Lewati ke konten
27 October 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Jurnalisme Otomatis

Dari Jalanan ke Parlemen, Daftar Dukungan Mahasiswa Serbia Menangi Pemilu dan Kalahkan Kubu Vučić

Kemenangan gerakan mahasiswa Serbia dalam pemilu parlemen membuka babak baru politik negara Balkan tersebut. Berawal dari tuntutan keadilan atas tragedi runtuhnya kanopi stasiun kereta, gerakan yang menghimpun mahasiswa, akademisi, dan berbagai kelompok masyarakat itu berhasil mengubah gelombang protes menjadi kemenangan elektoral. Kemenangan elektoral membuka jalan menuju pembentukan pemerintahan, tetapi proses dan agenda reformasinya masih terus berjalan.

Selama hampir dua tahun, mahasiswa Serbia memenuhi jalan-jalan, menduduki kampus, dan menggelar demonstrasi untuk menuntut pertanggungjawaban pemerintah. Mereka memulai gerakan tanpa partai politik besar, tanpa seorang pemimpin tunggal yang tampil dominan, dan tanpa kepastian bahwa gelombang protes tersebut benar-benar dapat mengguncang kekuasaan. Pada Minggu, 25 Oktober 2026, perjuangan itu mencapai titik balik: daftar kandidat yang didukung gerakan mahasiswa memenangkan pemilu parlemen, sementara Aleksandar Vučić mengakui kekalahan kubu politiknya.

Keputusan hasil sementara Komisi Pemilihan Republik Serbia atau Republička izborna komisija (RIK) mencatat daftar Studentska lista – Studenti pobeđuju memperoleh 2.267.615 suara, atau 52,71 persen, dan sementara meraih 140 kursi. Daftar Aleksandar Vučić – Ujedinjena Srbija memperoleh 1.685.022 suara, atau 39,17 persen, dengan 104 kursi sementara. [1]

Data tersebut diolah hingga 26 Oktober pukul 20.00 waktu Serbia dan mencakup 8.187 dari 8.392 tempat pemungutan suara. Dengan parlemen beranggotakan 250 orang, 140 kursi melampaui ambang mayoritas mutlak sebanyak 126 kursi. Namun, hasil itu masih sementara. Pengakuan kekalahan Vučić pada malam pemilu diberitakan Reuters. [1][2]

Kekalahan kubunya menjadi pukulan besar bagi Vučić, tokoh yang mendominasi politik Serbia sejak 2014 sebagai perdana menteri maupun presiden. [2] Ia telah mengundurkan diri dari kepresidenan pada September 2026 untuk mengikuti pertarungan politik menuju jabatan perdana menteri. Dengan demikian, pemilu parlemen ini tidak secara langsung memberhentikannya dari jabatan presiden. [3]

Di Belgrade, pengakuan kekalahan itu disambut perayaan besar. Namun, kemenangan daftar mahasiswa belum berarti pemerintahan baru telah terbentuk. Penentuan kepemimpinan pemerintahan dan penetapan hasil akhir tetap menjadi tahapan berikutnya. [2][4]

Hasil elektoral ini muncul setelah rangkaian protes yang berawal dari sebuah tragedi dan berkembang menjadi tuntutan antikorupsi serta pertanggungjawaban institusi. Pergantian pemerintahan masih memerlukan proses tersendiri.

Tragedi Novi Sad yang mengubah arah politik

Gerakan mahasiswa Serbia berawal dari peristiwa yang mengguncang negara itu pada 1 November 2024. Kanopi di Stasiun Kereta Novi Sad runtuh. Jumlah korban meninggal akhirnya mencapai 16 orang, termasuk korban luka yang kemudian meninggal; korban ke-16 meninggal pada 21 Maret 2025. [5] Tragedi tersebut memicu pertanyaan mengenai keselamatan bangunan, proses renovasi, transparansi proyek publik, dan pertanggungjawaban pejabat yang terlibat.

Bagi para demonstran, persoalannya tidak berhenti pada penyebab teknis keruntuhan bangunan. Mereka menuntut keterbukaan dokumen, penyelidikan yang dapat dipercaya, dan pertanggungjawaban atas kemungkinan kelalaian atau korupsi yang berkaitan dengan proyek tersebut. Tuntutan itu tumbuh di tengah ketidakpuasan yang lebih luas terhadap tata kelola pemerintahan dan kondisi demokrasi Serbia. Pemerintah dan Partai Progresif Serbia yang berkuasa berulang kali membantah tuduhan korupsi dan penindasan terhadap lawan politik.

Di sinilah tragedi Novi Sad memperoleh arti politik yang lebih besar. Bagi mahasiswa, korban tidak boleh sekadar menjadi angka dalam laporan kecelakaan. Kematian mereka menimbulkan pertanyaan mendasar tentang hubungan antara kekuasaan, keselamatan publik, dan kewajiban negara untuk menjelaskan keputusan-keputusannya kepada masyarakat.

Tuntutan pertanggungjawaban itu kemudian meluas. Apa yang semula berpusat pada satu tragedi berkembang menjadi kritik terhadap korupsi, lemahnya akuntabilitas institusi, dan apa yang oleh para pengkritik pemerintah dipandang sebagai kemunduran demokrasi. Dalam rentang waktu hampir dua tahun, demonstrasi mahasiswa menjadi salah satu tantangan terbesar terhadap dominasi politik Vučić.

Gerakan ini juga memperlihatkan bagaimana sebuah peristiwa konkret dapat menghubungkan keresahan yang sebelumnya tersebar. Masalah keselamatan bangunan, misalnya, mungkin tampak berbeda dari persoalan kebebasan media atau independensi lembaga negara. Namun, semuanya dapat bertemu dalam satu pertanyaan: siapa yang bertanggung jawab ketika institusi publik gagal melindungi kepentingan masyarakat?

Dari kampus, gerakan menyebar ke seluruh negeri

Pada tahap awal, mahasiswa menggunakan kampus sebagai pusat konsolidasi. Aksi pendudukan kampus, demonstrasi damai, dan pertemuan publik menjadi sarana untuk mempertahankan tekanan sekaligus memperluas dukungan. Seiring waktu, gerakan itu tidak lagi terbatas pada lingkungan universitas. Protes menyebar ke berbagai kota dan melibatkan kelompok masyarakat di luar mahasiswa.

Guru besar, pekerja, petani, seniman, dan warga yang tidak memiliki hubungan langsung dengan kampus ikut bersentuhan dengan tuntutan gerakan. Jaringan dukungan yang semakin luas membuat isu pertanggungjawaban pemerintah tidak lagi dipersepsikan sebagai persoalan satu kelompok mahasiswa, melainkan sebagai masalah kehidupan publik yang lebih besar. Laporan Reuters menjelang pemilu menggambarkan demonstrasi damai, kampanye dari rumah ke rumah, dan organisasi yang tidak bertumpu pada satu figur. [6]

Strategi tersebut memiliki arti penting. Gerakan yang hanya bertumpu pada satu tokoh dapat dengan mudah diserang melalui personalisasi konflik. Sebaliknya, struktur yang lebih tersebar memungkinkan banyak orang mengambil peran tanpa harus menunggu instruksi dari seorang pemimpin pusat.

Tentu, model semacam ini tidak otomatis menjamin persatuan. Ketiadaan figur tunggal yang memiliki kewenangan penuh dapat membuat pengambilan keputusan lebih rumit, terutama ketika gerakan harus memilih calon, menyusun kebijakan, dan menentukan siapa yang akan memegang jabatan pemerintahan. Struktur terdesentralisasi menjadi salah satu ciri gerakan. Namun, untuk menetapkan besarnya pengaruh struktur itu terhadap partisipasi atau kemenangan, diperlukan penelitian tersendiri; hasil pemilu saja tidak mengukurnya.

Secara analitis, perkembangan tersebut mengarahkan perhatian pada organisasi, komunikasi, dan penyusunan agenda politik di samping mobilisasi jalanan. Faktor-faktor itu perlu dibaca sebagai bagian dari penjelasan, bukan penyebab tunggal yang sudah terukur.

Ketika gerakan mahasiswa memilih masuk ke pemilu

Keputusan untuk membawa gerakan ke arena elektoral merupakan perubahan penting. Demonstrasi dapat menekan pemerintah dan menarik perhatian publik, tetapi tidak dengan sendirinya menghasilkan kewenangan untuk mengubah kebijakan. Untuk menguasai lembaga legislatif, gerakan tersebut harus menghadapi aturan pemilu, menyusun daftar kandidat, menjangkau pemilih, dan menawarkan cara untuk menjalankan pemerintahan.

Daftar dukungan mahasiswa tersebut mengajukan 250 kandidat dari beragam latar belakang, termasuk akademisi, profesional, dokter, dan tokoh masyarakat. Penyebutan “daftar mahasiswa” mengacu pada dukungan gerakan, bukan berarti semua kandidat berstatus mahasiswa. Reuters mengidentifikasi kardiolog Ilija Srdanović sebagai kepala daftar kandidat. [4] Profil resmi Fakultas Kedokteran Universitas Novi Sad mengonfirmasi ejaan nama, status profesor, dan latar belakang kardiologinya. [7]

Posisi Srdanović dalam daftar kandidat perlu dibedakan dari kepemimpinan tunggal gerakan maupun penetapan calon perdana menteri. Sumber yang diperiksa belum memastikan siapa yang akan memimpin kabinet. [4]

Pilihan tersebut memperlihatkan upaya mengubah gerakan sosial menjadi kendaraan politik tanpa sepenuhnya menjadikannya partai konvensional yang berpusat pada seorang pemimpin. Para mahasiswa membangun dukungan bagi daftar kandidat yang lebih luas, sementara agenda utamanya tetap berangkat dari tuntutan antikorupsi, perbaikan pendidikan, dan penguatan lembaga publik.

Hasil sementara menunjukkan daftar tersebut unggul dengan selisih besar, dan Vučić mengakui kekalahan kubunya. Namun, hasil itu tidak dengan sendirinya menjelaskan kontribusi relatif setiap strategi kampanye terhadap pilihan pemilih. [1][2]

Meski demikian, keberhasilan elektoral tersebut tidak berarti semua kandidat yang terpilih memiliki pandangan politik yang sama. Mereka berasal dari latar belakang yang beragam, dan gerakan mahasiswa sendiri tidak dibangun sebagai organisasi dengan satu kepemimpinan serta ideologi yang sepenuhnya seragam. Tantangan berikutnya adalah menyatukan dukungan terhadap agenda reformasi menjadi keputusan yang konsisten di dalam pemerintahan.

Mengapa kekalahan Vučić menjadi titik balik?

Selama lebih dari satu dekade, Vučić dan Partai Progresif Serbia mendominasi politik nasional. Para pendukungnya mengaitkan pemerintahan tersebut dengan pembangunan infrastruktur dan modernisasi ekonomi. Namun, para pengkritiknya menyoroti persoalan korupsi, tekanan terhadap media independen, dan melemahnya mekanisme pengawasan terhadap kekuasaan. Pemerintah dan partainya membantah berbagai tuduhan tersebut.

Karena itu, kekalahan kubu Vučić memiliki arti lebih luas daripada sekadar pergantian komposisi parlemen. Hasil tersebut menunjukkan bahwa dominasi politik yang telah bertahan bertahun-tahun tetap dapat menghadapi tantangan ketika ketidakpuasan publik menemukan organisasi, agenda, dan saluran politik yang mampu menghimpunnya.

Reuters, mengutip lembaga survei dan komisi pemilu, melaporkan partisipasi mendekati 70 persen dan menyebutnya yang tertinggi sejak pecahnya Yugoslavia pada 1992. Perbandingan historis itu merupakan keterangan yang diberitakan Reuters, bukan hasil penghitungan ulang dalam tulisan ini. [2]

Tetapi hasil pemilu juga harus dibaca secara hati-hati. Kemenangan satu daftar kandidat tidak otomatis membuktikan bahwa semua pemilih memiliki pandangan yang sama mengenai setiap persoalan politik. Sebagian mungkin mendukung agenda antikorupsi, sebagian ingin melihat pergantian kekuasaan, dan sebagian lain mungkin menaruh harapan pada perbaikan pendidikan atau pelayanan publik.

Yang dapat disimpulkan dari hasil tersebut adalah bahwa dukungan terhadap daftar yang dibawa gerakan mahasiswa cukup besar untuk mengalahkan kubu yang sebelumnya mendominasi politik Serbia. Apakah dukungan itu dapat bertahan ketika pemerintahan baru harus mengambil keputusan yang sulit, merupakan pertanyaan berbeda yang jawabannya baru akan terlihat setelah mereka mulai bekerja.

Kemenangan di parlemen bukan akhir perjuangan

Tahap berikutnya adalah pembentukan pemerintahan setelah proses pemilu diselesaikan. Reuters pada 26 Oktober menyebut belum jelas siapa yang akan menjadi perdana menteri dan mengisi jabatan menteri. Karena itu, tulisan ini membahas tantangan bagi calon pemerintahan, bukan kinerja kabinet baru yang sudah mulai bekerja. [4]

Tantangan pertama adalah mengubah tuntutan antikorupsi menjadi reformasi institusional. Menyelidiki dugaan penyimpangan, memperkuat independensi penegak hukum, membuka dokumen publik, dan memastikan bahwa pejabat bertanggung jawab atas keputusan mereka membutuhkan lebih dari sekadar dukungan politik. Semua itu memerlukan prosedur hukum yang jelas, bukti yang dapat diuji, lembaga yang independen, dan perlindungan terhadap proses peradilan dari campur tangan politik.

Tantangan kedua adalah menghadapi institusi yang telah bekerja selama bertahun-tahun di bawah pemerintahan sebelumnya. Pergantian mayoritas parlemen tidak dengan sendirinya mengubah cara birokrasi, kepolisian, dan lembaga negara lainnya bekerja. Jika berhasil dibentuk, pemerintahan baru perlu membuktikan bahwa reformasi dapat dilakukan melalui aturan yang transparan dan akuntabel, bukan sekadar mengganti orang-orang lama dengan orang-orang baru.

Tantangan ketiga adalah menjaga persatuan gerakan. Selama demonstrasi, kelompok yang berbeda dapat bekerja sama karena memiliki tuntutan yang sama: pertanggungjawaban, pemberantasan korupsi, dan perubahan politik. Namun, ketika harus menyusun anggaran, menentukan prioritas ekonomi, atau memilih arah hubungan luar negeri, perbedaan yang sebelumnya tidak terlalu terlihat bisa menjadi lebih tajam.

Jika hendak memimpin pemerintahan, gerakan dan kandidat yang didukungnya menghadapi tuntutan berbeda dari fase protes. Mereka perlu menjelaskan bukan hanya apa yang ingin diubah, tetapi juga bagaimana perubahan itu akan dilaksanakan, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana masyarakat dapat mengukur hasilnya.

Serbia di antara Uni Eropa, Rusia, dan China

Perubahan politik di Belgrade juga akan diperhatikan oleh negara-negara di luar Serbia. Negara Balkan tersebut memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan Uni Eropa, tetapi juga mempertahankan hubungan strategis dengan Rusia dan China. Rusia merupakan pemasok energi penting bagi Serbia, sementara China memiliki peran sebagai investor. Hubungan dengan Uni Eropa pun berkaitan dengan perdagangan dan proses integrasi Eropa.

Kemenangan gerakan yang mengusung reformasi demokrasi dan pemberantasan korupsi menimbulkan harapan di kalangan pejabat Eropa bahwa hubungan Serbia dengan Brussel dapat memasuki tahap baru. Reuters melaporkan ucapan selamat dari pejabat Uni Eropa, termasuk Ursula von der Leyen, serta kesiapan mendukung reformasi supremasi hukum, kebebasan media, pemberantasan korupsi, dan institusi demokrasi. Pernyataan dukungan itu belum merupakan kesepakatan bantuan tertentu atau jaminan percepatan keanggotaan Uni Eropa. [8]

Namun, harapan tersebut tidak sama dengan kepastian bahwa Serbia akan segera mengubah orientasi kebijakan luar negerinya. Gerakan mahasiswa dan daftar kandidat yang didukungnya mencakup pandangan yang beragam, termasuk mengenai hubungan dengan Rusia, isu Kosovo, dan proses keanggotaan Uni Eropa. Analisis Euronews pada 26 Oktober menekankan ketidakpastian arah kebijakan luar negeri yang akan diambil setelah pergantian pemerintahan. [9]

Bagi Serbia, persoalan ini bukan sekadar memilih satu pihak dan meninggalkan pihak lain. Pemerintahan baru harus mempertimbangkan kebutuhan energi, investasi, hubungan dagang, kepentingan keamanan, serta aspirasi integrasi Eropa. Setiap perubahan kebijakan akan membawa konsekuensi yang harus dijelaskan kepada masyarakat.

Karena itu, kemenangan mahasiswa mungkin membuka kesempatan untuk menata ulang hubungan Serbia dengan mitra internasionalnya, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa negara itu akan segera beralih ke satu orientasi geopolitik tertentu.

Pelajaran bagi gerakan mahasiswa di negara lain

Kemenangan Serbia menarik perhatian karena menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa dapat berkembang melampaui demonstrasi dan menjadi kekuatan elektoral. Namun, pengalaman tersebut bukan resep yang dapat diterapkan begitu saja di setiap negara. Struktur politik, sistem pemilu, kondisi masyarakat sipil, kebebasan media, dan hubungan antara negara dengan institusi publik berbeda-beda.

Hal yang lebih relevan untuk dipelajari adalah proses perubahan gerakannya. Tragedi Novi Sad memunculkan tuntutan yang konkret. Tuntutan itu kemudian dihubungkan dengan persoalan akuntabilitas yang lebih luas, disebarkan melalui aksi dan jaringan masyarakat, lalu diterjemahkan menjadi kompetisi elektoral. Gerakan mahasiswa tidak berhenti pada upaya menarik perhatian publik, tetapi membangun dukungan yang cukup luas untuk memenangkan kursi parlemen.

Ada pula pelajaran mengenai pentingnya mempertahankan tuntutan yang dapat diuji. Antikorupsi, misalnya, tidak cukup menjadi slogan. Ia perlu diterjemahkan menjadi keterbukaan dokumen, penyelidikan yang independen, proses hukum yang adil, dan mekanisme pengawasan yang berlaku bagi semua pihak. Jika tidak, janji perubahan berisiko berhenti pada pergantian elite.

Kemenangan Serbia juga mengingatkan bahwa gerakan sosial menghadapi ujian berbeda setelah berhasil memperoleh kekuasaan. Ketika berada di jalanan, gerakan dapat menyatukan banyak orang melalui tuntutan bersama. Ketika masuk ke parlemen, mereka harus berhadapan dengan anggaran, hukum, birokrasi, kompromi politik, dan konsekuensi keputusan publik.

Sumber

[1] Republic Electoral Commission (RIK), 26 Oktober 2026. Keputusan hasil sementara pemilu parlemen; data diolah hingga pukul 20.00 waktu Serbia.
https://www.rik.parlament.gov.rs/extfile/sr/files/additionalDocuments/811/607/ODLUKA%20O%20UTVRDJIVANJU%20PRELIMINARNIH%20REZULTATA%20IZBORA.pdf

[2] Reuters, 25 Oktober 2026, diperbarui 26 Oktober. Serbia’s Vucic concedes defeat in historic election win for student protest movement.
https://www.reuters.com/world/europe/serbia-votes-students-seek-unseat-vucic-snap-election-2026-10-25/

[3] Associated Press. International monitors raise concerns over fairness and safety of Serbia’s election. Laporan menjelang pemilu, memuat konteks pengunduran diri Vučić pada September 2026.
https://apnews.com/article/serbia-election-eu-tensions-vucic-3f654fd60bd198f5c26574a641ad0ccc

[4] Reuters, 26 Oktober 2026. Serbia’s student movement toppled a political giant. Can it now govern the country?
https://www.reuters.com/world/serbias-student-movement-toppled-political-giant-can-it-now-govern-country-2026-10-26/

[5] Reuters, 21 Maret 2025. Serbia teen becomes 16th victim of train station roof collapse, hospital says.
https://www.reuters.com/world/europe/serbia-teen-becomes-16th-victim-train-station-roof-collapse-hospital-says-2025-03-21/

[6] Reuters, 21 Oktober 2026. As Serbia votes, students emerge as greatest threat to Vucic’s long rule.
https://www.reuters.com/world/europe/serbia-votes-students-emerge-greatest-threat-vucics-long-rule-2026-10-21/

[7] Faculty of Medicine, University of Novi Sad. Profil Ilija Srdanović.
https://www.mf.uns.ac.rs/En/nis_Person_Eng.php?id=660

[8] Reuters, 25–26 Oktober 2026. Reactions to election victory of Serbia’s Student List.
https://www.reuters.com/world/reactions-election-victory-serbias-student-list-2026-10-25/

[9] Euronews, 26 Oktober 2026. Serbia’s student victory raises hopes of an EU reset.
https://www.euronews.com/2026/10/26/serbias-student-victory-raises-hopes-of-an-eu-reset

AI: ChatGPT

Catatan data: angka suara dan kursi dalam tulisan memakai satu acuan waktu, yaitu keputusan hasil sementara RIK atas data hingga 26 Oktober pukul 20.00 waktu Serbia. Angka tersebut tidak digabungkan dengan proyeksi lembaga survei atau pembaruan penghitungan pada waktu lain. Pembahasan mengenai tantangan reformasi dan pelajaran bagi gerakan lain merupakan analisis, bukan hasil yang sudah tercapai.

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *