Lewati ke konten
30 October 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Buku

Buku di Bawah Kasur

Oleh: Arip Senjaya

Jeanette Winterson menyimpan buku-bukunya di bawah kasur. Semakin banyak buku yang dibelinya, semakin tinggi tempat tidurnya. Saya membayangkan seorang anak perempuan di sebuah rumah di Accrington, Inggris, yang harus menanggung akibat fisik dari kesenangannya membaca. Pada malam hari dia tidur di atas puluhan buku yang tidak boleh diketahui ibunya. Kalau koleksinya terus bertambah, mungkin suatu hari dia harus menggunakan tangga untuk naik ke tempat tidur.

Winterson menceritakan pengalaman itu dalam Why Be Happy When You Could Be Normal?, memoar yang terbit pada 2011. Hubungannya dengan ibu angkatnya sulit sekali. Ibunya menjalankan kehidupan rumah tangga dengan aturan agama yang keras dan hanya mengizinkan enam buku berada di rumah. Sebagian berhubungan dengan Alkitab. Sementara itu, si ibu sendiri membaca cerita detektif. Saya membayangkan betapa susahnya menjelaskan kepada anak mengapa kisah pembunuhan boleh dibaca, sedangkan novel lain dianggap membahayakan.

Jeanette bekerja, mengumpulkan uang, membeli buku, lalu menyelundupkannya ke kamar. Kasur menjadi tempat penyimpanan yang dianggap aman. Anak-anak memang sering menyembunyikan barang di bawah tempat tidur, seolah-olah orang dewasa tidak pernah terpikir untuk membungkuk dan memeriksa kolongnya. Sayangnya, ibu Winterson termasuk orang dewasa yang bersedia melakukan pemeriksaan.

Suatu malam, ujung sebuah buku terlihat menyembul. Ibunya menariknya dengan bantuan senter. Kebetulan buku itu Women in Love karya D. H. Lawrence, pengarang yang reputasinya sudah buruk di mata perempuan tersebut. Pemeriksaan berikutnya menghasilkan temuan yang jauh lebih besar daripada satu buku. Koleksi Jeanette dilemparkan ke halaman belakang melalui jendela, disiram parafin, kemudian dibakar. Jeanette menyaksikannya. Dalam ceritanya, ayahnya berdiri mengenakan piama, dan anjing keluarga bahkan ikut membawa lari buku yang tercecer. Saya tidak tahu bagaimana seseorang harus memilih antara menangis dan menyelamatkan buku ketika seekor anjing sudah menganggapnya permainan.

Winterson menyebut tujuh puluh dua buku paperback dapat dimuat dalam satu lapis di bawah kasur ukuran standar. Dalam wawancara lain, angka itu sempat menjadi tujuh puluh empat. Saya tidak berniat memeriksa ukuran kasur keluarga Winterson atau ketebalan setiap buku. Tetapi saya senang dia masih mengingat hitung-hitungan yang begitu khas dari kehidupan seorang remaja. Ia juga mengingat tempat tidurnya semakin tinggi. Tidak banyak kenangan tentang membaca yang sampai mengubah jarak tubuh seseorang dari lantai.

Saya tidak mempunyai pengalaman menyimpan puluhan buku di bawah kasur. Namun, pada masa SMP, ada bacaan yang juga lebih aman disembunyikan dari orang dewasa.

Di antara teman-teman kami beredar stensilan dengan nama Enny Arrow. Saya bahkan sempat lupa apakah nama depannya ditulis Eny atau Enny. Yang benar, Enny, dua huruf n. Nama itu jauh lebih tahan dalam ingatan saya daripada judul-judul bukunya. Saya tidak sanggup menceritakan kembali satu pun jalan cerita dengan baik. Yang masih saya ingat ialah bagaimana benda kecil itu dapat membuat anak-anak SMP begitu rajin mencari kesempatan membaca.

Ada saja teman yang membawa sesuatu. Kalau bukan stensilan, bisa pula majalah Playboy. Saya tidak tahu dari mana mereka mendapatkannya. Majalah tersebut tentu belum terbit dalam edisi Indonesia pada masa SMP saya. Kami tidak tertarik menyelidiki jalur distribusinya. Kalau barang sudah sampai, kami lebih sibuk memikirkan kapan dan di mana bisa membukanya tanpa diganggu orang dewasa.

Kami mengenal tempat-tempat yang aman untuk membaca. Ada perhitungan mengenai orang yang mungkin lewat, tempat menyimpan bacaan, dan siapa yang bisa dipercaya membawa buku pulang lalu mengembalikannya. Tidak diperlukan rapat atau surat keputusan. Anak SMP sanggup membangun kerja sama yang mengagumkan untuk urusan yang tidak akan mendapat penghargaan dari sekolah.

Membaca sembunyi-sembunyi menuntut perhatian yang terbagi. Mata berada di halaman, tetapi telinga ikut bekerja. Bunyi langkah di dekat pintu kadang lebih penting daripada kalimat yang belum selesai. Buku dapat ditutup sebelum pembaca mengetahui kelanjutan ceritanya. Bahkan, kalau seseorang datang pada saat yang salah, kita mesti menunjukkan wajah seperti sedang mengerjakan sesuatu yang sepenuhnya pantas.

Saya tidak ingat berapa banyak teman yang menuntaskan stensilan dari awal sampai akhir. Saya sendiri nyaris tidak mengingat isinya. Mungkin karena kami terlalu sibuk mengurus tempat dan kesempatan. Mungkin pula karena ceritanya tidak bertahan lama dalam ingatan. Kalau ada kawan SMP yang sekarang mampu menguraikan kembali plot salah satu karya Enny Arrow dengan sangat rinci, saya ingin tahu apa pekerjaannya sekarang.

Pada masa SMA, 1993–1996, bahan bacaan semacam itu tidak lagi saya temukan dalam lingkungan pergaulan yang sama. Saya tidak mengatakan peredarannya berhenti. Barangkali hanya saya yang berpindah lingkungan. Yang lebih sering beredar di antara remaja adalah film, dengan cara menonton yang juga menuntut persiapan tersendiri.

Saya sempat menyebut semuanya sebagai piringan hitam. Setelah memikirkan lagi perangkat yang digunakan pada masa itu, saya menduga sebagian adalah LaserDisc. Piringannya besar dan kualitas gambarnya dalam ingatan saya bagus sekali. Ketika VCD kemudian merajalela, saya sering merasa film-film yang saya lihat di sana lebih buruk. Barangkali ini penilaian yang tidak adil. Yang saya bandingkan rupanya LaserDisc dengan VCD bajakan, lengkap dengan gambar yang kadang kurang jelas dan mutu salinan yang sudah menempuh perjalanan terlalu jauh sebelum sampai kepada penontonnya.

VHS juga masih ada. Kaset video dengan pita magnetik itu sering menjadi jalan bagi film yang tidak semestinya ditonton anak sekolah untuk berpindah dari satu kelompok pertemanan ke kelompok lainnya. Beberapa kawan menonton film porno dari VHS. Saya pernah ikut menonton satu dua film yang pada usia itu jelas tidak diperuntukkan bagi kami. Saya tidak punya catatan mengenai judulnya. Kalau sekarang harus membuat daftar film yang sudah saya tonton pada masa SMA, kemungkinan besar saya malah akan memasukkan film lain yang kebetulan diputar pada kesempatan berbeda.

Yang mengherankan, saya tidak sepenuhnya menikmati keadaan itu. Ada semacam larangan yang saya buat untuk diri sendiri. Bukan karena saya sedang menyusun ajaran moral mengenai tontonan. Saya berlatih karate dan merasa harus menjaga perhatian agar tidak berantakan. Sekolah juga saya jalani dengan sungguh-sungguh. Saya takut kesenangan tertentu akan mengganggu dua hal yang sedang saya usahakan: belajar dan karate. Saya tidak punya teori psikologi mengenai hubungan film porno dengan konsentrasi latihan. Perasaan itu ada begitu saja, dan saya mematuhinya dengan tingkat keberhasilan yang tentu tidak sempurna.

Saya membayangkan keadaan yang agak lucu kalau seorang teman meminta saya mempertanggungjawabkannya. Mengapa film tertentu berbahaya bagi gerakan pukulan dan tangkisan? Apa kaitan gambar di layar dengan ulangan fisika? Saya tidak punya jawabannya. Tetapi ketakutan akan kehilangan fokus terasa sungguh-sungguh pada waktu itu. Bahkan, mungkin lebih sungguh-sungguh daripada pengetahuan saya tentang apa yang sedang saya takutkan.

Di sekolah saya masuk jurusan IPA. Di luar urusan pelajaran dan latihan, saya membaca novel-novel Sutan Takdir Alisjahbana, Marah Rusli, Nur Sutan Iskandar, dan Nh. Dini. Saya juga menulis. Tulisan-tulisan saya sudah semakin sering dimuat koran sejak SMA. Kadang saya memikirkan sebuah kalimat yang ingin dikirimkan kepada redaksi, sementara urusan lain di antara teman-teman sebaya tetap berjalan dengan kegembiraannya sendiri.

Saya masih geli menempatkan semua nama itu dalam satu rentang kehidupan: Sutan Takdir Alisjahbana, Marah Rusli, Nur Sutan Iskandar, Nh. Dini, latihan karate, film dalam piringan besar, kaset VHS, dan tulisan yang dikirim ke koran. Saya tidak merasa sedang menjalani beberapa kehidupan yang saling bertentangan. Tidak ada pembatas yang mengharuskan seorang pembaca novel Indonesia menolak ajakan teman menonton film, atau seorang karateka harus selalu bertindak seperti tokoh dalam film bela diri.

Yang berhenti setelah SMA malah karate saya. Ketika masuk IKIP Bandung pada 1996 untuk belajar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, latihan itu tidak berlanjut. Saya masih membaca dan menulis, dua kegiatan yang sebenarnya juga sudah saya lakukan sebelum memilih jurusan kuliah. Saya pindah dari kelas IPA ke pendidikan bahasa dan sastra, meninggalkan karate, dan membawa cukup banyak kenangan tentang bacaan serta tontonan yang pernah membuat kami merasa sedang memasuki wilayah terlarang.

Di antara mahasiswa, pengalaman itu pelan-pelan menjadi bahan tertawaan. Cerita tentang siapa yang membawa stensilan, di mana kami menonton film, dan bagaimana remaja menyusun tempat persembunyian terasa tidak lagi seheboh ketika sedang dijalani. Kami sudah punya kesibukan baru, pertemanan baru, dan bahan pembicaraan yang semakin banyak. Urusan akademik pun menuntut kami belajar teori dan keterampilan berbahasa, termasuk menyimak, berbicara, membaca, serta menulis. Sungguh menarik memikirkan bahwa empat kegiatan itu diajarkan dengan nama dan pembedaan yang rapi, sedangkan kami sendiri datang ke kampus membawa pengalaman berbahasa yang sudah telanjur kacau dan ramai.

Saya tidak membawa cerita Enny Arrow sebagai bahan presentasi dalam mata kuliah membaca. Rasanya saya juga tidak akan mendapat sambutan yang menggembirakan jika mengusulkannya. Tetapi saya sudah mengenal satu keadaan yang sulit dimasukkan ke dalam tugas sekolah: orang bisa mengingat dengan baik peristiwa ketika membaca tanpa sanggup menceritakan kembali apa yang dibacanya. Kalau diminta menuliskan ringkasan, saya mungkin gagal. Kalau diajak membicarakan siapa yang membawa buku, di mana kami membukanya, dan bagaimana sebuah suara membuat kami menutup halaman, bahan ceritanya masih banyak.

Jeanette Winterson, tentu saja, berada dalam keadaan yang jauh lebih berat. Buku-bukunya dibakar oleh ibu yang berkuasa atas seluruh rumah. Kami anak SMP merasa berhasil kalau bacaan yang dilarang orang dewasa bisa dibuka diam-diam lalu dikembalikan tanpa ketahuan. Buku-buku Winterson tidak dapat dikembalikan. Esoknya masih ada lembaran kertas yang tertinggal di halaman rumah. Dia mengambil beberapa sisa yang terselamatkan dari api.

Di Indonesia, pembicaraan mengenai pelarangan dan pembakaran buku biasanya membawa orang kepada urusan politik: penguasa, ideologi, pengarang yang dibungkam, atau buku yang disita. Sejarah itu perlu dibicarakan, tetapi saya tertarik pula pada larangan yang tidak pernah diumumkan dalam konferensi pers. Ada larangan yang berlaku hanya di sebuah rumah, kelas, atau pergaulan. Ada orang tua yang takut anak membaca buku tertentu. Ada anak yang bahkan belum tahu isi buku itu, tetapi sudah ingin membukanya karena orang dewasa terlihat begitu berkeberatan.

Saya tidak tahu apakah seluruh orang yang melarang bacaan sudah membaca sendiri buku yang mereka larang. Barangkali beberapa orang justru menolaknya karena sudah membaca. Saya tidak punya cukup bahan untuk menebak alasan setiap orang tua. Saya sendiri, pada masa SMA, sempat melarang diri melakukan sesuatu tanpa punya argumen yang memadai. Karate dan sekolah menjadi dua alasan yang terasa masuk akal saat itu. Sesudah masuk kuliah, karate saya hentikan, sementara urusan menulis yang dulu saya sisipkan di sela-sela latihan malah terus saya kerjakan.

Winterson juga mengenang peristiwa lain di perpustakaan kota Accrington. Ibunya menyuruh dia mengambil bacaan detektif. Salah satu judul yang diminta adalah Murder in the Cathedral karya T. S. Eliot, yang disangka cerita pembunuhan biasa. Winterson membuka buku itu, membaca drama puisi, kemudian menangis. Para pembaca lain terganggu dan pustakawan menegurnya. Dia keluar dan meneruskan bacaan di tangga perpustakaan, dalam angin utara Inggris yang dingin.

Saya bisa membayangkan pustakawan yang hanya sedang menjalankan tugas menjaga ketenangan ruang baca. Bagi pustakawan itu, barangkali Jeanette merupakan seorang pengunjung yang harus ditegur. Winterson membawa kejadian yang sama ke dalam memoarnya, lengkap dengan tangga dan udara dingin. Saya tidak tahu apakah sang pustakawan masih mengingat kejadian itu keesokan harinya. Sangat mungkin tidak.

Saya juga tidak pernah menangis sampai diminta keluar dari perpustakaan. Pada zaman SMP, alasan yang lebih mungkin membuat kami diusir justru buku yang sedang kami sembunyikan. Saya tidak tahu bagaimana rasanya menyelesaikan bacaan T. S. Eliot di tangga sebuah gedung di Inggris. Winterson tidak membutuhkan pengalaman saya untuk membuat kejadian itu berarti baginya. Sebaliknya, saya pun tidak perlu menyamai kehidupannya untuk menikmati kisah tentang seorang anak yang kasurnya naik beberapa sentimeter karena terlalu banyak menyimpan buku.

Tiga puluh tahun lebih telah berlalu sejak saya SMP. Buku-buku Enny Arrow tidak lagi beredar melalui tangan teman-teman saya. Film-film yang kami tonton pada masa SMA mungkin sekarang dapat ditemukan melalui perangkat yang berbeda.

Saya tidak tahu apakah teman-teman saya masih mengingat kegiatan tersebut. Kalau kami bertemu, mungkin ada yang dapat menyebutkan judul buku atau film yang sudah saya lupakan. Bisa juga mereka mengingat hal lain yang sama sekali luput dari perhatian saya.

Saya hanya berharap, apabila ada yang masih menyimpan buku Enny Arrow dari masa SMP kami, dia tidak merasa perlu menyembunyikannya ketika saya datang berkunjung.

Saya ingin melihat sampulnya lagi.***

Arip Senjaya, dosen filsafat dan sastra di Untirta. Komite Buku Nonteks Pusbuk. Pernah memenangkan penulisan buku Literasi Terapan Lokal Perpusnas 2022 untuk buku Golok dan Bukan Golok.

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *