Lewati ke konten
8 October 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Puisi

Puisi-puisi Rifki Syarani Fachry

PELUK LAUT

ketika kita melarung gelisah

ke tengah denyut laut yang pasang

purnama putih dan gelombang

menampar kita yang telanjang

ombak menekan bahuku;

kita tenggelam berpelukan

ke lekap palung, ke dasar jantung

dekap kita sampai ke lambung

dan cinta yang karam

pelukan kita yang garam

kekal jadi harta di kedalaman

di lungkang laut pangandaran

BARANGKALI, DEFINISI CINTA
DAN RINDU YANG KELIRU

cinta adalah luka itu sendiri
dan rindu sekepal pasir
tubuh yang layuh berair
tangis: ruh dari mayat tubuhnya
yang ombak seperti halnya takdir
kembali mengikis tipis bibir pasir

dan arang selepas gema takbir
magrib di ujung surau terdengar
luka menautkan waktu-waktu
yang tak pernah berakhir

tak pernah sembuh dan pulih
selalu malam dan getir
diulur gelombang-gelombang air
pasang selalu perawan
dan bulan pucat telanjang
menyepuh cinta dan rindu;
ombak dan pasir nampak ungu
memar warna luka itu
tak pernah keliru

JATUH CINTA PADAMU

jatuh cinta padamu, bagiku
sama halnya seperti kematian dan lahir

aku tenggelam
di bening telaga matamu
dan kedipnya murung;
hampa yang bergaung
adalah dengung dari
sembilan puluh sembilan
nama rindu
yang lengkapi koleksi
air mataku

jatuh cinta padamu
kepastian itu garis tangan
bagiku bukan lagi tafsir
dan ramalan

pada pulau gelap
di tengah telaga
keraguan ialah aku:
mayat lelaki yang karam
di matamu

ribu luka sayat
dan lebam temaram mendarat
di tubuhku, genap
ciri aku pernah sekarat

sedang di lingkar
matamu yang terluar
tali air ke sungai kecil
seperti jejak kaki putus asa

dari mimpi
yang kehilangan ceritanya
seperti pahala
yang ditinggalkan surganya
atau neraka
yang membuang siksanya

jatuh cinta padamu
aku rela jadi waktu
tanpa masa depan
dan masa lalu

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *