Rumah Koclak, Care, dan Waktu yang Tidak Mau Disiplin

Ada sesuatu yang lucu dari dua tulisan tentang Rumah Koclak ini. Tulisan pertama datang dengan membawa sebuah teori. Tulisan kedua datang membawa sandal untuk menendang teori itu.
Deri Hudaya melihat Rumah Koclak, lalu beberapa hari kemudian menemukan metamodernisme. Arip Senjaya membaca Deri, lalu berkata kira-kira: tunggu dulu, jangan pasang papan nama teori di depan rumah orang. Rumahnya sudah ada. Orang-orangnya sudah ada. Anak-anak sudah tampil. Buku sudah dibicarakan. Gusjur sudah misuh-misuh. Mengapa masih harus diberi stempel?
Saya menyukai pertengkaran kecil ini. Sebab biasanya teori datang terlambat ke sebuah kehidupan, lalu bertingkah seolah-olah dialah yang melahirkan kehidupan tersebut.
Teori memang sering begitu. Ia datang setelah nasi matang, membuka laptop, lalu menjelaskan mengapa nasi tersebut secara ontologis dapat dimakan.
Tetapi justru karena itu saya ingin membawa satu istilah lain ke Rumah Koclak: chrononormativity.
Bukan untuk memasang papan nama baru. Malah sebaliknya. Untuk mencopot beberapa papan nama yang selama ini tidak kita sadari sudah tertempel di kepala kita.
Sebab persoalan Rumah Koclak, kalau dilihat dari sini, bukan hanya apakah ia metamodern atau tidak. Persoalannya adalah: siapa yang menentukan kapan seseorang boleh disebut penulis, kapan sebuah karya dianggap matang, kapan seorang anak muda layak naik panggung, kapan sebuah komunitas dianggap berhasil, dan berapa cepat sastra harus menghasilkan sesuatu agar dianggap hidup?
Nah. Di sini Rumah Koclak mulai menjadi agak berbahaya.
Sastra dan jam yang selalu terburu-buru
Chrononormativity, dalam pemikiran Elizabeth Freeman, menunjuk pada cara waktu digunakan untuk mengatur kehidupan manusia. Ada waktu sekolah. Ada waktu bekerja. Ada waktu menikah. Ada waktu memiliki anak. Ada waktu menjadi mapan. Ada waktu menghasilkan. Ada waktu pensiun.
Masyarakat tidak hanya memberi kita kalender. Masyarakat juga memberi kita jadwal kehidupan. Bahkan sastra mempunyai jadwalnya sendiri. Umur sekian harus mulai menulis. Umur sekian harus menerbitkan buku. Buku pertama harus muncul. Setelah itu buku kedua. Kemudian penghargaan. Kemudian masuk festival. Kemudian menjadi “sastrawan”. Kemudian, kalau beruntung, menjadi bagian dari sejarah sastra.
Kita sering menyebutnya regenerasi, tetapi diam-diam regenerasi dapat berubah menjadi mesin waktu yang kejam. Penulis muda harus cepat. Cepat menemukan gaya. Cepat produktif. Cepat menerbitkan. Cepat mendapatkan pembaca. Cepat mendapat pengakuan. Cepat matang.
Dan kalau sudah terlalu lama dianggap “muda”, orang mulai bertanya dengan nada yang agak menyebalkan: kapan mau serius?
Saya ingin bertanya balik:
Serius menurut siapa?
Di sinilah kalimat Arip tentang mangga muda menjadi jauh lebih penting daripada sekadar lelucon.
“Meminta penulis muda matang sebelum memperoleh ruang sama dengan memarahi mangga muda karena belum manis.”
Benar.
Sebab chrononormativity bekerja justru melalui kalimat-kalimat yang kelihatannya biasa.
“Belum waktunya.”
“Sudah terlambat.”
“Masih terlalu muda.”
“Sudah umur segini kok belum punya buku?”
“Sudah punya buku kok belum terkenal?”
“Sudah terkenal kok belum produktif?”
“Sudah produktif kok belum masuk festival?”
Sastra ternyata mempunyai petugas imigrasi waktu. Dan Rumah Koclak, dari cerita Deri, seperti rumah yang lupa memasang petugas itu.
Rumah yang tidak bertanya: kamu sudah jadi apa?
Yang paling menarik dari Rumah Koclak bagi saya justru bukan bahwa ia mengadakan diskusi, pembacaan puisi, pertunjukan, atau menghadirkan penulis. Semua itu penting, tetapi belum cukup menjelaskan mengapa sebuah rumah menjadi rumah.
Yang lebih menarik adalah keberadaan berbagai tingkat kematangan secara bersamaan. Yang sudah mahir ada. Yang belum mahir ada. Yang serius ada. Yang berantakan ada. Anak-anak ada. Orang dewasa ada. Yang akademis ada. Yang mungkin tidak terlalu peduli teori juga ada. Dan semuanya tidak harus menunggu yang lain menjadi sempurna terlebih dahulu.
Ini penting. Sebab di dalam logika produksi, sesuatu harus sudah cukup matang sebelum dipamerkan. Di dalam logika pasar, produk harus siap dijual. Di dalam logika institusi, peserta harus memenuhi kriteria. Di dalam logika akademik, seseorang harus memiliki kompetensi.
Tetapi di dalam logika care, seseorang boleh hadir justru ketika ia belum selesai. Care tidak bertanya pertama-tama:
“Berapa nilai tambah yang kamu hasilkan?”
Care bertanya:
“Kamu perlu apa supaya bisa terus tumbuh?”
Ini perbedaan yang sangat besar. Rumah Koclak, kalau dibaca sebagai ruang care, bukan sekadar menyediakan panggung. Ia menyediakan waktu.
Waktu untuk mencoba. Waktu untuk gagal. Waktu untuk kelihatan buruk. Waktu untuk belajar. Waktu untuk menonton orang lain. Waktu untuk malu. Waktu untuk tampil lagi setelah sebelumnya kacau. Dan, ini yang paling penting, waktu untuk belum menjadi siapa-siapa. Betapa mahalnya waktu semacam itu sekarang.
Care bukan berarti semua orang dielus-elus
Tentu saja saya tidak ingin membuat Rumah Koclak terdengar seperti taman kanak-kanak sastra tempat semua orang diberi permen lalu dikatakan hebat. Care bukan berarti kritik dilarang. Care bukan berarti semua karya bagus. Care bukan berarti kualitas tidak penting.
Justru sebaliknya. Care membuat kualitas mungkin terjadi karena seseorang memperoleh kesempatan untuk bertumbuh menuju kualitas tersebut. Ini berbeda dari sistem yang hanya mau menerima orang yang sudah berkualitas. Dalam sistem semacam itu, kita mengambil buah dari pohon tetapi lupa bagaimana pohonnya tumbuh.
Kemudian kita mengeluh:
“Mana regenerasi sastra?”
Lho.
Anak-anak pohonnya dari tadi ditebang.
Rumah Koclak tampaknya melakukan sesuatu yang lebih sederhana: ia membiarkan pohon kecil berdiri dekat pohon besar. Tidak semua pohon harus langsung menjadi hutan. Tidak semua puisi harus langsung menjadi puisi penting. Tidak semua aktor harus langsung hebat. Tidak semua pembaca harus langsung memahami diskusi akademis. Kadang orang cukup datang. Duduk. Mendengarkan. Tidak mengerti. Pulang. Besok penasaran. Datang lagi.
Lima tahun kemudian baru mengerti sesuatu yang dulu dibicarakan. Itu juga perkembangan sastra. Hanya saja perkembangan semacam ini sulit masuk laporan pertanggungjawaban. Kolomnya apa?
“Jumlah orang yang lima tahun kemudian tiba-tiba memahami puisi”?
Sulit.
Sastra modern menyukai garis lurus
Ada sesuatu yang menggelikan dalam cara kita membayangkan sejarah sastra. Kita suka membuatnya seperti tangga. Dari bawah naik ke atas. Dari pemula menjadi matang. Dari amatir menjadi profesional. Dari lokal menjadi nasional. Dari nasional menjadi internasional. Dari tidak dikenal menjadi terkenal. Dari majalah sekolah menuju buku. Dari buku menuju penghargaan.
Semua bergerak maju. Lurus. Rapi. Produktif. Sangat mirip LinkedIn.Padahal kehidupan sastra tidak pernah benar-benar seperti itu.Ada orang yang menulis bagus ketika muda lalu berhenti. Ada yang baru menulis ketika tua. Ada yang bertahun-tahun tidak menerbitkan buku lalu tiba-tiba menghasilkan karya penting.
Ada yang menulis sepanjang hidup tetapi tidak pernah menjadi terkenal. Ada yang terkenal tetapi karyanya dilupakan. Ada yang tidak terkenal tetapi terus dibaca oleh lima belas orang yang sangat mencintainya. Dan mungkin lima belas orang itu jauh lebih penting daripada seratus ribu klik.
Sastra bekerja dalam waktu yang aneh. Ia bisa terlambat. Bisa mundur. Bisa mengulang. Bisa hilang. Bisa kembali. Bisa mati lalu ditemukan lagi tiga puluh tahun kemudian. Dengan kata lain: sastra sebenarnya sudah sejak lama queer terhadap waktu. Masalahnya, institusi sastra sering memaksanya kembali menjadi lurus.
Rumah Koclak sebagai counter-temporality
Karena itu saya ingin mengusulkan pembacaan lain. Rumah Koclak dapat dilihat sebagai bentuk counter-temporality: ruang yang memungkinkan orang menjalani waktu dengan ritme yang tidak sepenuhnya tunduk pada jam produksi sastra.
Ini bukan berarti Rumah Koclak secara sadar mendeklarasikan diri sebagai proyek chronopolitics.
Justru tidak perlu.
Sering kali teori datang kemudian untuk mengenali praktik yang sudah dilakukan orang tanpa istilah akademik. Toni Lesmana dan Wida Waridah mungkin tidak sedang berpikir:
“Bagaimana kita membangun ruang counter-temporal terhadap chrononormativity dalam ekosistem sastra?”
Mungkin mereka cuma berpikir:
“Ya sudah, bikin rumah saja.”
Dan justru “ya sudah, bikin rumah saja” itu bisa sangat radikal.
Karena rumah berbeda dari pabrik.
Pabrik bertanya: Berapa banyak? Berapa cepat? Berapa nilai?
Rumah bertanya: Sudah makan? Mau duduk di mana? Kapan datang lagi? Kamu bawa siapa?
Yang satu menghitung output. Yang lain mempertahankan keberlangsungan hidup. Di sinilah kata care menjadi penting. Care bukan dekorasi moral. Care adalah infrastruktur.
Ada pekerjaan yang tidak masuk panggung
Kita sering melihat festival sastra dari apa yang terjadi di panggung. Siapa yang membaca puisi. Siapa yang menjadi pembicara. Siapa yang tampil. Siapa yang mendapat tepuk tangan.
Tetapi rumah tidak pernah berdiri hanya karena orang tampil di ruang tamu. Ada pekerjaan yang tidak kelihatan. Menghubungi orang. Menyediakan tempat. Menyiapkan kursi. Membuka pintu. Menunggu orang datang. Menyambut orang yang baru pertama kali hadir. Mengatur jadwal. Mengurus anak-anak yang tampil. Memberi tahu penampil. Menyiapkan makanan. Membersihkan setelah acara. Menyimpan buku. Mengingat siapa yang pernah datang. Menjaga agar hubungan tidak putus.
Inilah kerja care. Dan kerja care memiliki hubungan yang sangat kuat dengan waktu. Sebab merawat seseorang tidak selalu menghasilkan sesuatu yang bisa segera dipamerkan. Tidak ada “return on investment” yang langsung kelihatan.
Anak yang hari ini naik panggung dengan membaca puisi terbata-bata mungkin tidak menghasilkan apa-apa malam itu selain tepuk tangan. Tetapi mungkin ia pulang membawa sesuatu yang jauh lebih panjang daripada tepuk tangan:
ingatan bahwa ia pernah diberi tempat.
Lima tahun kemudian, ia mungkin menulis. Sepuluh tahun kemudian, ia mungkin membuat komunitas. Dua puluh tahun kemudian, mungkin ia membuka rumahnya sendiri. Begitulah komunitas berkembang. Bukan terutama melalui produksi karya, tetapi melalui reproduksi kondisi yang memungkinkan karya terus muncul.
Arip benar: jangan buru-buru memberi papan nama
Karena itu saya setuju dengan kecurigaan Arip terhadap metamodernisme. Bukan karena metamodernisme tidak berguna. Tetapi karena Rumah Koclak mungkin jauh lebih menarik daripada label tersebut.
Metamodernisme bertanya tentang osilasi antara harapan dan keraguan, antara ironi dan ketulusan, antara keinginan membangun dan kesadaran bahwa bangunan dapat runtuh.
Baik.
Tetapi chrononormativity mengajukan pertanyaan lain:
Dalam waktu siapa rumah itu dibangun?
Dan care mengajukan pertanyaan yang lebih nakal lagi:
Siapa yang diberi kesempatan untuk tidak selesai di dalam rumah itu?
Pertanyaan kedua ini menurut saya lebih mengganggu. Sebab ia tidak hanya bicara estetika. Ia bicara kekuasaan. Ia bicara distribusi waktu. Ia bicara siapa yang boleh lambat.
Dan kita tahu: kemampuan untuk lambat adalah sebuah kemewahan. Tetapi di ruang komunitas, kelambatan kadang bisa dibagikan. Orang yang sudah matang membantu yang baru tumbuh. Orang yang lebih berpengalaman memberi waktu. Orang yang baru datang memperoleh kesempatan.
Yang satu memberikan pengetahuan. Yang lain memberikan energi. Yang satu punya pengalaman. Yang lain membawa kemungkinan. Mereka saling menghemat waktu dan sekaligus saling memberikan waktu. Itulah care sebagai praktik kolektif.
Rumah Koclak tidak harus menjadi “model”
Saya juga tidak ingin buru-buru menjadikan Rumah Koclak sebagai model yang harus ditiru semua orang. Begitu sebuah praktik komunitas disebut “model”, kita biasanya segera membunuhnya dengan proposal.
Kemudian muncul indikator. Target. Output. Jumlah peserta. Jumlah buku. Jumlah kegiatan. Jumlah unggahan media sosial. Jumlah mitra. Jumlah publikasi. Akhirnya rumah berubah menjadi kantor.
Asu.
Jangan. Biarkan rumah menjadi rumah. Justru kekuatan Rumah Koclak, dari dua tulisan tersebut, tampaknya terletak pada ketidakrapiannya.
Ia tidak sepenuhnya festival profesional. Tidak sepenuhnya ruang akademik. Tidak sepenuhnya komunitas amatir. Tidak sepenuhnya panggung seni. Tidak sepenuhnya rumah pribadi.
Ia bergerak di antara semuanya. Dan mungkin di situlah ia menjadi menarik. Bukan karena ia berhasil menghapus kekacauan, tetapi karena ia mampu merawat kekacauan tanpa membiarkannya mati.
Dari metamodernisme menuju care
Kalau Deri menemukan metamodernisme setelah datang ke Rumah Koclak, saya ingin melakukan perjalanan yang sedikit berbeda. Saya datang kepada Rumah Koclak melalui dua tulisan tersebut, lalu menemukan care.
Bukan care sebagai keramahan. Bukan care sebagai sikap baik hati. Tetapi care sebagai tindakan mempertahankan kemungkinan hidup bersama. Rumah Koclak tidak hanya memberi orang tempat untuk menampilkan karya. Ia, setidaknya dalam gambaran yang diberikan kedua tulisan itu, memberi orang waktu untuk menjadi.
Dan menjadi berbeda dengan menghasilkan. Menghasilkan mempunyai tenggat. Menjadi tidak selalu. Sebuah komunitas sastra yang sehat harus mampu menampung keduanya. Ia membutuhkan orang yang sudah jadi, tetapi juga membutuhkan orang yang belum jadi. Ia membutuhkan karya, tetapi juga membutuhkan hubungan. Ia membutuhkan panggung, tetapi juga membutuhkan ruang belakang panggung. Ia membutuhkan kritik, tetapi juga membutuhkan kesabaran. Ia membutuhkan ambisi, tetapi juga membutuhkan istirahat.
Dan mungkin yang paling penting:
Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia tetap tinggal ketika tidak ada tepuk tangan.
Jadi, siapa yang sebenarnya metamodern?
Setelah membaca Arip, saya menjadi curiga terhadap pertanyaan Deri. Karena mungkin pertanyaannya kurang mengganggu.
“Apakah Rumah Koclak metamodern?”
Saya ingin menggantinya dengan:
“Waktu macam apa yang sedang diproduksi Rumah Koclak?”
Apakah waktu yang meminta anak-anak cepat dewasa? Ataukah waktu yang membiarkan mereka bermain? Apakah waktu yang menuntut penulis segera menghasilkan buku? Ataukah waktu yang membolehkan seseorang belajar? Apakah waktu yang mengukur keberhasilan melalui jumlah penampilan? Ataukah waktu yang juga menghitung pertemanan, percakapan, dan keberanian untuk kembali datang? Apakah waktu yang bergerak lurus? Ataukah waktu yang boleh berputar, berhenti, terlambat, mundur, dan mulai lagi?
Kalau jawabannya yang kedua, maka Rumah Koclak sedang melakukan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar menjadi “metamodern”. Ia sedang mengganggu jam sastra. Dan itu bukan pekerjaan kecil. Sebab sastra selama ini terlalu sering diberi jam.
Umur debut. Umur produktif. Umur matang. Umur penghargaan. Umur pensiun. Umur kanonisasi. Padahal puisi tidak mengenal KTP. Cerpen tidak tahu tanggal lahir pengarangnya. Dan sebuah komunitas seharusnya tidak bertanya kepada seorang anak muda:
“Sudah jadi apa kamu?”
Ia seharusnya berkata:
“Masuk dulu.”
“Duduk.”
“Coba baca.”
“Kalau jelek, tidak apa-apa.”
“Besok datang lagi.”
Kalimat terakhir itu mungkin tampak sederhana. Tetapi justru di sanalah politik care dimulai. Besok datang lagi.
Bukan karena kamu sudah bagus. Bukan karena kamu sudah menghasilkan. Bukan karena kamu berguna bagi kami. Tetapi karena rumah ini masih menyediakan waktu untukmu.
Dan mungkin itu sebabnya namanya Rumah Koclak
Saya akhirnya mengerti mengapa saya lebih tertarik pada kata rumah daripada kata metamodern. Rumah tidak menjanjikan masa depan. Rumah hanya memastikan ada tempat untuk kembali. Metamodernisme mungkin menjelaskan mengapa orang masih mau membangun setelah mengetahui bangunan dapat runtuh.
Care menjelaskan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih brutal:
mengapa seseorang bersedia menjaga bangunan itu agar orang lain bisa pulang.
Deri datang ke Rumah Koclak dan menemukan harapan. Arip membaca Deri dan menemukan alasan untuk mengganggu harapan itu. Saya membaca keduanya dan kemudian mengingat tentang waktu.
Waktu anak-anak. Waktu penulis muda. Waktu orang yang belum selesai. Waktu orang yang sudah lama menulis. Waktu orang yang baru kembali. Waktu orang yang datang. Waktu orang yang belum sempat datang. Waktu orang yang menyiapkan panggung. Waktu orang yang membersihkan ruangan setelah semua pulang.
Waktu yang tidak masuk foto. Waktu yang tidak masuk laporan. Waktu yang tidak menghasilkan penghargaan.
Tetapi tanpa waktu-waktu itulah rumah tidak pernah menjadi rumah. Jadi, Kang Deri, jangan dulu pasang papan METAMODERNISME. Kang Arip juga jangan terlalu cepat menendangnya sampai ke selokan. Biarkan papan itu bersandar dulu di dinding.
Kita ngobrol. Kita baca buku. Kita tertawa. Gusjur boleh misuh-misuh. Anak-anak boleh tampil meskipun belum sempurna. Penulis boleh gagal. Akademisi boleh membawa teori. Dan teori, sekali-sekali, boleh disuruh duduk di lantai. Sebab ada sesuatu yang lebih tua dan lebih nakal daripada teori:
orang-orang yang memilih menyediakan waktu bagi orang lain.
Mungkin itulah care. Mungkin itulah kerja komunitas. Dan mungkin, justru di situlah Rumah Koclak sedang melakukan sesuatu yang paling mengganggu terhadap chrononormativity:
ia mengatakan bahwa sastra tidak harus terburu-buru menjadi sesuatu.
Ia boleh menjadi rumah terlebih dahulu.


Percakapan