Homo Deus dan Dataisme dalam Drama Tiongkok

Homo Deus dan Dataisme dalam Drama Tiongkok

Ketika Kultivasi Bertemu Algoritma

Dalam dekade terakhir, lanskap fiksi kontemporer Tiongkok—baik dalam bentuk web novel, draf kreatif, maupun komodifikasi visual drama mikro (Duanju)—mengalami pergeseran estetika yang radikal. Narasi kultivasi tradisional (Xianxia) yang dulunya bertumpu pada pencarian spiritualitas transendental, meditasi taoisme, dan penempaan murni kekuatan fisik-batin, kini secara masif diinvasi oleh metafora fiksi ilmiah: “Sistem” (The System).

Karakter utama tidak lagi mencapai pencerahan (enlightenment) murni lewat pemahaman kosmos, melainkan melalui interaksi dengan antarmuka (interface) AI tak kasat mata yang memberikan misi, menghitung poin kontribusi, distribusikan kompensasi, dan memberikan penalti otomatis. Secara kritis, fenomena kultivasi berbasis sistem ini bukan sekadar alat plot (plot device) yang malas, melainkan sebuah bentuk kristalisasi kultural dari gagasan Homo Deus (Manusia Menjadi Tuhan) dan Dataisme (Agama Data) yang dirumuskan Yuval Noah Harari, namun diartikulasikan ulang dalam kearifan komparatif lokal Tiongkok.

1. Genealogi “Sistem” sebagai Manifestasi Dataisme Radikal

Dataisme, menurut Harari, adalah sebuah pandangan yang menyatakan bahwa semesta alam semesta terdiri dari aliran data, dan nilai dari setiap entitas atau fenomena ditentukan oleh kontribusinya terhadap pemrosesan data. Dalam drama Tiongkok bertema transmigrasi atau system-binding, “Sistem” bertindak sebagai entitas berdaulat tertinggi (meta-Tuhan) yang memegang prinsip Dataisme absolut.

  • Kuantifikasi Kosmos dan Kehidupan: Di dalam drama ini, esensi kehidupan, bakat (root bone), karma, bahkan cinta dirangkum menjadi angka-angka statistik yang presisi di atas layar status terapung. Keberadaan manusia sepenuhnya divalidasi oleh data.
  • Algoritma Takdir: Sistem mengatur narasi besar (grand narrative) takdir karakter. Pilihan moral tidak lagi ditentukan oleh teks keagamaan tradisional, melainkan oleh efisiensi pemrosesan data: Apakah misi ini menghasilkan poin penjahat (villain points) yang cukup untuk ditukar dengan pil kultivasi tingkat tinggi? Di sini, moralitas didekonstruksi menjadi utilitas transaksional murni.

2. Proyek Homo Deus: Tekno-Kultivasi Menuju Keilahian

Dalam buku Homo Deus, Harari memprediksi bahwa manusia abad ke-21 akan mencoba merebut takdir evolusinya sendiri dari tangan alam untuk meraih tiga kekuatan keilahian: kebahagiaan abadi (amusia/bliss), keabadian fisik (immortality), dan kekuatan penciptaan (divine power).

Dalam tradisi fiksi Tiongkok kuno, impian ini adalah inti dari Ascension (Menjadi Dewa/Imortal). Namun, perkawinannya dengan konsep “Sistem” mengubah jalurnya dari spiritual-mistis menjadi Tekno-Kultivasi:

  • Akselerasi Ilahi: Tanpa sistem, seorang kultivator membutuhkan waktu ribuan tahun untuk menembus ranah Nascent Soul atau Mahayana. Dengan bantuan algoritma sistem (yang sering kali memanipulasi hukum ruang dan waktu melalui cheat-code), lompatan evolutif menuju Homo Deus bisa dicapai dalam hitungan bulan.
  • Tuhan yang Tergantung pada Arsitektur Jaringan: Paradoks dari Homo Deus versi drama Tiongkok ini adalah kerapuhannya. Kekuatan keilahian sang karakter utama tidak bersifat inheren (bawaan), melainkan sangat tergantung pada konektivitasnya terhadap “Sistem”. Jika sistem mengalami malafungsi, crash, atau patch update, sang “Dewa” seketika jatuh kembali menjadi manusia fana yang tak berdaya. Ini adalah kritik tajam Kajian Budaya terhadap ketergantungan mutlak manusia modern pada infrastruktur teknologi (softwarised culture).

3. Hegemoni, Agensi, dan Dekolonisasi Narasi “Sistem”

Dari kacamata Kajian Budaya (Cultural Studies), penggunaan “Sistem” dalam drama Tiongkok merepresentasikan ketegangan antara Hegemoni Struktur dan Agensi Individu:

  • Kapitalisme Lanjut dan Komodifikasi Jiwa: Sistem dalam drama mikro sering kali beroperasi layaknya korporasi neoliberal yang kejam. Karakter utama dipaksa melakukan grinding misi, mengalami eksploitasi tenaga kerja spiritual, dan dibayangi oleh ancaman hukuman mati (obliteration) jika gagal memenuhi kuota target sistem. Ini adalah refleksi kecemasan kelas pekerja urban Tiongkok modern terhadap algoritma korporat (seperti sistem kerja 996).
  • Subversi dan “Merebut Alat Produksi”: Namun, bagian paling menarik dari drama Tiongkok adalah bagaimana narasi berakhir. Karakter utama yang cerdas sering kali tidak tunduk pada sistem selamanya. Mereka melakukan manipulasi terhadap celah logika (bug) algoritma, meretas fungsi kode tersembunyi, hingga akhirnya mengeksploitasi sistem untuk menghancurkan sang pencipta sistem itu sendiri. Di titik inilah terjadi aksi subversi: manusia merebut kembali alat produksi wacana dan kuasa digital dari agensi kecerdasan buatan untuk menegakkan kembali kedaulatan kemanusiaan mereka.

Refleksi Distopia Digital Masa Kini

Drama Tiongkok bertema sistem dan kultivasi bukanlah sekadar fantasi pelarian eskapisme yang dangkal. Ia adalah sebuah alegori sosiologis dan fabel kontemporer tentang manusia modern yang sedang mengonversi dirinya menjadi Homo Deus. Melalui estetika visual yang puitis sekaligus distopik, teks budaya ini mengingatkan kita: ketika kita mulai menyerahkan seluruh keputusan hidup, takdir, dan pencarian makna kita kepada algoritma maha tahu (Dataisme), kita sedang bertransmigrasi ke dalam dunia di mana kemanusiaan kita perlahan-lahan didigitalkan dan disensor oleh sistem yang kita ciptakan sendiri.

AI: Gemini

Post Comment