Ketika Negara Mulai Membayar Warganya untuk Membaca

Bayangkan sebuah kota yang hampir tidak pernah tidur. Di dalam MRT, orang menunduk menatap layar. Di halte, layar. Di restoran, layar. Di kamar tidur, layar. Bahkan ketika seseorang sedang menunggu beberapa menit, tangan secara refleks mencari sesuatu untuk di-scroll.
Di tengah ekonomi perhatian semacam itu, membaca buku menghadapi persoalan yang sangat sederhana tetapi mendasar: buku meminta waktu, sementara internet memberikan rangsangan secara instan.
Singapura tampaknya ingin melawan persoalan tersebut bukan dengan ceramah tentang “anak muda harus rajin membaca”, tetapi dengan sesuatu yang jauh lebih eksperimental: membuat aktivitas membaca masuk ke dalam logika insentif digital.
Pada September 2026, NLB meluncurkan ReadSG, gerakan nasional yang ditujukan untuk membangun kebiasaan membaca jangka panjang. Salah satu komponennya adalah ReadSG Challenge, yang memungkinkan peserta mencatat sedikitnya 15 menit membaca setiap hari melalui platform CrowdTaskSG dan memperoleh virtual coins sebagai imbalan.
Jadi, buku masuk ke wilayah yang selama ini dikuasai aplikasi digital: gamifikasi. Ada target. Ada streak. Ada poin. Ada koin. Ada hadiah. Dengan kata lain, Singapura mencoba membuat membaca sedikit menyerupai permainan.
Tetapi uangnya sangat kecil
Di sinilah cerita menjadi menarik. Satu sesi membaca minimal 15 menit memberikan 20 virtual coins. Nilainya kira-kira S$0,02, dengan 1.000 coins setara S$1. Dengan kata lain, orang yang membaca 15 menit setiap hari selama setahun secara konsisten hanya memperoleh sekitar S$7,30.
Ini jelas bukan pekerjaan sampingan. Bahkan bukan insentif ekonomi yang berarti. Dan justru di situlah logika program tersebut dapat dibaca. Singapura tidak sedang mencoba membeli waktu membaca seseorang. Ia sedang mencoba membeli perhatian mereka—sedikit demi sedikit.
Dua sen bukanlah harga sebuah buku. Dua sen adalah semacam nudge: sebuah tanda kecil bahwa tindakan membaca telah dilakukan.
Dalam ekonomi perilaku, perbedaan ini penting. Hadiah tidak harus besar untuk mengubah perilaku. Kadang-kadang yang dibutuhkan adalah mekanisme yang membuat seseorang merasa, “Oh, saya sudah membaca hari ini. Sayang kalau streak saya putus.”
Membaca kemudian memperoleh struktur yang biasanya dimiliki aplikasi olahraga atau media sosial.
15 menit → catat → dapat poin → pertahankan streak → ulangi besok.
Yang sedang dibangun bukan pendapatan, melainkan ritual.
Ironinya: untuk menyelamatkan buku, Singapura menggunakan logika aplikasi
Ada ironi kecil yang sangat menarik. Masalah yang hendak diselesaikan ReadSG adalah dominasi budaya digital dan konsumsi konten pendek. Namun solusi yang dipakai juga sangat digital.
Buku harus masuk ke dalam platform. Aktivitas membaca harus dicatat. Pembaca memperoleh experience points. Ada reading streak. Ada virtual coins. Ada sistem penghargaan. Dengan kata lain, negara mencoba melawan ekonomi perhatian dengan sebagian perangkat ekonomi perhatian itu sendiri.
Ini bukan kontradiksi yang harus langsung dianggap buruk. Justru di sinilah eksperimen kebijakan Singapura menjadi menarik.
Selama bertahun-tahun, platform digital belajar bagaimana mempertahankan perhatian manusia melalui notifikasi, likes, badges, streaks, poin dan hadiah. ReadSG secara sadar mengambil sebagian logika tersebut dan mengarahkannya kepada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih panjang.
Kalau TikTok berkata:
teruslah menonton satu video lagi,
maka ReadSG secara implisit berkata:
teruslah membaca satu halaman lagi.
Perbedaannya bukan pada teknologinya, tetapi pada arah perhatian manusia yang hendak dibentuk.
Mengapa 15 menit?
Angka 15 menit juga penting. NLB tidak meminta masyarakat langsung membaca satu buku seminggu atau satu jam sehari. ReadSG menggunakan unit waktu yang sangat kecil: 15 menit. NLB sendiri menggambarkannya sebagai waktu yang kira-kira bisa ditempatkan di sela perjalanan MRT, menunggu bus, atau menikmati kopi.
Ini adalah desain kebijakan yang berangkat dari realitas kehidupan sehari-hari.
Bukan:
“Jadilah pembaca.”
Tetapi:
“Luangkan 15 menit.”
Perbedaannya tampak kecil, tetapi secara psikologis besar. Target yang terlalu besar mudah menghasilkan penundaan. Target 15 menit terasa hampir tidak mengancam. Dan ketika 15 menit diulang berkali-kali, kebiasaan mulai terbentuk.
Dengan demikian, pemerintah tidak terutama mencoba menciptakan masyarakat yang tiba-tiba membaca banyak buku. Ia mencoba menciptakan kebiasaan membaca yang cukup kecil untuk dipertahankan.
Ada masalah yang ingin dipecahkan
Program ini juga muncul bukan tanpa alasan. Studi National Reading Habits 2024 yang dilakukan NLB terhadap 3.725 penduduk Singapura berusia 20 tahun ke atas menemukan bahwa 89% orang dewasa membaca sesuatu lebih dari sekali seminggu, tetapi membaca tidak selalu berarti membaca buku. Hanya sekitar 28% yang membaca buku secara mingguan. Studi tersebut juga menemukan mayoritas responden mengakui manfaat kognitif membaca.
Angka itu menunjukkan sebuah fenomena yang menarik:
masyarakat tidak berhenti membaca; bentuk bacaannya berubah.
Orang membaca berita. Membaca pesan. Membaca komentar. Membaca caption. Membaca thread. Membaca artikel pendek. Tetapi membaca buku membutuhkan sesuatu yang berbeda: durasi perhatian yang lebih panjang.
Karena itu, persoalan yang dihadapi Singapura bukan sekadar “orang malas membaca”. Persoalannya adalah perubahan ekologi perhatian manusia.
Dari membaca untuk diri sendiri menjadi membaca untuk masyarakat
Yang membuat ReadSG lebih menarik adalah bahwa membaca tidak hanya diberi imbalan kepada individu. Dalam periode tertentu, aktivitas membaca peserta juga dikaitkan dengan Read for Good, program amal NLB. Pada 2026, kampanye tersebut menargetkan akumulasi jutaan menit membaca untuk membantu komunitas yang membutuhkan.
Modelnya menjadi menarik:
Saya membaca → saya mendapatkan penghargaan → aktivitas membaca saya ikut menghasilkan manfaat sosial.
Dengan demikian, membaca tidak ditempatkan hanya sebagai aktivitas privat. Ia menjadi tindakan sosial.
Seseorang duduk sendirian membaca buku selama 15 menit. Tetapi dalam sistem tersebut, menit yang tampaknya sangat pribadi itu dapat dikumpulkan bersama menit pembaca lain menjadi sebuah angka kolektif.
Ini menciptakan perubahan cara pandang:
membaca bukan hanya investasi terhadap diri sendiri, tetapi juga bentuk partisipasi dalam komunitas.
Model serupa sebenarnya sudah muncul dalam program Read for Books. Pada 2025, misalnya, NLB menjalankan mekanisme di mana setiap 10 orang yang membaca selama 15 menit menghasilkan donasi satu buku kepada penerima manfaat, dan program tersebut mengumpulkan 3.190 buku.
Jadi ReadSG bukanlah ide yang muncul dari ruang kosong. Ia merupakan perkembangan dari ekosistem kebijakan membaca yang telah dibangun NLB sejak National Reading Movement 2016.
Dari perpustakaan menjadi “infrastruktur kebiasaan”
Di sini kita bisa melihat perubahan yang lebih besar dalam filosofi perpustakaan. Perpustakaan tradisional pada dasarnya menyediakan:
buku + ruang + katalog + akses.
Tetapi model Singapura bergerak lebih jauh:
buku + ruang + komunitas + teknologi + gamifikasi + data + insentif.
Perpustakaan tidak lagi sekadar tempat menyimpan buku. Ia menjadi infrastruktur pembentukan kebiasaan membaca.
Bahkan program NLB sebelumnya, seperti Book Bugs, sudah menggunakan mekanisme gamifikasi: anak memperoleh poin melalui peminjaman buku atau e-book, kemudian menukarkannya dengan kartu dan berbagai hadiah. Program tersebut telah berjalan sejak 2016.
Jadi ada kesinambungan desain kebijakan:
anak-anak → dibiasakan membaca melalui permainan;
orang dewasa → dibiasakan membaca melalui target, streak dan penghargaan.
Tetapi apakah uang benar-benar membuat orang menjadi pembaca?
Di sinilah pertanyaan kritisnya muncul. Ada kritik yang sangat masuk akal: bagaimana jika seseorang membaca hanya karena ingin memperoleh hadiah?
Bukankah membaca seharusnya memiliki imbalan intrinsik—pengetahuan, imajinasi, empati, kesenangan—bukan uang?
Komentar di CNA mengenai ReadSG justru mengangkat persoalan tersebut: membaca secara idealnya memberikan kepuasan dari pengalaman membaca itu sendiri, sementara sistem hadiah berpotensi membuat motivasi eksternal menjadi terlalu dominan.
Tetapi ada sisi lain. Seseorang yang sudah mencintai buku mungkin tidak membutuhkan dua sen. Masalahnya adalah orang yang belum membaca. Bagi orang yang sudah memiliki kebiasaan membaca, insentif hampir tidak diperlukan. Tetapi bagi seseorang yang selalu mengatakan:
“Nanti saja saya baca.”
mungkin sebuah tantangan 15 menit justru menjadi pintu masuk.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan program semacam ini seharusnya tidak hanya:
“Berapa banyak uang yang dibagikan?”
tetapi:
“Berapa banyak orang yang akhirnya memiliki kebiasaan membaca tanpa lagi membutuhkan uang?”
Itulah pertanyaan yang jauh lebih penting.
Negara sebagai “arsitek perhatian”
Jika dibaca lebih dalam, ReadSG sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada buku. Ia berbicara tentang siapa yang mengendalikan perhatian manusia.
Selama ini perusahaan teknologi memiliki insentif ekonomi untuk mempertahankan perhatian selama mungkin. Semakin lama seseorang berada di platform, semakin banyak iklan yang bisa ditampilkan. Semakin banyak interaksi, semakin banyak data yang dapat dihasilkan.
Perhatian menjadi komoditas. ReadSG menghadirkan pertanyaan yang menarik:
Bagaimana jika negara juga mulai memikirkan perhatian warganya sebagai sesuatu yang perlu dilindungi?
Bukan dengan melarang media sosial. Bukan dengan mematikan internet. Tetapi dengan menciptakan ekosistem alternatif yang membuat aktivitas intelektual memiliki insentif. Dalam pengertian ini, ReadSG dapat dibaca sebagai semacam politik perhatian.
Negara tidak hanya membangun jalan, sekolah dan perpustakaan. Ia mencoba membangun ruang bagi pikiran untuk berhenti sejenak dari arus informasi yang tidak pernah berhenti.
Dan di sinilah Singapura memberi pelajaran yang lebih luas
Bagi Indonesia, misalnya, pertanyaan yang menarik bukan sekadar:
“Apakah kita perlu membayar orang untuk membaca?”
Pertanyaan yang lebih besar adalah:
“Bagaimana negara menciptakan ekosistem di mana membaca menjadi kebiasaan sosial yang mudah, murah, menyenangkan dan memiliki nilai publik?”
Sebab uang hanyalah satu bagian kecil dari sistem.
Singapura mempunyai jaringan perpustakaan publik yang kuat, akses digital, program membaca, komunitas, festival, kegiatan anak, kampanye nasional dan berbagai bentuk kolaborasi dengan penerbit serta institusi budaya. National Reading Movement sendiri secara eksplisit menggunakan slogan “Read More, Read Widely, Read Together.”
Karena itu, meniru hanya bagian “dibayar membaca” tanpa membangun ekosistem pendukungnya kemungkinan akan kehilangan inti kebijakannya. Yang lebih menarik justru keseluruhan arsitekturnya:
akses → kebiasaan → gamifikasi → komunitas → penghargaan → dampak sosial.
Pada akhirnya, dua sen bukanlah inti ceritanya
Judul berita yang mengatakan “Singapura membayar warganya untuk membaca buku” memang terdengar spektakuler. Tetapi jika kita melihat angkanya, imbalannya hampir simbolis.
Dua sen untuk 15 menit membaca tidak akan membuat seseorang kaya. Dan mungkin memang bukan itu tujuannya. Yang dibeli oleh pemerintah Singapura bukan buku. Yang ingin dibeli adalah satu kebiasaan kecil.
Lima belas menit. Hari ini. Kemudian besok. Kemudian lusa.
Sampai suatu ketika seseorang membuka buku bukan karena ada koin yang menunggu, tetapi karena otaknya sudah terbiasa mencari dunia lain di dalam halaman.
Dan di tengah zaman ketika perusahaan teknologi berlomba-lomba mempertahankan manusia selama mungkin di depan layar, eksperimen Singapura ini menawarkan sebuah pembalikan yang cukup menarik:
bagaimana jika teknologi, gamifikasi, dan sedikit uang justru digunakan untuk mengembalikan manusia kepada aktivitas yang tidak dirancang untuk membuat mereka terus menggulir layar?
Itulah alasan ReadSG jauh lebih menarik daripada sekadar berita tentang “orang dibayar membaca buku”.
Ia adalah eksperimen tentang kebiasaan, perhatian, negara, teknologi, dan masa depan budaya membaca. Dan pertanyaan terbesarnya belum terjawab:
ketika imbalannya suatu hari hilang, apakah kebiasaan membaca akan tetap tinggal?
Justru jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah eksperimen ini sekadar kampanye—atau benar-benar sebuah kebijakan kebudayaan jangka panjang.
Sumber:
ReadSG, National Library Board, The Times, National Library Board, Reading Nation, CNA
AI: ChatGPT

Percakapan