DAN

Saya membaca esai Mak Comblang dan Rumah Koclak pagi-pagi, lalu tertawa. Bukan tertawa kecil seperti yang mungkin dilakukan Arip Senjaya ketika membaca bagian Galuh dalam tulisan saya: Rumah Koclak dan Sastra Metamodern. Ini tertawa yang cukup keras sampai Ibu dari dapur bertanya, “Aya naon?”
Saya jawab, “Tidak apa-apa, Bu. Ada dosen sastra dan filsafat dari Serang yang sedang membandingkan metamodernisme dengan KUA.”
Ibu diam sebentar. Lalu, penasaran seperti biasa, ia bertanya, “Iraha atuh rek ka KUA?”
Saya tidak menjawab. Pacar saya sedang ngambek dan tidak membalas WhatsApp. Kalau saya datang ke KUA dalam keadaan seperti ini, petugasnya mungkin akan bertanya, “Ada keperluan apa? Mau nikah?”
Saya akan menjawab, “Saya ingin mendiskusikan metamodernisme.”
Benar, saya mengenal Arip sejak sekitar 2016-an. Sejak awal, saya menyimpan namanya di WhatsApp sebagai “Kang Arip Senjaya”. Kakanda.
Saya akan mempertahankan sapaan itu. Alasannya bukan karena ingin membuat tulisan ini lebih romantis daripada yang diperlukan, melainkan karena saya memang masih belajar darinya, sebagaimana saya belajar dari banyak orang yang saya temui dalam perjalanan membaca, menulis, dan menikmati seni.
Ketika Kakanda menulis Mak Comblang dan Rumah Koclak, saya membacanya dengan serius. Tetapi karena yang dibicarakan adalah sastra, Rumah Koclak, metamodernisme, tukang tambal ban, tukang gorengan, hingga KUA sekaligus, keseriusan itu sesekali harus diselingi dengan menepuk jidat.
Saya terutama tertarik pada satu kesan dalam esai itu: seolah-olah saya datang ke Rumah Koclak, pulang, lalu kembali lagi secara imajiner dan ugal-ugalan untuk memasang papan nama besar bertuliskan:
RUMAH KOCLAK ADALAH SASTRA METAMODERN
Padahal judul tulisan saya Rumah Koclak dan Sastra Metamodern. Ada kata “dan” di situ.
Kata kecil, memang. Saya juga tahu kata “dan” tidak membuktikan apa-apa dengan sendirinya. Tetapi dalam tulisan itu, ia menandai niat saya: mempertemukan dua hal, bukan menyamakan keduanya. Saya tidak sedang melabeli bahwa Rumah Koclak adalah sastra metamodern.
Saya sedang mencoba melihat apakah metamodernisme dapat menjadi salah satu cara membaca pengalaman saya di sana. Dalam tulisan sebelumnya pun saya menulis, “Pemahaman ini membantu saya menafsirkan nama rumah tersebut.”
Kata kerjanya, Kanda: menafsirkan.
Bagi saya, di situlah bedanya papan nama dan tafsir. Papan nama dipasang supaya orang tidak salah alamat. Tafsir hanya mengajukan kemungkinan: barangkali pengalaman ini bisa dilihat dari sudut itu, dan barangkali dari sana ada sesuatu yang semula luput.
Kakanda menulis, “Di sinilah saya ingin mengganggu Deri.” Saya tidak merasa sedang digugat. Saya malah merasa sedang digelitik.
Mengganggu dan menggugat seperti embe dan kuda: beda. Yang pertama membuat orang menoleh sambil tertawa sambil berpikir. Yang kedua bisa membuat orang mencari pengacara. Kakanda memilih yang pertama.
Gangguan itu pun tidak sepenuhnya berupa penolakan. Ada sambutan, ada tawa, ada keberatan yang tidak ragu diajukan, lalu ada pertanyaan yang dilemparkan kembali kepada saya. Esai itu tidak mengatakan, “Deri salah.” Ia lebih seperti mengatakan, “Coba lihat lagi dari sini.”
Saya juga menepuk jidat ketika sampai pada kalimat: “Teori memang asu.” Saya memang menulis kata “anjing” di tulisan sebelumnya. Di sini, kata tersebut diubah, diterjemahkan, dan ditempatkan dengan cara yang menarik. Tetapi saya tidak merasa teori sedang asu.
Beberapa waktu lalu saya datang ke Astana Gede untuk menghadiri peluncuran buku Ringkang Sang Pangarang: 70 Taun Godi Suwarna, lalu menulis esai tentang pengalaman itu tanpa teori sama sekali. Saya juga pernah datang ke Nyiar Lumar dan pulang menulis tanpa membawa-bawa teori. Dunia tidak runtuh. Teori juga tidak menangis di pojokan. Teori tidak sedang asu. Saya hanya sedang tidak membutuhkannya.
Bagi saya, teori memang biasa saja. Kadang saya membutuhkannya, kadang tidak. Kalau pun saya membawanya, dalam beberapa kesempatan saya membayangkannya seperti senter: ia menyorot satu sudut dan berkata, “Oh, ternyata yang kalian lakukan bisa dilihat dari sini.” Ruangan itu tentu sudah ada sebelum senternya datang.
Godi Suwarna, misalnya, sudah bermain-main dengan bentuk, membongkar struktur cerita, mengolah mitos dan tradisi, serta mencampur berbagai sumber kebudayaan jauh sebelum saya sibuk membaca istilah seperti dekonstruksi atau hibriditas. Saya tidak membayangkan Godi membuka laptop sambil berkata, “Hari ini saya akan mendekonstruksi oposisi biner,” lalu membuka dokumen baru: “Bab Dua: Oposisi Biner.”
Kalau begitu, memang rada asu.
Tradisi Sunda sendiri sudah lama mengolah, menyerap, dan menafsirkan kembali cerita dari berbagai sumber. Saya tidak akan buru-buru mengatakan semua itu “sudah Derrida” hanya karena belakangan ada teori yang punya bahasa untuk membicarakannya. Teori seperti ini, bagi saya, datang belakangan untuk memberi bahasa, bukan untuk mengesahkan. Karena itu saya bisa memakainya tanpa merasa harus menyembahnya, dan tanpa merasa perlu mengusirnya dari rumah.
Esai itu juga mengingatkan saya pada persoalan penting: apakah setiap orang yang tetap berjalan meskipun tahu bisa gagal otomatis menjadi metamodern?
Ketika esai itu membawa tukang gorengan dan tukang tambal ban, saya kira gugatannya masuk akal. Kalau definisinya hanya “tahu bisa gagal, tetapi tetap berjalan”, nenek Kanda dan nenek saya tentu sudah metamodern sejak dulu. Ia tetap pergi ke pasar meskipun tahu harga cabai bisa berubah sesuka hati. Tukang gorengan dan tukang tambal ban juga tahu hidup tidak memberi kepastian, tetapi besok tetap harus buka lapak.
Saya tidak ingin membuat sastra mendadak merasa lebih tinggi daripada bakwan. Bakwan sudah cukup menderita karena minyak panas. Ada konteks kebudayaan yang membedakan antara Rumah Koclak dengan tambal ban, tukang gorengan, dan nenek kita tersayang. Ketidakpastian yang dialami tidak otomatis menghadirkan struktur perasaan metamodern.
Saya merasa lebih cocok ketika Kakanda Arip Senjaya membawa kita kepada mahasiswa dan dosen yang bertemu pagi-pagi di kampus. Saya suka bagian ini dan ingin menggesernya sedikit.
Mahasiswa hari ini hidup dalam keadaan yang sedikit berbeda dari mahasiswa sebelum mesin-mesin AI menjadi teman sekamar mereka. Bukan berarti mereka otomatis lebih malas atau lebih pintar. Kondisinya saja yang berubah. Ketika mesin bisa menjawab hampir semua pertanyaan, pertanyaannya bergeser: kalau mesin bisa menjawab, untuk apa saya membaca? Kalau mesin bisa menulis, apa sebenarnya yang saya lakukan ketika menulis? Kalau mesin memberi jawaban dalam tiga detik, bagaimana saya tahu jawaban itu benar?
Dosen berada di tempat yang tidak jauh berbeda. Ia mengajar, memberi tugas, dan membaca tulisan mahasiswa sambil tahu bahwa sebagian pekerjaan intelektual yang dulu dianggap hanya bisa dilakukan manusia kini dapat dibantu mesin. Ia bisa menggunakan AI, mencurigainya, melarangnya, atau mencoba memahami bagaimana teknologi itu mengubah cara belajar. Namun besok pagi ia tetap harus mengajar pukul tujuh.
Mahasiswa tetap datang. Dosen tetap mengajar. Tetapi di dalam kepala mereka mungkin ada gerakan yang tidak sesederhana itu: percaya dan curiga, menggunakan dan menjaga jarak, berharap dan khawatir. Saya tidak mengatakan bahwa semua mahasiswa dan dosen sekarang adalah manusia metamodern. Saya hanya melihat bahwa kondisi semacam itu membantu saya membayangkan apa yang dimaksud dengan osilasi dalam metamodern.
Kakanda tentu lebih fasih soal ini daripada saya. Namun, bagi pembaca yang belum akrab dengan istilahnya, yang saya bayangkan dengan osilasi adalah gerak bolak-balik antara dua sikap yang tampak berlawanan antara modernisme dan postmodernisme.
Seseorang tidak menemukan titik tengah yang nyaman di antara keduanya. Sebaliknya, keduanya terus hidup bersamaan dalam dirinya: mencintai sesuatu sambil melihat kekonyolannya, mengkritiknya sambil tetap mengerjakannya. Tukang gorengan bertahan. Mahasiswa dan dosen di kelas pukul tujuh itu bertahan sambil bolak-balik antara percaya dan curiga. Bedanya ada di kata “sambil”.
Kakanda juga menulis bahwa saya membawa keluar dari Rumah Koclak menuju “bangunan lain yang namanya jauh lebih mahal: metamodernisme”. Bagi saya, metamodernisme tidak lebih mahal daripada Rumah Koclak. Saya tidak sedang memindahkan Rumah Koclak ke gedung yang lebih mewah. Saya hanya membawa sebuah pengalaman ke salah satu kemungkinan pembacaan.
Pengalaman itu, bagi saya, berkaitan dengan cara Toni Lesmana dan Wida Waridah memperlihatkan kecintaan kepada sastra yang tidak naif: tulus, mau menanggung ironi, dan tetap membuat sesuatu meskipun sastra sendiri berkali-kali dipertanyakan.
Saya beberapa kali sempat mendengar Toni bertanya, “Naon sih sastra?” Saya mendengarnya di rumahnya, di Astana Gede, dan dalam beberapa kesempatan sebelum Hajatan Sastra. Kadang diajukan dengan cara nyinyir, kadang datar, atau dengan emosi lainnya.
Pertanyaan itu penting bukan karena Toni berhenti setelah mengucapkannya, melainkan karena ia terus bekerja di tengah pertanyaan itu. Ia tetap menulis, tetap menerbitkan buku, tetap mengurus Rumah Koclak, tetap mengundang orang, dan tetap membuka percakapan, mempertemukan para amatir dengan yang mahir. Keraguan tidak membuatnya berhenti.
Saya tidak ingin buru-buru berseru, “Nah, ini metamodern.” Dan saya pun tidak meminta Rumah Koclak membaca metamodern atau berharap telah membaca metamodern. Pengalaman itu hanya membantu saya memahami gerak yang sama dengan yang saya bayangkan di ruang kelas pukul tujuh pagi: mempertanyakan sesuatu sambil tetap mengerjakannya.
Saya juga tidak menganggap Rumah Koclak sebagai penemuan baru. Ruang alternatif dan komunitas kesenian sudah lama tumbuh di berbagai tempat, dan Ciamis punya sejarah kebudayaan yang panjang, dengan Godi Suwarna sebagai salah satu nama pentingnya. Rumah Koclak berada dalam sejarah itu.
Ketika diundang sebagai salah satu pembahas, saya bertemu dan berbicara dengan Gusjur Mahesa, mendengar pembacaan puisi, percakapan, dan berbagai kegelisahan tentang sastra. Saya tidak pulang membawa teori baru. Saya pulang membawa pertanyaan: konsep apa yang bisa membantu saya memahami apa yang saya lihat? Jadi, arah perjalanan saya bukan dari teori menuju kenyataan, tetapi dari kenyataan menuju teori. Setelah itu, kenyataan tersebut terlihat sedikit berbeda. Berkat tafsir yang dilakukan.
Saya tidak keberatan untuk diganggu. Tulisan memang perlu diganggu. Tafsir di dalamnya adalah tafsir. Bukan label, plang, atau penanda otoritatif sejenis. Bahkan cara Rumah Koclak memahami dirinya sendiri, saya kira, tidak otomatis menjadi kata terakhir tentang apa yang berlangsung di sana. Apalagi tafsir saya.
Saya pun sepakat untuk membiarkan Rumah Koclak tetap menjadi Rumah Koclak. Tapi ia tetap boleh dibaca, ditafsirkan, sebagai ruang kebudayaan, sebagai pengalaman komunitas, sebagai kegelisahan tentang sastra, atau bahkan melalui metamodernisme. Bacaan-bacaan itu tidak selalu saling membatalkan.
Tulisan ini dan tulisan sebelumnya tidak berusaha membuktikan bahwa Rumah Koclak adalah metamodern. Saya juga tidak sedang meminta agar semua orang menerima metamodernisme sebagai kunci untuk membaca kehidupan hari ini. Kalau ada yang merasa konsep itu tidak berguna, silakan saja. Bahkan keberatan semacam itu mungkin lebih berguna daripada persetujuan yang malas.
Setelah membaca tulisan Kakanda Arip yang memang menarik dan bijaksana, saya makin sayang pada kata kecil di judul itu. “Dan” membiarkan dua hal duduk berdampingan, saling mengganggu, saling menjelaskan, lalu kadang membuat saya tertawa. Rumah Koclak dan sastra metamodern. Pengalaman dan teori. Keseriusan dan kelucuan. Keraguan dan tindakan. Tukang gorengan dan kelas pukul tujuh. Bahkan, kalau Ibu mau ikut campur, metamodernisme dan KUA.
Seperti pagi itu, ketika saya tertawa di depan layar, menepuk jidat beberapa kali, lalu mendengar suara Ibu dari dapur:
“Kalau sudah selesai baca-baca sastra, kapan ke KUA?”
Saya tidak menjawab. Pacar saya belum juga membalas WhatsApp.
Saya memikirkan sebuah kata: dan.
Singajaya, 26 September 2026
Baca juga tulisan lainnya di HumaNiniNora



Percakapan