Nyiar Lumar dan Surga yang Pernah Diimpikan

Ada yang berubah begitu melewati gerbang Astana Gede Kawali. Cahaya perlahan ditinggalkan. Mata yang terbiasa dimanjakan lampu, layar gawai, dan jalan yang terang mendadak harus bernegosiasi dengan remang yang mendekati gelap. Pada beberapa langkah pertama, saya merasa kehilangan kemampuan melihat. Namun setelah pupil menyesuaikan diri, pepohonan mulai jelas, jalan jadi lebih tampak, dan pendar damar seadanya itu terasa lebih berarti. Rupanya tubuh dan mata menyimpan kecerdasannya sendiri—kecerdasan yang sering kali luput kita latih.
Sulit menyebut Nyiar Lumar hanya sekadar pertunjukan. Ia lebih dekat dengan laku perjalanan. Dari Mitembeyan, Ngawalan, Lalampahan hingga Magelaran, penonton tidak ditempatkan sebagai saksi pasif yang menunggu pertunjukan selesai. Kami berjalan dari satu titik ke titik lain, bertemu puisi, tari, teater, bunyi, api, dan jejak masa lalu. Alam tidak diperlakukan sebagai latar belakang yang indah bagi sebuah pertunjukan. Hutan itulah yang menjadi salah satu inti pertunjukannya.
Ketika segala sesuatu dibuat terang benderang, Astana Gede justru memilih hampir gelap. Tidak ada tata cahaya listrik di dalamnya: kecuali damar, api, bulan, bayangan, dan kegelapan alami. Kesederhanaan itu bisa terasa demikian ganjil. Kita terbiasa dalam dunia yang berlimpah cahaya: layar memberi cahaya, informasi memberi cahaya, teknologi memberi cahaya, kecerdasan artifisial bahkan menawarkan jawaban sebelum kita selesai merumuskan pertanyaan.
Saya teringat mendiang Ridwan Hasyimi, seniman tari dan teater yang kerap saya jumpai di Nyiar Lumar—kadang sebagai peserta yang larut, kadang sebagai penampil yang khusyuk. Menjelang akhir hayatnya, ia kehilangan penglihatan. Tragedinya bukan karena matanya tertutup jelaga pekat, melainkan karena segalanya menjadi terlalu terang. Cahaya datang dari segala arah, bertumpuk menjadi silau, hingga matanya tak lagi mampu menangkap apa-apa. Kadang saya merasa peradaban hari ini pun mengalami kebutaan yang persis sama.
Itu sebabnya pengalaman di Astana Gede perlu saya alami berulang kali. Setiap kali melibatkan diri, tubuh seperti dipaksa memulihkan kecerdasannya, telinga diminta lebih peka terhadap suara yang sayup, kaki dituntut mampu menyusuri kontur jalan, dan mata belajar membedakan gradasi bayangan. Kita tidak menerima pengalaman yang seakan aman melalui layar terang, tetapi mengalaminya melalui tubuh dan seluruh naluri yang dimilikinya. Dalam keseharian, hal-hal seperti ini lebih sering dianggap tidak penting.
Di tengah perjalanan itu, saya mengingat kebiasaan kita pergi ke alam. Naik gunung, menerabas belantara, mengejar matahari terbit atau terbenam, berkemah di tepi danau—semuanya kini menjadi bagian dari gaya hidup yang semakin marak. Tidak ada yang salah dengan itu. Meski sesekali saya heran melihat mendaki gunung kini bisa berarti memesan ojek hingga ke puncak. Dan setelah sampai di sana, apakah kita sungguh-sungguh mengalami alam atau hanya memindahkan kebiasaan ke tempat yang terkesan lebih alami?
Gunung kerap hanya menjadi latar belakang bagi swafoto. Hutan menjadi bingkai untuk unggahan. Matahari terbit menjadi sesuatu yang harus segera direkam sebelum benar-benar terbit. Kita datang membawa kamera, mi instan, gitar, dan segala perlengkapan untuk membuat rumah kecil di tengah alam. Kita sengaja meninggalkan kota modern secara geografis, tetapi membawa seluruh kebisingannya ke puncak kesunyian. Pergi ke alam ternyata tidak otomatis membuat manusia lebih dekat dengan dirinya sendiri. Kesediaan untuk hadir sepenuhnya sering kali tersingkir oleh kebutuhan dokumentasi yang entah untuk apa.
Dalam Nyiar Lumar, kita tidak sekadar menyaksikan, tetapi perlahan ikut terserap ke dalamnya. Tidak hanya melihat pertunjukan, tetapi menjadi bagian dari laku perjalanan. Pada puncak acara, ketika Bi Raspi memimpin Ronggeng Gunung di sekitar api unggun, gerakan yang sederhana dan berulang perlahan menarik orang-orang ke dalam lingkaran. Batas antara penonton, seniman, dan masyarakat seakan hilang. Bahkan siluet pohon-pohon tua di sekitar yang dihembus angin tampak seolah ikut terlibat dalam tayub.
Tidak ada panggung untuk menjaga jarak. Yang tersisa adalah tubuh-tubuh yang bergerak, kidung yang mengalun, api unggun di tengah lingkaran, dan malam yang menyatukan semuanya di pelataran.
Di situlah Nyiar Lumar mengajak kita untuk terlibat lebih jauh. Pengulangan gerak sederhana, perjalanan dari satu pertunjukan ke pertunjukan lain, gelap yang tidak perlu disingkirkan, serta suasana yang tidak diburu-buru membuat pengalaman itu bekerja perlahan. Ia tidak menjelaskan segala sesuatu secara gamblang. Ia hanya menyediakan ruang agar tubuh dan pikiran menemukan maknanya sendiri—yang mungkin tidak akan seragam bagi setiap orang.
Seorang pelancong asing pernah mengatakan kepada Godi Suwarna, salah satu tokoh penting sejak awal perhelatan, bahwa baginya Nyiar Lumar seperti “surga yang pernah saya impikan”. Saya memahami ungkapan itu. Namun, mungkin yang ia sebut surga bukanlah tempat itu sendiri, melainkan perjumpaan yang jarang terjadi antara manusia, alam, dan waktu yang berjalan lebih lambat. Astana Gede menyediakan ruangnya, sementara Nyiar Lumar menghadirkan cara untuk mengalaminya. Di sana, untuk beberapa jam, kita diberi kesempatan melihat kehidupan dari jarak yang berbeda.
Nyiar Lumar pertama kali digelar pada 1998, ketika Indonesia sedang berada di salah satu ambang masa paling genting dalam sejarah politik modern. Ia lahir dari kegelisahan para seniman dan budayawan di tengah situasi ketika banyak orang bergerak ke kota-kota besar untuk menuntut reformasi. Mereka memilih berkumpul di Astana Gede dan berefleksi dengan berbagai pertunjukan.
Ada paradoks dalam kelahiran peristiwa bernama Nyiar Lumar—mencari cahaya—justru ketika negeri sedang diliputi ketidakpastian. Sejak itu, Nyiar Lumar tumbuh menjadi tradisi dua tahunan di Astana Gede, yang di kemudian hari diakui secara resmi oleh negara sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dari Kabupaten Ciamis. Namun, jauh melampaui legitimasi administratif itu, ia tetaplah sebuah ruang berkumpul yang dirawat mandiri oleh komunitasnya.
Hari ini, istilah “Indonesia Gelap” sering muncul di ruang-ruang digital, terutama di kalangan anak muda. Menarik bahwa generasi yang tumbuh di tengah limpahan informasi justru memilih satu kata yang sederhana untuk menggambarkan kegelisahannya: gelap. Keputusan demi keputusan lahir silih berganti, tetapi tidak selalu menghadirkan arah yang lebih jelas. Ironinya sulit diabaikan. Kita hidup di zaman yang semakin terang, tetapi perasaan kehilangan arah justru semakin santer dibicarakan.
Tentu saja persoalan kita hari ini bukan lagi kekurangan cahaya seperti ketika pengetahuan sulit diperoleh. Persoalan kita justru adalah kelimpahan cahaya, semacam polusi yang membuat pandangan kehilangan kejernihannya. Nyiar Lumar terasa relevan karena ia menawarkan kebersahajaan. Kegelapan tidak selalu harus segera disingkirkan, melainkan dapat diterima dan dimasuki. Sebab, kadang-kadang justru di sanalah mata kembali belajar melihat.
Di tengah kegilaan pada teknologi, kecerdasan artifisial, layar imersif, tata cahaya, dan segala sesuatu yang semakin canggih, Nyiar Lumar tetap ajeg sebagai tradisi. Bahkan setelah disematkan status formal sebagai Warisan Budaya Takbenda, ia tidak menambahkan banyak hal atau memasang lampu-lampu gemerlap hanya demi tampak relevan. Kesediaannya mempertahankan kesederhanaan telah menjadi pernyataan artistik tersendiri. Barangkali tidak semua yang tidak berubah adalah sesuatu yang tertinggal. Ada kalanya, bertahan pada yang purba adalah bentuk pembangkangan sadar terhadap perlombaan modernitas yang tidak jelas garis akhirnya.
Menjelang akhir malam, kami kembali dari Pasanggrahan Cikawali. Bi Raspi dan Ronggeng Gunung telah usai. Kami meninggalkan api unggun yang tinggal bara. Sebagian damar sewu sudah padam. Jalan masuk yang tadi diterangi cahaya kecil kini jadi jalan keluar yang lebih gelap lagi. Sampai di sekitar lokasi prasasti, batu-batu tua peninggalan Kerajaan Galuh bukan lagi sekadar ingatan yang dipahat pada batu, melainkan penanda betapa panjang waktu telah berjalan. Saya melangkah setengah merayap meninggalkan tempat itu sambil membayangkan kerajaan runtuh, kekuasaan silih berganti, rezim bangkit dan tumbang, teknologi bermutasi, tetapi manusia masih mengulang pertanyaan eksistensial yang sama: bagaimana manusia menemukan arah?
Ketika akhirnya keluar dari kawasan Astana Gede, cahaya dari dunia luar kembali menyambut. Jalan raya, kendaraan, lampu, telepon genggam, berita, pekerjaan, tagihan, kebijakan pemerintah, dan segala urusan yang tadi ditinggalkan sementara kembali menunggu. Tidak ada surga yang benar-benar bisa kita bawa pulang. Nyiar Lumar pun tidak mengubah kehidupan menjadi lebih mudah. Ia hanya memberi jeda agar kita kembali kepadanya dengan mata yang sedikit berbeda.
Mungkin itulah makna “nyiar”—mencari. Bukan menemukan cahaya sekali, lalu selesai. Bukan pula melarikan diri ke masa lalu setiap kali masa kini membuat kita kecewa. Kita hidup bukan di surga, juga bukan di masa lalu yang penuh jebakan nostalgia. Kita hidup di zaman yang penuh cahaya artifisial yang tidak selalu bisa dipercaya. Karena itu, sesekali kita perlu masuk ke dalam temaram, mendekati gelap dan rimbunnya rimba untuk mengingat kembali cara melihat yang perlahan hilang dari keseharian.
Malam yang Direbut, Tubuh yang Mengingat: Dari Fobia Kegelapan Menuju Temaram Nyiar Lumar
Kita hidup dalam sebuah peradaban yang tampaknya mengidap ketakutan akut terhadap bayang-bayang. Begitu matahari terbenam, manusia modern segera menyalakan ribuan matahari buatan: lampu-lampu jalan berdaya tinggi, reklame LED raksasa yang menyala tanpa jeda, sorot etalase toko, hingga pendar gawai yang tak pernah benar-benar lepas dari genggaman. Kita merasa aman hanya ketika segala sudut tampak benderang. Namun, di balik rasa aman yang semu itu, ada sesuatu yang perlahan terenggut: malam itu sendiri.
Keresahan atas hilangnya malam ini dibedah secara tajam oleh Tim Edensor, sosiolog dan geograf budaya dari Manchester Metropolitan University. Melalui bukunya yang berpengaruh, From Light to Dark: Daylight, Illumination, and Gloom (2017), Edensor tidak melihat polusi cahaya sekadar sebagai persoalan teknis pemborosan kilowatt atau gangguan instrumen optik. Baginya, pencahayaan berlebih (over-illumination) adalah bentuk kekerasan visual yang homogen. Cahaya artifisial telah meratakan tekstur malam, melenyapkan gradasi temaram, dan menghapus misteri yang semestinya dirawat dalam ruang hidup manusia.
Lebih jauh, Edensor mengingatkan kita bahwa tata cahaya kota modern bekerja sebagai instrumen kekuasaan. Ada relasi kontrol sosial dan hasrat kapitalisme yang berkelindan di sana. Negara dan aparat membutuhkan jalanan yang terang benderang untuk mempermudah pengawasan (surveillance), mendisiplinkan ruang publik, dan menertibkan gerak-gerik warga. Sementara itu, korporasi dan industri pariwisata memanfaatkan banjir cahaya untuk menciptakan lanskap fantasi—sebuah etalase gemerlap yang terus merangsang dorongan belanja 24 jam sehari. Kita dijejali narasi tunggal: bahwa kemajuan selalu identik dengan benderang, sementara kegelapan adalah tanda keterbelakangan, sarang kriminalitas, dan ruang yang harus dimusnahkan.
Bagi Edensor, ketakutan kolektif terhadap kegelapan (nyctophobia) bukanlah bawaan alami manusia sejak lahir. Ia adalah hasil habituasi berabad-abad sejak Revolusi Industri mereduksi malam menjadi sekadar perpanjangan jam kerja siang hari. Kita dibiasakan untuk panik setiap kali cahaya padam.
Sebagai tawarannya, Edensor mereklamasi apa yang ia sebut sebagai the gloomy—sebuah wilayah remang, temaram yang teduh. Bersama Nick Dunn dalam Dark Skies: Places, Practices, Communities (2023), ia mengajak kita kembali menjalin relasi dengan kegelapan (reconnecting with darkness). Ketika mata tak lagi dimanjakan oleh gelontoran cahaya yang menyilaukan, indra-indra lain yang lama tertidur justru terbangun: telinga mulai mampu memilah desau angin yang paling subtil, hidung mengenali aroma tanah basah, dan telapak kaki belajar meraba lekuk permukaan bumi. Di dalam temaram pula, keintiman dan rasa kebersamaan (conviviality) menemukan ruangnya. Di bawah cahaya yang redup, manusia tak saling menghakimi lewat tampilan visual semata; ada kehangatan yang mendekatkan jarak antarmanusia, sebuah pengalaman komunal yang mustahil hadir di bawah lampu sorot neon yang dingin dan steril.
Karena itu, konsep pemulihan melalui Dark Sky Parks (Taman Langit Gelap) atau festival jalan malam (nightwalking) yang diteliti Edensor bukanlah sekadar arena wisata melihat bintang (stargazing). Ruang-ruang ini adalah tempat detoksifikasi kultural. Manusia diajak berjalan di dalam pekat tanpa senter, melatih tubuh agar tak lagi panik saat visualitasnya runtuh, dan menyadari bahwa malam yang alami tidaklah mengerikan.
Di Indonesia, percakapan mengenai langit gelap dan polusi cahaya belakangan memang mulai menggeliat, kendati sebagian besar masih digerakkan dari bilik-bilik sains observatorium. Di satu sisi, langkah ini sangat mendesak. Kita melihat bagaimana para ilmuwan terkemuka seperti Prof. Thomas Djamaluddin dan Dr. Clara Yono Yatini dari Pusat Riset Antariksa BRIN gigih menyuarakan pentingnya kawasan langit gelap dan pengukuran kecerlangan langit (sky brightness). Upaya ini berpacu dengan waktu demi menyelamatkan operasional observatorium besar, seperti Observatorium Nasional Timau di NTT, dari nasib serupa Observatorium Bosscha di Lembang yang kini terkepung polusi cahaya parah akibat laju komersialisasi kawasan Bandung Utara.
Kegelisahan para astronom ini mengingatkan kita pada jejak sejarah kota Flagstaff di Arizona sejak dekade 1950-an demi melindungi Lowell Observatory, atau kota Tucson pada 1972 yang menjadi kota besar pertama penegak regulasi tata cahaya luar ruang berkat keberadaan Saguaro National Park dan observatorium di sekitarnya. Melalui lampu bertudung penuh (full cutoff) dan pembatasan spektrum cahaya putih kebiruan, kota-kota tersebut membuktikan bahwa meredupkan skyglow perkotaan sama sekali tidak mengorbankan keselamatan warga.
Namun, mengurung isu polusi cahaya semata-mata pada data angka fotometri astronomis tentu belum cukup. Pendekatan para astronom kerap berhenti pada kalkulasi instrumen ilmiah. Di sinilah suara para pemikir humaniora di tanah air menjadi jembatan yang menyentuh dimensi batin manusia. Sastrawan senior Eka Budianta, lewat Komunitas Sahabat Bosscha, telah lama memperjuangkan penyelamatan lanskap historis Bosscha bukan sekadar sebagai pos peneropong bintang, melainkan sebagai artefak peradaban dan cagar budaya yang mengingatkan manusia akan batas keangkuhannya di hadapan semesta.
Nada serupa disuarakan oleh Ayu Sarasdewi, pengajar filsafat lingkungan dan filsafat teknologi di Universitas Indonesia. Dalam Pidato Kebudayaan di Dewan Kesenian Jakarta pada 2018, ia mengungkapkan kegelisahan eksistensialnya: bagaimana polusi udara dan banjir cahaya di kota-kota megapolitan telah merenggut langit berbintang dari ingatan batin manusia modern. Kehilangan malam yang pekat bukan cuma kehilangan pemandangan alam, melainkan pengasingan spiritual yang memutus dialog kosmis manusia dengan misteri penciptaan.
Jika di belahan bumi lain pemulihan malam harus diupayakan melalui regulasi tata kota yang rumit atau pembangunan cagar langit buatan negara, di tatar Sunda kita memiliki sebuah peristiwa kebudayaan yang mengakar begitu organik dari tanah dan laku komunal: Nyiar Lumar.
Dihelat setiap dua tahun sekali di situs megalitikum Astana Gede Kawali, Ciamis, Nyiar Lumar menghadirkan sebuah kritik peradaban yang melampaui teori-teori perkotaan. Jika Edensor merumuskan pemulihan kegelapan melalui konsep sosiologis, para seniman, budayawan, dan masyarakat di Kawali telah mewujudkannya menjadi laku hidup yang nyata.
Ada yang seketika berubah begitu kita melangkah melewati gerbang batu Astana Gede. Di sana, peradaban listrik sengaja ditinggalkan di luar. Hutan lindung seluas lima hektare yang menyimpan jejak prasasti Kerajaan Galuh purba itu dibiarkan tenggelam dalam keheningan dan gelap alami. Tidak ada lampu sorot panggung, tidak ada pengeras suara bising yang memecah rimba. Satu-satunya sumber penerangan hanyalah damar sewu—ratusan poci tanah liat berisi minyak kelapa dan sumbu menyala yang diletakkan berjajar di atas tanah—serta obor bambu dan api unggun yang dinyalakan di pelataran Pasanggrahan Cikawali.
Pada menit-menit awal memasuki hutan, mata kita yang terbiasa terpapar silau kota akan mendadak buta. Ada kepanikan kecil yang merayap ketika pupil mata dipaksa bernegosiasi dengan pekat. Namun, bila kita bersedia sabar dan menahan diri untuk tidak menyalakan lampu senter ponsel, tubuh perlahan-lahan mengambil alih kendali. Perlahan, pupil membesar. Siluet rumpun bambu, dedaunan kiara, dan batang-batang pohon tua yang menjulang mulai menampakkan garisnya. Tanah yang berakar dan bebatuan kali tak lagi menjadi ancaman, melainkan diakrabi oleh telapak kaki yang melangkah dengan penuh kesadaran.
Di Astana Gede, kita diajak mengalami apa yang sering kita lupakan: bahwa tubuh menyimpan kecerdasannya sendiri, sebuah kecerdasan purba yang dibungkam oleh kenyamanan artifisial.
Nyiar Lumar bukan sekadar festival seni tontonan. Ia adalah sebuah lalampahan—laku perjalanan malam yang menuntut keterlibatan ragawi dan rohani secara utuh. Melalui tahapan ritus dari Mitembeyan, Ngawalan, Lalampahan, hingga Magelaran, penonton tidak duduk diam di kursi bernomor menanti hiburan selesai. Kami bergerak menyusuri lorong-lorong hutan yang remang, melintasi parit kuno, berhenti sejenak di dekat batu bertulis untuk menyimak sebait puisi yang dibisikkan dalam temaram, mendengarkan lengking suling bambu dari balik rimbun semak, atau menyaksikan tubuh-tubuh penari yang bergerak seperti bayang-bayang di antara pepohonan. Alam tidak pernah diperlakukan sebagai latar pasif; hutan, tanah, batu, dan kegelapan itu sendiri adalah narasi utamanya.
Pemberian nama peristiwa ini pun sarat dengan kedalaman filosofis. Nyiar berarti mencari, sementara lumar merujuk pada pendaran cahaya kehijauan yang dihasilkan oleh jamur fosforesens (bioluminesensi) yang tumbuh di batang-batang kayu lapuk di kedalaman rimba yang lembap. Menemukan lumar bukanlah perkara menyorotkan cahaya terang, melainkan justru membutuhkan ketiadaan cahaya. Pendaran renik itu hanya akan terlihat oleh mereka yang bersedia masuk ke dalam gelap gulita dan membiarkan matanya hening.
Ironi terbesar peradaban kita hari ini adalah bahwa kita merasa semakin tercerahkan justru ketika kita semakin silau dan kehilangan daya pandang. Kita mengalami semacam kebutaan modern—bukan karena mata tertutup jelaga hitam, melainkan karena segala hal dibuat terlalu terang benderang. Jawaban disodorkan bahkan sebelum kita selesai merumuskan pertanyaan; layar-layar membanjiri ruang batin dengan informasi yang tak kunjung mengendap menjadi kebijaksanaan.
Dalam atmosfer Nyiar Lumar, kegelapan tidak pernah diposisikan sebagai musuh yang harus diusir, melainkan rahim yang melahirkan perjumpaan. Pada puncak perhelatan di pelataran Pasanggrahan, ketika Bi Raspi melantunkan kidung Ronggeng Gunung di sekeliling api unggun yang berkobar pelan, gerakan langkah kaki yang repetitif perlahan meluruhkan segala sekat. Tidak ada panggung yang meninggikan seniman dan merendahkan penonton. Warga desa, seniman urban, akademisi, hingga pelancong asing larut bergandengan tangan, berputar dalam lingkaran yang sama. Di bawah lindungan malam yang remang, wajah-wajah tak lagi dipisahkan oleh status sosial atau atribut kelas. Yang tersisa hanyalah tubuh-tubuh yang bernapas, suara tanah yang berdenyut, dan hembusan angin malam yang menyatukan segalanya.
Mungkin inilah alasan mengapa Nyiar Lumar yang lahir di masa genting 1998 tetap bertahan ajeg hingga kini, tanpa tergoda untuk mengubah dirinya menjadi tontonan industri yang glamor. Di tengah perlombaan modernitas yang melelahkan, bertualang ke dalam temaram Astana Gede adalah bentuk pembangkangan sunyi yang sangat berharga.
Ketika menjelang fajar kami melangkah keluar meninggalkan gerbang batu Kawali, pendar damar sewu telah lama surut menjadi jelaga. Dari kejauhan, lampu-lampu jalan raya, bising deru kendaraan, dan layar ponsel yang kembali bergetar telah siap menyambut dengan segala tuntutan hidup yang tak pernah usai. Namun, ada yang tertinggal dalam diri kita. Kita pulang bukan dengan membawa ilusi surga, melainkan dengan membawa mata dan batin yang sedikit berbeda: sebuah kesadaran bahwa kita tidak harus selalu hidup dalam silau yang melelahkan. Sesekali, kita perlu merelakan diri didekap oleh temaram, agar di balik pekatnya malam, kita kembali ingat bagaimana caranya melihat.
Mata Satelit di Atas Astana Gede: Pengepungan Sunyi dan Kebutaan yang Terencana
Ada saat-saat di mana kita perlu menanggalkan sejenak kesyahduan berjalan kaki di bawah rimbun pohon kiara Astana Gede Kawali, menyingkirkan aroma minyak kelapa dari sumbu damar sewu, lalu memandang tanah ini dari tempat yang sangat jauh dan dingin: dari orbit luar angkasa.
Di sana, ratusan kilometer di atas kepala kita, meluncur satelit Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) dan instrumen lawas DMSP-OLS milik NASA. Matanya tidak memiliki pupil yang berkedip menahan silau, juga tidak menyimpan rasa gentar terhadap kabut malam. Satelit itu hanya merekam angka, mendeteksi foton yang bocor dari bumi, dan menerjemahkannya ke dalam baris-baris algoritma di layar komputer. Melalui antarmuka Google Earth Engine, apa yang selama ini kita rasakan sebagai “kehilangan remang” di Kawali seketika bermutasi: ia bukan lagi sekadar gugatan puitis para budayawan, melainkan fakta biofisik yang telanjang, presisi, dan mengerikan.

(Visualisasi 1: Tangkapan layar antarmuka komputasi spasial Google Earth Engine yang memetakan konsentrasi radiansi malam di area sirkular beradius 5 km di atas kawasan Kawali)
Di layar monitor, sebaris kode JavaScript mengeksekusi visualisasi radiansi dengan palet spektrum yang tampak seperti pembedahan luka: gradasi warna bermula dari hitam pekat, meluncur ke ungu gelap (#1c0d4a), violet pekat (#8a2be2), oranye membakar (#ff8c00), hingga berakhir pada putih kapur yang menyilaukan. Ketika batas wilayah observasi ditarik melingkar beradius lima kilometer dari koordinat jantung Astana Gede—mengisolasi Kawali dari pusaran distrik di sekitarnya seperti Panjalu, Ciawi, hingga Rancah—peta panas (heatmap) itu memperlihatkan sebuah pengepungan yang telah berlangsung berpuluh tahun tanpa letusan senjata.
Pada tahun 1998, ketika Nyiar Lumar pertama kali dicetuskan oleh para seniman di tengah sengkarut krisis multidimensi yang meremukkan republik, sensor DMSP mencatat rata-rata pancaran cahaya malam Kawali berada di angka 7,08 (dalam skala indeks Digital Number 0–63). Saat itu, malam masih berupa ruang yang luas dan murah hati. Kegelapan adalah tanah bersama (commons), sebuah selimut alamiah yang membungkus hutan kabuyutan dan batu-batu prasasti peninggalan wangsa Galuh dalam hening yang purba. Cahaya buatan hanyalah noktah-noktah kecil yang malu-malu, terisolasi di sudut-sudut permukiman warga.

(Visualisasi 2: Grafik deret waktu VIIRS DNB NASA BRDF v2.0 periode 2012–2026 pada area inti 0,21 km² di koordinat 108.3703° BT, 7.1854° LS)
Namun, grafik deret waktu (time-series) dari sensor VIIRS DNB resolusi tinggi pada area inti seluas 0,21 kilometer persegi (di sekitar titik koordinat 108.3703° BT dan 7.1854° LS) menyingkap kurva yang mendaki tanpa ampun. Sejak 2012 hingga 2026, garis tren (trendline) emisi cahaya malam di titik ini melonjak dua kali lipat: merangkak dari kisaran 5 nanoWatts/cm²/sr hingga menembus angka rata-rata 10 nanoWatts/cm²/sr, dengan letupan-letupan data bulanan yang berkali-kali mencakar angka ekstrem 13 hingga lebih dari 15 nW/cm²/sr. Pada skala kawasan radius lima kilometer, rata-rata pancaran radiansi kini mencatatkan angka 1,38 nW/cm²/sr.

(Visualisasi 3: Peta sebaran koridor radiansi cahaya malam Radiance Light Trends yang memperlihatkan rambatan pendaran lampu melintasi permukiman dan jalur penghubung antardistrik)
Di atas peta digital, angka-angka itu termanifestasi sebagai bintik putih dan kuning menyala yang bercokol tepat di episentrum kota kecamatan, dikelilingi pita-pita oranye dan ungu yang merayap di sepanjang koridor jalan raya. Peta sebaran radiansi (Radiance Light Trends) memperlihatkan bagaimana jaringan jalan antardesa—dari Winduraja, Margamulya, Karangpawitan, hingga Selasari—telah berubah menjadi urat-urat cahaya yang tak pernah padam. Dari barat, cahaya Panjalu dan Ciawi menjalar seperti sulur-sulur kawat berduri artifisial; dari timur, denyut aktivitas Rancah merangsek menekan batas rimba. Zona penyangga (buffer zone) yang semestinya menjaga kesakralan Astana Gede perlahan tapi pasti tergerus, terdesak oleh radiasi foton lampu-lampu jalan merkuri, pertokoan ritel modern, reklame pasar, dan kilau lampu sorot yang dipasang atas nama ketertiban lingkungan.
Di titik inilah letak ironi peradaban yang paling menyakitkan. Setiap dua tahun sekali, ribuan manusia urban datang berduyun-duyun ke Kawali, mengemas ransel, memesan homestay, membawa kamera saku dan gawai canggih, demi merayakan sebuah laku kultural yang disebut “mencari kegelapan”. Kita berbaris di gerbang batu Astana Gede, memadamkan lampu ponsel selama dua jam, lalu mengagumi betapa eksotisnya suasana gelap dan temaram damar sewu.
Kita memperlakukan kegelapan malam seperti satwa langka yang diawetkan di dalam suaka buatan: sebuah suaka seluas beberapa hektare yang rapuh, dikepung oleh lautan cahaya buatan yang rakus di luar pagar pembatasnya. Kita meromantisasi kegelapan sebagai jeda akhir pekan, sementara saku celana kita terus bergetar memancarkan pendar layar biru yang menuntut produktivitas tiada henti.
Data satelit NASA ini membongkar kepalsuan kita: kita tidak sedang memulihkan malam; kita hanya sedang memamerkan ketidakmampuan kita untuk hidup tanpanya. Kita mengira sedang merawat warisan Kerajaan Galuh dengan menyalakan api unggun dan menari Ronggeng Gunung di pelataran Pasanggrahan Cikawali. Padahal, dari sudut pandang sensor radiasi angkasa, kawasan itu hanyalah sebuah pulau kecil berwarna ungu tua yang sekarat, dikelilingi dinding kobaran api pendaran putih yang kian menyempit setiap tahunnya.
Pikiran saya kembali tertuju pada hakikat kata lumar—cendawan fosforesens renik yang hanya sudi memancarkan cahaya hijau lembutnya jika kayu tempat ia menempel diselimuti oleh kegelapan mutlak rimba tropis. Jamur itu tidak membutuhkan lumens tinggi untuk menjadi indah. Ia menuntut ketiadaan cahaya dari luar agar pendar batiniahnya dapat terbaca oleh mata yang telah hening.
Yang meresahkan dari grafik garis tren yang mendaki tajam itu bukanlah sekadar matinya ekosistem nokturnal serangga, rusaknya ritme sirkadian pohon kiara, atau hilangnya kesempatan anak-anak Kawali menatap bentangan Bimasakti. Yang paling menakutkan adalah kepunahan sensorik dalam diri kita sendiri. Kita sedang menuju sebuah masa di mana anak cucu kita kelak tidak akan pernah tahu lagi seperti apa rupa malam yang sejati. Mereka akan tumbuh dalam dunia yang selalu menyala, terbiasa dengan malam yang dibikin sepucat siang, dan tak lagi mengenali rasa hormat di hadapan hal-hal yang tak kasat mata.
Grafik satelit itu menunjukkan garis yang terus merangkak naik, seolah tak ada satu pun kebijakan tata ruang atau kesadaran kebudayaan yang mampu menahannya. Pada akhirnya, jika titik putih di peta Google Earth Engine itu kelak menelan habis seluruh lingkaran hijau Kawali, Astana Gede mungkin masih akan berdiri sebagai situs cagar budaya. Batu-batu prasasti itu mungkin masih akan dikunjungi. Nyiar Lumar mungkin masih akan digelar dengan panggung yang lebih megah dan promosi pariwisata yang lebih bising.
Tetapi pada saat itu tiba, lumar tak akan pernah berpendar lagi. Bukan karena jamurnya telah mati membusuk di lantai hutan, melainkan karena peradaban manusia telah menjadi begitu silau, begitu pongah, dan begitu buta—hingga kita tak lagi mampu menyadari bahwa kita telah kehilangan seluruh kemampuan untuk melihat.
Maka di ujung malam, ingatan saya kembali tertumbuk pada pengakuan seorang pelancong asing kepada Godi Suwarna yang dulu terngiang begitu manis: bahwa Nyiar Lumar adalah “surga yang pernah saya impikan.”
Kalimat itu kini bergema dengan nada yang jauh lebih ganjil, bahkan mencemaskan.
Sepanjang sejarah peradaban dan dogma yang kita warisi, manusia selalu diajarkan untuk membayangkan surga sebagai kemutlakan terang. Surga digambarkan sebagai bentang keabadian yang benderang, tempat di mana kegelapan telah ditumpas habis, tempat di mana tidak ada malam, tidak ada rahasia, dan tidak ada bayang-bayang yang menyembunyikan ketidakpastian. Dengan segala keangkuhan teknologinya, modernitas hari ini sesungguhnya sedang berikhtiar mewujudkan teologi itu di atas bumi: kita melenyapkan malam dengan jutaan megawatt listrik, menolak jeda, menyalakan kota-kota 24 jam sehari, dan membiarkan layar-layar digital menyinari wajah kita bahkan hingga ke ambang tidur. Kita telah berhasil menciptakan sebuah dunia yang tak pernah padam.
Namun, di tengah kepungan angka radiansi satelit yang terus memutihkan tanah Kawali, sebuah pertanyaan yang getir dan mengganggu mendadak menyergap batin: jadi, apakah surga yang selama ini kita rindukan itu sesungguhnya ada dalam terang, atau justru bersemayam di dalam gelap?
Jika surga adalah terang benderang yang tanpa batas, mengapa manusia-manusia modern yang hidup bergelimang cahaya ini justru merasa begitu letih, cemas, dan terasing? Mengapa kita harus menempuh ratusan kilometer perjalanan, meninggalkan kenyamanan kota, hanya demi meraba-raba jalan di dalam hutan lindung Astana Gede dan mengemis sepotong malam yang pekat?
Barangkali, ada dusta purba yang tak pernah berani kita akui: bahwa terang yang mutlak sesungguhnya bukanlah keselamatan, melainkan sebentuk neraka yang rapi. Terang yang tak pernah padam adalah ruang interogasi, panggung pengawasan total di mana tubuh dipaksa untuk terus terlihat, terus terjaga, dan terus berproduksi tanpa hak untuk beristirahat. Terang yang berlebihan menelanjangi kerapuhan kita, membakar misteri, dan menuntut kepastian dari segala sesuatu yang semestinya cukup dihayati dalam hening.
Sebaliknya, kegelapan yang kita temui di sela damar sewu—gelap yang sabar, yang tidak menghakimi, yang memberi ruang bagi pupil mata untuk membesar dan telapak kaki untuk kembali meraba bumi—terasa jauh lebih dekat dengan pelukan rahim asal-usul kita. Di sanalah kerinduan eksistensial kita pulang: pada keteduhan yang memaafkan kelelahan kita, pada kesunyian yang membiarkan kita menjadi rapuh tanpa harus diadili oleh tatapan mata yang silau.
Tragedi terbesar kita hari ini barangkali bukan karena kita gagal meraih surga yang kita impikan. Tragedi kita adalah kita telah berhasil membangun “surga terang” itu di dunia nyata—sebuah surga artifisial dari pendar LED, serat optik, dan algoritma yang menolak malam. Kita kini terpenjara di dalamnya: telanjang di bawah sorot cahaya yang membakar akal budi, sembari merindukan sebuah surga lain yang tersembunyi di dalam pekatnya kegelapan rimba purba.
Dan yang paling mengerikan dari semua ini: ketika kelak kita memohon agar cahaya itu dipadamkan, kita baru menyadari bahwa sakelarnya telah lama hilang, dan kegelapan yang kita rindukan itu telah musnah—bahkan sebelum kita sempat belajar cara mencintainya.
Baca juga tulisan Deri Hudaya di HumaNiniNora
Anggota tim penulis: Wahyu Heriyadi.
Referensi Rujukan:
Dunn, Nick, & Edensor, Tim. (2023). Dark Skies: Places, Practices, Communities. London: Routledge.
Edensor, Tim. (2017). From Light to Dark: Daylight, Illumination, and Gloom. Minneapolis: University of Minnesota Press.
Sarasdewi, L. G. Saraswati. (2018). Pidato Kebudayaan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2018: Ruang, Ekofeminisme, dan Keheningan. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.
Alat Web (Web Tools) & Data Satelit yang Digunakan:
Analisis spasial dan visualisasi pada tangkapan layar memanfaatkan dua platform komputasi awan berbasis geospasial:
2. Google Earth Engine (GEE) Code Editor
AI: ChatGPT, Gemini.



Percakapan