Pertarungan Kelas dalam Babad Kopi Parahyangan
Pada masa yang menjadi latar Babad Kopi Parahyangan, kopi bukan sekadar tanaman perkebunan. Ia merupakan salah satu komoditas paling berharga dalam perdagangan dunia. Sejak awal abad ke-18, VOC menjadikan Priangan sebagai pusat produksi kopi global melalui sistem Preangerstelsel. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pada dekade 1720-an VOC menguasai sebagian besar perdagangan kopi dunia: 50%-70%. Sebagian besar pasokan tersebut berasal dari Priangan. Dominasi itu begitu besar hingga nama Pulau Jawa kemudian melahirkan istilah “Java” yang dalam bahasa Inggris masih digunakan sebagai sebutan bagi secangkir kopi. Setelah VOC runtuh, eksploitasi tersebut tidak berhenti. Pemerintah Hindia Belanda melanjutkannya melalui sistem tanam paksa pada abad ke-19. Dengan demikian, penderitaan yang dialami para petani dalam novel bukanlah persoalan lokal semata, melainkan konsekuensi dari keterhubungan Priangan dengan pasar dunia.
Dalam struktur sosial yang digambarkan novel, masyarakat tersusun dalam hierarki yang cukup jelas. Pada lapisan teratas terdapat pemerintah kolonial Belanda yang mengendalikan kebijakan dan perdagangan. Di bawahnya terdapat elite pribumi seperti bupati, patih, dan para pejabat lokal yang menjadi perpanjangan tangan kekuasaan kolonial. Lapisan berikutnya ditempati para mandor yang mengawasi jalannya produksi di perkebunan. Di dasar piramida terdapat para petani dan pekerja kebun yang menanggung seluruh beban sistem tersebut. Novel tidak menampilkan konflik utama antara petani dan orang Belanda secara langsung. Konflik sehari-hari justru berlangsung di antara sesama pribumi yang menempati posisi berbeda dalam struktur kekuasaan.

Karena itu, wacana pertarungan kelas hadir hampir di seluruh bagian cerita. Tokoh-tokoh utama berasal dari kelompok yang mengalami tekanan paling besar dari sistem perkebunan. Karim adalah pemuda perantau yang awalnya datang ke Parahyangan dengan mimpi menjadi saudagar kopi. Kang Asep adalah petani yang menyaksikan bagaimana kopi membuat sawah dan ladang masyarakat terbengkalai. Euis adalah perempuan yang menolak dijadikan alat pemuas nafsu penguasa perkebunan. Melalui tokoh-tokoh tersebut, novel memperlihatkan bagaimana kekuasaan kolonial bekerja bukan hanya melalui ekonomi, tetapi juga melalui penguasaan atas tubuh, tenaga kerja, dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kesadaran mengenai ketidakadilan itu tidak muncul begitu saja. Evi Sri Rezeki menghadirkan Revolusi Prancis sebagai salah satu sumber pengetahuan politik bagi para tokohnya. Melalui cerita si Pelaut, Karim berkenalan dengan semboyan besar revolusi: kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. Selain itu, novel juga menghadirkan pembahasan mengenai Max Havelaar karya Multatuli, sebuah karya yang mengkritik praktik kolonial Belanda di Hindia. Setidaknya, kehadiran kedua referensi tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan politik dan kesadaran akan ketidakadilan memang tersedia dalam dunia novel.
Bila mengikuti teori-teori revolusi modern, terdapat dua syarat penting agar sebuah revolusi dapat terjadi: kesadaran dan mobilisasi massa. Kedua unsur ini sebenarnya muncul dalam Babad Kopi Parahyangan. Kesadaran hadir melalui gagasan Revolusi Prancis dan kritik kolonialisme yang dibawa Max Havelaar. Sementara itu, mobilisasi sosial mulai tampak melalui penguburan biji-biji kopi di tanah dan jaringan perdagangan kopi gelap yang dibangun Karim bersama para petani. Penguburan biji kopi hasil panen menjadi upaya untuk mengurangi keuntungan ekonomi perkebunan. Aktivitas perdagangan gelap menjadi upaya untuk membangun ruang ekonomi alternatif di luar kontrol perkebunan kolonial. Namun semua unsur tersebut tidak pernah berkembang menjadi gerakan revolusioner yang matang.
Kegagalan itu terlihat jelas pada peristiwa paling dramatis dalam novel: pembunuhan mandor Satria. Secara sepintas, adegan tersebut mengingatkan pembaca pada revolusi. Kekerasan terjadi di hadapan banyak orang dan diarahkan kepada figur yang dianggap sebagai simbol penindasan. Namun jika dicermati lebih jauh, motif yang melatarbelakanginya berbeda jauh dari semangat Revolusi Prancis. Karim tidak membunuh Satria sebagai akumulasi kesadaran politik yang terorganisasi. Ia bertindak setelah menyaksikan penderitaan orang-orang terdekatnya. Euis hampir menjadi korban kekuasaan Satria, sementara Kang Asep mengalami penyiksaan yang brutal. Tindakan Karim lahir dari pengalaman personal yang sangat konkret. Ia lebih menyerupai ledakan naluriah manusia yang terdesak daripada tindakan revolusioner yang lahir dari kesadaran kelas.
Perbedaan itu menjadi semakin jelas jika dibandingkan dengan Revolusi Prancis. Dalam revolusi tersebut, rakyat menjatuhkan raja sebagai simbol utama tatanan lama. Pembunuhan Louis XVI menandai berakhirnya sistem feodal yang telah berlangsung berabad-abad. Dalam Babad Kopi Parahyangan, yang dibunuh justru seorang mandor. Satria memang menindas para petani, tetapi ia bukan pusat kekuasaan kolonial. Ia hanya salah satu mata rantai dalam sistem yang jauh lebih besar. Akibatnya, kematiannya tidak mengubah struktur dasar perkebunan. Posisi mandor tetap ada. Bahkan ironi terbesar novel muncul ketika posisi tersebut akhirnya ditempati oleh Karim sendiri.
Di sinilah novel memperlihatkan kritiknya. Pergantian individu ternyata tidak otomatis menghasilkan perubahan sistem. Orang yang menindas dapat diganti, tetapi struktur yang memungkinkan penindasan tetap bertahan. Karena itu, cita-cita besar kebebasan, persamaan, dan persaudaraan tidak pernah benar-benar terwujud sebagai perubahan sosial yang menyeluruh. Yang terjadi justru penyusutan gagasan revolusi ke dalam persoalan-persoalan yang lebih sederhana dan konkret. Karim tidak berbicara mengenai penggulingan kekuasaan kolonial. Ia memperjuangkan lahan pangan bagi petani, tempat tinggal yang lebih layak, serta perlindungan bagi perempuan dan anak-anak. Revolusi besar berubah menjadi perjuangan sehari-hari untuk mempertahankan martabat manusia.
Namun kegagalan revolusi dalam novel ini bukan berarti tidak terjadi perubahan sama sekali. Yang berubah justru individu-individunya. Karim datang ke Parahyangan sebagai pemuda yang mengejar keuntungan dari perdagangan kopi. Pengalaman hidupnya perlahan mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Ia belajar melihat hubungan antara kekayaan dan penderitaan, antara komoditas dan eksploitasi manusia. Perubahan serupa juga terjadi pada Raden Arya yang semakin menyadari kontradiksi dalam kedudukannya sebagai bagian dari birokrasi kolonial. Kesadaran yang lahir dalam novel bukan kesadaran kolektif yang mampu menggulingkan sistem, melainkan kesadaran individual yang mendorong para tokohnya bertindak lebih manusiawi di dalam sistem yang ada.
Dari sudut pandang ini, Babad Kopi Parahyangan tampaknya lebih dekat pada gagasan evolusi sosial daripada revolusi sosial. Novel ini memang meminjam simbol-simbol Revolusi Prancis, tetapi tidak pernah benar-benar membawa tokoh-tokohnya menuju penggulingan struktur kolonial. Yang terjadi adalah perubahan bertahap pada cara berpikir dan cara bertindak individu-individu yang hidup di dalam struktur tersebut. Karim tidak menjadi pemimpin revolusi. Ia menjadi mandor yang lebih berpihak kepada petani. Perubahan itu jauh lebih kecil dibandingkan cita-cita besar yang diperkenalkan melalui kisah Revolusi Prancis, tetapi justru karena itulah ia terasa realistis.
Babad Kopi Parahyangan terasa relevan hingga hari ini. Berbagai bentuk ketimpangan ekonomi, eksploitasi sumber daya alam, dan konflik agraria masih terus muncul dalam masyarakat modern. Kritik terhadap keadaan tersebut juga semakin banyak terdengar. Film-film dokumenter Watchdoc sering membahas masalah sosial serupa itu, misalnya Kinipan dan Pesta Babi. Kritik tidak selalu berkembang menjadi kesadaran kolektif yang mampu mengubah struktur. Yang lebih sering muncul adalah individu-individu yang sadar, marah, dan berusaha memperbaiki keadaan dari posisi yang mereka miliki. Dalam konteks itulah novel ini menunjukkan kekuatannya. Ia bukan kisah tentang kemenangan revolusi, melainkan kisah tentang betapa sulitnya kesadaran kelas benar-benar terwujud. Revolusi hadir sebagai cita-cita, tetapi yang benar-benar terjadi adalah evolusi kesadaran manusia dalam menghadapi ketidakadilan.
Novel ini adalah bagian pertama dari tetralogi yang direncanakan Evi Sri Rezeki. Jadi, memang, baru permulaan.
Singajaya, 9 September 2026

Post Comment