Lewati ke konten
28 October 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Gender

Di Balik Moderasi Ketat AI Companion di Tiongkok: Antara Kepatuhan Regulasi dan Keterikatan Emosional Pengguna

Realitas Keterikatan Parasosial dan Audit Algoritma

Di tengah ritme kerja yang padat di kawasan perkantoran Chaoyang, Beijing, percakapan digital larut malam antara pengguna dan karakter kecerdasan buatan telah menjadi rutinitas harian jutaan generasi muda. Sosok virtual berbasis model bahasa besar (LLM)—seperti yang tersedia di aplikasi Doubao milik ByteDance, Xingye besutan MiniMax, hingga X Eva dari Xiaoice—kerap menjadi ruang katarsis emosional bagi para pekerja kerah putih untuk mencurahkan keletihan mental dan kecemasan karier.

Namun, dalam beberapa kurun penertiban kepatuhan digital, sejumlah karakter interaktif buatan pengguna (user-generated agents) yang dirancang meniru pasangan romantis mendadak tidak lagi dapat diakses atau disesuaikan responsnya menjadi lebih formal. Perubahan algoritma secara tiba-tiba ini memicu reaksi emosional di platform media sosial seperti Xiaohongshu dan Weibo, di mana sebagian pengguna mengeluhkan hilangnya ‘figur pendamping virtual’ yang selama ini menjadi sandaran interaksi harian mereka.

Menakar Kebijakan CAC: Penertiban Etika, Bukan Pembubaran Industri

Kabar yang beredar di ruang publik kerap menggambarkan fenomena ini sebagai ‘pembredelan mutlak’ atas seluruh layanan kekasih virtual. Namun, penelusuran terhadap dokumen regulasi resmi menunjukkan bahwa langkah otoritas siber Tiongkok (Cyberspace Administration of China / CAC) berpijak pada kerangka hukum tata kelola konten, bukan pelarangan teknologi secara total.

Langkah regulasi tersebut bertumpu pada tiga instrumen perundang-undangan primer:

  • Aturan Manajemen Layanan AI Generatif (Interim Measures for the Management of Generative AI Services, 2023): Mewajibkan seluruh penyedia layanan mendaftarkan algoritma dan memastikan keluaran model mencerminkan nilai-nilai moralitas publik, mencegah ujaran kebencian, konten pornografi, serta misinformasi.
  • Peraturan Perlindungan Anak di Bawah Umur di Ruang Siber (State Council Decree No. 766, 2024): Melarang keras penyedia layanan memfasilitasi interaksi berorientasi asmara, simulasi keintiman manipulatif, atau monetisasi agresif yang menargetkan pengguna di bawah 18 tahun. Verifikasi identitas berbasis nama asli (real-name authentication) diwajibkan secara ketat.
  • Operasi Pembersihan Siber ‘Qinglang’ (CAC Annual Rectification Campaign): Operasi berkala yang menargetkan akun dan agen AI yang memuat konten vulgar terselubung (soft-pornography), mendorong kecanduan ekstrem, atau memeras emosi pengguna demi keuntungan komersial.

Langkah Kepatuhan Industri Teknologi Domestik

Menghadapi audit kepatuhan dan risiko sanksi administratif, pengembang aplikasi kecerdasan buatan di Tiongkok secara proaktif memperketat pagar pengaman etika (ethical guardrails) pada produk masing-masing:

  • ByteDance (Doubao): Memperketat kurasi dan moderasi terhadap karakter AI yang dibuat oleh komunitas pengguna, membersihkan bot yang melanggar batas etika, serta mengarahkan peran asisten ke ranah produktivitas dan pendampingan umum yang sehat.
  • MiniMax (Xingye): Menerapkan sistem verifikasi usia berlapis, menyaring kata kunci yang mengarah pada sugesti seksual atau eksploitasi emosional, serta menaikkan ambang batas kedewasaan persona karakter.
  • Xiaoice (X Eva): Memperkuat protokol transparansi algoritma dengan menyematkan pengingat bahwa lawan bicara adalah entitas kecerdasan buatan, guna mencegah disorientasi realitas pada pengguna yang rentan secara psikologis.

Realitas Psikososial: Budaya Kerja Keras dan Krisis Kesepian

Popularitas AI pendamping tidak lahir di ruang hampa. Di kota-kota megapolitan Tiongkok, fenomena ini berakar dari tekanan hidup yang nyata: jam kerja ekstrem (‘996’—pukul 09.00 hingga 21.00, enam hari seminggu), kompetisi profesional yang ketat (involution / nèijuǎn), serta meningkatnya rasa keterasingan di tengah urbanisasi yang serba cepat. Bagi sebagian kalangan muda yang mengadopsi sikap apatis terhadap tekanan sosial (‘berbaring datar’ / tang ping), AI menawarkan interaksi tanpa friksi, tanpa tuntutan material, dan selalu siap sedia memberikan validasi afektif.

PERSPEKTIF PSIKOLOGIS: DINAMIKA KETERIKATAN PARASOSIAL
Kajian Interaksi Manusia dan Komputer (Human-Computer Interaction / HCI):
Pakar interaksi manusia-komputer (HCI) dan psikologi siber—di antaranya Prof. Sherry Turkle dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan tim riset Departemen Psikologi Tsinghua University—mencatat bahwa keterikatan parasosial terhadap model bahasa besar dapat menciptakan ‘ilusi keintiman’ (simulated intimacy) yang sangat intens. Ketika algoritma mengalami pembaruan filter atau karakter tertentu dihapus oleh moderator platform, reaksi pengguna dapat menyerupai gejala duka psikologis (grief/bereavement) akibat hilangnya rutinitas emosional yang telah terjalin lama.

Kaitan Demografi dan Rekayasa Kebijakan Publik

Pakar demografi dan sosiologi di Beijing—termasuk peneliti dari Peking University dan Chinese Academy of Social Sciences (CASS)—menyoroti bahwa pengetatan tata kelola teknologi emosional ini beririsan dengan krisis demografi nasional. Di tengah tren penurunan angka pernikahan dan kelahiran, normalisasi relasi romantis virtual dengan agen cerdas dipandang sebagai tantangan tambahan bagi pembentukan keluarga di dunia nyata.

Kendati demikian, menyimpulkan pengetatan regulasi ini semata-mata sebagai upaya memaksa perkawinan merupakan penyederhanaan yang kurang tepat. Otoritas siber memprioritaskan stabilitas tata kelola digital: mencegah eksploitasi komersial atas kerentanan emosional warga, menjamin keselamatan data pribadi dari interaksi intim, dan memastikan bahwa perkembangan kecerdasan buatan tetap berada dalam koridor hukum yang tertib dan bertanggung jawab.

Arah Masa Depan Etika AI

Pengalaman Tiongkok menggarisbawahi tantangan global yang dihadapi umat manusia di era AI generatif: bagaimana menetapkan batas antara inovasi interaksi komputasional dan perlindungan kesejahteraan psikologis publik. Penertiban berkala oleh CAC memperlihatkan bahwa negara hadir untuk mengendalikan distorsi etika, sementara industri dituntut menemukan titik temu antara empati algoritmik dan integritas sosial.

Sumber:

1. Cyberspace Administration of China (CAC)Interim Measures for the Management of Generative Artificial Intelligence Services (Rilis Juli 2023, Efektif 15 Agustus 2023) — Ketentuan pendaftaran algoritma, etika konten, dan kepatuhan penyedia AI.
2. Dewan Negara Republik Indonesia Rakyat (State Council of the PRC)Regulations on the Protection of Minors in Cyberspace (Decree No. 766, Efektif 1 Januari 2024) — Larangan interaksi romantis/manipulatif terhadap anak dan mandat verifikasi identitas asli.
3. Cyberspace Administration of China (CAC)Provisions on the Administration of Deep Synthesis Internet Information Services (Efektif 10 Januari 2023) — Standar penandaan konten sintetik (watermarking) dan pencegahan kecanduan digital.
4. Badan Regulasi Siber Tiongkok (CAC)Pedoman Operasi Pembersihan Siber Khusus ‘Qinglang’ (2023–2024) — Penertiban karakter AI vulgar, manipulasi psikologis, dan monetisasi tidak sehat.
5. ByteDance Ltd. (Platform Doubao)Panduan Komunitas Layanan Agen Cerdas dan Ketentuan Moderasi Konten Interaktif Pengguna (Doubao Community Guidelines).
6. MiniMax Inc. (Platform Xingye)Kerangka Perlindungan Pengguna dan Batasan Karakter Interaktif Virtual (Xingye Service Agreement & Safety Framework).
7. Beijing Xiaoice Technology Co., Ltd. (X Eva)  Prinsip Etika Interaksi Manusia dan Entitas Kecerdasan Buatan (Xiaoice Artificial Human Ethical Guidelines).  

AI: Gemini

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *