Lewati ke konten
8 October 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Puisi

Don Quixote & Co. – Puisi-puisi Cep Subhan KM

Puisi-puisi Cep Subhan KM.

Don Quixote & Co.

Dari kafe ini langit tampak benderang, hujan turun

Di belahan bumi lain sedang kita asyik

Menonton nasib orang.

Mungkin di Calaveras ada sebuah kafe dan kita duduk berdua

Berbincang tentang simbol-simbol purba

Dan gerak bintang saat langit terang

Karena hujan turun, deras,

Di belahan bumi lain.

Lalu seorang tua masuk, wajahnya seperti mesin tik tua

Yang lelah menggulung pita,

Kata tak pernah habis tapi ia rindu

Segelas espresso dan langit yang terang di jauh sana.

“Di Calaveras ada kisah

Seekor katak…” Bisik dia. 

Dan kita tertawa. Pelayan datang membawa sepiring roti

Bertabur cokelat. Dan kita tertawa. Di Calaveras mungkin

Tak kita lihat simbol-simbol purba, mesin tik tua,

Tapi di sana ada seekor katak. Dan kita tertawa.

Sebab kita berbagi dunia sama, dalam taman yang tersusun

Dari mantra dan simbol purba. Saat lampu menyala

Dan gelas hampir kosong, kita sama tahu

Langit masih terang dan hujan mungkin turun

Di belahan bumi lain, kita tertawa

Sebab di Calaveras pasti hanya ada

Kita berdua, mungkin tak ada katak, mungkin tak ada

Mesin tik tua.

Perempuan Melankolis

Perempuan melankolis asyik menghitung bintang

Dalam matematika yang ia ingat

Dari gurunya yang galak

Di bangku SD.

Sejumlah jemari kaki dan tangan dalam remang

Kamar bergincu hanya 5 watt

Istirah dari penat dan syak

Berlipat ronde.

Bimasakti, Andromeda, ia tak surti: ada macet

Dalam ingatan tentang lampau, hidup yang mampet

Bertunggal warna, hitam yang selalu ia adukan pada jeda

Terang di langit pertengahan bulan penanggalan candra

: “bukankah nenek dulu bilang ada kisah tentang putri

Yang sangat cantik sampai malaikat terpikat mengantri

Dan tuhan yang cemburu mengutuknya menjadi bintang

Yang muncul jika ia menghitung sampai hari terang?

Perempuan melankolis asyik menghitung bintang

Sampai akhir yang terlalu singkat

Dari waktu seekor gagak

Mematuk mati,

Sebab malam selalu mendendang tentang istri yang berang

Pada laki-laki yang merindu pantat

Dan benci celoteh sengak

Harga terasi.

Penyekap Cahaya

Kata ibunya ia terlahir sebagai werkudara meski tanah yang ia injak setiap hari kelak memberi saksi wajahnya pucat selesi kain kafan dan tubuhnya mengingatkan orang pada papan penutup peti mati.

“Aku ingin melukis Malin Kundang”, demikian katanya suatu malam. Tangannya mengusap keringat yang akrab sejak mulut dokter memberi vonis tanpa banding bahwa dia tak boleh lagi minum kopi.

Dalam malam-malam kamarnya dikunjungi penyair-penyair dari benua yang jauh: Goenawan Mohamad, Rendra, Eliot, Coleridge, Milton, Sapardi. Ibunya hanya mengelus rambutnya sayang

: rambut yang lekas berguguran seperti embun setiap pagi. “Melukislah esok pagi”, bisiknya, “sekarang padamkan lampu dan segeralah tidur, besok les matematika sudah menanti, juga wangi pepes udang,

Juga lembut cahaya mentari, juga senyuman mama yang selalu kau panggil bidadari.” Kemudian si ibu pergi tapi ia tak mengerti cahaya tak pernah padam bahkan saat pintu

Sudah terkunci. Lubang di jelang langit-langit kamar paling tahu ada wangi tembakau yang menelusup dan ada celoteh cicak yang tak suka gelap terdengar menggerutu.

“Aku suka mereka yang masuk menemu malam,” ia bergumam sementara jemarinya memanjang mencengkeram picu senapan di sekian kota. Ibunya bilang ia terlahir sebagai werkudara dan guru pertamanya ingat ia kecil suka membusungkan dada sambil berkata pongah “aku ingin jadi tentara”.

Tapi tak ada tentara yang berkacamata minus dan ia harus merasa cukup menyekap cahaya bersama mereka yang bersekongkol menemaninya dalam malam-malam setelah ibunya menyuruh ia terlelap dan lampu padam.

Ya, ia merasa cukup dengan itu meski kadang ia kecewa saat pengadilan memutuskan ia bersalah dan ia kadang merasa lelah sebab tak ada yang mengingatnya sebagai Malin Kundang, tak ada yang mengenalnya sebagai werkudara.  

Tentang Penyair

Cep Subhan KM. Lahir di Ciamis dan kini berdomisili di Jogja. Puisinya termuat dalam antologi penyair muda Ciamis Kota Menjadi Kata (Kentja, 2017) dan Hari Tanpa Nama (Tanda Baca, 2018). 

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *