Lewati ke konten
17 September 2026Jelajahi arsip
Niskala News

Jurnalisme, gagasan, dan kebudayaan

Kecerdasan Buatan

Persaingan AI AS–China Menjadi Isu Diplomatik Besar: Dari Perlombaan Chip hingga Risiko Perang Siber

Artificial intelligence atau AI perlahan berubah dari persoalan teknologi menjadi persoalan strategis antarnegara. Amerika Serikat dan China tidak lagi hanya bersaing mengenai siapa yang memiliki chatbot paling pintar atau perusahaan teknologi paling bernilai. Di belakang perkembangan model AI terdapat persoalan yang jauh lebih besar: chip, pusat data, keamanan siber, kekuatan militer, industri, kekayaan intelektual, dan siapa yang akan ikut menentukan aturan AI dunia.

Karena itu, ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu di Washington pada 24 September 2026, AI diperkirakan menjadi salah satu isu penting dalam pembicaraan mereka. Reuters melaporkan bahwa persaingan AI bahkan telah menjadi salah satu persoalan utama yang membayangi pertemuan tersebut. 

Yang menarik, Washington dan Beijing sebenarnya menghadapi persoalan yang sama: bagaimana mengendalikan teknologi yang berkembang sangat cepat tanpa kehilangan keunggulan strategis.

Tetapi keduanya memiliki pendekatan yang berbeda.

AI bukan lagi sekadar perlombaan teknologi

Selama beberapa tahun terakhir, persaingan teknologi Amerika Serikat dan China sering dibicarakan melalui nama perusahaan: Nvidia, OpenAI, Google, Anthropic di satu sisi; Huawei, DeepSeek, Alibaba, Moonshot AI dan perusahaan China lainnya di sisi lain.

Namun, kompetisi sebenarnya jauh lebih luas.

AI membutuhkan tiga hal utama: model, komputasi, dan data.

Model membutuhkan komputer dalam jumlah sangat besar untuk dilatih. Komputer tersebut membutuhkan chip AI berperforma tinggi. Dan semuanya membutuhkan pusat data dengan pasokan listrik yang besar.

Inilah alasan mengapa semikonduktor menjadi bagian penting dari politik luar negeri Amerika Serikat terhadap China.

Sejak 2022, Washington memberlakukan berbagai pembatasan ekspor terhadap chip AI canggih dan peralatan pembuatan chip ke China. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk membatasi kemampuan China memperoleh teknologi komputasi paling maju yang dapat digunakan untuk pengembangan AI maupun aplikasi militer. Reuters melaporkan bahwa pembatasan tersebut masih menjadi salah satu titik konflik utama menjelang pertemuan Trump–Xi. 

Dengan demikian, ketika Washington berbicara mengenai AI, yang dibicarakan sebenarnya juga adalah:

siapa yang menguasai chip, siapa yang menguasai pusat data, dan siapa yang memiliki kapasitas komputasi terbesar.

Washington: mempertahankan keunggulan AI

Presiden Trump sendiri dalam beberapa hari terakhir memberikan sinyal yang cukup jelas mengenai cara pemerintahannya melihat persaingan tersebut.

Pada 13 September, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat harus mempertahankan keunggulannya atas China dalam AI. Ia juga menolak gagasan bahwa perkembangan AI harus diperlambat secara signifikan demi alasan keselamatan.

Trump mengakui bahwa sejumlah guardrails atau pembatasan mungkin diperlukan, tetapi menekankan pentingnya memenangkan persaingan teknologi. 

Pernyataan tersebut muncul setelah sejumlah pemimpin perusahaan AI Amerika menyerukan agar pengembangan AI frontier diperlambat atau setidaknya dikelola lebih hati-hati.

Dengan demikian muncul sebuah ketegangan di dalam Amerika Serikat sendiri:

Apakah AI harus diperlambat untuk alasan keselamatan, atau justru harus dipercepat agar Amerika tidak kehilangan keunggulan atas China?

Pertanyaan tersebut kini bukan hanya perdebatan Silicon Valley.

Ia telah menjadi persoalan strategi nasional Amerika Serikat.

Beijing memiliki strategi yang berbeda

China juga tidak melihat AI semata-mata sebagai produk komersial.

Dalam pidatonya di World Artificial Intelligence Conference di Shanghai pada Juli 2026, Xi Jinping menyerukan pengembangan AI melalui keterbukaan, kerja sama dan open source. Pada saat yang sama, ia menekankan bahwa AI harus aman dan tetap berada dalam kendali manusia. 

China bahkan mengumumkan pembentukan World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) sebagai bagian dari upaya Beijing mendorong sistem tata kelola AI internasional yang menurut pemerintah China lebih adil dan inklusif. 

Ini memperlihatkan bahwa Beijing tidak hanya ingin menjadi pengguna AI.

China juga ingin menjadi salah satu pihak yang menentukan aturan internasional mengenai AI.

Pemerintah China menyatakan bahwa industri AI domestiknya telah berkembang pesat. Menurut data yang disampaikan pemerintah China, nilai industri inti AI China pada 2025 telah mencapai lebih dari 1,2 triliun yuan, dengan lebih dari 6.200 perusahaan AI

Persoalan chip semakin rumit

Di sinilah persaingan menjadi lebih konkret.

China membutuhkan chip AI berperforma tinggi untuk mengejar perkembangan model AI frontier. Amerika Serikat, sementara itu, menggunakan kontrol ekspor sebagai salah satu instrumen untuk membatasi akses China terhadap teknologi tersebut.

Tetapi pembatasan tersebut juga menciptakan insentif bagi China untuk membangun ekosistem chip domestik.

Reuters melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan China terus membuat kemajuan dalam desain dan manufaktur chip, sementara efektivitas kebijakan kontrol ekspor Amerika Serikat menjadi bahan perdebatan. 

Dengan kata lain, kebijakan Washington memiliki paradoks:

semakin sulit China mendapatkan chip Amerika, semakin besar dorongan Beijing untuk membangun alternatifnya sendiri.

Itulah sebabnya persaingan AI tidak dapat dipahami hanya sebagai persaingan antara OpenAI dan DeepSeek.

Ini adalah perlombaan membangun seluruh rantai teknologi AI.

Washington menuduh perusahaan China melakukan “distillation”

Salah satu konflik terbaru muncul dari apa yang disebut AI model distillation.

Secara sederhana, distillation adalah metode untuk menggunakan keluaran model AI yang lebih besar atau lebih kuat untuk membantu melatih model yang lebih kecil dan lebih murah.

Teknik semacam itu sendiri bukan sesuatu yang otomatis ilegal atau eksklusif bagi China.

Namun pemerintah Amerika Serikat menuduh sejumlah perusahaan China menggunakan metode tersebut secara agresif untuk memperoleh kemampuan dari model AI Amerika.

Pada September 2026, FBI, NSA dan CISA mengeluarkan peringatan yang menuduh sejumlah perusahaan China—termasuk DeepSeek, Alibaba, Moonshot AI dan Z.ai—melakukan kegiatan distillation terhadap model AI Amerika seperti Claude, GPT, Gemini dan Grok. Pemerintah Amerika mengatakan aktivitas tersebut kemungkinan dilakukan dengan kesadaran pemerintah China. 

Beijing membantah tuduhan tersebut.

Kementerian Perdagangan China menyebut tuduhan Amerika tidak berdasar dan mengatakan distillation merupakan teknik yang digunakan secara luas dalam industri AI global. Beijing juga menuduh Amerika berusaha mempertahankan monopoli terhadap industri AI. 

Ini penting secara jurnalistik karena tuduhan Amerika tersebut belum sama dengan putusan hukum yang membuktikan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut melakukan pelanggaran.

Yang dapat dikatakan sebagai fakta adalah:

  • pemerintah AS mengeluarkan tuduhan;
  • perusahaan China dan pemerintah China membantahnya;
  • tuduhan tersebut kini menjadi bagian dari ketegangan diplomatik AS–China.

AI mulai masuk ke wilayah yang jauh lebih berbahaya: perang siber

Persaingan AI menjadi semakin sensitif karena kemampuan AI bukan hanya menghasilkan teks atau gambar.

AI agent dapat melakukan serangkaian tindakan secara otomatis: mencari informasi, menjalankan kode, mengakses sistem, menganalisis jaringan dan mengambil keputusan berdasarkan tujuan yang diberikan kepadanya.

Inilah yang membuat AI dan cybersecurity menjadi salah satu isu potensial dalam pembicaraan Washington–Beijing.

Reuters melaporkan bahwa Amerika Serikat dan China bahkan sedang mempersiapkan pembicaraan khusus mengenai risiko keamanan AI. Salah satu gagasan yang dibahas adalah bagaimana kedua negara dapat bertukar informasi mengenai serangan siber yang diarahkan atau dibantu oleh AI. 

Perkembangan ini sangat penting.

Bayangkan sebuah sistem AI yang mampu menjalankan operasi siber secara otomatis.

Jika sistem tersebut menyerang infrastruktur digital negara lain, bagaimana pihak yang diserang mengetahui apakah serangan tersebut:

dilakukan manusia, AI agent, kelompok kriminal, atau pemerintah asing?

Dan yang lebih serius:

bagaimana sebuah negara mengetahui bahwa serangan tersebut benar-benar disengaja?

Masalah terbesar: AI dan senjata nuklir

Di sinilah persaingan AI AS–China berubah menjadi persoalan keamanan internasional.

Reuters melaporkan bahwa para pakar keamanan dari kedua negara mengkhawatirkan skenario di mana AI mengintervensi sistem komando nuklir atau menjalankan operasi siber terhadap sistem militer. 

Masalahnya bukan hanya apakah AI mampu melakukan serangan.

Masalahnya adalah kecepatan.

Sistem AI dapat mendeteksi pola dan menghasilkan respons dalam hitungan detik. Dalam situasi krisis militer, tindakan otomatis tersebut berpotensi mengurangi waktu manusia untuk memverifikasi apakah sebuah serangan benar-benar terjadi.

Bayangkan sebuah sistem pertahanan mendeteksi aktivitas jaringan yang dianggap sebagai serangan.

Jika sistem tersebut salah membaca aktivitas AI sebagai serangan negara lain, maka keputusan berikutnya dapat diambil berdasarkan informasi yang keliru.

Karena Amerika Serikat dan China sama-sama memiliki kemampuan militer strategis, kesalahan semacam itu mempunyai konsekuensi yang jauh lebih besar daripada sekadar kegagalan sebuah chatbot.

Karena itu, para pakar telah membicarakan kemungkinan adanya:

  • human control terhadap keputusan militer kritis;
  • batasan penggunaan AI dalam operasi siber;
  • red lines untuk sistem nuklir;
  • serta saluran komunikasi atau hotline khusus jika terjadi insiden AI. 

Dua pendekatan tata kelola AI

Perbedaan lain terdapat pada cara Washington dan Beijing memandang regulasi.

Di Amerika Serikat, pemerintahan Trump saat ini lebih menekankan inovasi dan daya saing, dengan Trump menolak gagasan perlunya pembatasan baru yang terlalu berat terhadap AI. 

China mengambil pendekatan yang lebih terpusat.

Pemerintah China telah membuat berbagai aturan mengenai algoritma, data pelatihan dan konten yang dihasilkan AI. Salah satu pendekatannya adalah mewajibkan konten tertentu yang dibuat AI diberi penanda sehingga pengguna dapat mengetahui bahwa konten tersebut bukan produk manusia secara langsung. 

Perbedaan tersebut dapat disederhanakan sebagai berikut:

PersoalanAmerika SerikatChina
Prioritas utamaInovasi dan daya saingInovasi + kontrol negara
ChipPembatasan ekspor teknologi tertentuMendorong kemandirian teknologi
Model AIBanyak dikembangkan perusahaan swastaPerusahaan + dukungan negara
RegulasiPemerintahan Trump menolak regulasi federal baru yang luasRegulasi algoritma dan konten lebih terpusat
AI governance globalKerja sama dengan sekutu dan forum internasionalMendorong sistem global yang disebut lebih inklusif
KeamananFokus pada keunggulan teknologi dan risiko keamananKeamanan, kontrol manusia, dan kedaulatan teknologi

Perbandingan ini adalah gambaran umum; kebijakan di kedua negara cukup kompleks dan dapat berubah.

Tetapi ada satu paradoks: mereka bersaing sekaligus membutuhkan satu sama lain

Inilah bagian paling menarik dari diplomasi AI.

Amerika Serikat dan China sedang berkompetisi keras, tetapi pada saat yang sama keduanya menghadapi risiko yang tidak dapat sepenuhnya diselesaikan sendirian.

Misalnya, jika AI agent menjadi semakin mampu melakukan serangan siber, maka serangan tersebut tidak mengenal batas negara.

Jika model AI menghasilkan disinformasi lintas negara, dampaknya juga tidak berhenti di perbatasan.

Jika AI digunakan dalam sistem militer, kesalahan interpretasi antara dua negara yang memiliki senjata nuklir dapat menjadi masalah global.

Karena itu, para ahli yang dikutip AP melihat komunikasi AS–China mengenai AI sebagai sesuatu yang penting meskipun kemungkinan tercapainya perjanjian besar dalam waktu dekat masih terbatas. Bahkan kesepakatan mengenai mekanisme komunikasi ketika terjadi insiden AI sudah dapat dianggap sebagai bentuk kerja sama yang berarti. 

Pertemuan Trump–Xi: apakah AI bisa menjadi “aturan main” baru?

Pertemuan Trump dan Xi pada 24 September menjadi penting karena AI telah keluar dari ruang laboratorium dan Silicon Valley.

Ia sekarang berada di meja diplomasi.

Pertanyaannya bukan lagi sekadar:

Siapa yang memiliki model AI paling pintar?

Tetapi:

Siapa yang menguasai infrastruktur AI?

Siapa yang menentukan akses terhadap chip?

Siapa yang menentukan standar keamanan AI?

Siapa yang menetapkan aturan penggunaan AI dalam perang siber?

Dan siapa yang menentukan tata kelola AI dunia?

Reuters menyebut persaingan AI sebagai salah satu isu sentral dalam pertemuan Trump–Xi, sementara pembicaraan teknis mengenai keselamatan AI antara kedua negara telah dipersiapkan sebelumnya. 

Namun, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa Trump dan Xi akan mencapai kesepakatan besar mengenai AI. Bahkan sejumlah proposal untuk memperlambat pengembangan AI telah mendapat penolakan dari Beijing, sementara Trump sendiri menekankan pentingnya mempertahankan keunggulan Amerika. 

Dengan demikian, pertemuan tersebut lebih tepat dilihat sebagai ujian apakah dua kekuatan AI terbesar dapat membangun batas pengaman minimum di tengah persaingan teknologi yang semakin tajam.

AI sebagai bentuk baru geopolitik

Jika pada abad ke-20 kekuatan global banyak ditentukan oleh minyak, baja, senjata nuklir, dan industri, maka abad ke-21 menambahkan satu sumber kekuatan baru: kemampuan komputasi dan kecerdasan buatan.

Amerika Serikat masih memiliki ekosistem perusahaan AI, chip, cloud dan modal yang sangat besar.

China memiliki basis industri manufaktur yang luas, pasar domestik besar, dukungan negara, kemampuan membangun infrastruktur dengan cepat, serta ekosistem AI yang berkembang pesat. Pemerintah China juga secara aktif mendorong open-source dan kerja sama internasional sebagai bagian dari strategi AI-nya. 

Karena itu, persaingan AI AS–China kemungkinan tidak akan selesai hanya dengan satu pertemuan Trump dan Xi.

Yang sedang dipertarungkan jauh lebih besar:

bukan sekadar siapa yang membuat AI terbaik, tetapi siapa yang memiliki kekuatan untuk menentukan bagaimana AI digunakan oleh dunia.

Dan di tengah perlombaan tersebut, ada pertanyaan yang bahkan lebih mendasar: apakah Washington dan Beijing mampu membangun mekanisme pengaman sebelum AI menjadi terlalu kuat untuk dikendalikan oleh aturan yang mereka miliki sekarang?

Sumber:

AI: ChatGPT

Percakapan

Tinggalkan tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *