Lewati ke konten
17 September 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Esai

Gen Z, Zodiak, Tarot, atau Weton: Ketika Masa Depan Dicari dari Bintang, Kartu, dan Hari Lahir

Ada sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana tetapi cukup menggambarkan zaman kita:

“Kamu percaya zodiak, tarot, atau weton?”

Bagi generasi sebelumnya, pertanyaan semacam itu mungkin dianggap sebagai obrolan ringan. Tetapi di kalangan Gen Z, zodiak, tarot, dan bahkan weton telah menemukan kehidupan baru di ruang digital.

Ramalan tidak lagi harus datang dari majalah, buku primbon, atau orang pintar di kampung. Sekarang ia muncul di layar ponsel.

TikTok memberi tahu siapa jodoh kita berdasarkan kartu tarot. Instagram menjelaskan mengapa seseorang sulit move on karena Scorpio. Aplikasi menghitung birth chart. Sementara weton Jawa yang dahulu ditemukan dalam kalender dan primbon kini dapat dihitung hanya dengan memasukkan tanggal lahir ke dalam sebuah situs atau aplikasi.

Yang berubah bukan hanya ramalannya. Yang berubah adalah cara generasi muda berhubungan dengan ramalan.

Zodiak: “Oh, ternyata memang aku begini”

Zodiak mungkin merupakan bentuk paling ringan dari ketiganya.

Seseorang membaca bahwa Gemini dianggap mudah bosan, Scorpio intens, Libra sulit mengambil keputusan, atau Capricorn ambisius. Lalu muncul reaksi yang sangat khas media sosial:

“Gila, ini gue banget!”

Fenomena semacam ini berhubungan dengan apa yang dalam psikologi dikenal sebagai Barnum Effect: kecenderungan seseorang merasa bahwa deskripsi kepribadian yang sebenarnya cukup umum sangat spesifik menggambarkan dirinya.

Namun, menariknya, zodiak tidak selalu digunakan karena seseorang benar-benar menganggap posisi planet menentukan nasib.

Bagi banyak orang, zodiak berfungsi sebagai bahasa sosial untuk berbicara tentang diri sendiri.

Daripada mengatakan, “Saya orangnya sangat sensitif tetapi sulit mengungkapkan perasaan,” seseorang cukup mengatakan:

“Maklum, gue Cancer.”

Satu kata zodiak menjadi semacam label identitas.

Penelitian Pew Research Center terhadap 9.593 orang dewasa Amerika pada 2024 menemukan bahwa 27% responden mengatakan mereka percaya astrologi, sementara 28% mengatakan mereka berkonsultasi dengan astrologi atau horoskop setidaknya sekali dalam setahun. Kelompok usia muda lebih sering menggunakan praktik-praktik tersebut dibanding kelompok usia lebih tua. 

Tetapi ada satu fakta penting: menggunakan astrologi tidak selalu berarti mempercayainya secara literal.

Banyak orang menggunakannya sekadar untuk hiburan.

Tarot: ketika algoritma menjadi “peramal”

Tarot mempunyai karakter yang berbeda.

Zodiak memberikan identitas berdasarkan tanggal lahir. Tarot memberikan cerita.

Seseorang sedang bingung mengenai pekerjaan, hubungan, atau masa depan. Ia membuka TikTok dan menemukan video:

“Pilih satu kartu. Jangan terlalu banyak berpikir.”

Kemudian muncul tiga kartu.

Pile 1.
Pile 2.
Pile 3.

Pilih satu.

Yang menarik adalah bagaimana mekanisme ini bekerja sangat cocok dengan budaya internet.

Pengguna tidak perlu datang kepada seorang pembaca tarot. Tidak perlu membeli buku. Tidak perlu memahami simbol-simbol tarot secara mendalam.

Cukup scroll.

Dan algoritma akan terus menghadirkan konten serupa.

Pada 2026, fenomena ini bahkan sudah menjadi objek pemberitaan di Indonesia. Detik mencatat bahwa tarot semakin populer di kalangan Gen Z dan sebagian pengguna menggunakannya ketika mengalami kegelisahan atau merasa tidak berdaya. Psikolog klinis Universitas Airlangga, Dian Kartika Amelia Arbi, menjelaskan bahwa tarot dapat digunakan sebagian orang sebagai semacam coping mechanism

Survei Pew di Amerika Serikat juga menunjukkan bahwa praktik tarot jauh lebih populer di kalangan muda: hampir seperempat warga Amerika berusia 18–29 tahun mengatakan mereka berkonsultasi dengan kartu tarot setidaknya sekali setahun. 

Tetapi fenomena Indonesia bahkan lebih menarik.

Sebuah laporan Tirto pada Agustus 2026 menggambarkan bagaimana jasa tarot telah berkembang menjadi layanan komersial: pembacaan dilakukan secara daring, melalui pesan, bahkan dalam bentuk layanan yang dapat dipesan. Salah satu pengguna yang diwawancarai mengeluarkan Rp85.000 untuk membaca persoalan kariernya. 

Di titik ini, tarot tidak lagi hanya soal ramalan.

Ia menjadi industri kecil yang menjual pengalaman mencari kepastian.

Weton: ketika tradisi lama menemukan algoritma baru

Kemudian ada weton.

Weton menarik karena ia bukan produk budaya digital.

Ia jauh lebih tua.

Dalam tradisi Jawa, weton berkaitan dengan kombinasi hari dalam kalender tujuh hari dan pasaran Jawa. Weton digunakan dalam berbagai konteks budaya, termasuk pembacaan karakter, kecocokan pasangan, dan penentuan waktu tertentu.

Tetapi Gen Z mempunyai cara berbeda untuk berhubungan dengan warisan tersebut.

Mereka bisa saja tidak membaca primbon selama berjam-jam.

Cukup:

“Tanggal lahir gue berapa?”

Masukkan tanggal.

Kemudian:

“Oh, gue Jumat Kliwon.”

Di sinilah sesuatu yang menarik terjadi.

Teknologi digital tidak selalu menghancurkan tradisi. Kadang-kadang teknologi justru membuat tradisi lama mendapatkan bentuk baru.

Weton dapat berubah dari pengetahuan yang sebelumnya diwariskan melalui keluarga menjadi konten digital yang dapat dicari, dibagikan, dibandingkan, dan bahkan dijadikan bahan percakapan di media sosial.

Dengan demikian, bagi sebagian Gen Z, weton bisa menjadi semacam identitas budaya digital.

Kalau zodiak berkata:

“Aku Scorpio.”

Weton berkata:

“Aku Jumat Kliwon.”

Keduanya akhirnya melakukan fungsi yang mirip: memberikan sebuah bahasa untuk menjelaskan siapa diri kita.

Jadi, mana yang dipercaya Gen Z?

Pertanyaan ini sebenarnya terlalu sederhana.

Sebab seseorang bisa mengatakan:

“Aku nggak percaya tarot.”

Tetapi tetap menonton video tarot setiap malam.

Seseorang bisa berkata:

“Zodiak mah cuma hiburan.”

Tetapi kemudian bertanya kepada gebetannya:

“Lo Sagitarius atau Capricorn?”

Dan seseorang bisa menganggap dirinya modern dan rasional, tetapi tetap bertanya kepada orang tua:

“Weton saya apa?”

Artinya, hubungan Gen Z dengan praktik-praktik tersebut tidak selalu berbentuk percaya versus tidak percaya.

Ada wilayah abu-abu yang jauh lebih menarik:

penasaran, mencoba, menikmati, mencari validasi, melakukan refleksi diri, kemudian percaya sedikit.

Survei Pew menunjukkan bahwa mayoritas orang Amerika yang menggunakan astrologi, tarot atau jasa peramal mengatakan mereka melakukannya terutama untuk bersenang-senang. Hanya sekitar 6% yang mengatakan mereka sedikit atau banyak mengandalkan informasi tersebut ketika mengambil keputusan besar dalam hidup. 

Dengan kata lain, seseorang bisa menggunakan tarot tanpa menganggap kartu tersebut memiliki kekuatan supranatural.

Ia mungkin hanya sedang mencari sebuah cerita untuk memahami dirinya sendiri.

Mengapa Gen Z membutuhkan cerita?

Di sinilah persoalannya menjadi lebih serius.

Gen Z hidup dalam situasi yang penuh ketidakpastian: pekerjaan berubah, biaya hidup meningkat, hubungan sosial semakin kompleks, algoritma menentukan apa yang kita lihat, sementara masa depan terasa semakin sulit diprediksi.

Dulu, banyak keputusan hidup memiliki jalur yang relatif jelas:

sekolah → kuliah → kerja → menikah → rumah → keluarga.

Sekarang jalurnya jauh lebih bercabang.

Haruskah kuliah?

Haruskah bekerja?

Haruskah menjadi content creator?

Haruskah pindah negara?

Haruskah menikah?

Haruskah putus?

Haruskah resign?

Haruskah memulai bisnis?

Ketika tidak ada jawaban yang pasti, manusia mencari narasi.

Dan zodiak, tarot, maupun weton menyediakan narasi tersebut.

Bukan berarti narasi itu benar secara ilmiah. Tetapi narasi dapat membantu seseorang mengorganisasi kekacauan pengalaman menjadi sesuatu yang terasa lebih mudah dipahami.

Penelitian Pew mengenai spiritualitas global juga menemukan bahwa anak muda tidak otomatis kehilangan ketertarikan pada spiritualitas. Dalam survei 36 negara, orang dewasa muda setidaknya sama mungkinnya dengan kelompok usia lebih tua untuk memegang sejumlah keyakinan spiritual tertentu. 

Jadi mungkin persoalannya bukan bahwa Gen Z menjadi lebih irasional.

Bisa jadi mereka sedang mencari bentuk baru untuk memahami dunia yang terasa semakin tidak pasti.

Dari primbon ke TikTok

Ada ironi menarik di sini.

Kita sering membayangkan modernitas sebagai proses ketika manusia meninggalkan tradisi.

Tetapi internet menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Tradisi bisa hidup kembali ketika menemukan format baru.

Primbon menjadi website.

Weton menjadi aplikasi.

Zodiak menjadi konten TikTok.

Tarot menjadi livestream.

Ramalan menjadi short video.

Dan pembaca tarot menjadi pekerja ekonomi digital.

Yang berubah adalah mediumnya.

Sementara kebutuhan manusia mungkin tetap sama:

“Aku ingin tahu siapa diriku.”

“Aku ingin tahu apakah dia jodohku.”

“Aku ingin tahu apakah keputusan yang kuambil benar.”

“Aku ingin tahu apa yang akan terjadi besok.”

Pada titik tertentu, zodiak, tarot, dan weton bahkan bertemu pada fungsi yang sama.

Ketiganya menawarkan sebuah cermin.

Bedanya, cermin itu datang dari tempat yang berbeda:

zodiak melihat ke langit,
tarot melihat simbol,
weton melihat kalender budaya.

Dan Gen Z melihat semuanya melalui layar smartphone.

Yang paling menarik bukan ramalannya

Karena itu, fenomena Gen Z dan zodiak, tarot, serta weton sebenarnya menarik bukan karena pertanyaan:

“Apakah ramalan itu benar?”

Pertanyaan yang lebih menarik secara sosial adalah:

“Mengapa generasi yang hidup di tengah AI, big data, algoritma, dan teknologi digital masih membutuhkan ramalan?”

Barangkali jawabannya justru ada pada paradoks zaman kita.

Semakin banyak data yang kita miliki, semakin banyak pula ketidakpastian yang kita hadapi.

Kita bisa mengetahui cuaca besok.

Kita bisa menghitung harga saham.

Kita bisa menggunakan AI untuk membuat prediksi.

Kita bisa melihat analytics kehidupan kita sendiri.

Tetapi kita tetap tidak bisa mengetahui:

apakah orang yang kita cintai akan tetap mencintai kita,
apakah pekerjaan kita akan bertahan lima tahun lagi,
atau apakah keputusan yang kita ambil hari ini akan membuat hidup kita lebih baik.

Di ruang ketidakpastian itulah ramalan menemukan pasar barunya.

Bukan karena Gen Z tidak mengenal teknologi.

Justru karena mereka sangat hidup di dalam teknologi.

Dan mungkin pertanyaan terbesar tentang zodiak, tarot, dan weton bukanlah apakah Gen Z percaya kepada ketiganya.

Melainkan:

ketika algoritma tidak mampu memberikan kepastian tentang masa depan, manusia masih membutuhkan mitos untuk membuat masa depan terasa sedikit lebih masuk akal.

Sumber:

Pew Research Center 30% of Americans Consult Astrology, Tarot Cards or Fortune Tellers.

Pew Research Center Believing in Spirits and Life After Death Is Common Around the World.

tirto.id Jasa Tarot di Kalangan Gen Z: Dari Hobi hingga Jadi Profesi.

Detikcom Mengapa Gen Z Ramai-ramai Percaya Ramalan Tarot?

AI: ChatGPT

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *