Ketika “Ginjal Lemah” Menjadi Lelucon: Membaca Maskulinitas dan Budaya Tubuh dalam Drama China

Ada satu jenis lelucon yang cukup menarik ketika kita menonton drama China. Seorang laki-laki terlihat kelelahan, tidak mampu mengikuti aktivitas tertentu, mudah kehilangan tenaga, atau dianggap tidak cukup kuat menghadapi situasi. Kemudian muncul komentar yang kurang lebih bermakna: ginjalnya lemah.
Bagi penonton Indonesia, ungkapan semacam ini mungkin terdengar ganjil. Mengapa ginjal tiba-tiba menjadi bahan candaan? Bukankah ginjal merupakan organ tubuh yang memiliki fungsi penting bagi kesehatan? Mengapa kelemahan seseorang justru dikaitkan dengan organ tersebut?
Jawabannya tidak cukup dicari melalui terjemahan bahasa. Ada lapisan kebudayaan yang membuat lelucon itu dapat dipahami oleh penonton berbahasa Mandarin. Di dalamnya terdapat pertemuan antara pengobatan tradisional Tiongkok, konstruksi maskulinitas, humor tentang tubuh, dan perubahan makna istilah kesehatan dalam budaya populer.
Ginjal bukan sekadar organ tubuh
Dalam bahasa Mandarin, istilah yang sering muncul adalah shèn xū (肾虚), yang secara umum diterjemahkan sebagai kekurangan atau kelemahan energi ginjal. Istilah ini berasal dari kerangka pengobatan tradisional Tiongkok atau Traditional Chinese Medicine (TCM).
Namun, ada hal yang perlu dipahami terlebih dahulu: konsep ginjal dalam pengobatan tradisional Tiongkok tidak sepenuhnya sama dengan pengertian ginjal dalam ilmu kedokteran modern.
Dalam teori TCM, ginjal tidak hanya dipahami sebagai organ yang berkaitan dengan fungsi ekskresi. Ginjal juga ditempatkan sebagai bagian penting dari sistem konseptual yang berhubungan dengan pertumbuhan, perkembangan, reproduksi, vitalitas, dan keseimbangan tubuh. Karena itu, istilah shèn xū memiliki cakupan makna yang lebih luas daripada sekadar gangguan fungsi ginjal secara anatomis.
Sebuah penjelasan medis yang ditinjau oleh dokter dari Beijing University of Chinese Medicine menguraikan bahwa shèn xū dalam teori TCM dibedakan menjadi beberapa kategori, antara lain kekurangan yin ginjal, yang ginjal, qi ginjal, dan esensi ginjal. Istilah tersebut juga dikaitkan dengan beragam keluhan, seperti kelelahan, gangguan tidur, pusing, dan keluhan lainnya.
Dengan demikian, ketika istilah shèn xū muncul dalam dialog drama, kita tidak bisa langsung menyamakannya dengan penyakit ginjal dalam pengertian medis modern.
Di sinilah konteks budaya menjadi penting. Sebuah istilah yang semula berada dalam sistem pengetahuan tradisional dapat memperoleh kehidupan baru ketika masuk ke dalam percakapan sehari-hari dan hiburan populer.
Dari konsep kesehatan menjadi lelucon maskulinitas
Dalam penggunaan populer, shèn xū sering memperoleh asosiasi dengan vitalitas laki-laki, kekuatan fisik, dan kemampuan mempertahankan stamina. Asosiasi tersebut membuat istilah ini mudah digunakan sebagai bahan lelucon, terutama ketika sebuah cerita ingin menggambarkan tokoh laki-laki yang dianggap kurang perkasa.
Humor semacam ini sebenarnya bekerja melalui mekanisme yang sederhana. Tubuh laki-laki diposisikan sebagai sesuatu yang harus selalu kuat, bertenaga, dan mampu mengendalikan keadaan. Ketika seorang tokoh gagal memenuhi gambaran tersebut, kelemahannya diterjemahkan melalui istilah yang sudah memiliki asosiasi budaya dengan penurunan vitalitas.
Akibatnya, kalimat tentang ginjal yang lemah tidak selalu dimaksudkan sebagai diagnosis kesehatan. Ia dapat menjadi sindiran terhadap seseorang yang dianggap kurang tangguh, terlalu mudah lelah, atau tidak memenuhi ekspektasi maskulinitas.
Lelucon itu juga memperlihatkan bagaimana maskulinitas dibangun melalui bahasa. Kekuatan laki-laki tidak hanya diukur melalui keberanian atau kemampuan bertindak, tetapi juga melalui gambaran tentang daya tahan tubuhnya.
Dalam konteks ini, tubuh menjadi semacam panggung tempat identitas gender dipertontonkan. Seorang laki-laki diharapkan memiliki energi, ketahanan, dan kemampuan fisik tertentu. Ketika ia gagal memenuhi harapan tersebut, kegagalannya dapat dijadikan bahan tertawaan.
Tentu saja, ini bukan berarti seluruh masyarakat Tiongkok memiliki pandangan yang sama tentang laki-laki atau kesehatan. Yang terlihat adalah bagaimana sebuah asosiasi budaya dapat dimanfaatkan sebagai perangkat humor dalam produk hiburan.
Mengapa penonton bisa langsung tertawa?
Lelucon dalam drama tidak selalu membutuhkan penjelasan panjang. Sering kali, sebuah ungkapan cukup disampaikan karena penonton sudah mengenali makna sosial yang tersembunyi di baliknya.
Fenomena ini berkaitan dengan konsep cultural context, yakni pengetahuan bersama yang memungkinkan sebuah ungkapan dipahami dalam lingkungan budaya tertentu.
Bagi penonton yang akrab dengan istilah shèn xū, komentar mengenai ginjal lemah dapat langsung terbaca sebagai sindiran. Sebaliknya, penonton dari kebudayaan lain mungkin hanya menangkap makna harfiahnya dan bertanya-tanya mengapa ginjal menjadi bahan lelucon.
Perbedaan pemahaman ini memperlihatkan bahwa humor bukan sekadar persoalan bahasa. Humor juga bergantung pada pengetahuan sosial, pengalaman bersama, dan simbol yang hidup dalam suatu masyarakat.
Penelitian tentang humor dalam konteks Tiongkok menunjukkan bahwa humor memiliki sejarah panjang dan bentuknya dipengaruhi oleh norma sosial serta konteks hubungan antarmanusia. Dalam drama situasi atau sitkom, humor bahkan dapat digunakan untuk membentuk karakter, memperlihatkan relasi kekuasaan, dan menegosiasikan norma sosial.
Dengan kata lain, lelucon mengenai ginjal lemah bukan sekadar permainan kata. Ia dapat menjadi cara singkat untuk membangun karakter laki-laki yang dianggap tidak cukup kuat, sekaligus mengundang penonton untuk memahami standar sosial yang sedang dipermainkan.
Tubuh sebagai objek komedi
Dalam kajian budaya populer, tubuh sering menjadi sumber humor. Kelelahan, usia, penampilan, kebiasaan, dan kemampuan fisik dapat digunakan sebagai bahan untuk membangun situasi komedi.
Akan tetapi, humor tentang tubuh tidak pernah sepenuhnya netral. Ia dapat mengungkapkan nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat.
Ketika kelemahan fisik seorang laki-laki dijadikan lelucon melalui istilah shèn xū, ada standar tertentu yang sedang bekerja: laki-laki ideal adalah laki-laki yang kuat dan memiliki vitalitas tinggi. Sebaliknya, tubuh yang dianggap tidak memenuhi standar tersebut menjadi sasaran sindiran.
Di satu sisi, lelucon ini dapat berfungsi sebagai cara untuk mencairkan suasana. Di sisi lain, ia juga dapat mereproduksi stereotip bahwa laki-laki harus selalu kuat dan tidak boleh menunjukkan kelemahan.
Di sinilah kita bisa membaca humor sebagai mekanisme sosial. Ia bukan hanya membuat penonton tertawa, tetapi juga memperlihatkan nilai-nilai yang dianggap wajar, termasuk nilai yang mungkin perlu dipertanyakan kembali.
Ketika pengetahuan tradisional bertemu budaya populer
Hal lain yang menarik adalah perjalanan istilah shèn xū dari dunia pengobatan tradisional menuju bahasa populer.
Ketika sebuah konsep kesehatan digunakan berulang kali dalam percakapan sehari-hari, maknanya dapat berubah. Istilah yang awalnya memiliki penjelasan teoretis kemudian menjadi ungkapan yang lebih sederhana, bahkan berubah menjadi semacam meme atau lelucon.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Tiongkok. Dalam banyak kebudayaan, istilah medis dan bahasa kesehatan sering mengalami pergeseran makna ketika digunakan dalam percakapan sehari-hari. Istilah yang semula memiliki arti khusus dapat berubah menjadi metafora untuk menggambarkan kelelahan, kecemasan, atau kondisi sosial tertentu.
Dalam budaya digital Tiongkok, fenomena gěng (梗), yang kurang lebih merujuk pada meme atau lelucon yang dikenali bersama, menunjukkan bagaimana ungkapan tertentu dapat memperoleh makna baru melalui pengulangan dan penyebaran. Sebuah istilah dapat kehilangan sebagian konteks awalnya, tetapi justru memperoleh kekuatan baru sebagai bahasa humor.
Drama televisi menjadi salah satu ruang tempat pergeseran makna tersebut dapat terlihat. Dialog yang sederhana dapat membawa jejak pengetahuan tradisional, stereotip gender, dan kebiasaan komunikasi masyarakat.
Membaca lelucon kecil sebagai gejala kebudayaan
Mungkin kita tidak perlu menganggap setiap lelucon tentang ginjal lemah sebagai pernyataan serius mengenai kesehatan atau pandangan masyarakat Tiongkok terhadap laki-laki. Dalam sebuah drama, lelucon bisa saja hanya digunakan untuk menciptakan suasana komedi.
Namun, justru dari hal-hal kecil seperti itulah kajian budaya dapat dimulai.
Sebuah dialog pendek dapat membuka pembicaraan tentang bagaimana masyarakat memahami tubuh, bagaimana pengetahuan tradisional bertahan dalam kehidupan modern, dan bagaimana standar maskulinitas direproduksi melalui hiburan.
Kita bisa melihat bahwa istilah shèn xū memiliki beberapa lapisan sekaligus: konsep dalam pengobatan tradisional, ungkapan populer tentang vitalitas, dan perangkat humor yang dapat digunakan untuk menyindir karakter laki-laki.
Pada akhirnya, lelucon tentang ginjal lemah memperlihatkan bahwa budaya populer tidak selalu menyampaikan gagasan melalui cerita besar atau pidato panjang. Kadang-kadang, sebuah konsep kebudayaan justru muncul dalam satu kalimat sederhana yang membuat penonton tertawa.
Dan ketika kita berhenti sejenak untuk bertanya mengapa kalimat itu lucu, kita menemukan sesuatu yang lebih luas daripada sekadar lelucon: cara sebuah masyarakat membicarakan tubuh, kesehatan, dan identitas laki-laki.
Sumber:
Dayi Medical Information Platform — 肾虚 (Shèn Xū). Penjelasan istilah dan kategorisasi shèn xū yang ditinjau oleh dokter dari Beijing University of Chinese Medicine.
To Be or Not To Be Humorous? Cross Cultural Perspectives on Humor. Kajian akademis mengenai humor dalam perspektif lintas budaya, termasuk konteks Tiongkok.
The European Journal of Humour Research — Character Construction via Aggressive Humour in Chinese Sitcom Discourse. Penelitian tentang bagaimana humor dalam sitkom China membentuk karakter dan berhubungan dengan norma sosial.
The Paper — “梗”: The Emergence of a New Type of Allusion in Internet Space. Pembahasan tentang perkembangan meme dan lelucon sebagai bentuk komunikasi budaya digital.
AI: ChatGPT
Percakapan