Ngala Cai Ulah Gampang

Ngala Cai Ulah Gampang

Beberapa hari setelah pulang dari Ciamis, sebuah rumpaka terus terngiang. Bukan ketika saya sedang membuka halaman-halaman Ringkang Sang Pangarang, bukan ketika mengingat perayaan 70 tahun Godi Suwarna, melainkan ketika saya sudah kembali ke rumah di pinggiran Garut. Empat larik itu datang utuh:

Ngala cai ulah gampang
ulah kena-kena herang
tinggal heula ku urang
bisi aya najis nyangsang

Mengambil air jangan sembarangan; jangan karena tampak jernih, lihat dulu baik-baik, barangkali ada kotoran yang tersangkut. Saya teringat bahwa malam itu saya mulai mendengarnya di gerbang Astana Gede. Saat itu saya tidak terlalu memikirkannya. Ia hanya lewat bersama suara-suara lain. Baru setelah perjalanan selesai, rumpaka itu seperti menemukan jalannya sendiri untuk pulang bersama saya.

Padahal malam 8 Agustus itu penuh dengan hal-hal yang mengesankan. Ada Godi Suwarna yang genap 70 tahun, dengan perjalanan kepengarangan yang terus menyisakan jejak; ada Ringkang Sang Pangarang, antologi yang mempertemukan tulisan dua puluh pengarang tentang kiprah dan jejaknya, dengan lebih dari separuh penulis hadir malam itu; ada para pengarang lainnya, para seniman, berbagai pertunjukan, warga sekitar dan tamu-tamu lainnya, hutan keramat dan tinggalan-tinggalan Galuh, hingga sayatan irama tarawangsa yang mengantar malam menuju penutupnya. Saya sendiri hadir sebagai salah seorang penulis dalam buku itu. Banyak kesan yang saya bawa pulang.

***

Sebelum memasuki Astana Gede, kami berkumpul di Bale Reka Paminton. Para pengarang yang datang duduk melingkar di satu meja. Saya mengenal mereka semua, meskipun tidak dengan semuanya saya cukup akrab untuk merasa sepenuhnya lepas. Ada sedikit kikuk ketika duduk bersama orang-orang yang telah lebih lama menempuh jalan kepengarangan. Saya termasuk yang paling muda di antara dua puluh pengarang itu, dan mungkin, dengan sedikit olok-olok kepada diri sendiri, juga yang paling ecek-ecek. Tetapi kekikukan itu bukan perkara besar. Ia hanya kesadaran kecil tentang posisi saya di antara mereka, sekaligus membuat saya menjadi penyimak yang lebih baik dari biasanya.

Ringkang Sang Pangarang mempertemukan kami dari pengalaman dan generasi yang berbeda untuk melihat Godi Suwarna dan karyanya dari sudut masing-masing. Saya mendapat kesempatan menjadi salah seorang di dalamnya karena pernah menerjemahkan novel Déng dan beberapa tahun ini masih bergulat dengan terjemahan novel Sandékala. Malam itu terasa seperti pertemuan antara buku, para penulisnya, dan pengarang yang menjadi pusat refleksi bersama. Usia tujuh puluh tahun hanyalah salah satu penanda perjalanan Godi; yang terasa lebih penting adalah beragam jejak kepengarangannya dalam khazanah sastra Sunda.

Selepas isya, dari Bale Reka Paminton kami bergerak menuju gerbang Astana Gede. Di sana kami tidak langsung masuk. Penari Kele lebih dahulu menyambut dengan tarian. Bumbung-bumbung bambu yang mereka bawa dieksplorasi dalam gerak, menjadi bagian dari tubuh dan ritme penyambutan. Pada saat itulah suara para seniman terbang mulai terdengar. Salawat dilantunkan dalam gaya Sunda, dan di antara lantunan itu terdengar rumpaka yang kelak paling lama tinggal di kepala saya: Ngala cai ulah gampang….

Saat itu saya hanya menyerap suasananya: gerak para penari, bumbung bambu, suara tetabuhan terbang dan rumpakanya, dan gerbang yang terbuka ke dalam gelap Astana Gede, situs tinggalan Kerajaan Galuh.

Setelah tarian selesai, para penari Kele meletakkan bumbung bambu di kepala, mengambil lentera kecil, lalu menuntun kami memasuki gerbang. Suara terbang tetap terdengar dari depan. Kami berjalan semakin masuk, sementara cahaya lentera para penari hanya cukup untuk menerangi langkah-langkah terdekat. Aroma hutan dan kemenyan semakin lama semakin menguat. Di jalan setapak yang menembus hutan, oncor turut menerangi perjalanan. Pohon-pohon tua berjanggut berdiri tegap dalam gelap. Di sepanjang jalan, kami melewati batu-batu tinggalan Galuh: prasasti-prasasti Kawali, batu tapak, batu panyandungan, batu palinggih, dan tinggalan yang lainnya.

Batu-batu itu muncul sebentar dalam cahaya remang, lalu kembali menjadi bagian dari malam. Kami datang membawa sebuah buku tentang seorang pengarang masa kini, tetapi harus berjalan melewati jejak-jejak masa lalu. Ada pertemuan waktu yang terasa ganjil: sastra yang sedang ditulis dan dibaca sekarang berjalan di antara batu-batu yang telah bertahan jauh lebih lama daripada kami.

Tujuan perjalanan kami adalah Cikawali, mata air yang bukan sekadar bagian dari lanskap Astana Gede. Ia menyimpan ingatan tentang kehidupan, kesunyian, dan laku membersihkan diri. Malam itu saya belum bisa menyusun hubungan antara mata air dan rumpaka yang saya dengar di gerbang. Saya hanya mengikuti rombongan, cahaya lentera dan oncor, serta suara terbang yang kian lamat terdengar. Tetapi setelah pulang, kata cai dalam rumpaka itu membuat perjalanan menuju mata air tersebut seperti terus berulang di dalam kepala.

Sementara itu, di dalam hutan, karya-karya Godi berpindah tubuh. Rajah bubuka menjadi mantra pembuka pertunjukan dan peluncuran Ringkang Sang Pangarang. Setelah itu, puisi dimusikalisasi, cerpen dibacakan oleh dramawan, novel didramatisasi, karya dialihwahanakan menjadi tari, dan puisi dihadirkan dengan iringan gerak. Rangkaian itu disusun dengan apik oleh sastrawan Toni Lesmana, dengan keterlibatan koreografer Rahmayati Nilakusumah, termasuk dalam tarian Kele yang berselaras dengan seni terbang sejak penyambutan di gerbang. Karya-karya yang selama ini hidup dalam halaman buku memperoleh tubuh lain di hadapan kami. Malam itu ditutup dengan tarawangsa di dekat Cikawali. Gesekan alat musik itu melahirkan suara yang menyayat, berlarat-larat tanpa kata. Orang-orang pun berdiri, bergerak mengikuti irama yang wingit itu.

Di tengah semua itu, Godi Suwarna hadir sebagai pengarang yang sedang kami baca kembali dari berbagai arah. Saya datang sebagai salah seorang dari dua puluh penulis yang mencoba melihat kiprahnya melalui Ringkang Sang Pangarang. Tetapi malam itu juga mengingatkan saya bahwa melihat seorang pengarang tidak sama dengan segera menyimpulkan dirinya. Karya yang telah panjang perjalanan hidupnya tentu tidak habis dalam satu pembacaan.

Begitu pula dengan buku yang kami tulis. Bunga rampai itu lahir dari dua puluh cara pandang, pengalaman, dan suara. Ia pun, barangkali, perlu diperlakukan seperti air dalam rumpaka itu: tidak segera diambil hanya karena tampak jernih. Ia perlu dibaca, dicermati, direnungkan. Barangkali membaca juga berarti memberi kesempatan kepada pikiran untuk memeriksa apa yang sedang diterimanya.

Barangkali itu sebabnya rumpaka tersebut baru menemukan tempatnya setelah saya kembali ke Garut. Di Ciamis, saya terlalu penuh oleh pengalaman: percakapan dengan para pengarang, tarian Kele dan suara terbang, batu-batu prasasti, pohon-pohon besar, beragam pertunjukan, dan irama tarawangsa yang menyayat di Cikawali. Di rumah, semuanya mengendap sebagai ingatan. Tidak ada lagi suara terbang di depan saya. Tidak ada penari yang menuntun perjalanan. Tidak ada hutan keramat dan aroma kemenyan. Tetapi ketika semua itu telah berlalu, satu suara yang semula nyaris luput justru kembali terdengar: Ngala cai ulah gampang.

Barangkali memang begitu cara beberapa hal bekerja. Kita tidak selalu memahami sesuatu ketika sedang berada di dalamnya. Terlalu banyak kejadian datang bersamaan; terlalu banyak yang ingin dilihat dan didengar. Makna kadang membutuhkan jarak. Tinggal heula ku urang. Tahan sebentar. Cermati dengan sabar. Petatah-petitih sederhana itu ternyata tidak hanya bisa dikenakan pada air. Ia bisa juga berlaku ketika kita menerima seni, sastra, pengalaman, bahkan seseorang yang kita kagumi. Kita boleh terpikat oleh kejernihan sebuah kalimat, keindahan pertunjukan, atau kebesaran nama seseorang. Tetapi sebelum mengambilnya, tunggu, barangkali kita perlu melihatnya sekali lagi atau entah berapa kali lagi.

Saya pun semakin sadar bahwa saya adalah salah seorang dari dua puluh pengarang itu, dan salah seorang yang paling muda. Mungkin saya memang belum punya cukup jarak untuk memahami semuanya. Tetapi mungkin tidak ada kewajiban untuk bersegera. Ada yang perlu dibaca lagi, didengarkan lagi, dibiarkan mengendap. Rumpaka “sederhana” itu sendiri menjadi contoh yang aneh: malam itu ia hanya lewat di telinga saya, lalu beberapa hari kemudian bergema begitu saja di pikiran saya. Rumpaka itu tidak berubah. Sayalah yang telah mengambil jarak.

***

Kini saya membayangkan kembali gerbang Astana Gede. Para penari Kele menyambut dengan bumbung bambu. Suara terbang mengalun. Rumpaka terdengar. Setelah tarian, bumbung itu diletakkan di kepala setiap penari, lentera kecil dibawa, lalu kami dituntun memasuki hutan. Di jalan setapak, oncor menerangi perjalanan. Kami melewati pohon-pohon tua dan batu-batu tinggalan Galuh, menuju Cikawali, menuju pertunjukan, menuju buku yang kami tulis bersama.

Malam itu saya memang belum bisa memahami semuanya. Mungkin memang tidak harus. Sebuah rumpaka, seperti sebuah karya, tidak selalu meminta kita segera mengambil maknanya. Ada yang cukup didengar terlebih dahulu, dibawa pulang, lalu dibiarkan mengendap sampai menemukan waktunya sendiri untuk berbicara. Ada yang cukup didengar dan maknanya bergema dalam perjalanan yang lain.

Ngala cai ulah gampang.

Singajaya, 14 Agustus 2026.

baca juga: Ringkang Sang Pangarang: Ketika 70 Tahun Godi Suwarna Dirayakan di Hutan Keramat Astana Gede

Anjungsari, Aku Ingin Pulang

Post Comment