Antara Kamar Bupati, Bui Bandoeng, dan Bisikan Nona Merah

Teka-Teki S. Goenawan di Balik Selubung Mej Kartimi
I. Skandal yang Dikubur di Bawah Karpet Priyayi
Sejarah sastra Sunda acap kali ditulis dengan nada bicara yang terlampau sopan, laksana abdi dalem yang melangkah jengkeng di atas lantai marmer pendopo. Narasi resminya steril, rapi, dan jinak: bergerak patuh dari tembang pupuh feodal, romantisisme pedesaan Mooi Indië, hingga lahirnya roman-roman perkawinan tertib yang direstui oleh sensor kolonial Kantoor voor de Volkslectuur (Balai Pustaka). Kita dicekoki ilusi bahwa orang Sunda tempo doeloe melulu hidup dalam harmoni soméah hadé ka sémah, asyik masyuk memetik kecapi sembari meratapi nasib jodoh dengan air mata yang lekas diseka saputangan sutra.
Namun, sejarah resmi selalu punya celah yang bocor. Di dekade 1920-an—tatkala tanah Priangan bergolak oleh deru roda kereta api, pekik pemogokan buruh, dan bisik-bisik radikal di bawah lampu gas kota Bandung—muncul dua teks yang tidak sudi berlaku santun. Keduanya menolak membungkuk di hadapan menak dan tidak silau oleh gertak upas kolonial.
Yang satu berjudul Manéhna Geus Nekad (1924) karya jurnalis pergerakan S. Goenawan; yang lainnya bertajuk Kapalang Nékad (1923) karya sosok misterius yang menamai dirinya Mej Kartimi.
Kata kuncinya seragam, berakar pada kata yang sama dan pantang diucapkan anak manis keluarga bupati: NÉKAD.
Dan di sinilah skandal literer itu bermula: benarkah Mej Kartimi—sang “Nona Kartimi” yang tulisan-tulisannya menyemburkan api emansipasi dan marxisme—sejatinya adalah mantel samaran, alias alter-ego dari sang martir pers buruh, S. Goenawan sendiri? Ataukah kita sedang berhadapan dengan sebuah konspirasi kamar gelap sastra pergerakan yang jauh lebih liar?
II. Dua Wajah Kenekatan: Dari Ranjang Sang Regent ke Rel Spoor VSTP
Untuk menelusuri jejak darah keduanya, kita harus membedah bagaimana kata “nekad” bekerja dalam kedua teks ini.
Dalam Manéhna Geus Nekad, S. Goenawan memainkan melodi yang sekilas tampak seperti variasi lokal roman picisan: cinta terlarang antara Urip (anak tukang kayu yang cerdas bukan kepalang, jawara lulusan sekolah Belanda ELS, dan klerk mandiri bertoko) dengan Enden Mutiara (putri bungsu Kanjeng Bupati Afdeeling B). Namun, jangan tertipu oleh bungkus asmaranya. Goenawan sesungguhnya sedang menelanjangi kemunafikan kelas atas Priangan.
Adegan di serambi belakang kabupaten adalah satir politik yang luar biasa getir: Tuan Regent dan istrinya sibuk menimbang-nimbang pelamar sang putri laksana juru lelang menghitung bobot ternak. Anak camat ditolak mentah-mentah bukan karena akhlaknya, melainkan karena kakeknya “cuma pensiunan mantri gudang kopi” dan gelarnya “mentok di Mas, bukan Raden apalagi Aom!” Martabat menak diukur dari tebalnya silsilah dan aliansi birokrasi kolonial. Jawaban Mutiara atas arogansi itu adalah tindakan subversif: ia melompati jendela kamar pada pukul sebelas malam, menembus pekatnya malam menuju bilik bambu anak tukang kayu, lalu menaiki kereta api pagi untuk melarikan diri ke kaki gunung.
Bagi Mutiara, kenekatan adalah deklarasi kedaulatan tubuh dan harga diri: “Abdi anu lolos ku kahayang sorangan… tekad abdi moal bisa diobah deui!”
Namun, jika kenekatan Mutiara masih beroperasi dalam radius pemberontakan domestik-sentimental, maka Kapalang Nékad karya Mej Kartimi melompat jauh ke gelanggang pertempuran kelas yang telanjang dan ugal-ugalan.
Karakter perempuannya, Rumini (yang dijuluki “Béntang Balkan” karena kecantikannya yang gilang-gemilang), bukan sekadar putri saudagar kaya yang enggan kawin paksa. Ia adalah pembaca setia koran merah Sinar Hindia dan Padjadjaran, pembenci koran komprador Kaum Muda yang ia cap antek PEB (Politiek Economische Bond), dan pelindung kaum jelata. Ketika kekasihnya, Sam—pemuda 23 tahun berjas dril putih dengan dasi merah panjang berhias sulaman benang sutra lambang palu dan arit—memimpin pemogokan buruh kereta api VSTP Mei 1923 dan diciduk polisi kolonial, Rumini tidak pingsan mendayu-dayu.
Rumini justru menunjukkan kegarangan yang membuat kaum lelaki bergidik. Tatkala Yusuf, sang rentenir licik bergelar “Arjuna Ciamis” yang gemar mengawini dan mencampakkan perempuan, mencoba meraba dan menciumnya di teras rumah, Rumini tidak berteriak histeris minta tolong. Tangannya melayang: Plak! Muka sang Arjuna dicabok hingga terjungkal bersama kursi marmernya ke bawah meja, selop dan kopiah beludrunya terbang terpental, sementara Rumini berdiri berkacak pinggang seraya menyembur: “Hayoh nyingkir, iblis ulah aya didieu, binatang!”
Di tangan Mej Kartimi, konsep “kapalang nékad” bukan lagi sekadar kepasrahan putus asa, melainkan manifesto revolusioner. Dan puncak keliarannya meledak dalam perbincangan Rumini dengan kawan-kawan perempuannya:
“Awéwé téh perlu ti heula asup pergerakan, sarta ngajiwir ceulina lalaki nu teu daék bergerak!”
(Perempuan harus lebih dulu masuk pergerakan, dan menjewer telinga lelaki yang malas bergerak!)
III. Lelucon Narsisistik atau Kamuflase Politik?
Pertanyaan besarnya: Apakah Mej Kartimi adalah S. Goenawan?
Ada satu bukti tekstual di dalam Kapalang Nékad yang bila dibaca dengan kacamata hari ini akan terasa amat menggelitik dan sekaligus sangat meyakinkan.
Mari tengok Bab 1: Saat Rumini membaca warta penahanan di koran Padjadjaran, matanya menatap baris berita:
“Dulur-dulur Moh. Sanusi, S. Gunawan, jeung S. Sudiro, poé ieu ditahan.”
Lalu tengok lagi Bab 8: Ketika Sam digiring masuk ke Blok Preventif Penjara Bandoeng, seorang tahanan juru tulis pegadaian membisikkan peta politik penjara:
“Tuh di kamar no… Sambik jeung Dhana communist Rancaékék. Di kamar sita Mohamad Sanusi, Gunawan communist Bandung.”
Lalu disusul celetukan mantri garam: “Ari laut bisa papanggih jeung Sambik mah, ngan lamun jeung Gunawan henteu bisa, sabab misah blok.”
Mengapa nama Gunawan dipasang begitu mencolok di dalam teks buatan “Mej Kartimi”?
Di sinilah letak kecerdikan—dan barangkali sedikit kenarsisan—sang pengarang. Dalam khazanah sastra Hindia Belanda era 1920-an, penggunaan nama samaran (nom de plume) adalah hukum wajib bagi para aktivis buruh jika tidak ingin naskahnya disita jaksa sebelum sempat menyentuh mesin cetak. S. Goenawan adalah propagandis radikal pengasuh mingguan Soerapati (yang slogannya berani mati membela rakyat) dan motor di balik penerbitan Pembatjaan Rajat. Pasca-letusan pemogokan buruh kereta api VSTP Mei 1923, Goenawan memang benar-benar ditangkap dan dijebloskan ke tahanan preventif Bandung!
Bayangkan skenarionya: Dari dalam bilik bui, atau segera setelah menghirup udara bebas sembari terus diintai intelijen Politieke Inlichtingen Dienst (PID), Goenawan menulis roman pergerakan. Agar terhindar dari jerat persdelict dan delik penyebaran kebencian (haatzaai-artikelen), ia memakai nama samaran feminin: Mej. Kartimi.
- “Mej.” adalah singkatan Belanda untuk Mejuffrouw (Nona/Gadis belum menikah), sebuah taktik mengecoh sensor kolonial agar teks ini dikira bacaan domestik perempuan sekolahan.
- “Kartimi” adalah plesetan cerdas yang mendompleng karisma emansipasi Kartini, namun dipasangi urat Sunda yang kental.
Dan apa yang dilakukan Goenawan di dalam naskah tersebut? Ia melakukan teknik cameo ala Alfred Hitchcock: ia memasukkan namanya sendiri—Gunawan communist Bandung—ke dalam sel tahanan yang “terpisah blok”! Tokoh Sam (yang inisialnya berima dengan S. Goenawan: pemuda 23 tahun, necis, intelek, tahan banting, bertahi lalat pemikat wanita) adalah proyeksi ideal dirinya di lapangan, sementara nama “Gunawan” dijadikan monumen martir hidup di balik jeruji.
Rincian kehidupan bui di Bab 8 dan 9 Kapalang Nékad pun terlampau presisi untuk sekadar hasil imajinasi seorang gadis salon: istilah basa bui seperti laut (jam bebas keluar sel), compréng (nasi jatah tahanan), cimpring (sarapan nasi sisa di Ciamis), hingga kalkulasi rente pegadaian 300% dan jeritan hati pencuri amatir yang anaknya kelaparan, hanya bisa ditulis dengan darah dan keringat oleh seseorang yang pernah tidur beralaskan samak jarami di penjara kolonial Bandung. Dan orang itu adalah S. Goenawan.
IV. Antitesis: Jangan Meremehkan Suara Nona Merah
Kendati hipotesis bahwa Mej Kartimi adalah S. Goenawan memiliki daya pikat filologis yang luar biasa kokoh, sebuah kritik sastra yang jujur tidak boleh terburu-buru menutup pintu interpretasi kedua. Sebab, memvonis begitu saja bahwa Mej Kartimi pastilah seorang lelaki pergerakan yang sedang “bermain peran” bisa berisiko melanggengkan arogansi patriarki historiografi: seolah-olah perempuan Sunda era 1920-an mustahil memiliki pena yang sedemikian tajam dan beringas.
Ada argumen tandingan yang tak kalah menggigit: Bagian kritik perkawinan di Kapalang Nékad memiliki derajat kepedihan dan amarah psikologis yang teramat intim, yang sangat jarang mampu diraba oleh kepekaan penulis laki-laki sezamannya (termasuk oleh Goenawan sendiri dalam Manéhna Geus Nekad).
Lihatlah bagaimana Mej Kartimi menguliti penderitaan Neng Juwita di Cisarua: seorang perempuan muda yang baru empat puluh hari selesai melahirkan, tubuhnya masih berbalut bengkung merah, tiba-tiba dikirimi “Surat Model D alias Surat Talak” oleh suaminya, sang Mantri Polisi Emuh Natakusuma, semata-mata demi melicinkan jalannya mengawini gadis lain (Rumini). Kartimi menulis dengan getir:
“Abong-abong lalaki nyekel talak sorangan, ari geus teu suka téh masing taya kasalahan ogé, babari baé modél D ngoléang… lalaki jaman ayeuna mah lolobana nganggapna ka awéwé téh lain nganggap jelema, tapi nganggap barang atawa slaven (budak belian)!”
Kemarahan terhadap hegemoni hukum perkawinan sepihak, gugatan atas poligami para penghulu bawahan Betawi yang mengoleksi empat istri laksana hewan peliharaan, serta koneksi intim Rumini dengan redaktur surat kabar perempuan Istri Merdika (Mevrouw Sitianah di Bandung), membuktikan hadirnya denyut kesadaran feminis otonom.
Jika Mej Kartimi adalah perempuan nyata—seorang aktivis perempuan di lingkar Sarekat Rakyat atau Istri Merdika yang berjejaring erat dengan kantor redaksi Soerapati milik Goenawan—maka penyebutan nama “S. Gunawan” di dalam novel bukanlah narsisme pengarang, melainkan upeti solidaritas politik: sebuah penghormatan dari seorang kawan perempuan kepada pimpinan buruh lelakinya yang sedang mendekam di sel isolasi.
V. Meludahi Kerapian Kanon
Pada akhirnya, memperdebatkan apakah tubuh biologis di balik nama Mej Kartimi berkumis laksana S. Goenawan ataukah berkain kebat laksana Rumini mungkin menjadi nomor dua di hadapan sebuah kenyataan estetika yang tak terbantahkan: keduanya adalah dua bilah pedang dari satu sarung ideologis yang sama.
Keduanya menolak mitos bahwa bahasa Sunda hanya pas untuk meratap dalam tembang melankolis atau memuji-muji keagungan bupati. Melalui tangan S. Goenawan dan Mej Kartimi, bahasa Sunda ditransformasikan menjadi senjata tempur modern: lincah, galak, berpikiran kosmopolit (mencampur aduk dialek Priangan dengan terminologi sosialis Belanda: lidmaatschap, vergadering, klerk, preventief, conferentie), dan berani menantang dua raksasa sekaligus—stelsel kapitalisme kolonial Belanda dan kesombongan feodalisme Menak Sunda.
Menjajarkan Manéhna Geus Nekad dan Kapalang Nékad ibarat menyaksikan sepasang gerilyawan yang sedang menggedor gerbang istana feodal: yang satu melarikan putrinya lewat jendela kamar, yang satu lagi menampar para pelamarnya di teras depan seraya bersiap membakar tatanan lama.
Bila sejarah sastra formal hari ini memilih melupakan mereka demi merawat ingatan tentang sastra priyayi yang jinak dan steril, maka kedua teks ini akan selalu tertawa sinis dari balik arsip-arsip tua. Karena seperti kata Rumini dan Mutiara, begitu sebuah kesadaran zaman sudah menyala, hukum apa pun di kolong langit takkan sanggup menghentikannya—sebab tekad mereka, bagaimanapun juga, parantos leres-leres nékad!



Percakapan