Lewati ke konten
2 November 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Esai

Lina, Dosen Pertama Saya

Oleh: Arip Senjaya

Dosen sastra pertama saya bernama Lina Herlina. Dia sepupu saya. Ketika memberi pelajaran pertama, usianya kira-kira sembilan tahun. Kami sama-sama kelas tiga SD. Saya belum menemukan perguruan tinggi yang bersedia mengakui pengajaran Lina sebagai bagian dari pendidikan formal saya. Mungkin karena pada pagi-pagi tertentu dosen saya itu tidak mandi. Saya kira saya pun ikut-ikutan.

Semasa liburan sekolah, Bapak membawa saya ke Purwakarta, ke rumah kakaknya. Setelah itu beliau pulang dan meninggalkan saya di sana. Saya tidak mengerti mengapa seorang anak diajak bepergian lalu ditinggal begitu saja di rumah orang. Belakangan saya mengerti: Bapak ingin saya mengenal keluarga Uwa dan para sepupu. Rencana itu berhasil, meskipun yang paling saya kenal dalam waktu seminggu pertama bukan riwayat keluarga, tetapi komik Petruk karya Tatang S.

Ayah Lina adalah kakak Bapak saya. Ibunya pun saya panggil Uwa. Keduanya berjualan di Pasar Rebo, masing-masing punya jongko. Pagi-pagi mereka sudah pergi. Kami bersama nenek Lina dari pihak ibunya, perempuan yang sangat baik dan mesti mengurus dua anak dengan kesukaan yang agak merepotkan. Lina sudah tahu di mana komik Petruk dijual. Yang perlu dikerjakan pagi itu adalah berangkat sebelum komik terbaru dibeli anak-anak lain. Purwakarta tidak punya persediaan Petruk sebanyak yang kami inginkan. Kami pulang biasanya hanya dengan satu atau dua komik.

Mandi bisa menunggu. Ini bukan keputusan yang dibuat sesudah rapat keluarga. Lina bangun, bersiap, lalu ingin ke pasar. Kalau saya ingin ikut, sebaiknya segera siap juga. Jangan bayangkan penjual Petruk itu punya toko dengan papan nama dan rak yang tersusun rapi. Dia berjualan di emperan. Kalau hujan, lapaknya bisa bergeser. Kalau bagian emperan itu dipakai parkir pikap atau truk pasar, dia pindah lagi. Mencari buku di Pasar Rebo kadang berarti mencari orang yang menjualnya terlebih dulu.

Lina hafal jalan. Jongko ayah dan ibunya tidak jauh satu sama lain, tetapi bagi saya lorong-lorong pasar itu seperti tidak ada ujungnya. Masuk dari satu sisi, berbelok, melihat orang berjualan, lalu berbelok lagi. Saya belum tentu tahu apakah lorong yang kami lewati tadi sama dengan lorong yang sekarang. Terpisah dari Lina adalah perkara yang lebih menakutkan daripada kehabisan Petruk. Tentu saya mengikuti dia. Kalau dia bergerak cepat, saya harus bergerak cepat. Saya masih perlu seseorang untuk menunjukkan jalan pulang.

Komik Tatang S. itu membuat saya tergila-gila kepada Petruk. Dalam ingatan saya, Petruk bisa menjadi batu, awan, bahkan palu. Saya lupa judul komik-komiknya. Pada usia itu saya tidak menuntut penjelasan bagaimana seorang punakawan bisa berubah menjadi palu. Palu, ya palu. Saya malah membayangkan enaknya menjadi benda lain kalau sedang malas menjadi anak kelas tiga SD. Menjadi awan, misalnya, tentu ada gunanya kalau tidak ingin ditemukan orang yang menyuruh mandi. Menjadi palu juga mungkin menyenangkan, asalkan orang tidak memakainya untuk memukul paku.

Kalau orang mengira kami menghabiskan seluruh liburan dengan membaca komik, dia terlalu percaya pada cerita orang yang sekarang bekerja dengan buku. Lina punya daftar kegiatan yang jauh lebih merepotkan. Dia mengajak saya melihat lubang galian tanah yang besar sekali. Saya yakin kalau jatuh ke dalamnya, kami tidak akan selamat. Lina juga berkali-kali mengajak saya melintasi jembatan. Sungai di bawahnya terasa jauh dan curam. Saya masih ingat ada pohon tua angker di dekat jembatan itu. Saya tidak ingat apa manfaat pohon tersebut bagi keselamatan kami. Barangkali memang tidak ada.

Saya termasuk anak penakut. Setiap kali Lina berjalan ke tempat yang membuat saya gentar, pilihan saya sama-sama tidak menarik: mengikutinya atau tinggal sendiri di tempat yang asing. Kalau saya ikut, ada lubang dan jembatan. Kalau saya tidak ikut, bisa jadi saya malah tak tahu jalan pulang. Biasanya saya ikut. Saya tidak ingat Lina mengajak saya berdebat tentang pilihan-pilihan itu. Dia sudah berjalan lebih dulu.

Di taman depan rumah Uwa, Lina juga memelihara banyak umang-umang. Ada yang memakai cangkang kerang, beberapa sudah menggunakan rumah bekicot. Sampai sekarang saya masih memikirkan bagaimana hewan yang saya hubungkan dengan laut itu bisa hidup di taman rumah orang di Purwakarta. Mungkin umang-umangnya dibeli di pasar. Saya tidak bertanya, atau sudah lupa jawabannya. Yang saya ingat, ada beberapa ekor penghuni rumah bekicot yang berjalan ke sana kemari, sementara bekicot pemilik rumah sebelumnya tidak kelihatan. Saya tidak terpikir menanyakan dari mana mereka mendapatkan rumah bekicot tersebut. Bekicotnya sendiri tidak kelihatan untuk dimintai keterangan.

Sore atau malam kami juga punya kegiatan lain. Di dekat rumah lama Uwa ada lapangan basket yang terang dan ramai ketika malam. Kami bisa duduk menonton anak-anak muda bermain. Salah seorang kakak Lina hebat bermain basket; kakak tertuanya sangat pandai matematika. Saya senang menonton, walaupun tidak bisa menjelaskan mengapa sebuah keluarga menghasilkan orang yang begitu pandai mengurus angka, orang yang hebat bermain basket, dan seorang anak perempuan yang tahu di mana penjual Petruk berpindah lapak. Di antara ketiganya, selama liburan itu saya paling membutuhkan yang terakhir.

Urusan mandi akhirnya tetap harus dilakukan. Lina punya cara sendiri. Kalau sedang ingin mandi, dia meloncat masuk ke bak mandi yang penuh air. Neneknya kesal karena bak itu harus dikuras dan disikat sebelum saya bisa mandi. Satu bak air habis, lalu nenek harus menyiapkan lagi. Saya tidak ikut masuk ke dalam bak. Saya menunggu. Kalau nenek sedang membersihkan bak, tidak banyak yang dapat saya lakukan untuk mempercepat pekerjaan tersebut. Saya juga tidak mungkin mengajukan keberatan kepada dosen sastra saya sendiri.

Tidak satu pun komik Petruk saya bawa pulang. Lina menyayangi buku-bukunya. Buku-bukunya tinggal di Purwakarta. Petruknya ikut saya pulang. Waktu SMA, kami sudah sama-sama membaca Burung-Burung Manyar karya Mangunwijaya. Kelak Lina belajar bisnis dan menjadi pengusaha. Saya mengambil jalan ke sastra. Saya terus membaca, belajar, mengajar, menulis kritik, bahkan membicarakan pengarang-pengarang yang tempat tinggalnya jauh dari Purwakarta. Anehnya, sampai sekarang belum satu kali pun saya menulis kajian tentang Petruk karya Tatang S. Ini kelalaian yang agak memalukan. Di meja kerja saya ada bermacam-macam buku sastra. Saya tidak punya satu pun penelitian tentang orang yang bisa berubah menjadi palu.

Baru-baru ini saya mendengar cerita tentang Ivy Ngeow, novelis Malaysia, dan rumah keluarganya di Johor Bahru. Penghuni sebelumnya meninggalkan satu ruangan penuh buku. Ivy membaca buku-buku itu sejak kecil. Di antaranya ada Kama Sutra yang semula dia sangka buku yoga. Saya tertawa membayangkan betapa sibuknya orang dewasa menjelaskan perbedaan kedua buku itu kepada anak. Cerita Ivy membawa saya kembali ke Purwakarta. Bapak saya tidak meninggalkan perpustakaan. Beliau meninggalkan saya di rumah kakaknya. Di rumah itu ada Lina yang tahu cara mendapatkan Petruk. Saya rasa Bapak pulang tanpa mendapat laporan lengkap tentang apa saja yang kami lakukan untuk mendapatkan satu komik.

Lina kini mengelola rumah makan dan merek SASATE, termasuk sate maranggi dalam kaleng, serta aktif dalam kegiatan pelaku usaha kecil dan pengusaha muda di Purwakarta. Saya tidak akan menyalahkan Petruk atas munculnya gagasan memasukkan sate ke dalam kaleng. Petruk sudah terlalu sering berubah menjadi macam-macam benda dalam ingatan saya. Kalau semua gagasan Lina harus ditagihkan kepada Tatang S., kasihan komikus itu. Beliau mungkin cuma ingin anak-anak senang membaca.

Sekitar 2010 atau 2011, Lina berkali-kali membantu kegiatan kami, sejumlah dosen Untirta dan UPI Purwakarta yang menyelenggarakan diklat pengembangan profesi guru. Kami mengurus penelitian tindakan kelas, penulisan artikel, dan kemungkinan publikasi di jurnal-jurnal jaringan kami. Lina mengurus hotel, makanan, serta hal-hal teknis lain yang membuat kegiatan bisa berjalan. Dia punya jaringan dan tahu siapa yang harus dihubungi. Saya bisa menjelaskan kepada guru bagaimana menulis laporan penelitian, tetapi kalau ada persoalan pembagian kamar, saya lebih suka menelepon Lina. Dia sudah jauh lebih berpengalaman menangani orang-orang yang perlu menemukan tempatnya masing-masing.

Pada kesempatan lain, Lina menjadi panitia kegiatan pengembangan usaha dan mengundang saya memberi materi iklan produk melalui Zoom. Mungkin dia mengira karena saya mengajar bahasa dan semiotika, saya bisa membantu peserta memikirkan iklan. Saya datang, membuka bahan, dan mengajar. Lina tidak hadir di sesi itu. Saya menganggapnya penghinaan. Perempuan yang waktu kecil membuat saya bergegas ke pasar untuk mencari bacaan sekarang mengundang saya berbicara, lalu tidak ikut mendengarkan. Saya tidak tahu apa urusannya hari itu. Mungkin dia memang sibuk mengurus acara. Tetapi saya tetap berhak merasa tersinggung sebentar.

Kalau saya mengadakan kuliah tentang cara mengurus bak mandi, saya tentu akan mengundang Lina sebagai pembicara. Dan saya berjanji hadir.

Lina sudah pandai menyetir mobil sejak lulus SMA. Saya baru bisa setelah lulus S2. Kalau sekarang kami mengulang perjalanan ke Pasar Rebo, setidaknya saya bisa menawarkan diri menyetir. Tetapi begitu tiba di emperan, urusan mencari Petruk akan saya serahkan lagi kepadanya. Siapa tahu penjualnya masih berpindah tempat karena ada truk yang mau parkir. *

Arip Senjaya, dosen filsafat dan sastra Untirta. Salah satu mentor penulisan esai dan fiksi di NDW Makara UI Academy dan Gramedia Academy 2026 – 2027. Komite Buku Nonteks Pusbuk. Pernah memenangkan Literasi Terapan Lokal Perpusnas 2022.

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *