Perjalanan yang Tak Ia Ingat

Foto: dokumentasi pribadi
Cerpen oleh Mufidz At-thoriq S.
Entah berapa minggu ia tak ada di rumah. Orang-orang meloncatkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit ia jawab. Tubuhnya ringkih, matanya sayu, wajahnya pucat. Ia lelah setelah perjalanan yang ia sendiri tak ingat. Ingatannya tak begitu baik bekerja setelah ia kembali menjumpai wajah-wajah yang dulu sering ia temui, keluarganya.
Essa masih duduk dengan wajah layu, bak bunga mawar di kamar yang tak tersentuh matari. Orang-orang masih menggumulkan tanya di kepala Essa. Yang jelas Essa tangkap hanya, “dari mana saja ia selama ini?”
Sore itu, di bawah langit yang masih biru. Angin mengusik dedaunan dan rumput-rumput. Essa berdiri di teras. Memandangi langit dan juga pot-pot bunga yang ibunya rawat. Ada seekor kumbang tidur di sana. Kumbang merah dengan bintik hitam di tempurungnya. Essa mengambil kumbang itu, lalu ia simpan di punggung lengannya. Kumbang itu menggeliat, menatap mata Essa yang bulat kemerahan di sapu cahaya.
“Mau apa kau membangunkanku?”
Essa kaget dengan suara yang tiba-tiba hadir di kepalanya.
“Hey! Kau ini bego apa beloon?”
“Kau yang bicara?”
“Siapa lagi yang sudi menanyaimu?”
Essa merasakan hal yang berbeda. Ia menerima segala suara dari kumbang itu langsung di dalam kepalanya. Ia tak melihat mulut kumbang itu bergerak. Hanya lakunya saja yang menunjukkan ia sedang bersuara untuk Essa.
“Tadi aku melihatmu di kelopak daun bunga ibu, karena melihat warnamu yang cantik, aku tertarik mengambilmu. Maafkan aku jika mengganggumu, aku tak bermaksud…”
“Sudahlah! Setiap kesalahan selalu memiliki alibi untuk melerainya. Meski peminta maaf tak begitu yakin apakah kata maafnya tulus, atau hanya segurat basa-basi yang sepontan dikonsumsi mulutnya.”
“Iya, maafkan aku.”
“Tak usah kau ucapkan maaf lagi jika belum tulus.”
“Dari mana kau tahu maafku yang kedua kali tulus atau tidak, atau dari mana kau tahu orang berkata maaf secara tulus atau tidak?”
“Aku hanya menerka. Semua orang bebas kan untuk menerka?”
Semilir angin lewat. Menghentikan percakapan mereka.
Percakapan mereka berlanjut. Namun sedikit lebih ringan. Essa menghindari kata-kata yang tak rapi biar Kumbang Merah itu tak mendebatnya. Kumbang Merah itu agak sensitif. Mungkin ia kesepian, sampai segala hal yang ia dengar selalu ditanggapinya dengan nada yang melambung.
“Kau menganggapku emosional?”
“Tidak, tidak! Bukan begitu. Aku hanya tak ingin melukai perasaan orang lain. Sebisa mungkin.”
“Hey! Katamu tadi, kau tertarik dengan warna di punggungku? Kenapa?”
“Aku senang dengan keindahan. Dan melihat tempurungmu yang begitu indah menarikku untuk memegangnya.”
“Buatlah jawaban yang lebih baik, jangan klise seperti itu. Bosan aku mendengarnya, berantakkan di pasar kata-kata!” Kumbang Merah itu berbalik memunggungi Essa. “Oh, iya. Kau mau melihat lebih banyak keindahan seperti punggungku yang kau sukai?”
Essa mengangguk dengan senyum semanis es krim di mulutnya. Lalu Kumbang merah meregangkan sayapnya. Memberi isyarat agar Essa mengikutinya. Ia dibawa Kumbang Merah masuk ke dalam pot bunga yang saban hari ibunya rawat. Ia masuk ke dalam lorong panjang dengan sejuta warna memusing di matanya.
***
Pot bunga dengan mawar di atasnya. Pot bunga itu saban hari ibu sirami, tak pernah alpa. Dulu ibu pernah bercerita tentang mawar di pot itu. Mawar yang merah, mengembang seperti roti yang baru matang. Kata ibu, mawar itu dibawakan ayah sepulang dari pendakian. Ayah membawakannya jauh sebelum aku lahir ke dunia. Itu masa-masa mereka sedang hangat-hangatnya jatuh cinta. Dunia serasa diisi dengan cakrawala yang indah. Udara sangat ringan mengangkat tubuh mereka. Hari-hari berjalan cepat jika mereka bersama, waktu selalu lewat begitu saja seperti kereta di stasiun kecil kota.
Ayah senang bepergian dengan ransel yang berat. Ibu sering menyambutnya dengan rindu jika ayah pulang. Berbeda dengan kepulangan ayah sebelum-sebelumnya. Ayah membawa setangkai mawar merah yang sangat cantik. Ia memetiknya saat turun dari puncak. Mawar merah itu ia temui di balik pohon besar saat punggungnya bersandar untuk beristirahat. Begitu senangnya ibu dibawakan buah tangan yang indah dan harumnya sangat dalam. Tak seperti mawar-mawar biasa yang tak begitu memeluk hidung baunya. Saat itu ibu berjanji akan merawat mawar merah itu seumur hidupnya.
***
Essa cukup melompat mengikuti Kumbang Merah itu terbang. Essa tak menyangka begitu luas isi pot bunga mawar yang selama ini tak ia hiraukan di terasnya. Tak juga terlalu Essa pdulikan, entah ia yang mengecil atau pot mawar itu bertambah luas. Pot mawar itu menjadi dunia baru bagi Essa yang belum pernah ia singgahi, atau belum pernah ia bayangkan sedikit pun di dalam kepalanya.
Essa melewati pohon-pohon yang berjejer dengan bentuk dan warna yang belum pernah Essa temui sebelumnya. Ada yang berdiri tegak dengan batang merah muda, dahannya kuning, biru, merah, dan banyak lagi. Ada juga pohon yang meliuk memutar seperti angka delapan dengan warna pelangi.
“Bukankah aku tak berbohong?” gurau Kumbang Merah.
Essa tak menghiraukan gurauan Kumbang Merah. Matanya berlari ke segala tempat. Menjumpai segalanya yang baru kali ini ia lihat. Essa berlari dengan girang. Ia meloncat sambil memutar badannya. Tubuhnya terjatuh pada hamparan rumput selembut selimut. Kupingnya menangkap bunyi air bergemuruh. Sudah dipastikan, ada air terjun dan sungai yang pasti berbeda. Segera ia berlari menjemput suara itu. Kumbang Merah mengikutinya dari belakang.
Matanya langsung dimanjakan air yang sangat jernih dengan warna samar yang sulit ia sebutkan. Dari dalam sungai, segerombol kupu-kupu keluar meninggalkan gelombang. Sayap mereka basah, menyipratkan air ke muka Essa. Tanpa menunggu waktu lama Essa melompat menghantamkan tubuh pada sungai yang beriak di hadapannya.
“Tunggu!” teriak Kumbang Merah.
Namun Essa sudah terlanjut di udara, tak bisa kembali untuk mendengar teriakan Kumbang Merah. “Jangan kau melompat ke sana!” Essa sudah berada di dalam sungai.
“Astaga! Apa yang telah kuperbuat? Aku telah menghilangkan ingatan anak itu.”
Essa muncul dari dalam sungai. Ia tak lagi tertawa. Matanya kosong menatap wajah Kumbang Merah sepucat susu.
Sungai itu, tempat pembersihan segala ingatan. Apa pun yang tenggelam di dalamnya, akan keluar dengan ingatan yang kosong. Seperti memori yang dibersihkan dari segala isinya.
Kumbang Merah membawa Essa kembali ke pintu penghubung dunia Essa dan dunia dalam pot. Ia menjatuhkan Essa di teras rumah dengan ingatan yang tak ada lagi di dalam kepalanya.
TENTANG PENULIS
Mufidz At-thoriq Syarifudin lahir di Bandung, 26 Juni 1994. Dari kecil menetap di Tasikmalaya bersama keluarganya. Menulis cerpen, puisi, cermin, essai/laporan budaya, dan naskah drama. Beberapa karyanya pernah dimuat Pikiran Rakyat, Kabar Priangan, Banjarmasin Post, Radar Tasikmalaya, Buruan.co, Radar Banyuwangi, Bentangpustaka.com, Detakpekanbaru.com, Majelissastra.com, sastramu.com, Pos Merto Prabu, BuanaKata.com, raamfest.com, ngaosart.tk, Buletin Estetika Diksatrasia, dan lain-lain.
Cerpen “Lukisan Lusni” menjadi juara 1 Lomba Menulis Cerpen Se-Jawa Barat Gebyar Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Siliwangi 2016, cerpen “Gelisah” menjadi Juara 2 FSA II Lomba Menulis Cerpen Se-Priangan Timur UPI Kampus Tasikmalaya 2014, “Di Tubuh Cermin, Marnus Bermain” menjadi Cermin pilihan Penerbit Bentang Pustaka. Antologi cerpen “Batu yang Dililit Ari” menjadi nominator Siwa Nataraja Award II Bali (2016) dan antologi cerpen “Kampung Sebelah” masuk 8 besar Siwa Nataraja Award II Bali (2016). Cerpen dan puisinya juga tergabung dalam beberapa antologi bersama. Buku kumpulan cerpen tunggalnya “Bapak Kucing” (2015), “Batu yang Dililit Ari” (2016), dan yang terbaru “Gelanggang Kuda” (2018). Selain menulis, aktif juga di Teater 28, Beranda 57, Langgam Pustaka dan sekarang menjadi Ketua Rumpun Sastra Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya.



Percakapan