Lewati ke konten
17 September 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Deri Hudaya

Nyiar Lumar dan Surga yang Pernah Diimpikan

Ada yang berubah begitu melewati gerbang Astana Gede Kawali. Cahaya perlahan ditinggalkan. Mata yang terbiasa dimanjakan lampu, layar gawai, dan jalan yang terang mendadak harus bernegosiasi dengan remang yang mendekati gelap. Pada beberapa langkah pertama, saya merasa kehilangan kemampuan melihat. Namun setelah pupil menyesuaikan diri, pepohonan mulai jelas, jalan jadi lebih tampak, dan pendar damar seadanya itu terasa lebih berarti. Rupanya tubuh dan mata menyimpan kecerdasannya sendiri—kecerdasan yang sering kali luput kita latih.

Sulit menyebut Nyiar Lumar hanya sekadar pertunjukan. Ia lebih dekat dengan laku perjalanan. Dari Mitembeyan, Ngawalan, Lalampahan hingga Magelaran, penonton tidak ditempatkan sebagai saksi pasif yang menunggu pertunjukan selesai. Kami berjalan dari satu titik ke titik lain, bertemu puisi, tari, teater, bunyi, api, dan jejak masa lalu. Alam tidak diperlakukan sebagai latar belakang yang indah bagi sebuah pertunjukan. Hutan itulah yang menjadi salah satu inti pertunjukannya.

Ketika segala sesuatu dibuat terang benderang, Astana Gede justru memilih hampir gelap. Tidak ada tata cahaya listrik di dalamnya: kecuali damar, api, bulan, bayangan, dan kegelapan alami. Kesederhanaan itu bisa terasa demikian ganjil. Kita terbiasa dalam dunia yang berlimpah cahaya: layar memberi cahaya, informasi memberi cahaya, teknologi memberi cahaya, kecerdasan artifisial bahkan menawarkan jawaban sebelum kita selesai merumuskan pertanyaan.

Saya teringat mendiang Ridwan Hasyimi, seniman tari dan teater yang kerap saya jumpai di Nyiar Lumar—kadang sebagai peserta yang larut, kadang sebagai penampil yang khusyuk. Menjelang akhir hayatnya, ia kehilangan penglihatan. Tragedinya bukan karena matanya tertutup jelaga pekat, melainkan karena segalanya menjadi terlalu terang. Cahaya datang dari segala arah, bertumpuk menjadi silau, hingga matanya tak lagi mampu menangkap apa-apa. Kadang saya merasa peradaban hari ini pun mengalami kebutaan yang persis sama.

Itu sebabnya pengalaman di Astana Gede perlu saya alami berulang kali. Setiap kali melibatkan diri, tubuh seperti dipaksa memulihkan kecerdasannya, telinga diminta lebih peka terhadap suara yang sayup, kaki dituntut mampu menyusuri kontur jalan, dan mata belajar membedakan gradasi bayangan. Kita tidak menerima pengalaman yang seakan aman melalui layar terang, tetapi mengalaminya melalui tubuh dan seluruh naluri yang dimilikinya. Dalam keseharian, hal-hal seperti ini lebih sering dianggap tidak penting.

Di tengah perjalanan itu, saya mengingat kebiasaan kita pergi ke alam. Naik gunung, menerabas belantara, mengejar matahari terbit atau terbenam, berkemah di tepi danau—semuanya kini menjadi bagian dari gaya hidup yang semakin marak. Tidak ada yang salah dengan itu. Meski sesekali saya heran melihat mendaki gunung kini bisa berarti memesan ojek hingga ke puncak. Dan setelah sampai di sana, apakah kita sungguh-sungguh mengalami alam atau hanya memindahkan kebiasaan ke tempat yang terkesan lebih alami?

Gunung kerap hanya menjadi latar belakang bagi swafoto. Hutan menjadi bingkai untuk unggahan. Matahari terbit menjadi sesuatu yang harus segera direkam sebelum benar-benar terbit. Kita datang membawa kamera, mi instan, gitar, dan segala perlengkapan untuk membuat rumah kecil di tengah alam. Kita sengaja meninggalkan kota modern secara geografis, tetapi membawa seluruh kebisingannya ke puncak kesunyian. Pergi ke alam ternyata tidak otomatis membuat manusia lebih dekat dengan dirinya sendiri. Kesediaan untuk hadir sepenuhnya sering kali tersingkir oleh kebutuhan dokumentasi yang entah untuk apa.

Dalam Nyiar Lumar, kita tidak sekadar menyaksikan, tetapi perlahan ikut terserap ke dalamnya. Tidak hanya melihat pertunjukan, tetapi menjadi bagian dari laku perjalanan. Pada puncak acara, ketika Bi Raspi memimpin Ronggeng Gunung di sekitar api unggun, gerakan yang sederhana dan berulang perlahan menarik orang-orang ke dalam lingkaran. Batas antara penonton, seniman, dan masyarakat seakan hilang. Bahkan siluet pohon-pohon tua di sekitar yang dihembus angin tampak seolah ikut terlibat dalam tayub.

Tidak ada panggung untuk menjaga jarak. Yang tersisa adalah tubuh-tubuh yang bergerak, kidung yang mengalun, api unggun di tengah lingkaran, dan malam yang menyatukan semuanya di pelataran.

Di situlah Nyiar Lumar mengajak kita untuk terlibat lebih jauh. Pengulangan gerak sederhana, perjalanan dari satu pertunjukan ke pertunjukan lain, gelap yang tidak perlu disingkirkan, serta suasana yang tidak diburu-buru membuat pengalaman itu bekerja perlahan. Ia tidak menjelaskan segala sesuatu secara gamblang. Ia hanya menyediakan ruang agar tubuh dan pikiran menemukan maknanya sendiri—yang mungkin tidak akan seragam bagi setiap orang.

Seorang pelancong asing pernah mengatakan kepada Godi Suwarna, salah satu tokoh penting sejak awal perhelatan, bahwa baginya Nyiar Lumar seperti “surga yang pernah saya impikan”. Saya memahami ungkapan itu. Namun, mungkin yang ia sebut surga bukanlah tempat itu sendiri, melainkan perjumpaan yang jarang terjadi antara manusia, alam, dan waktu yang berjalan lebih lambat. Astana Gede menyediakan ruangnya, sementara Nyiar Lumar menghadirkan cara untuk mengalaminya. Di sana, untuk beberapa jam, kita diberi kesempatan melihat kehidupan dari jarak yang berbeda.

Nyiar Lumar pertama kali digelar pada 1998, ketika Indonesia sedang berada di salah satu ambang masa paling genting dalam sejarah politik modern. Ia lahir dari kegelisahan para seniman dan budayawan di tengah situasi ketika banyak orang bergerak ke kota-kota besar untuk menuntut reformasi. Mereka memilih berkumpul di Astana Gede dan berefleksi dengan berbagai pertunjukan.

Ada paradoks dalam kelahiran peristiwa bernama Nyiar Lumar—mencari cahaya—justru ketika negeri sedang diliputi ketidakpastian. Sejak itu, Nyiar Lumar tumbuh menjadi tradisi dua tahunan di Astana Gede.

Hari ini, istilah “Indonesia Gelap” sering muncul di ruang-ruang digital, terutama di kalangan anak muda. Menarik bahwa generasi yang tumbuh di tengah limpahan informasi justru memilih satu kata yang sederhana untuk menggambarkan kegelisahannya: gelap. Keputusan demi keputusan lahir silih berganti, tetapi tidak selalu menghadirkan arah yang lebih jelas. Ironinya sulit diabaikan. Kita hidup di zaman yang semakin terang, tetapi perasaan kehilangan arah justru semakin santer dibicarakan.

Tentu saja persoalan kita hari ini bukan lagi kekurangan cahaya seperti ketika pengetahuan sulit diperoleh. Persoalan kita justru adalah kelimpahan cahaya, semacam polusi yang membuat pandangan kehilangan kejernihannya. Nyiar Lumar terasa relevan karena ia menawarkan kebersahajaan. Kegelapan tidak selalu harus segera disingkirkan, melainkan dapat diterima dan dimasuki. Sebab, kadang-kadang justru di sanalah mata kembali belajar melihat.

Di tengah kegilaan pada teknologi, kecerdasan artifisial, layar imersif, tata cahaya, dan segala sesuatu yang semakin canggih, Nyiar Lumar tetap ajeg sebagai tradisi. Ia tidak menambahkan banyak hal untuk tampak relevan. Kesediaannya mempertahankan kesederhanaan telah menjadi pernyataan artistik tersendiri. Barangkali tidak semua yang tidak berubah adalah sesuatu yang tertinggal. Ada kalanya, bertahan pada yang purba adalah bentuk pembangkangan sadar terhadap perlombaan modernitas yang tidak jelas garis akhirnya.

Menjelang akhir malam, kami kembali dari Pasanggrahan Cikawali. Bi Raspi dan Ronggeng Gunung telah usai. Kami meninggalkan api unggun yang tinggal bara. Sebagian damar sewu sudah padam. Jalan masuk yang tadi diterangi cahaya kecil kini jadi jalan keluar yang lebih gelap lagi. Sampai di sekitar lokasi prasasti, batu-batu tua peninggalan Kerajaan Galuh bukan lagi sekadar ingatan yang dipahat pada batu, melainkan penanda betapa panjang waktu telah berjalan. Saya melangkah setengah merayap meninggalkan tempat itu sambil membayangkan kerajaan runtuh, kekuasaan silih berganti, rezim bangkit dan tumbang, teknologi bermutasi, tetapi manusia masih mengulang pertanyaan eksistensial yang sama: bagaimana manusia menemukan arah?

Ketika akhirnya keluar dari kawasan Astana Gede, cahaya dari dunia luar kembali menyambut. Jalan raya, kendaraan, lampu, telepon genggam, berita, pekerjaan, tagihan, kebijakan pemerintah, dan segala urusan yang tadi ditinggalkan sementara kembali menunggu. Tidak ada surga yang benar-benar bisa kita bawa pulang. Nyiar Lumar pun tidak mengubah kehidupan menjadi lebih mudah. Ia hanya memberi jeda agar kita kembali kepadanya dengan mata yang sedikit berbeda.

Mungkin itulah makna “nyiar”—mencari. Bukan menemukan cahaya sekali, lalu selesai. Bukan pula melarikan diri ke masa lalu setiap kali masa kini membuat kita kecewa. Kita hidup bukan di surga, juga bukan di masa lalu yang penuh jebakan nostalgia. Kita hidup di zaman yang penuh cahaya artifisial yang tidak selalu bisa dipercaya. Karena itu, sesekali kita perlu masuk ke dalam temaram, mendekati gelap dan rimbunnya rimba untuk mengingat kembali cara melihat yang perlahan hilang dari keseharian.

Baca juga tulisan Deri Hudaya di HumaNiniNora

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *