istana kabupaten.

Ki Sastra terpekur lama mendengar penuturan keponakannya. Tangannya yang keriput mengelus jenggotnya yang telah memutih seraya menatap Enden Mutiara yang duduk menunduk dengan paras penuh kepasrahan dan keikhlasan.

“— Gusti Nu Agung… mengapa kalian berdua berbuat senekat ini?” gumam Ki Sastra dengan suara bergetar cemas. “— Ini bukan perkara remeh, Urip. Tuan Regent adalah pembesar negeri yang memiliki kekuasaan mutlak. Betapa murkanya beliau bila mengetahui putrinya bersembunyi di gubuk pamanmu ini… Namun betapa pun pahitnya risiko yang harus dipikul, karena kalian berdua telah mematri tekad yang sedemikian kokoh, pantang bagi paman menolak anak manusia yang datang memohon suaka keselamatan. Tinggallah di sini untuk sementara waktu, sembari kita mencari jalan keluar agar luput dari pelacakan polisi.”

Seminggu lamanya Urip dan Enden Mutiara mengecap kedamaian di gubuk Ki Sastra. Kendati hidup di tengah kemelaratan desa yang teramat bersahaja, Mutiara merasakan kebahagiaan sejati yang belum pernah ia reguk seumur hidupnya di dalam istana kabupaten; sebab ia dapat hidup rukun berdampingan bersama pria pujaannya tanpa terhalang sekat kasta feodal. Gadis bangsawan itu tak segan-segan mengotori jemarinya yang halus untuk membantu pekerjaan dapur dan menolong keluarga Ki Sastra dengan hati yang riang gembira.

BAGIAN VI: PENGGEREBEKAN DAN KETEGASAN CINTA

Namun, kedamaian surgawi itu tidak berlangsung lama.

Pada suatu Selasa pagi, tatkala mentari baru saja merekah di punggung bukit, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki kuda dan sepatu lars. Tiga orang opsir polisi kabupaten bersama seorang mantri pelacak utusan Tuan Regent telah mengepung gubuk tersebut! Aparat kepolisian berhasil melacak jejak perjalanan kereta api hingga ke stasiun kecil, dan mendapatkan keterangan dari warga desa bahwa ada seorang gadis kota yang jelita tengah menumpang di rumah Ki Sastra.

Brakk! Pintu depan terbuka keras.

“— Siapa yang bernama Urip dan Ki Sastra di sini?!” bentak salah seorang polisi dengan suara berat dan garang seraya melangkah masuk ke serambi.

Urip dan Ki Sastra yang tengah duduk seketika terperanjat bangkit. Demikian pula Enden Mutiara yang sedang berada di dapur belakang; wajahnya seketika pucat pasi menyadari bahwa utusan ayahandanya telah tiba dan mengepung tempat persembunyian mereka.

“— Saya Urip…” sahut pemuda itu dengan tegap dan tenang, kendati dadanya bergemuruh cemas menyadari takdir yang ditakutkannya kini telah berdiri tegak di hadapannya.

“— Engkau ditangkap atas tuduhan melarikan putri Tuan Regent tanpa izin orang tuanya!” seru sang mantri pelacak seraya mengacungkan surat perintah penangkapan berstempel resmi kabupaten. “— Dan Enden Mutiara harus segera dibawa pulang ke Kota B hari ini juga!”

Mendengar ancaman itu, Enden Mutiara mendadak berlari kencang dari ruang belakang. Tanpa rasa gentar sedikit pun, gadis bangsawan itu melompat berdiri tegak memasang badan di depan dada Urip! Kedua tangannya merentang melindungi pemuda pujaannya, sepasang matanya menyala tajam menatap para polisi dengan tekad yang kian nekat:

“— Bukan Kang Urip yang melarikan saya!” seru Mutiara lantang dan tegas, suaranya menggelegar memenuhi ruangan gubuk. “— Saya yang melarikan diri atas kemauan saya sendiri! Betapa pun kalian hendak menyeret saya pulang, tekad saya takkan pernah goyah! Saya menolak keras dinikahkan dengan pria lain! Dan jika Kang Urip dijebloskan ke penjara atau dihukum, saya pun menuntut untuk dihukum bersama-sama dengannya!”

Menyaksikan keberanian, ketetapan hati, dan ketulusan cinta Enden Mutiara yang sedemikian dahsyat membela pemuda jelata itu, para polisi dan sang mantri pelacak seketika terpaku membisu. Mereka saling berpandangan penuh takjub, diliputi rasa gentar bercampur hormat yang mendalam menyaksikan kemuliaan cinta sang putri bangsawan.

Kendati hari itu Urip dan Enden Mutiara harus digiring pulang ke Kota B untuk menghadapi badai kemurkaan Tuan Regent, ikatan cinta mereka telah terpatri abadi di dalam sumpah suci yang takkan pernah sanggup diruntuhkan oleh tingginya kasta feodal maupun keangkuhan kekuasaan duniawi.

— TAMAT —

Novel ini pertama kali diterbitkan di Bandung oleh Administrasi Pembacaan Rakyat (1924) dalam bahasa Sunda.

S. Goenawan dapat dipandang sebagai salah satu pionir realisme sosial-politik, baik dalam lanskap sastra Sunda maupun sastra Indonesia modern secara umum.

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *