Eropa Mulai Menghitung Ulang Hubungannya dengan China
Defisit €1 Miliar Sehari, Ketergantungan Mineral Strategis, dan Upaya Brussels Mengurangi Ketergantungan pada Beijing
STRASBOURG — Hubungan ekonomi Uni Eropa dan China memasuki fase baru. Dalam pidato State of the Union pada 16 September 2026, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan bahwa hubungan perdagangan dengan China perlu diseimbangkan kembali.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika ketimpangan perdagangan antara kedua kekuatan ekonomi itu telah menjadi salah satu persoalan strategis bagi Eropa.
Menurut von der Leyen, tahun lalu defisit perdagangan barang Uni Eropa terhadap China mencapai sekitar €1 miliar setiap hari. Ia mengatakan ketimpangan tersebut telah mencapai titik yang tidak lagi dapat dianggap sebagai persoalan perdagangan biasa.
Bagi Brussels, masalahnya bukan semata-mata karena Eropa membeli terlalu banyak barang China.
Yang lebih mendasar adalah pertanyaan mengenai apa yang terjadi pada industri Eropa ketika ketergantungan terhadap produk, teknologi, dan bahan baku dari satu negara menjadi terlalu besar.
Dan pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika China bukan hanya pemasok barang manufaktur, tetapi juga merupakan pemain dominan dalam sejumlah rantai pasok strategis dunia.
Defisit yang bukan sekadar angka
Dalam pidatonya, von der Leyen menggunakan angka defisit perdagangan tersebut untuk menggambarkan apa yang ia sebut sebagai persoalan struktural dalam hubungan ekonomi Eropa-China.
Uni Eropa dan China tetap merupakan mitra dagang besar.
Eropa membutuhkan China.
China juga membutuhkan akses terhadap pasar Eropa.
Namun hubungan tersebut tidak berarti berlangsung dalam kondisi yang seimbang.
Data yang dikutip dalam pembahasan kebijakan UE menunjukkan bahwa defisit perdagangan barang Eropa terhadap China telah mencapai tingkat yang sangat besar. Komisi Eropa sebelumnya menyatakan bahwa defisit perdagangan UE-China telah berlipat ganda dalam satu dekade dan mencapai lebih dari €300 miliar.
Dalam perkembangan terbaru, von der Leyen mengatakan kesenjangan tersebut telah mencapai sekitar €1 miliar per hari pada 2025.
Karena itu, Brussels sekarang tidak lagi hanya berbicara mengenai peningkatan ekspor Eropa ke China.
Pembicaraannya mulai bergeser ke pertanyaan yang lebih besar:
Bagaimana Eropa dapat mengurangi kerentanan ekonominya tanpa memutus hubungan dengan China?
“Derisking”, bukan memutus hubungan
Di sinilah posisi Uni Eropa berbeda dari gagasan decoupling atau pemisahan ekonomi secara total.
Eropa tidak sedang mengatakan bahwa perdagangan dengan China harus dihentikan.
Sebaliknya, istilah yang lebih sering digunakan Brussels adalah “de-risking”—mengurangi risiko ketergantungan sambil mempertahankan hubungan ekonomi.
Von der Leyen sebelumnya telah menggambarkan pendekatan tersebut sebagai derisking without breaking ties. Dalam konteks itu, China tetap dipandang sebagai mitra ekonomi penting, tetapi hubungan tersebut tidak boleh menghasilkan ketergantungan permanen yang dianggap merugikan kepentingan strategis Eropa.
Ini adalah perbedaan yang penting.
Decoupling berarti berusaha memisahkan diri.
De-risking berarti tetap berdagang, tetapi berusaha mempunyai pilihan lain.
Misalnya, jika Eropa membutuhkan mineral tertentu, pertanyaannya bukan lagi:
Bisakah kita membeli mineral itu dari China?
Melainkan:
Apakah seluruh rantai pasok kita harus bergantung pada China?
Perubahan cara berpikir inilah yang sedang berlangsung di Brussels.
Mineral yang kecil di dalam tabel, tetapi besar dalam geopolitik
Salah satu bagian paling strategis dari pidato von der Leyen adalah persoalan critical raw materials, atau bahan baku mentah yang dianggap penting bagi industri dan keamanan ekonomi.
Komisi Eropa menyatakan bahwa Eropa masih sangat bergantung pada China untuk banyak bahan baku kritis.
Dalam pidatonya hari ini, von der Leyen mengatakan bahwa Eropa lebih dari 80 persen bergantung kepada China untuk banyak bahan baku kritis, sementara untuk beberapa jenis rare earths ketergantungannya mencapai 90 persen.
Angka ini penting karena bahan-bahan tersebut bukan komoditas biasa.
Rare earths digunakan dalam berbagai teknologi modern—mulai dari elektronik dan kendaraan listrik hingga sistem energi dan berbagai aplikasi industri serta pertahanan.
Artinya, ketika Eropa berbicara tentang rare earths, yang dibicarakan sebenarnya bukan sekadar pertambangan.
Yang dibicarakan adalah:
industri, teknologi, energi, pertahanan, dan keamanan ekonomi.
Mengapa China begitu penting dalam rantai pasok?
China memiliki posisi yang sangat kuat dalam rantai pasok berbagai mineral strategis dan proses pengolahannya.
Persoalannya bukan hanya siapa yang mempunyai tambang.
Sebuah negara bisa memiliki cadangan mineral, tetapi tetap bergantung pada negara lain jika mineral tersebut harus dikirim ke luar negeri untuk diproses menjadi bahan yang dapat digunakan industri.
Karena itu, istilah supply-chain dependency menjadi semakin penting.
Bayangkan sebuah pabrik Eropa memiliki teknologi untuk membuat motor listrik.
Pabrik itu mungkin berada di Jerman, Prancis, Italia, atau negara Eropa lainnya.
Namun jika komponen tertentu atau bahan baku pentingnya hanya tersedia dari satu sumber, maka lokasi pabrik tidak otomatis berarti rantai produksinya independen.
Di sinilah konsep kedaulatan ekonomi menjadi semakin kompleks.
Pabriknya bisa berada di Eropa, tetapi ketergantungannya berada di luar Eropa.
Brussels ingin membuat “cadangan strategis”
Untuk menghadapi persoalan tersebut, von der Leyen mengumumkan rencana pembentukan sebuah European Corporation yang berfokus pada pengamanan dan penimbunan bahan baku penting.
Tujuannya adalah membangun kemampuan Eropa untuk memastikan pasokan bahan-bahan strategis ketika terjadi gangguan perdagangan atau geopolitik.
Logikanya cukup sederhana.
Jika sebuah bahan sangat penting bagi industri dan hanya dapat diperoleh dari sedikit negara, maka Eropa perlu mempunyai:
cadangan, pemasok alternatif, dan kapasitas produksi atau pengolahan sendiri.
Ini sebenarnya adalah bentuk baru dari kebijakan industri.
Selama beberapa dekade, globalisasi mendorong perusahaan untuk mencari rantai produksi yang paling murah dan efisien.
Kini pemerintah mulai menambahkan pertanyaan lain:
Seberapa aman rantai produksi tersebut?
Globalisasi sedang berubah wajah
Di sinilah pidato von der Leyen mempunyai makna yang lebih luas.
Selama era globalisasi, perusahaan sering didorong untuk memproduksi sesuatu di tempat yang paling murah.
Jika China mampu menghasilkan produk dengan harga lebih kompetitif, perusahaan Eropa membelinya.
Secara ekonomi, logikanya masuk akal.
Tetapi pandemi, perang, gangguan energi, konflik geopolitik dan meningkatnya persaingan teknologi telah menunjukkan bahwa efisiensi dan ketahanan tidak selalu merupakan hal yang sama.
Rantai pasok yang sangat efisien bisa menjadi sangat rentan ketika salah satu mata rantainya terputus.
Karena itu, Eropa kini tampak berusaha menambahkan satu prinsip baru ke dalam globalisasi:
resilience.
Bukan hanya murah.
Bukan hanya cepat.
Tetapi juga mampu bertahan ketika dunia berubah.
“Second China shock”
Von der Leyen juga memperingatkan mengenai apa yang disebutnya sebagai “second China shock”—gelombang tekanan terhadap industri Eropa akibat meningkatnya kapasitas produksi China dan arus produk China ke pasar internasional.
Istilah tersebut mempunyai konteks historis.
Gelombang pertama China shock sering dikaitkan dengan periode ketika masuknya produk manufaktur China ke pasar global memberikan tekanan besar terhadap sebagian industri di negara-negara maju.
Kini kekhawatirannya berbeda.
China tidak lagi hanya dikenal sebagai pusat produksi barang berbiaya rendah.
China telah bergerak jauh ke sektor seperti kendaraan listrik, baterai, teknologi energi, elektronik dan berbagai industri berteknologi tinggi.
Bagi Eropa, situasinya menjadi lebih rumit.
Karena negara yang dahulu menjadi sumber barang konsumsi murah kini juga menjadi pesaing industri dalam sektor-sektor masa depan.
Masalahnya bukan hanya China
Namun ada satu hal yang penting agar persoalan ini tidak disederhanakan.
Defisit perdagangan bukan otomatis berarti China “merugikan” Eropa.
Perdagangan internasional memang memungkinkan suatu negara membeli lebih banyak barang dari negara lain jika produk tersebut lebih murah atau lebih kompetitif.
Masalah yang sedang dibicarakan Brussels lebih spesifik:
apakah ketimpangan tersebut telah mencapai tingkat yang mengancam basis industri dan ketahanan ekonomi Eropa?
Itulah pertanyaan kebijakan yang sedang diperdebatkan.
Dan jawabannya tidak hanya bergantung pada China.
Ia juga bergantung pada daya saing perusahaan Eropa sendiri, biaya energi di Eropa, produktivitas, regulasi, investasi, inovasi, dan kemampuan Eropa menciptakan pasar internal yang lebih kuat.
Karena itu, kebijakan terhadap China hanyalah satu bagian dari agenda industrialisasi Eropa.
Brussels memberikan tekanan, tetapi pintu negosiasi masih terbuka
Yang juga penting: Uni Eropa belum menutup pintu negosiasi dengan Beijing.
Von der Leyen mengatakan bahwa kemajuan nyata dalam pembicaraan perdagangan dengan China diperlukan. Negosiasi tersebut dipimpin oleh Komisioner Perdagangan Uni Eropa Maroš Šefčovič, dengan target perkembangan lebih lanjut pada Oktober.
Artinya, strategi Eropa saat ini berjalan di dua jalur sekaligus.
Jalur pertama adalah diplomasi dan perdagangan.
Eropa masih ingin bernegosiasi dengan China.
Jalur kedua adalah membangun kemampuan untuk bertahan jika negosiasi tidak menghasilkan perubahan yang diinginkan.
Ini adalah strategi yang sangat berbeda dari sekadar perang dagang.
Eropa tampaknya ingin mengatakan:
Kami tetap ingin berdagang dengan Anda, tetapi kami tidak ingin berada dalam posisi di mana kami tidak punya pilihan lain.
China berada di sisi lain meja
Pendekatan tersebut tentu memiliki konsekuensi terhadap hubungan UE-China.
Beijing telah menyerukan agar Uni Eropa menghindari kebijakan proteksionis. Perdebatan mengenai akses pasar, surplus perdagangan, subsidi industri dan bahan baku strategis membuat hubungan ekonomi kedua pihak semakin sensitif.
Di satu sisi, Eropa ingin melindungi basis industrinya.
Di sisi lain, China berkepentingan mempertahankan akses terhadap pasar Eropa.
Keduanya memiliki ketergantungan satu sama lain.
Karena itu hubungan UE-China kemungkinan tidak sederhana menjadi:
teman atau musuh.
Lebih tepat menggambarkannya sebagai hubungan yang simultan:
mitra dagang, pesaing industri, dan rival strategis dalam sektor tertentu.
Eropa sedang mencoba menemukan posisi ketiganya
Dunia ekonomi global selama beberapa tahun terakhir semakin terjebak dalam pilihan-pilihan biner.
Amerika Serikat versus China.
Globalisasi versus proteksionisme.
Ketergantungan versus pemisahan.
Namun pendekatan Eropa tampaknya mencoba mencari ruang di tengah.
Tidak sepenuhnya memutus China.
Tidak pula membiarkan ketergantungan terus berjalan tanpa batas.
Itulah makna politik-ekonomi dari de-risking.
Eropa ingin tetap terhubung dengan dunia, tetapi berusaha memastikan bahwa hubungan tersebut tidak membuatnya kehilangan kemampuan untuk bertindak secara mandiri.
Komisi Eropa sendiri menempatkan pengurangan ketergantungan strategis, peningkatan daya saing dan penguatan kemampuan Eropa untuk bertindak sebagai bagian dari agenda “European independence”.
Dan di sinilah persoalan menjadi jauh lebih besar daripada China
Pidato von der Leyen sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada hubungan Eropa-China.
Ia berbicara tentang siapa yang menguasai infrastruktur ekonomi abad ke-21.
Siapa yang menguasai mineral?
Siapa yang menguasai teknologi?
Siapa yang menguasai baterai?
Siapa yang menguasai energi?
Siapa yang menguasai chip?
Siapa yang menguasai data?
Dan siapa yang mampu bertahan ketika perdagangan global tiba-tiba terganggu?
Dunia yang sedang muncul bukan lagi dunia globalisasi tanpa batas seperti yang dibayangkan pada awal abad ke-21.
Kini negara-negara mulai menghitung ulang ketergantungan.
Mineral yang dahulu hanya dianggap komoditas sekarang menjadi persoalan keamanan.
Pabrik yang dahulu hanya dianggap mesin produksi sekarang menjadi bagian dari strategi geopolitik.
Dan perdagangan yang dahulu dipandang terutama sebagai aktivitas ekonomi kini semakin sering diperlakukan sebagai instrumen kekuasaan.
Dari “Made in China” menuju “Can Europe make it itself?”
Mungkin perubahan terbesar dalam cara berpikir Eropa dapat diringkas dalam satu pertanyaan sederhana:
Jika China berhenti memasoknya besok, apakah Eropa masih bisa memproduksinya?
Jika jawabannya tidak, maka persoalannya bukan lagi sekadar perdagangan.
Itulah mengapa pidato von der Leyen hari ini penting.
Defisit €1 miliar per hari hanyalah angka yang mudah menjadi headline.
Di balik angka itu ada pertanyaan yang jauh lebih dalam tentang kedaulatan industri Eropa.
Dan di balik ketergantungan terhadap rare earths terdapat pertanyaan tentang siapa yang menguasai teknologi masa depan.
Eropa tidak sedang mengatakan bahwa hubungan dengan China harus berakhir.
Justru sebaliknya.
Eropa ingin hubungan itu tetap berjalan—tetapi dengan kondisi di mana Brussels merasa memiliki lebih banyak pilihan.
Dalam bahasa ekonomi, ini disebut de-risking.
Dalam bahasa geopolitik, ia dapat dibaca sebagai upaya membangun strategic autonomy.
Dan dalam bahasa yang paling sederhana:
Eropa sedang belajar bahwa dalam dunia yang semakin tidak pasti, memiliki pemasok bukan hal yang sama dengan memiliki pilihan.
AI: ChatGPT

Percakapan